NovelToon NovelToon
Hei Ying Tun Tian (Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)

Hei Ying Tun Tian (Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan / Transmigrasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri

Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.

Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.

Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.

Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.

Mereka salah.

Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.

Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Tanah Para Pendosa

...Bab 12: Tanah Para Pendosa...

Kereta kuda yang membawa Han Xuan melaju menembus kabut tebal di perbatasan Wilayah Barat. Di sini udara terasa berbeda—lebih tajam, lebih dingin, dan membawa aroma logam berkarat yang konstan. Wilayah Barat, atau yang sering disebut sebagai "Tanah Para Pendosa", adalah tempat di mana tanahnya menolak untuk menumbuhkan tanaman pangan namun subur dengan mineral langka dan energi yang liar.

Han Xuan duduk diam di dalam kereta, matanya yang hitam-putih menatap ke arah luar jendela. Di pandangannya, kabut yang menyelimuti wilayah ini bukanlah uap air biasa, melainkan residu dari Hukum Kekosongan yang bocor dari retakan dimensi ribuan tahun lalu. Inilah alasan mengapa para utusan Kekaisaran jarang menginjakkan kaki di sini: aura di tempat ini mengikis koneksi mereka dengan cahaya matahari.

"Tuan, kita sudah memasuki zona luar Lembah Pembuangan" suara Wei terdengar dari luar kereta, sedikit bergetar karena suhu yang terus menurun. "Ada sekelompok orang di depan. Mereka bukan penjaga resmi, melainkan faksi pengumpul tol."

Han Xuan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengetukkan jarinya ke meja kayu di dalam kereta. Tok... tok...

Ketukan itu bukan sekadar suara. Setiap ketukan mengirimkan gelombang frekuensi melalui bayangan kereta, memindai jumlah dan kekuatan orang-orang di depan. Ada dua belas orang. Sepuluh di tingkat Mortal Tempering puncak, dan dua orang di tingkat Meridian Forging awal. Bagi orang biasa, ini adalah ancaman maut. Bagi Han Xuan, ini adalah "bahan bakar" pertama yang ia temukan di wilayah baru ini.

"Wei, jangan berhenti" perintah Han Xuan datar.

"Tapi Tuan, mereka memasang barikade tombak hitam!"

"Tabrak saja"

Wei menelan ludah, namun ia sudah belajar untuk tidak membantah perintah tuannya. Ia mencambuk kuda-kuda itu lebih keras. Kuda-kuda tersebut, yang sudah dimodifikasi oleh Han Xuan dengan sedikit energi bayangan, tidak meringkik ketakutan. Mereka justru mengeluarkan uap hitam dari lubang hidungnya dan berlari dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

BRAKK!

Barikade itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan aura pelindung kereta. Para preman perbatasan itu terkejut. Mereka tidak menyangka sebuah kereta kuda sederhana memiliki daya hancur seperti kereta perang berat.

"Berhenti, kau bangsat!" teriak salah satu pemimpin preman yang memiliki bekas luka melintang di wajahnya. Ia melompat ke atas atap kereta sambil menghunus kapak besar yang dialiri Qi berwarna cokelat keruh.

Namun, sebelum kapak itu sempat mendarat, sebuah tangan putih pucat menembus atap kereta dari bawah dan mencengkeram pergelangan kaki pria itu.

Han Xuan tidak muncul ke atap. Ia tetap duduk di posisinya, namun tangan kanannya yang dibalut pusaran hitam seolah-olah memanjang melalui dimensi bayangan.

"Argh! Kakiku!" teriak pria itu. Ia merasa seolah-olah kakinya sedang dimasukkan ke dalam mesin penggiling yang tidak terlihat. Bukan tulangnya yang hancur, melainkan esensi hidup dan Qi miliknya yang tersedot paksa melalui pori-pori kulitnya.

Dalam hitungan detik, pria besar itu layu menjadi sosok yang kurus kering dan jatuh dari atap kereta seperti tumpukan kain kotor. Teman-temannya yang melihat kejadian itu membeku di tempat. Mereka telah melihat banyak kematian di wilayah ini, tapi belum pernah melihat seseorang dihisap habis dalam sekejap tanpa perlawanan.

[Pesan Sistem Internal: Esensi Terserap - Kemajuan Meridian: 15%]

Han Xuan merasakan sensasi dingin yang menyegarkan mengalir di punggungnya. Rasa sakit dari meridiannya sedikit berkurang. Namun, sebagai gantinya, ia merasa indra penciumannya mulai memudar. Bau tanah basah dan aroma besi yang tadi ia rasakan kini menghilang, menyisakan kekosongan indra yang baru.

Satu lagi harga yang dibayar batin Han Xuan tanpa penyesalan.

Kereta itu akhirnya melambat saat mereka sampai di sebuah pemukiman yang dibangun dari reruntuhan benteng kuno. Tempat itu bernama "Pasar Abu". Di sini, hukum Kekaisaran tidak berlaku. Yang berlaku adalah hukum barter: nyawa untuk informasi, darah untuk keamanan.

