Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Air mata Kayla mengalir deras. Perasaannya kembali tergores.
“Aku sudah berjuang untuk bangkit. Aku sudah berusaha menata hidupku. Aku sudah belajar berdamai dengan masa laluku. Dan sekarang kamu datang membuka kembali luka yang hampir sembuh.”
Dada Kayla naik turun dengan cepat. “Pergi,” katanya tegas, penuh kepedihan. “Tolong ... menjauh dariku.”
Dalfa berdiri kaku di tempatnya. Setiap kata Kayla terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya. Ia ingin mendekat, ingin menjelaskan, ingin memohon, tetapi ia tahu ia tidak berhak. Akhirnya, ia menundukkan kepala.
“Maaf,” ucap Dalfa lirih sekali lagi, suaranya hancur.
Kayla berbalik. Langkahnya cepat, hampir berlari, meninggalkan Dalfa sendirian di lorong sunyi dengan rasa bersalah yang tak terhapuskan.
***
Beberapa hari terakhir, Ashabi merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Dalfa. Bukan hanya dari caranya bicara yang lebih singkat, atau tatapannya yang sering kosong, tetapi dari keheningan aneh yang seolah mengiringi setiap langkah kakaknya.
Dalfa yang biasanya rapi, terkontrol, dan penuh perhitungan, kini tampak lebih gelisah. Seperti seseorang yang menyimpan rahasia berat.
Malam itu, rumah Pak Ramlan sunyi. Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan. Lampu-lampu temaram menciptakan bayangan panjang di dinding. Ashabi baru saja selesai berbicara di telepon dengan salah satu manajer tokonya ketika ia berjalan menuju kamar.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Dalfa. Sesuatu tergeletak di lantai, tepat di bawah celah pintu. Sebuah foto.
Ashabi mengernyit. Ia berjongkok, mengambilnya. Jantungnya berdentum. Foto itu menampilkan seorang wanita dengan riasan tebal, gaun merah gelap, tatapan tajam namun memikat dan sepasang mata amber yang langsung ia kenali sebagai Queen.
Jemari Ashabi menegang. Napasnya tertahan.
“Kenapa foto ini ada di depan kamar Dalfa?”
Perlahan, ia menekan gagang pintu. Tidak terkunci. Pintu terbuka sedikit. Lampu kamar menyala redup. Aroma khas parfum maskulin Dalfa tercium samar. Di ujung ruangan, pintu kamar mandi tertutup, terdengar suara air mengalir, tanda Dalfa sedang di dalam.
Ashabi melangkah masuk tanpa suara. Matanya langsung tertuju ke meja kerja Dalfa. Laptop terbuka dan layar dalam keadaan menyala.
Di sana ada dua foto berdampingan. Di sebelah kiri, Queen, dengan gaun merahnya, tatapan menggoda, dan mata amber yang bersinar. Lalu, di sebelah kanan, Kayla, berhijab krem, wajah polos tanpa riasan, tetapi dengan mata amber yang sama persis. Seolah dua dunia berbeda, tetapi satu orang yang sama.
Dada Ashabi seperti dihantam batu besar. Foto itu terasa menamparnya. Napasnya menjadi pendek. Tangannya bergetar.
“Jadi, ini yang kamu sembunyikan?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Suara flush toilet terdengar dari kamar mandi.
Pintu terbuka.
Dalfa keluar, mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Wajahnya masih tampak lelah. Langkahnya terhenti saat melihat Ashabi berdiri di tengah kamarnya menatap layar laptop dengan ekspresi dingin yang berbahaya.
Mata Dalfa melebar sepersekian detik. Namun, ia berusaha tenang.
“Abi?” ucapnya datar. “Kenapa kamu masuk tanpa izin?”
Ashabi tidak menjawab. Ia berbalik perlahan, menatap Dalfa dengan tatapan yang belum pernah Dalfa lihat sebelumnya. Tatapan yang tajam, kecewa, dan penuh kemarahan tertahan.
Ashabi mengangkat foto Queen yang ia temukan di lantai. “Ini apa?” tanyanya, suaranya rendah namun bergetar.
Dalfa menelan ludah. “Aku bisa jelaskan.”
Ashabi tertawa sinis, singkat dan dingin. “Jelaskan apa?”
Lalu, Ashabi juga menunjuk layar laptop. “Jelaskan kenapa kamu menyandingkan foto Queen dan Kayla seperti ini? Jelaskan kenapa kamu menyelidikinya? Jelaskan apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
Dalfa terdiam. Keheningan tegang mengisi ruangan. Akhirnya, Dalfa menghela napas panjang.
“Aku… mencari kebenaran,” katanya pelan.
Ashabi melangkah mendekat, menatap kakaknya lekat-lekat. “Kebenaran apa?” desisnya.
“Atau tentang kejahatan yang sudah kamu lakukan?” lanjut pria berwajah teduh itu dengan tidak sabar an.
Tubuh Dalfa menegang. Ashabi melihat perubahan itu dan dadanya semakin panas.
“Jawab aku, Dalfa.”
Suara air conditioner berdengung pelan. Tirai bergerak tertiup angin. Di luar, lampu jalan berpendar temaram.
Dalfa menunduk. Jemarinya mengepal.
