Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5. Teknik Teleportasi Ruang
Navhara terdiam membeku. “Ini…” bisiknya, hampir tak terdengar, “…distorsi ruang.”
Virdrax menarik napas dalam-dalam. Sebagai seekor naga, ia sangat peka terhadap perubahan hukum alam. Apa yang sedang Ray Zen lakukan bukan sekadar memindahkan posisi—ia sedang melipat ruang itu sendiri.
“Teknik Teleportasi Ruang,” ucap Ray Zen akhirnya.
Ia membuka matanya.
Dalam sekejap—tanpa suara, tanpa ledakan—cahaya itu meluas dan menelan mereka semua.
Langit berubah.
Aroma berubah.
Udara berubah.
Dalam satu tarikan napas, mereka yang sebelumnya berdiri di tepi luar Hutan Larangan kini telah berpijak di jalan utama menuju ibu kota Kekaisaran Awan Putih.
Lampu-lampu lentera batu berjajar rapi di sisi jalan. Jalanan batu besar terbentang luas, bersih, dan kokoh. Di kejauhan, siluet gerbang kota kekaisaran tampak menjulang, diterangi cahaya malam yang lembut.
Bear berkedip.
Sekali.
Dua kali.
“…Hah?”
Ia menoleh ke kiri, ke kanan, lalu ke belakang. Hutan Larangan telah menghilang. Yang tersisa hanyalah jalan kekaisaran yang ia kenal dengan sangat baik.
“Ini… ini…!” Bear terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berseru, “Kita sudah sampai?!”
Bai Hu, yang biasanya tenang, kini tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya menajam, memindai sekeliling dengan refleks seorang pengawal berpengalaman. “Jalan masuk ibu kota… kita benar-benar berada di sini.”
Virdrax dan Navhara berdiri membisu.
Sebagai makhluk dengan umur yang jauh melampaui manusia biasa, mereka telah menyaksikan berbagai teknik kuno, sihir ruang, dan artefak legendaris. Namun apa yang baru saja mereka alami tetap membuat dada mereka bergetar. Apalagi karena melihat orang yang menggunakan teknik tersebut hanyalah bocah manusia yang bahkan belum berusia 20 tahun.
“Tanpa Artefak… tanpa Portal Permanen…” gumam Virdrax pelan. “Ini bukan teleportasi ruang biasa.”
Navhara menatap Ray Zen dengan sorot mata yang semakin dalam. “Teknik ini… adalah teknik tingkat Mistis yang sangat Legendaris. Bagaimana tuan Ray bisa menguasainya?”
(Tingkatan-tingkatan Kultivasi, Artefak dan Teknik terdapat pada Chapter 11 dan Chapter 134 di Season 1).
Ray Zen hanya tersenyum kecil.
Bear, yang rasa penasarannya sudah mencapai puncak, akhirnya angkat bicara. “Tuan Ray,” katanya cepat, “kalau tuan punya teknik seperti ini… mengapa kita tidak menggunakannya sejak awal saja? Kita sudah menjelajahi begitu banyak wilayah, bertarung, dan membuang waktu berbulan-bulan.”
Ray Zen menoleh padanya. Tidak ada rasa tersinggung di wajahnya—hanya kesabaran. “Itu karena teknik ini tidak sesederhana kelihatannya, Bear.” jawab Ray Zen. “Teleportasi ruang hanya bisa berfungsi jika pengguna pernah berada di lokasi tujuan sebelumnya.”
Keempat orang di belakangnya langsung terdiam.
“Setiap tempat memiliki koordinat ruangnya sendiri,” lanjut Ray Zen. “Koordinat itu tidak bisa ditebak atau diciptakan begitu saja. Ia harus direkam oleh tubuh dan jiwaku. Jika aku belum pernah menginjakkan kaki di suatu tempat…”
Ia menggeleng pelan. “Teknik ini tidak akan berfungsi.”
Bear mengangguk perlahan. “Jadi… itulah alasannya.”
Bai Hu kemudian menyela, suaranya terdengar berpikir. “Kalau begitu, pangeran… mengapa kita tidak langsung ber-teleportasi ke dalam istana saja?”
Pertanyaan itu masuk akal.
Istana Kekaisaran Awan Putih adalah tempat Ray Zen dibesarkan. Ia jelas pernah berada di sana berkali-kali.
Ray Zen menatap ke arah gerbang kota di kejauhan. Lampu-lampu istana tampak samar di balik tembok tinggi.
“Kita tidak akan masuk ke istana malam ini, Paman.” katanya.
“Kenapa tuan?” tanya Bear refleks.
“Hari sudah malam,” jawab Ray Zen tenang. “Jika kita muncul tiba-tiba di dalam istana pada jam seperti ini, akan menimbulkan keributan yang tidak perlu. Pasukan penjaga akan siaga, para pejabat akan terbangun, dan orang-orang akan panik.”
Ia menoleh kembali pada mereka. “Aku tidak menginginkan itu.”
Bai Hu mengangguk pelan. Ia memahami sifat Ray Zen—meski kuat, ia tidak pernah menyukai kekacauan yang tidak perlu. Apalagi jika itu berkaitan dengan kekuatannya.
“Kita akan masuk ke istana besok pagi,” lanjut Ray Zen. “Dengan cara yang pantas.”
Keempat pengawalnya mengangguk serempak.
Akhirnya, mereka meninggalkan jalan utama dan bergerak ke sisi pinggiran. Di sana, pepohonan besar tumbuh rimbun, daunnya lebat dan menaungi jalan kecil di bawahnya.
Ray Zen memilih sebuah area dengan cabang-cabang kokoh.
“Kita beristirahat di sini,” katanya.
Tanpa banyak bicara, Bai Hu dan Bear langsung melompat keatas pohon dengan gerakan ringan. Virdrax dan Navhara mengikuti mereka, ke cabang pohon lainnya.
Dari atas pepohonan, mereka bisa melihat jalanan dengan jelas.
Malam itu relatif sepi. Hanya beberapa kereta kuda lewat sesekali, membawa pedagang atau utusan yang terlambat. Tidak ada yang menyadari bahwa di atas kepala mereka, lima sosok berbahaya sedang beristirahat dalam diam.
Angin malam berdesir pelan.
Bear bersandar di batang pohon, melipat tangan di belakang kepala. “Kalau kupikir-pikir,” katanya lirih, “perjalanan kita benar-benar gila.”
Bai Hu tersenyum tipis. “Dan sepertinya… kau menyukainya Bear.”
“Ya, kau betul saudara Bai, Hahaha…” balas Bear sambil tertawa ringan.
Di cabang pohon yang lain, Ray Zen menatap langit malam. Bintang-bintang berkelip tenang, seolah menyambut kepulangannya.
Istana Kekaisaran Awan Putih sudah sangat dekat. Entah hal-hal apa yang telah terjadi selama ia pergi satu setengah tahun ini. Tapi yang pasti, rasa rindunya kepada Ayah, Ibu dan adiknya Lia Zen akan segera terobati. Dan tanpa ia sadari, ia mulai terlelap dalam keheningan malam yang semakin larut.
...*****...
Cahaya fajar baru saja menyibak langit ketika Ray Zen dan keempat pengawalnya melanjutkan perjalanan mereka. Jalan utama menuju ibu kota Kekaisaran Awan Putih tampak ramai namun tertib.
Kereta kuda berlalu-lalang, para pedagang membuka lapak, dan rakyat kecil mulai menjalani aktivitas harian mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa di antara arus manusia biasa itu berjalan sosok yang kelak akan mengguncang kembali tatanan kekaisaran.
Ray Zen berjalan di barisan depan, langkahnya tenang dan mantap. Bai Hu dan Bear mengapit di sisi kiri dan kanan, sementara Virdrax dan Navhara mengikuti beberapa langkah di belakang. Keduanya mengenakan jubah sederhana, menutupi aura mereka sebaik mungkin—meski tetap saja, bagi makhluk peka, kehadiran mereka terasa tidak biasa.
Gerbang kota akhirnya terlihat menjulang di hadapan mereka. Pilar-pilar batu putih dengan ukiran awan khas Kekaisaran Awan Putih berdiri megah, memancarkan kewibawaan yang telah bertahan puluhan tahun.
“Berhenti di sana!” seru salah satu penjaga gerbang.
Ray Zen dan rombongannya menghentikan langkah. Beberapa penjaga lain mendekat, memeriksa mereka dengan tatapan waspada namun sopan.
“Apa tujuan kalian memasuki ibu kota?” tanya penjaga yang tampak paling senior.
Ray Zen melangkah sedikit ke depan. “Kami hendak menuju Istana Kekaisaran Awan Putih.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru