Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mancing ala konglomerat
Febi takjub juga dengan gaya anak anak konglomerat yang pergi memancing. Dia dan Jetro sekarang berada di yatch yang sama dengan Kael dan Adelia, juga kembarannya Nathalia dan suaminya-Naresh.
Sementara itu ada empat yatch mewah lagi yang lain di dekat yatch mereka.
"Kita maen jetski, ya," tukas Jetro.
"Jetski?" Febi belum pernah mengendarainya.
Di yatch ini ada jetski? Batinnya bertanya kaget.
"Ya." Tanpa menunggu jawaban Febi, Jetro menyusul Kael yang sudah memberikan kode padanya.
Febi menatap Jetro dan Kael yang sudah mengeluarkan jetski, sementara Nathalia menemani Naresh mempersiapkan pancingannya.
"Ayo," ajak Jetro ketika Febi masih bengong melihat Adelia yang sudah naek di boncengan jetski bersama Kael.
"Udah dipanggil bang Jetro, tuh," canda Nathalia pada Febi.
Wajah Febi merona.
"Tinggal dulu, ya," pamitnya canggung. Padahal baru kenal tapi sepupu sepupu Jetro ramah ramah dengannya.
"Iya... Peluk yang kencang nanti. Jetro kalo bawa jetski suka ngebut," tawa Nathalia setelah memberi ingat
Febi mengangguk gugup sambil mendekat ke arah Jetro yang sudah menunggunya dengan sabar.
Begitu Febi menaikinya, jetski meluncur ke laut membuat jantung Febi seperti terbang. Dia pun memeluk erat pinggang Jetro yang langsung saja melaju cepat menyusul sepupu dan kerabatnya yang lain.
Tubuh Febi terguncang guncang ketika jetski yang ngebut bertemu dengan gelombang laut. Tubuhnya sudah sangat merapat di punggung Jetro.
Awalnya takut, tapi kemudian senyumnya mengembang manis. Angin laut menampar wajah dan rambutnya, juga rambut Jetro yang panjang sebahu.
Jantungnya tambah berdegup kencang saat sesekali satu tangan Jetro mengusap tangannya yang memeluk laki laki yang sudah sah menjadi suaminya.
Kemudian Jetro mengurangi kecepatannya, dia jadi ingin lebih lama menikmati kedekatannya di laut lepas dengan Febi.
Febi sudah terlalu nyaman hingga tanpa sadar membiarkan dagunya menempel di bahu Jetro.
"Suka?" tanya Jetro tetap fokus menatap ke depan.
"Iya." Febi menyahut pelan. Ini pengalaman pertamanya dan dia ingin mengulangnya lagi dengan Jetro. Febi menahan kedutan yang ingin tumpah ruah di bibirnya.
Jetro dapat merasakan degupan jantung yang kian cepat memukul punggungnya.
"Kapan kapan kita bisa ke sini lagi," janji Jetro.
Berdua aja, batinnya lagi.
Febi menganggukkan kepalanya, hingga dagunya bergesekan dengan bahu Jetro.
Jetro mendadak menoleh hingga bibir lembut Febi menyentuh pipi Jetro.
Jetro tersenyum dengan kehangatan yang menyentuh hatinya. Febi memang sempat kaget dengan tindakannya yang barusan walaupun dilakukannya hanya sekilas saja. Dia suka melihatnya. Satu tangannya kini menggenggam erat tangan Febi yang ada di perutnya. Sesekali dia mengusapnya.
Jantungnya pun berdebar sama cepatnya seperti jantung Febi. Pelukan gadis itu makin erat.
*
*
*
Nathalia dan Naresh sudah membakar ikan yang mereka berdua pancing. Ternyata Naresh pemancing unggul, lumayan banyak ikan yang berhasil dia dapatkan. Dan dia juga cukup cekatan membakar ikan ikan itu dengan Nathalia yang tetap berada di sisinya membantu.
"Kabarnya beberapa hari lagi Yongki dan orang orangnya akan dipindahkan ke lapas," ujar Kael setelah mencubis ikan dan meletakkannya di piring Adelia.
"Hukuman mereka sudah diputuskan. Hukuman ma-ti," sahut Adelia sambil tersenyum melihat yang dilakukan Kael.
