Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Sembilan
Ustaz Hamid benar-benar terkejut. Wajahnya yang biasanya tenang tampak sedikit berubah. Namun, hanya beberapa detik.
Setelah itu, beliau kembali bersandar pelan di kursinya. Matanya menatap Arsenio dengan lebih dalam, seolah mencoba membaca keseriusan lelaki di hadapannya. Beberapa saat ruangan itu menjadi hening.
Arsenio tidak berani berbicara lagi. Ia hanya menunggu jawaban dari lelaki yang sangat dihormati oleh seluruh santri di pondok itu.
Akhirnya Ustaz Hamid menarik napas pelan. “Bagi saya,” ucapnya tenang, “tidak ada masalah.”
Arsenio sedikit mengangkat wajahnya.
“Tapi,” lanjut Ustaz Hamid, “Semua kembali kepada Hanin.”
Beliau menautkan kedua tangannya di atas meja. “Karena yang akan menjalani kehidupan itu adalah dirinya.”
Arsenio mengangguk pelan. Ia memang sudah menduga jawaban seperti itu.
Ustaz Hamid kemudian berkata lagi, “Nanti saya akan bicara langsung dengan Hanin. Saya ingin mendengar sendiri bagaimana pendapatnya.”
Arsenio tampak lega. “Baik, Ustaz,” jawabnya dengan sopan.
Ia lalu menambahkan dengan suara lebih serius. “Saya akan menunggu kabarnya.”
Beberapa detik ia berhenti, lalu melanjutkan. “Jika Hanin berkenan … saya akan datang kembali ke sini bersama kedua orang tua saya untuk melamarnya secara resmi.”
Ustaz Hamid mengangguk pelan. “InsyaAllah,” ucap beliau. “Akan saya sampaikan secepatnya kepada Hanin.”
Arsenio menunduk hormat. “Terima kasih, Ustaz.”
Setelah itu mereka masih berbincang sebentar tentang beberapa hal ringan. Tentang kegiatan pesantren, tentang rencana pembangunan yang tadi dibicarakan, dan juga tentang para santri kecil yang sering bermain di halaman.
Namun, pikiran Arsenio sebenarnya sudah tidak sepenuhnya berada di percakapan itu. Ada rasa tegang yang sejak tadi belum benar-benar hilang.
Melamar seseorang bukan perkara ringan. Apalagi seseorang seperti Hanin.
Perempuan itu selalu terlihat tenang, sederhana, dan jauh dari kehidupan yang selama ini Arsenio jalani. Justru karena itu ia merasa tertarik.
Setelah merasa pembicaraan sudah cukup, Arsenio akhirnya berdiri. “Saya pamit dulu, Ustaz.”
Ustaz Hamid ikut berdiri. “Baik. Hati-hati di jalan.”
Arsenio menunduk sekali lagi sebagai tanda hormat, lalu keluar dari ruangan itu. Langkahnya terdengar pelan di teras kantor.
Langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. Beberapa santri kecil masih terlihat bermain di halaman, sementara sebagian lainnya sudah mulai bersiap menuju masjid pondok untuk shalat maghrib.
Arsenio sempat berhenti sejenak di halaman. Matanya tanpa sadar mencari seseorang. Namun Hanin tidak terlihat di sana.
Ia mungkin sudah kembali ke asrama santri putri. Arsenio akhirnya berjalan menuju mobilnya.
Ia membuka pintu mobil, lalu duduk di kursi kemudi. Namun, ia tidak langsung menyalakan mesin. Tangannya masih memegang setir.
Ada perasaan aneh yang berputar di dadanya. Campuran antara harapan dan ketegangan.
“Sekarang semuanya tergantung Hanin,” gumamnya pelan.
Beberapa detik kemudian barulah ia menyalakan mobil dan meninggalkan halaman pesantren.
**
Malam itu suasana pondok terasa tenang seperti biasanya. Setelah shalat Isya berjamaah, para santri mulai kembali ke kegiatan masing-masing.
Ada yang mengaji di serambi masjid. Ada yang membaca kitab di ruang belajar.
Ada juga yang sudah kembali ke kamar untuk beristirahat. Di kamar santri putri, Hanin sedang duduk di lantai bersama Ghania.
Di depan mereka terbentang beberapa buku catatan pelajaran. Namun, sebenarnya mereka tidak benar-benar belajar.
Ghania lebih banyak bercerita. “Orang tuaku sudah mulai membicarakan tanggal pernikahan,” ucapnya sambil memainkan pulpen di tangannya.
Hanin menoleh. “Secepat itu?”
Ghania mengangkat bahu kecil. “Kata ibu, kalau semuanya sudah jelas, tidak perlu menunggu lama.”
Ia lalu tersenyum kecil.
“Lagipula Mas Fahmi juga kelihatannya tidak keberatan.”
Nama itu membuat Hanin sedikit menegang. Namun, ia cepat-cepat menyembunyikan reaksinya.
“Baguslah,” jawabnya singkat.
Ghania tidak terlalu memperhatikan perubahan kecil di wajah sahabatnya itu. Ia masih sibuk bercerita tentang rencana masa depan.
Tentang rumah sederhana yang ingin ia bangun bersama Fahmi. Tentang keinginannya untuk tetap mengajar di pesantren setelah menikah.
Hanin hanya mendengarkan. Sesekali ia tersenyum.
Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa berat. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa terus berpura-pura seperti ini.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Ghania menoleh.
“Masuk.”
Pintu terbuka sedikit. Salah satu santri junior berdiri di sana.
“Kak Hanin,” katanya sopan.
“Iya?”
“Ustaz Hamid memanggil ke kantor.”
Hanin sedikit terkejut. “Sekarang?”
“Iya.”
Hanin mengangguk pelan. “Baik. Terima kasih.”
Santri kecil itu lalu pergi. Ghania menatapnya dengan penasaran.
“Malam-malam begini dipanggil?” tanyanya.
Hanin berdiri sambil merapikan kerudungnya.
“Mungkin ada hal yang ingin dibicarakan.”
Ia lalu mengambil selendang tipisnya.
“Aku ke sana dulu.”
“Ya sudah. Aku tunggu di kamar.”
Hanin mengangguk lalu keluar. Koridor asrama terasa sepi. Lampu-lampu kuning menyala redup di sepanjang jalan.
Langkah Hanin terdengar pelan saat ia berjalan menuju kantor pesantren. Di dalam hatinya, ia sedikit bertanya-tanya.
Apa yang ingin dibicarakan oleh Ustaz Hamid?
Beberapa menit kemudian ia sampai di depan kantor. Lampu ruangan masih menyala. Hanin mengetuk pelan.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Masuklah.”
Suara Ustaz Hamid terdengar dari dalam. Hanin membuka pintu. Ustaz Hamid masih duduk di kursinya seperti sore tadi.
Namun, kali ini wajah beliau terlihat lebih serius. Hanin duduk di kursi yang tersedia.
“Ada yang ingin ustaz bicarakan?” tanya Hanin sopan.
Ustaz Hamid menatapnya beberapa saat. Beliau tampak seperti sedang memilih kata-kata yang tepat.
“Hanin,” ucap beliau pelan.
“Iya, Ustaz.”
“Tadi sore Arsenio datang menemui saya.”
Hanin sedikit mengernyit. “Arsenio?”
“Iya.”
Beberapa detik hening. Lalu Ustaz Hamid melanjutkan. “Dia menyampaikan sesuatu yang cukup penting.”
Hanin mulai merasa penasaran.
“Dia mengatakan … ingin melamarmu.”
Kalimat itu membuat Hanin terdiam. Beberapa detik ia bahkan tidak bergerak.
Matanya sedikit membesar. “Melamar … saya?”
“Iya.”
Ruangan itu kembali hening. Hanin menunduk pelan. Di dalam kepalanya, banyak hal tiba-tiba berputar bersamaan.
Ia tidak pernah benar-benar memikirkan hal seperti ini sebelumnya. Arsenio memang sering datang ke pesantren. Namun, selama ini hubungan mereka hanya sebatas guru mengaji dan murid. Tidak lebih dari itu.
Ustaz Hamid menatapnya lembut. “Saya tidak memaksamu. Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu.”
Hanin masih diam. Namun, perlahan sebuah pikiran lain muncul di kepalanya.
Jika ia menikah, ia bisa keluar dari pesantren. Ia mungkin tidak perlu lagi berada dekat dengan Ghania setiap hari. Dan yang lebih penting ia tidak akan pernah bertemu Fahmi lagi.
Nama itu kembali menusuk hatinya seperti jarum kecil. Lelaki yang dulu begitu ia cintai. Dan yang sekarang akan menjadi suami sahabatnya sendiri.
Hanin menarik napas pelan. Mungkin ini jalan yang diberikan Allah untuknya. Untuk benar-benar meninggalkan masa lalu.
Ia mengangkat wajahnya kembali. “Ustaz,” katanya pelan.
“Iya?”
“Jika menurut Ustaz Mas Arsenio adalah pria yang baik untuk dijadikan suami ... saya bersedia.”
Ustaz Hamid sedikit terkejut dengan jawaban yang cukup cepat itu. “Kamu yakin?”
Hanin mengangguk kecil. “Saya percaya pada penilaian Ustaz.”
Ia lalu berkata lebih mantap. “Kalau menurut Ustaz beliau pria yang baik, saya bersedia menerimanya.”
Beberapa detik Ustaz Hamid hanya menatap Hanin. Beliau bisa melihat ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan wajah gadis itu. Namun, beliau tidak langsung bertanya lebih jauh.
Akhirnya beliau tersenyum pelan. “Saya rasa Arsenio pria yang baik.”
“Dia sopan, bertanggung jawab, dan terlihat sungguh-sungguh.”
Hanin menunduk sebentar. “Kalau begitu,” ucapnya pelan. “Aku menerimanya, Ustaz.”
Ia mengangkat wajahnya kembali. “Aku bersedia menjadi istrinya.”
Ustaz Hamid tersenyum lebih lebar sekarang. “Alhamdulillah.”
Beliau mengangguk pelan. “Besok akan saya sampaikan kabar ini kepada Arsenio.”
Hanin ikut mengangguk. Percakapan mereka tidak berlangsung terlalu lama setelah itu.
Ustaz Hamid hanya memberi beberapa nasihat singkat tentang pernikahan, tentang tanggung jawab, dan tentang pentingnya niat yang baik dalam membangun rumah tangga. Hanin mendengarkan semuanya dengan tenang.
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
semoga bahagia selalu..
masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....