Han Xuan melangkah keluar dari kereta. Ia mengenakan jubah abu-abu panjang dengan tudung yang menutupi separuh wajahnya. Xiao Mei mengikuti di belakangnya, memegang erat jubah Han Xuan. Di mata kelabu gadis itu, Pasar Abu terlihat seperti lautan hantu yang saling memangsa.

"Cari penginapan paling kotor di tempat ini, Wei" ucap Han Xuan.

"Kenapa yang paling kotor, Tuan?"

"Karena di tempat kotor, orang tidak akan bertanya mengapa kau tidak memiliki bayangan saat berdiri di bawah lampu"

Mereka berjalan melewati kerumunan orang yang menatap mereka dengan lapar. Namun, setiap kali seseorang mencoba mendekat, mereka tiba-tiba merasakan hawa dingin yang menusuk tulang belakang mereka dan memilih untuk mundur. Aura "predator puncak" yang dipancarkan Han Xuan secara pasif adalah peringatan bagi siapa pun yang memiliki insting bertahan hidup.

Di dalam sebuah kedai tua yang berbau arak murahan, Han Xuan duduk di sudut paling gelap. Ia mengeluarkan cincin tembaga pemberian Si Tua Bumi dan meletakkannya di meja.

Seorang pelayan wanita dengan mata satu mendekat. Saat melihat cincin itu, ia tidak segera melayani, melainkan memberikan isyarat tangan yang rumit.

Han Xuan membalas isyarat itu dengan cara memutar cincinnya tiga kali ke arah berlawanan jarum jam.

"Anda datang lebih cepat dari yang kami duga, pewaris bayangan" bisik pelayan itu. Suaranya tidak memiliki nada manusiawi sama sekali.

"Aku butuh akses ke Sumur Kekosongan" ucap Han Xuan langsung. "Aku tahu faksi kalian mengendalikannya. Aku akan membayar dengan teknik Refining yang akan membuat Qi kotor wilayah ini menjadi murni kembali."

Pelayan itu tertegun. Di Wilayah Barat, masalah terbesar adalah energi yang terlalu liar untuk diserap dengan aman. Jika Han Xuan benar-benar memiliki teknik pemurnian tersebut, ia baru saja menawarkan kunci untuk menguasai seluruh wilayah ini.

"Tawaran yang menarik. Tapi Tuan harus tahu, Sumur Kekosongan bukan hanya milik kami. Ada tiga faksi besar yang mengawasinya: The Bone Eaters, The Shadow Crows, dan satu utusan murtad dari Kekaisaran yang bersembunyi di sana."

Han Xuan menyesap cangkir kosongnya, seolah-olah ia bisa merasakan rasa arak yang sebenarnya sudah tidak bisa ia kecap lagi.

"Beri tahu mereka" ucap Han Xuan sambil menatap pelayan itu dengan mata peraknya yang mengerikan. "Sang Penelan telah tiba. Mereka bisa memilih untuk berlutut sekarang, atau menjadi nutrisi bagi kenaikan tingkatku besok malam."

Pernyataan perang itu segera menyebar di Pasar Abu seperti api yang menyambar bensin. Han Xuan tidak datang untuk bersembunyi. Ia datang untuk memanen. Di dunianya yang hitam-putih, ia sudah melihat tiga pilar cahaya hitam yang besar di tengah lembah—sasaran utamanya untuk mencapai tingkat Core Condensation dalam waktu singkat.

Namun, di sudut lain kedai itu, seorang pria dengan pakaian lusuh namun memegang pedang kayu tua terus menatap Han Xuan. Pria itu adalah satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh aura intimidasi Han Xuan.

"Anak muda" ucap pria pedang kayu itu tiba-tiba dari kejauhan. "Menelan dunia itu mudah. Yang sulit adalah memuntahkannya kembali saat kau menyadari bahwa rasanya sangat pahit."

Han Xuan menoleh. Ia melihat aura pria itu tidak berwarna abu-abu, melainkan transparan—sebuah tanda bahwa orang ini telah mencapai tingkat Hukum Kekosongan yang sangat tinggi.

Variabel baru telah muncul. Seseorang yang mungkin bukan musuh, tapi juga bukan kawan.

Dapatkan Han Xuan menaklukkan tiga faksi besar di Pasar Abu tanpa terlibat konflik langsung dengan ahli misterius ini?

<>Cerita Bersambung

1
johanes ronald
idenya bagus sekali, dia ahli perang yg aesungguhnya
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: makasihh 🔥😄
total 1 replies
johanes ronald
balonku ada 5 ya? 🤣🤣🤣
cimownim
waah bagus ka ceritanya😍
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: makasih kak🔥 jadi semangat nih😄
total 1 replies
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
btw bisa kali Like sama Koment🔥
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
Inspirasi Novel Dari > Reverend Insanity (Fang Yuan), The Villain Of Destiny (Gu Change), Myst, Might, Mayhem / Legend Of Heavenly Chaos Demon (Cheon Ma), ada lagi tapi malas nulis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!