Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Lima minggu kemudian, musim semi benar-benar menyapa New York dengan bunga-bunga cherry blossom yang mulai bermekaran, namun di dalam sayap privat Rumah Sakit Mount Sinai, suasana jauh dari kata tenang. Ketegangan yang mencekam menyelimuti lorong-lorong VIP sejak pukul tiga dini hari.
Andreas St. Clair, pria yang biasanya selalu memiliki kendali penuh atas emosinya, kini tampak seperti orang yang berbeda. Ia mondar-mandir di depan pintu kamar persalinan, mengabaikan jas mahalnya yang sudah kusut dan rambut yang berantakan karena terus-menerus ia usap dengan cemas. Setiap kali suara rintihan Sera terdengar dari dalam, jantung Andreas seolah berhenti berdetak.
"Sir, minumlah air ini," tawar Erick, asisten baru nya yang setia.
"Tidak sekarang, Erick," jawab Andreas tajam, matanya tidak lepas dari lampu indikator di atas pintu. "Aku tidak bisa bernapas selama dia masih berjuang di dalam sana."
Satu jam kemudian, dokter akhirnya mengizinkan Andreas masuk. Pemandangan di dalam sana menghancurkan sekaligus menguatkan hatinya. Sera tampak sangat lemas, wajahnya bersimbah keringat, namun matanya memancarkan tekad yang luar biasa.
Andreas segera menghampiri sisi ranjang, menggenggam tangan Sera seolah-olah ia bisa memindahkan rasa sakit itu ke dalam tubuhnya sendiri. "Aku di sini, Sayang. Aku di sini. Kau hebat, kau kuat," bisik Andreas tepat di telinga Sera, suaranya bergetar hebat.
"Andreas... sakit sekali," rintih Sera, jemarinya mencengkeram lengan Andreas hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Aku tahu, aku tahu. Satu dorongan lagi, Sera. Demi jagoan kita. Aku mencintaimu," Andreas menciumi kening Sera berkali-kali, memberikan seluruh energinya untuk wanita yang telah memberikan segalanya baginya.
Tepat pada pukul 05:42 pagi, sebuah suara memecah kesunyian kamar tersebut. Sebuah tangisan melengking yang begitu nyaring, begitu penuh kehidupan.
Dunia Andreas seolah berhenti berputar saat dokter mengangkat sesosok bayi mungil yang masih merah ke pelukan Sera. Andreas terpaku. Air mata yang selama ini ia tahan kini jatuh tak terbendung. Ia melihat darah dagingnya sendiri, buah cintanya dengan Sera yang selama ini mereka jaga dalam rahasia dan badai.
"Seorang putra yang tampan, Mr. St. Clair," ucap Dr. Miller sambil tersenyum.
Andreas membungkuk, menatap wajah bayi yang kini mulai tenang di dada Sera. Bayi itu memiliki hidung yang tegas mirip Andreas, namun bentuk bibirnya benar-benar milik Sera. Jemari kecil bayi itu secara ajaib menggenggam kelingking Andreas, seolah sedang menyapa ayahnya untuk pertama kali.
"Hai, Nak..." suara Andreas pecah oleh isak tangis haru. "Selamat datang di dunia. Aku Ayahmu."
Sera mendongak dengan sisa-sisa kekuatannya, menatap Andreas dengan senyum paling bahagia yang pernah ia miliki. "Dia sangat cantik, Andreas."
"Dia sempurna, Sera. Sama sepertimu," balas Andreas, mencium bibir Sera dengan lembut, sebuah ciuman yang sarat akan rasa syukur dan pemujaan. "Siapa namanya, Nyonya St. Clair?"
Sera menatap bayi di pelukannya dengan penuh kasih. "Dia adalah pelengkap hidup kita. Namanya Archelo. Archelo St. Clair."
Berita kelahiran Archelo menyebar seperti kilat ke seluruh penjuru dunia. Jika pengakuan pernikahan mereka kemarin adalah gempa, maka kelahiran Archelo adalah puncaknya.
Media sosial kembali lumpuh. Foto pertama yang dirilis oleh tim humas St. Clair bukanlah foto studio yang kaku, melainkan foto hitam putih yang memperlihatkan tangan besar Andreas dan tangan lembut Sera yang sama-sama menopang satu kaki kecil milik Archelo.
"Archelo St. Clair! Nama yang sangat megah!"
"Selamat datang, Pangeran New York! Dia pasti akan sangat tampan!"
"Andreas benar-benar berhenti dari dunia hiburan untuk bayi ini. Dia ayah yang luar biasa!"
Beberapa hari kemudian, Mansion St. Clair tidak lagi terasa dingin dan kaku. Suara tangis bayi kini menjadi melodi baru di koridor-koridor megahnya. Mommy Elysa dan Arthur St. Clair tampak sering terlihat di kamar bayi, memperebutkan siapa yang berhak menggendong Archelo lebih dulu.
Di dalam kamar utama yang tenang, Andreas sedang menggendong Archelo dengan sangat mahir, sesuatu yang ia pelajari secara kilat selama di rumah sakit. Ia mengayunkan tubuh mungil itu dengan perlahan, sambil menyanyikan gumaman rendah yang membuat Archelo tertidur pulas.
Sera melihat pemandangan itu dari atas ranjang, hatinya menghangat. "Kau terlihat sangat cocok menjadi ayah, Andreas."
Andreas berjalan mendekati Sera, mengecup dahi istrinya sebelum meletakkan Archelo yang sudah terlelap di dalam box bayi di samping tempat tidur mereka. Ia duduk di sisi ranjang, menarik Sera ke dalam pelukannya.
"Dulu aku berpikir hidupku adalah tentang naskah, peran, dan tepuk tangan orang lain," bisik Andreas sambil menatap Archelo yang sedang bermimpi. "Tapi sekarang, naskahku sudah selesai. Hidupku yang sesungguhnya baru saja dimulai bersamamu dan Archelo."
Sera menyandarkan kepalanya di bahu Andreas, menutup matanya dengan rasa syukur yang tak terhingga.
Badai Veris sudah lewat, rahasia sudah terungkap, dan kini hanya ada kedamaian. Di tengah kemewahan Long Island, mereka telah menemukan apa yang selama ini mereka cari: sebuah keluarga yang nyata, yang dibangun di atas kejujuran dan cinta yang tak tergoyahkan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