"Iya, dia b@ndar. Hukumannya memang sudah sangat pantas," sambung Nathalia geram. Dia, sepupu dan kerabatnya sama sekali tidak menyangka karena sudah menangkap bandar besar n@rkob@.
"Tukang bom juga," sambung Adelia. Mengingat rumah sakit milik keluarga sempat heboh. Untung saja sekuriti yang terluka akibat ledakan bom itu sekarang sudah membaik keadaannya
"Masalahnya orang orang itu cukup berbahaya," tukas Naresh.
"Iya, betul." Nathalia menimpali. Yang dia takutkan teman teman bandar itu bergerak untuk membungkam Yongki dan petugas yang akan membawa mereka.
"Kamu harus hati hati, yang," ucap Jetro sambil menatap Febi dengan agak khawatir. Rasanya Jetro ingin Febi mengundurkan dirinya sebagai anggota polwan dan menjadi asistennya saja. Jadi dia tidak perlu merasa sekhawatir ini saat Febi sedang menghadapi penjahat.
Panggilan yang dari Jetro ucapkan membuat Febi agak tersipu. Sudut sudut di hatinya sudah dipenuhi bunga bunga yang bermekaran.
"Kawal nanti, Jet," saran Nathalia.
"Tentu." Untuk bisa menikahi Febi saja dia sudah merencanakannya dengan sangat matang. Apalagi sekarang menyangkut keselamatan istrinya. Tidak akan dia biarkan jika ada orang yang ingin mencelakakannya.
Febi masih terdiam karena dia agak terkejut ternyata Jetro dan sepupu sepupunya menyadari hal berbahaya ini juga. Memang saat ini rutan di mako sudah dijaga cukup ketat, karena yang ditahan adalah bandar besar. Banyak oknum yang terlibat setelah Yongki bernyanyi. Yongki tidak mau jatuh sendiri rupanya. Jadinya sangat meresahkan.
Febi menatap Jetro ketika laki laki itu mendekatkan cubisan ikan bakar ke dekat mulutnya.
Febi baru membuka mulutnya ketika Jetro memintanya membuka mulutnya dengan isyarat matanya.
Dua pasangan lainnya tersenyum melihat tingkah Jetro yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang selama ini mereka kenal.
"Ternyata dia bisa romantis juga," bisik Adelia pada kembarannya yang menanggapinya dengan senyum.
Ternyata sekaku kakunya laki laki, kalo ketemu pawangnya, bisa jadi cair juga, batin Nathalia yang jadi mengingat sikap Naresh padanya.
*
*
*
"Kamu nanti ikut ke rutan mako saat proses pemindahan tahanan?" tanya Jetro saat dia dan Febi sudah membaringkan tubuh mereka di tempat tidur.
Febi mengangguk sambil memiringkan tubuhnya, seperti yang dilakukan Jetro.
"Tenang saja. Kami sudah mengantisipasinya," ucap Febi sambil membalas tatapan lembut penuh kekhawatiran dari Jetro.
"Aku percaya. Hanya saja kamu harus hati hati." Jetro pasti akan menyiapkan pasukan sepupu dan kerabatnya yang sudah deal di hari hari sebelumnya. Tawanan kali ini berbahaya.
"Iya."
"Sekarang aku inginnya kamu mundur saja jadi polwan." Jetro menghembuskan nafas panjangya.
Febi tertawa pelan.
"Tenang aja. Ngga akan apa apa."
Jetro tersenyum.
"Aku percaya."
"Jangan minta aku mundur."
Jetro tersenyum.
"Kamu cantik saat mengenakan seragam. Aku hanya khawatir saja," puji Jetro lembut. Dia tersenyum melihat rona merah mewarnai pipi istrinya.
"Aku langsung naksir saat lihat kamu dengan seragam itu," jujur Jetro.
DEG DEG
Febi mematung saat membalas tatapan Jetro.
Jetro mengulurkan tangannya ke arah pipi Febi yang merona. Mengusapnya lembut.
"Jangan sampai terluka," pesannya dengan tatapan yang mengunci netra Febi.
Febi mengangguk dengan debar debar di dadanya yang makin ngga teratur.
Kemudian Jetro meraih satu tangan Febi dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
Kabin kapal bergoyang pelan dengan Jetro yang kini sudah membenamkan bibirnya pada bibir Febi. Tangannya pun sudah memeluk erat pinggang Febi.