Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singularitas Reruntuhan — Memasuki Cakrawala Terlarang
Dimensi saku yang diciptakan oleh Liem-Banyu seharusnya menjadi tempat perlindungan yang paling aman di antara lipatan ruang. Namun, siang itu, dimensi tersebut tampak seperti kaca retak yang siap hancur berkeping-keping. Di pusat ruangan, Arkan duduk bersila, namun tubuhnya tidak lagi tampak seperti manusia.
Arkan mengerang pelan, sebuah suara yang lebih mirip geraman badai daripada suara manusia. Di dalam Dantian-nya, lima elemen—Tanah yang berat, Api yang membara, Angin yang tajam, Air yang tenang namun mematikan, dan Petir yang menghancurkan—saling bertabrakan dengan kecepatan sub-atomik. Penyatuan paksa ini menciptakan energi tolak-menolak yang luar biasa. Pori-pori kulit Arkan mulai mengeluarkan darah berwarna emas keunguan, yang langsung menguap menjadi uap energi murni begitu menyentuh udara.
" Arkan!" Cici berteriak, wajahnya pucat pasi. Dia mencoba mendekat, namun gravitasi di sekitar Arkan mendadak berlipat ganda hingga ribuan kali. BRAK! Lantai batu di bawah kaki Cici hancur, memaksanya untuk berlutut.
Liem-Banyu dan Srikandi-Tan tidak jauh berbeda. Mereka terhimpit oleh tekanan udara yang begitu padat hingga paru-paru mereka terasa seperti sedang diperas. Mata Langit Liem-Banyu berdenyut merah, memberikan peringatan bahaya tingkat absolut.
"Jangan mendekat!" Suara itu bukan datang dari mulut Arkan, melainkan dari Dewi Qi Lin yang tiba-tiba bermanifestasi di belakang Arkan. Sosoknya yang anggun kini tertutup oleh jubah cahaya perak yang megah. "Tubuhnya sedang mengalami Singularitas. Jika kalian menyentuhnya, eksistensi kalian akan terhapus!"
Dewi Qi Lin meletakkan jemarinya yang transparan di dahi Arkan. "Arkan, dengarkan aku. Dunia ini terlalu rapuh untuk menampung lima elemen purba yang menyatu. Jangan mencoba menahannya di dalam tubuh fana ini. Buka gerbangnya! Jadilah pusat dari kehampaan itu sendiri!"
Arkan membuka matanya. Pupil mata kanannya berubah menjadi pusaran hitam pekat tanpa dasar, sementara mata kirinya bersinar perak ilahi. Dengan satu sentakan kehendak, Arkan menarik seluruh energi lima elemen itu ke satu titik di tengah dadanya.
ZLAP!
Sebuah titik hitam seukuran kelereng muncul. Itulah Black Hole Core. Titik itu mulai menghisap cahaya, udara, bahkan konsep ruang di sekitarnya.
[Bagian 2: Melangkah ke Dalam Kejadian (The Event Horizon)]
Apa yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang akan tertulis dalam sejarah terlarang semesta. Tubuh Arkan mulai terdistorsi, memanjang dan melengkung, sebelum akhirnya tersedot masuk ke dalam titik hitam di dadanya sendiri. Arkan telah melompat ke dalam Black Hole-nya sendiri—sebuah perjalanan menuju dimensi internal yang tak terjamah oleh hukum langit manapun.
Di dalam Black Hole, Arkan menemukan dirinya berada di tengah ruang hampa yang luasnya tak terbatas. Tidak ada atas atau bawah. Hanya ada aliran energi lima warna yang berputar seperti nebula raksasa. Di pusat nebula itu, lima entitas elemen bermanifestasi sebagai bayangan naga, phoenix, harimau, kura-kura, dan qilin.
"Inilah ujianmu," suara Dewi Qi Lin bergema di setiap sudut dimensi internal tersebut. "Taklukkan mereka, atau kau akan menjadi bagian dari ketiadaan selamanya."
Arkan tidak gentar. Dia mulai melakukan hand seal (segel tangan) dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Setiap gerakan tangannya meninggalkan jejak partikel cahaya perak yang membentuk pola formasi purba. Di dalam sini, waktu tidak berlaku. Satu detik di luar bisa berarti seribu tahun meditasi di dalam.
Arkan duduk di tengah badai elemen tersebut. Dia mulai menelan elemen-elemen itu satu per satu.
GONG!
Dentuman pertama terdengar. Basis kultivasi Arkan meledak melewati batas Core Formation, menghancurkan belenggunya dan masuk ke Soul Realm.
GONG! GONG!
Dua dentuman lagi. Dia menerjang Earth Realm dan Sky Realm. Tubuh astral Arkan di dalam Black Hole kini berpijar dengan aura transparan yang sanggup meruntuhkan gunung.
[Bagian 3: Resonansi Empat Pilar]
Meskipun Arkan berada di dalam dimensi internalnya, hubungan jiwanya dengan rekan-rekannya tidak terputus. Melalui kontrak setia yang tak terlihat, energi luapan dari proses evolusi Arkan mulai merembes keluar ke dimensi saku.
"Arkan... aku bisa merasakannya," bisik Cici. Dia merasakan hawa panas yang luar biasa mengalir dari pusat Black Hole Arkan menuju jantungnya sendiri.
Elemen Api Purba yang terlalu liar bagi Arkan, justru menemukan pelabuhan yang sempurna di dalam tubuh Cici. Arkan, dari dalam Black Hole, mengulurkan tangan astral-nya dan menyentuh dahi Cici yang berada di dunia luar melalui retakan ruang.
"Cici... ambillah api ini. Jadilah sayapku yang membakar langit," suara Arkan terdengar di dalam pikiran Cici
BOOM!
Api berwarna merah-emas meledak dari tubuh Cici. Teratai suci yang biasanya berwarna putih murni di bawah kakinya kini terbakar dan mekar kembali menjadi Teratai Merah Crimson. Inilah kelahiran Dao Api. Cici menjerit saat basis kultivasinya ditarik paksa dari Core Formation menuju Soul Realm (Awal). Sepasang sayap Phoenix api muncul di punggungnya, memancarkan hawa panas yang sanggup melelehkan senjata tingkat Earth dalam sekejap.
Di sisi lain, Liem-Banyu dan Srikandi-Tan juga mengalami transformasi, meski tidak sedrastis Cici. Arkan membuang sisa-sisa elemen Petir dan Tanah untuk memperkuat kedua pengikutnya.
Liem-Banyu merasakan petir hitam merambat masuk ke saraf matanya. Mata Langit-nya berevolusi, pupilnya kini memiliki tiga lingkaran konsentris yang berputar lambat. Dia mencapai Qi Foundation Puncak. Kini, dia tidak hanya bisa melihat energi, tapi bisa memprediksi jalur serangan musuh sebelum musuh itu sendiri berpikir untuk menyerang.
Srikandi-Tan merasa tubuhnya menjadi seberat planet. Elemen Tanah memadatkan struktur sel-selnya, mengubah kulitnya menjadi sekeras berlian namun tetap lentur seperti bayangan. Dia mencapai Qi Foundation Puncak, menjadikannya benteng pertahanan yang tak tertembus sekaligus pembunuh yang mematikan.
[Bagian 4: Kebangkitan Sang Dao Master]
Di dalam Black Hole, Arkan telah mencapai puncaknya. Sembilan dentuman telah berakhir. Dia kini berdiri di ranah Nirvana Realm. Namun, yang lebih mengerikan adalah pemahamannya tentang hukum alam. Dia bukan lagi seorang praktisi; dia adalah seorang Dao Master (Reruntuhan).
Arkan membuka matanya di dalam singularitas. Dia melangkah maju, dan secara fisik, dia keluar dari titik hitam di dadanya sendiri
Ruangan dimensi saku itu mendadak sunyi. Gravitasi yang tadinya menindas kini menghilang, digantikan oleh aura dingin yang membuat tulang serasa membeku. Arkan berdiri di sana, melayang beberapa senti di atas lantai yang hancur. Jubahnya kini tidak lagi berwarna hitam biasa, melainkan jalinan nebula kegelapan yang dihiasi percikan bintang perak.
Cici, Liem, dan Srikandi berdiri di belakangnya. Penampilan mereka telah berubah total. Cici memancarkan hawa panas yang agung, sementara Liem dan Srikandi memancarkan ketajaman yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Tuan... ranah apa ini?" Liem-Banyu bertanya dengan suara bergetar, mencoba membaca aura Arkan dengan Mata Langitnya, namun yang dia lihat hanyalah kegelapan yang menelan penglihatannya.
"Ini adalah awal dari akhir," jawab Arkan datar. Suaranya kini memiliki gema ganda yang aneh, seolah-olah ribuan suara berbisik secara bersamaan. "Kaisar Drak berpikir dia memegang takdir semesta. Dia lupa, bahwa sebelum ada cahaya, yang ada hanyalah kehampaan."
Arkan mengepalkan tangannya. Sebuah pusaran gravitasi kecil muncul di telapak tangannya, menghisap sisa-sisa energi di ruangan itu hingga bersih total.
"Persiapkan diri kalian. Kita tidak akan berjalan menuju Istana Universal. Kita akan menyeret Istana itu ke hadapan kita."
[Bagian 5: Guncangan di Luar Cakrawala]
Saat Arkan keluar dari meditasinya, seluruh alam semesta seolah memberikan respon. Di berbagai planet, laut pasang secara tiba-tiba, dan para kultivator tingkat tinggi merasakan getaran hebat di dalam jiwa mereka.
Di Istana Universal, Kaisar Drak yang sedang duduk di singgasananya tiba-tiba berdiri. Cangkir giok di tangannya hancur menjadi debu.
"Nirvana...? Tidak, ini lebih dari sekadar ranah," gumam Drak, matanya menatap tajam ke arah koordinat Distrik Naga Emas. "Dia telah menyentuh Singularitas. Jenderal Langit! Pergi dan cegat dia di Gerbang Kehampaan! Jangan biarkan dia melangkah lebih jauh, atau dia akan menghapus garis waktu ini!"
Di dimensi saku, Arkan menoleh ke arah timnya. Dia menjentikkan jari, dan sebuah portal hitam besar terbuka di depan mereka—sebuah jalan pintas yang membelah ruang dan waktu menggunakan kekuatan Black Hole-nya.
"Ayo berangkat," ucap Arkan. "Hari ini, kita akan membuktikan bahwa matahari pun bisa padam."
Shunya, sang Harimau Ekor 10, melompat pertama kali ke dalam portal, diikuti oleh Cici yang membara, Liem yang waspada, dan Srikandi yang menghilang dalam bayangan. Arkan melangkah terakhir, meninggalkan dimensi saku yang hancur di belakangnya. Babak baru peperangan semesta telah resmi dibuka.
Arkan: Nirvana Realm (Dao Master: Reruntuhan). Kemampuan Khusus: Void Singularity & 5-Element Black Hole.
Cici: Soul Realm Awal (Dao Initiate: Api). Senjata: Teratai Merah Crimson.
Liem-Banyu: Qi Foundation Puncak. Kemampuan: Mata Langit (Prediksi Masa Depan 1 Detik).
Srikandi-Tan: Qi Foundation Puncak. Kemampuan: Body of Obsidian (Ketahanan Fisik Absolut).
Shunya: Nirvana Beast (Evolusi Ekor 10).