“Aku tidak berniat menyakitinya,” kata Dalfa akhirnya, suara rendah nyaris berbisik. “Aku tidak tahu itu dia.”
Ashabi membeku. Kata-kata itu seperti petir di telinganya.
“Menyakiti siapa? Tidak tahu … apa?” tanya Ashabi perlahan, tetapi nadanya berbahaya.
Dalfa mengangkat wajahnya. Matanya merah. “Malam itu, enam tahun lalu ....”
Suaranya tercekat. “Aku tidak tahu bahwa wanita itu adalah Kayla.”
Dunia seolah berhenti berputar. Ashabi merasa darahnya mendidih sekaligus membeku. Napasnya tercekat.
“Kamu ...! Apa yang sudah kamu lakukan?!” teriak Asuh Abi yang seketika diselimuti amarah.
Dalfa menutup wajahnya dengan satu tangan, menahan gelombang rasa bersalah yang menenggelamkannya. “Aku sudah menodainya.”
Ashabi melangkah mundur, menatap kakaknya seperti orang asing. “Enam tahun lalu ...?” gumamnya pelan, matanya bergetar.
“Jadi, Kayla ... dia ....” Tangan Ashabi mengepal keras. Amarah, sakit, dan pengkhianatan bercampur menjadi satu.
“Kamu menghancurkan hidupnya,” kata Ashabi dingin.
Dalfa tidak membantah. Ia hanya menunduk, hancur oleh kenyataan yang tidak bisa dihapus.
“Aku tidak mencari pembenaran,” katanya terbata. “Aku hidup dengan penyesalan itu setiap hari sejak aku tahu kebenarannya.”
Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang menyesakkan.
Lalu, Ashabi berbalik. Tanpa sepatah kata lagi, ia keluar dari kamar itu membanting pintu dengan keras.
***
Suatu sore, saat Kayla sedang lembur menyelesaikan berkas di kantor, resepsionis memanggilnya dengan suara ragu.
“Mbak Kayla, ada tamu ingin bertemu.”
Kayla mengerutkan kening. “Siapa?”
Kayla berjalan di lobi. Dia melihat seorang pria. Sosok tinggi itu berdiri membelakanginya. Begitu pria itu berbalik, tubuh Kayla membeku. Itu Dalfa.
“Kayla aku ingin bicara.”
Dalfa kembali mendatangi Kayla di kantornya. Dia masih mengharapkan Kayla memaafkan dirinya.
“Sebaiknya Mas Dalfa pergi. Aku tidak mau melihat kamu lagi.”
Kayla pun segera pergi dari sana dan Dalfa tidak berhasil menahannya.
Sementara itu di tempat lain dan di waktu yang bersamaan, Ashabi sedang berada di minimarketnya. Ia berdiri di depan etalase minuman, tetapi pikirannya tidak di sana. Ponselnya bergetar di tangannya, pesan dari temannya yang juga merupakan salah satu karyawan kantor Kayla.
[Ashabi, aku lihat Dalfa datang ke kantor menemui Kayla. Mereka bicara berdua.]
Genggaman Ashabi mengerat. Dadanya terasa panas. Ia menarik napas panjang, tetapi kecemburuan itu tetap membakar.
Dalfa, kakaknya sendiri yang selama ini ia hormati, tetapi juga diam-diam ia rasakan sebagai bayangan yang selalu menaungi hidupnya. Bayangan yang kini berdiri di antara dirinya dan Kayla.
Tanpa berpikir panjang, Ashabi mengambil jaketnya dan keluar. Mesin motornya meraung saat ia melaju menuju kantor Kayla.
Kayla masih duduk sendirian di ruang kerjanya ketika pintu diketuk pelan. Ia mengusap sisa air mata dan menghela napas.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Ashabi berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak khawatir, tetapi ada ketegangan yang jelas di matanya.
“Kayla ....” ucap Ashabi pelan.
Kayla terkejut. “Mas Abi? Kenapa ke sini?”
Ashabi melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. “Aku dengar tadi Kak Dalfa datang menemuimu.”
Kayla menunduk, jemarinya gemetar di atas meja. “Iya,” jawabnya lirih.
Ashabi menghela napas panjang, rahangnya mengeras. “Apa dia mengganggumu?” tanyanya, suaranya lebih tajam dari biasanya.
Kayla menggeleng. “Tidak. Tapi—” Ia terdiam, tak sanggup melanjutkan.
Ashabi menatapnya lekat-lekat.
Tatapan Kayla kosong, matanya merah, wajahnya pucat. Dadanya terasa perih.
“Kayla,” kata Ashabi pelan, mendekat. “Aku tidak ingin kamu dekat dengan dia.”
Kayla mengangkat wajahnya, terkejut. “Apa?”
Ashabi menatapnya serius. “Aku cemburu, Kayla. Aku tidak suka membayangkan kamu bersama pria lain, berbicara dengan Kak Dalfa.”
Kayla terdiam, hatinya bergetar.
Ashabi menarik napas, nadanya melembut. “Aku tidak ingin kehilanganmu, bahkan kepada kakakku sendiri.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
***
Hari ini update crazy ... crazy up, ya! Harap jangan di tabung Bab. Insya Allah karya baru launching Hari Senin.
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya