Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Tubuh mereka perlahan menyatu, terasa getaran halus dari sentuhan pertama yang kemudian berubah menjadi desahan kecil penuh nafsu. Kaisar menurunkan ciuman dari leher, bahu, hingga ke puncak dada Shelina, membuat jantungnya berdebar tak tertahankan.
Shelina membalas dengan menggenggam lengan Kaisar erat, seolah ingin mengukir momen ini selamanya dalam ingatannya. Perlahan baju mereka terlepas satu per satu, menyingkap kehangatan tubuh yang saling merasakan, hingga akhirnya kedua jiwa itu bersatu dalam pelukan yang tak hanya menghangatkan tubuh, tapi juga menggetarkan hati.
Suara napas dan desahan mereka memenuhi ruangan, membentuk simfoni malam yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Dalam keheningan itu, Kaisar dan Shelina menemukan kedamaian dalam keintiman yang baru saja mereka rangkai bersama.
Setiap hentakan Kaisar di atas kasur itu seperti gelombang dahsyat yang mengguncang seluruh tubuh Shelina.
Nafasnya tersengal, desahan lembutnya mengalir seperti melodi yang memikat, "Aah, Kai..." suaranya merdu namun penuh getar gairah.
Tubuh Kaisar yang perkasa menunjukkan tenaga luar biasa, setiap gerakannya lebih tajam, lebih kuat, seolah tak ada batas untuk malam itu.
Shelina tercekik oleh sensasi yang membuncah hingga suaranya berubah menjadi teriakan kecil, memohon dengan suara gemetar, "Pelan, Kai..." Namun, Kaisar seolah justru semakin terpacu, mendengar bukan untuk mengurangi, melainkan memperdalam hentakan-hentakan yang membuat kasur berantakan, sprei kusut tak beraturan.
Wajah Shelina membara, malu namun terbuai dalam kenikmatan yang tak terduga. Dia tak pernah membayangkan suaminya, yang selama ini tampak muda dan penuh canda, bisa begitu menguasai dan menggairahkan. Matanya sesekali tertutup, bibirnya bergetar menahan perasaan campur aduk antara malu dan hasrat yang membara.
Kaisar menundukkan wajah, bisikannya nyaris tak terdengar, "tidak bisa ... ini terlalu nikmat," ucapnya dengan napas berat, seolah tak ingin berhenti.
Kedua tubuh mereka masih saling melekat erat dalam gelap kamar yang hanya diterangi cahaya redup lampu tidur. Kaisar membisikkan kata-kata rayuan penuh nafsu di telinga Shelina, suaranya serak dan menggoda. Sesekali bibirnya menekan gigitan lembut di leher sang istri, membuat Shelina terengah dan merasakan getaran yang membakar di setiap ujung sarafnya.
Perlakuan Kaisar begitu agresif, tubuhnya menekan kuat dan gerakannya tak kenal lelah, membuat Shelina perlahan kehilangan tenaga.
"Ah, Kai! Please, touch me!" suara Shelina hampir setengah teriak, suaranya bergetar antara keinginan dan kelelahan. Namun, tiba-tiba dia menarik napas, mencoba menahan rasa sakit yang muncul akibat kekuatan Kaisar yang tak terbendung.
"Kai ... tidak! Kamu ... kamu kenapa kuat banget?!" lirihnya dengan nada yang bercampur antara protes dan keputusasaan.
Kaisar tersenyum tipis, matanya menyipit penuh kemenangan, menikmati reaksi Shelina yang terpancing oleh sentuhannya. Senyum smirk itu menunjukkan betapa dia puas mendengar desahan dan protes istrinya, membuat malam itu penuh dengan kehangatan sekaligus kelelahan yang memuncak. Shelina menutup matanya, tubuhnya lemas namun jiwanya terikat kuat oleh hasrat yang tak mudah padam.
Permainan itu berakhir tepat saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Shelina terbaring di atas ranjang, tubuhnya lemas tak bertenaga, keringat dingin membasahi dahinya yang berkerut.
Matanya yang biasanya cerah kini redup, bibirnya bergetar menahan rasa sakit yang bercampur dengan kelelahan. Kaisar menatapnya lama, dadanya sesak melihat istrinya yang terlihat begitu rapuh. Dengan lembut, tangannya meraih rambut Shelina, menyibakkan helaian hitam itu dari wajahnya yang penuh luka tak terlihat.
Bibir Kaisar menyentuh bibir ranum Shelina dengan penuh nafsu, seolah ingin menyalurkan kekuatan dan kasih sayang yang mengalir dari hatinya.
"Terima kasih ... terima kasih, Sayang," bisik Kaisar berulang kali, suaranya bergetar antara lega dan cinta yang dalam. Pelukan Kaisar mengepung tubuh Shelina, menekan erat seperti ingin melindunginya dari segala rasa sakit.
Shelina menutup matanya, merasakan sengatan yang aneh, rasa sakit yang menusuk, namun diiringi kenikmatan yang membuatnya tak ingin melepaskan diri.
Dalam pelukan hangat itu, dia menggenggam tubuh Kaisar erat-erat, seakan dengan itu semua luka dan lelahnya bisa sedikit terobati. Napas mereka bersatu dalam keheningan malam, menyimpan cerita yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang saling memiliki.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.