Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
Malam itu, setelah pertemuan melelahkan di kapal pesiar, gue dan Gavin duduk di balkon penthouse gue. Di bawah sana, lampu-lampu Singapura berkilauan, tapi di antara kami hanya ada kesunyian yang mencekam. Gavin sedang menuangkan wine, tapi tangannya gemetar.
"Lyn," suara Gavin pecah. "Sampai kapan lo mau terus begini? Gue udah kasih segalanya, tapi lo tetep natap gue seolah-olah gue ini monster."
Gue meletakkan gelas gue, menatap lurus ke matanya dengan tatapan paling dingin yang pernah gue miliki.
"Lo emang monster, Gavin. Lo cuma lupa bentuk asli lo."
Gavin terdiam. Gue berdiri, mendekat ke arah pagar balkon.
"Lo pikir restrukturisasi G-Corp, lo jadi CEO operasional gue, atau drama cemburu sama Hediva itu cuma permainan? Enggak, Vin. Gue balik ke hidup lo buat ngeliat lo hancur sehancur-hancurnya."
Gue berbalik, menatapnya tajam.
"3 tahun lalu, lo nggak cuma ninggalin 'Memey' yang cupu. Lo ninggalin cewek yang lagi mengandung anak lo, Gavin. Dan gara-gara lo lari, gara-gara gue harus kerja rodi buat bertahan hidup saat lo lagi asik foya-foya... gue kehilangan bayi kita."
Gavin menjatuhkan gelas winenya. Prang! Kristal itu pecah berkeping-keping, sama seperti wajahnya yang mendadak pucat seperti mayat.
"Apa...? Lyn... lo nggak pernah bilang..."
"Gimana gue mau bilang? Lo blokir semua akses gue! Lo maki-maki gue sebagai beban!" teriak gue, air mata yang selama ini gue tahan akhirnya jatuh, tapi bukan air mata lemah, melainkan air mata murka.
"Hati gue emang belum sepenuhnya sirna buat lo, dan itu yang paling gue benci dari diri gue sendiri! Setiap gue liat muka lo, gue benci karena gue masih ngerasain sesuatu, tapi di detik yang sama, gue denger suara tangisan bayi yang nggak pernah sempet gue gendong."
Gavin berlutut di lantai, memegang kepalanya, menangis tersedu-sedu. "Maafin gue... Lyn, bunuh gue aja... tolong bunuh gue..."
Gue menghapus air mata gue dengan kasar. Kembali ke mode cold boss. Gue nggak butuh permintaan maafnya. Gue butuh dia menebusnya dengan cara yang lebih brutal.
"Bangun, Gavin. Air mata lo nggak bakal balikin anak gue," ucap gue datar.
Gavin mendongak, matanya merah. "Apa pun, Lyn. Gue bakal lakuin apa pun."
"Oke," gue melempar sebuah berkas ke arahnya. "Pamannya Hediva, Baron Vandermere. Dia orang yang sangat berbahaya. Dia punya tentara bayaran dan dia nggak segan buat ngilangin nyawa orang. Gue mau lo pergi ke London besok. Masuk ke lingkaran dalamnya, ambil data aset tersembunyinya yang paling gelap, dan hancurkan dia dari dalam."
Gue membungkuk, membisikkan sesuatu di telinganya.
"Ini tugas bunuh diri, Vin. Kemungkinan lo balik dengan selamat itu kecil. Tapi kalau lo mau tebus dosa atas nyawa yang hilang itu... ini satu-satunya cara. Pergi ke London, atau pergi dari hidup gue selamanya."
Gavin berdiri perlahan. Dia mengambil berkas itu, mencium punggung tangan gue dengan khidmat untuk terakhir kalinya.
"Kalau gue nggak balik," bisik Gavin, "setidaknya lo tahu kalau gue mati sebagai orang yang mencoba jadi ayah yang layak buat kenangan anak kita. Gue berangkat besok pagi."
Malam itu, kemewahan Singapura di luar jendela seolah menghilang. Yang ada hanyalah dua jiwa yang hancur di atas lantai dingin. Odelyn melepaskan pelukannya sedikit, memegang wajah Gavin dengan kedua tangannya. Matanya yang sembab menatap mata Gavin dengan intensitas yang mengerikan.
"Gue bakal kirim lo ke London. Ke tempat paling berbahaya yang pernah ada," bisik Odelyn, suaranya bergetar antara cinta dan dendam. "Tapi dengerin gue, Gavin..."
Odelyn mendekatkan keningnya ke kening Gavin. "Gue nggak mau denger lo mati di sana. Lo nggak boleh mati sebelum gue bener-bener puas membalas semuanya. Tapi... di atas itu semua..."
