Cover by me.
Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.
Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...
Kadewa..
Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.
Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.
Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Tinggal, Pusat Patah Hati
Pagi itu, suasana di gudang belakang rumah Rea terasa pengap dan berdebu. Cahaya matahari yang masuk melalui celah ventilasi kecil hanya mampu menyinari partikel-partikel debu yang menari di udara.
Rea berdiri di tengah ruang sempit itu, menatap sebuah kardus yang sudah dilakban rapat. Di dalamnya terkubur satu dunia kecil yang pernah ia anggap segalanya, boneka paus biru, boneka anak ayam, dan sebuah buku harian bersampul putih bergambar kucing dan kelinci yang setiap lembarnya penuh dengan satu nama yang sama.
Kadewa.
Rea sudah tidak menangis. Matanya justru terlihat kering dan kosong, seolah air mata sudah habis digunakan pada malam yang lalu. Dengan kedua tangan, ia mendorong kardus itu masuk ke celah terdalam rak kayu, menimpanya dengan kardus-kardus berisi buku pelajaran lama milik Pram hingga benar-benar tak lagi terlihat.
Selesai.
Rea memutar kunci gudang, menggenggamnya, dan berjalan pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Seolah dengan mengunci pintu itu, ia juga berhasil mengunci seluruh debaran jantungnya yang selama ini salah alamat.
________________
Tiga minggu kemudian...
Ujian Nasional telah berakhir beberapa hari lalu. Hari-hari yang biasanya dipenuhi kecemasan akan nilai dan kelulusan, kini berganti menjadi keheningan yang terasa aneh di meja makan keluarga Rea.
Baba meletakkan ponselnya setelah membaca jadwal keberangkatan kereta yang dia bawa hari ini, ia baru berangkat jam sembilan. Sementara Umma yang sudah tampak rapih dengan seragam polisinya sibuk menata buah di tengah meja. Pram duduk di samping Rea, tampak lebih pendiam, hukuman tiga bulan tanpa kendaraan masih membuatnya jinak.
“Rea,” panggil Baba akhirnya.
Rea yang sedang mengupas apel mendongak. “Iya, Ba?”
“Ujian udah lewat. Baba lihat kamu belajar keras belakangan ini, hampir nggak pernah keluar rumah,” ujar Baba menatap putri bungsunya dengan saksama. “Dulu kamu bilang mau kuliah di Universitas Airlangga supaya tetap di Surabaya. Apa pilihanmu masih sama? Kalau iya, kita harus cepet siapin pendaftarannya.”
Pisau kecil di tangan Rea berhenti bergerak. Ia menatap butiran air di permukaan apel, lalu mengangkat wajahnya.
“Rea mau ke Jakarta, Ba.”
Keputusan yang keluar dari bibir Rea tanpa berdiskusi dengan keluarganya itu cukup untuk membuat Pram tersedak air minumnya. Umma menghentikan kegiatannya. Dan baba tampak mematung sejenak.
Wajah kaget mereka benar-benar jelas tergambar disana.
“Jakarta?” Umma menoleh cepat. “Kok jauh banget sih, Dek? Bukannya kemarin kamu mau tetap di Surabaya supaya dekat rumah?”
Itu dulu, saat Rea masih berpikir ia bisa bertahan di kota yang sama dengan Kadewa. Dengan cinta pertamanya. Dengan harapan kecil yang ia rawat diam-diam, seolah jarak yang dekat akan membuat segalanya baik-baik saja.
Tapi sekarang, bahkan sekadar menghirup udara di kota yang sama saja sudah cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.
Bagaimana ia bisa hidup di kota yang sama dengan pusat patah hatinya?
Rea tersenyum tipis. “Aku berubah pikiran, Ma. Aku mau suasana baru. Aku mau belajar mandiri.”
“Tapi Jakarta itu keras, Re” Pram menyela. “Macet, panas, dan… kamu sendirian nanti.”
Rea menoleh ke arah kakaknya. Tatapannya lembut, tapi keputusannya sudah final.
“Aku udah mutusin, Mas,” ucapnya pelan, tanpa memberi ruang untuk dibantah. “Rea mau ambil Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia.”
Rea sengaja memilih Ilmu Komunikasi. Bukan karena ia ragu pada kemampuannya di bidang lain, melainkan karena ia tahu persis apa yang ingin ia pertahankan dan apa yang ingin ia lepaskan.
Sejak kecil, ia tumbuh dengan suara kereta dan jadwal yang tak pernah ramah pada waktu keluarga. Ia pernah bermimpi duduk di kabin masinis, menyusuri rel yang sama dengan Baba Aditya. Tapi mimpi itu runtuh perlahan, bukan karena ia tak sanggup, melainkan karena ia melihat harga yang harus dibayar, pulang larut, pergi terlalu pagi, dan rindu yang selalu datang lebih dulu daripada pertemuan.
Ia tidak ingin hidup seperti itu.
Ilmu Komunikasi memberinya jalan lain. Tetap berada di dunia yang sama, tanpa harus tenggelam di dalamnya. Lewat suara, ia ingin hadir, bukan pergi. Lewat pengumuman di peron, ia ingin menjadi bagian dari perjalanan banyak orang, tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Dan yang paling penting, Jakarta adalah tempat di mana ia bisa menghilang. Di kota seluas itu, kemungkinan ia berpapasan dengan seorang taruna atau mungkin suatu saat nanti menjadi perwira Angkatan Laut itu tidak akan mungkin pernah terjadi.
Ia tidak ingin lagi menghirup udara dari kota yang sama. Ia tidak ingin lagi berada di kota yang setiap sudutnya mengingatkan ia pada boncengan motor trail atau senyum manis yang ternyata racun.
Baba terdiam cukup lama, memperhatikan perubahan pada diri Rea. Ia tidak lagi melihat bocah kecil yang manja dan suka menangis karena di jahili Pram.
Di depannya kini duduk seorang gadis yang sedang membangun benteng tinggi untuk melindungi dirinya sendiri.
“Kamu yakin, Dek?” suara Baba lebih pelan. “Jakarta bukan tempat yang mudah apalagi buat perempuan kayak kamu.”
"Aku yakin, Ba. Aku mau menghilang...eh, maksudnya, aku mau memulai hidup yang benar-benar baru di sana." jawab Rea, walaupun di awali dengan sedikit kesalahan, tapi akhirnya ia mantap menjawab.
Baba menghela napas panjang, lalu mengangguk.
“Kalau itu jalan yang kamu pilih untuk tumbuh, Baba gak akan melarang. Baba pasti dukung.”
“Makasih, Ba.”
_________________
Malam itu, Rea berdiri di depan jendela kamarnya. Ia menatap ke arah utara, ke arah pelabuhan dan pangkalan yang tersembunyi di balik kegelapan malam.
Dulu, kota ini terasa terlalu luas karena ia tak pernah menemukan jalan menuju hati seseorang.
Sekarang, kota ini terasa terlalu sempit karena setiap anginnya membisikkan nama yang ingin ia kubur.
Selamat tinggal, Surabaya, ucapnya dalam hati.
Selamat tinggal, pusat patah hatiku.
Besok, ia tidak lagi menjadi gadis yang mengejar paus.
Ia akan menjadi Rea dengan suaranya sendiri di kota yang tak mengenal namanya, dan tak menuntutnya untuk berharap pada siapa pun lagi.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