Odelyn mencengkeram bahu Gavin dengan kuku-kukunya yang tajam. "Berjanji sama gue, Vin. Lo harus kembali. Meskipun lo harus merangkak dengan sisa napas terakhir lo, meskipun tubuh lo udah nggak utuh lagi, lo harus kembali ke gue. Lo nggak boleh ninggalin gue sendirian lagi kayak waktu itu. Paham?!"
Gavin menatap Odelyn dengan tatapan yang sangat dalam. Ada ketegasan baru di matanya. Rasa bersalahnya kini berubah menjadi misi hidup.
"Gue janji, Lyn," suara Gavin rendah dan berat. "Meskipun maut menjemput gue di London, gue bakal seret nyawa gue balik buat ketemu lo lagi. Kalaupun gue harus mati, gue cuma mau mati di depan mata lo. Gue bakal balik, demi lo, dan demi anak kita yang udah nunggu di sana."
Gavin mencium kening Odelyn lama sekali, sebuah segel janji yang lebih kuat dari kontrak bisnis apa pun yang pernah mereka buat.
Malam itu, dinginnya Singapura seolah membeku di luar jendela penthouse. Di dalam kamar yang luas dan minimalis, dinding es yang dibangun Odelyn selama bertahun-tahun benar-benar runtuh diterjang badai emosi.
Isak tangis yang tadi menyesakkan dada perlahan berubah menjadi deru napas yang berat. Gavin masih memeluk Odelyn, tak membiarkan ada satu mili pun jarak di antara mereka. Kehangatan tubuh Gavin, aroma maskulin yang dulu sangat ia puja, dan tatapan penuh penyesalan itu membuat Odelyn kehilangan kendali atas logikanya.
"Vin..." bisik Odelyn lirih, tangannya beralih dari bahu Gavin ke tengkuk pria itu, menariknya lebih dekat.
Sentuhan yang awalnya penuh kemarahan berubah menjadi sentuhan yang penuh kerinduan. Gavin mencium Odelyn—bukan ci*man yang menuntut seperti masa kuliah dulu, melainkan ci*man yang memohon ampunan, lembut namun sangat dalam.
Odelyn membalasnya dengan intensitas yang sama, seolah-olah ia sedang mencoba menyerap semua rasa sakit dan cinta yang tersisa. Mereka bergerak menuju ran j*ng besar di tengah kamar, tenggelam dalam seprai sutra yang dingin, namun tubuh mereka membara.
Di bawah temaram lampu kota yang masuk melalui kaca besar, mereka bercinta dengan emosi yang campur aduk. Ada rasa sakit karena pengkhianatan masa lalu, ada dendam yang belum tuntas, namun yang paling mendominasi adalah kerinduan yang tak tertahankan.
Setiap sentuhan Gavin seolah mencoba menyembuhkan setiap luka yang pernah ia torehkan pada tubuh dan jiwa Odelyn.
"Gue sayang sama lo, Lyn... maafin gue," bisik Gavin berkali-kali di telinga Odelyn, napasnya memburu.
Odelyn tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di dada bidang Gavin, membiarkan air matanya mengalir di sana.
Malam itu, ia membiarkan dirinya menjadi "Memey" sekali lagi—wanita yang mencintai Gavin tanpa syarat—sebelum esok hari ia harus kembali menjadi Odelyn, sang ratu bisnis yang mengirim pria ini ke medan perang.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Singapura. Cahaya biru keemasan mulai masuk ke sela-sela tirai.
Odelyn terbangun, masih dalam dekapan tangan Gavin yang protektif. Ia menatap wajah Gavin yang tertidur lelap; terlihat jauh lebih tenang, namun Odelyn tahu ini adalah ketenangan sebelum badai.
Gavin perlahan membuka mata, lalu tersenyum tipis saat melihat Odelyn sudah menatapnya. Ia mengecup dahi Odelyn lama.
"Gue harus pergi sekarang, kan?" tanya Gavin lembut, suaranya parau khas bangun tidur.
Odelyn mengangguk perlahan. Ia bangun dan duduk di tepi ranjang, menyampirkan jubah tidurnya. Aura dinginnya kembali menyelimuti dirinya, tapi kali ini ada sedikit kelembutan di matanya.
"Berkas-berkas lo udah ada di koper. Tiket pesawat jam 9 pagi," ucap Odelyn tanpa menoleh. "Inget janji lo semalam, Gavin. Kalau lo mati di sana, gue nggak akan pernah maafin lo. Gue bakal benci lo sampai ke liang lahat."
Gavin bangun, memeluk Odelyn dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Odelyn. "Gue bakal balik, Lyn. Kali ini, gue nggak bakal lari lagi. Tunggu gue."
Gavin kemudian bangkit, berpakaian dengan cepat, dan mengambil kopernya. Di ambang pintu kamar, dia berhenti sebentar, menatap Odelyn untuk terakhir kalinya sebelum pergi menuju bandara Changi untuk memulai misinya di London.