Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambang Festival
Malam sebelum Festival Sastra Musim Semi tiba dengan kesunyian yang mencekam namun menenangkan. Langit di atas Chiba tampak bersih dari awan, memperlihatkan taburan bintang yang seolah ikut mengamati setiap variabel yang telah kususun selama seminggu terakhir. Di dalam kamarku, hanya ada suara dengung pelan dari kipas laptop dan detak jam dinding yang seirama dengan napas stabilku.
Cahaya layar monitor memantul di retinaku, memperlihatkan barisan kalimat terakhir dari novel pribadiku, 'Ordinary Days'. Ini adalah proyek yang kukerjakan secara paralel dengan bimbingan kembar lima. Jika naskah mereka adalah tentang pencarian jati diri, maka novelku adalah tentang seorang pria yang mencoba memahami kemanusiaan di tengah sistem yang kaku.
[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]
[Status: Penyelesaian Bab Terakhir - Sinkronisasi 99.8%]
[Keahlian Analitis: Aktif]
Jemariku bergerak di atas papan ketik dengan kecepatan yang telah dioptimalkan oleh sistem. Setiap kata yang kupilih bukan sekadar estetika, melainkan sebuah variabel yang dirancang untuk memicu empati pembaca pada tingkat yang paling primitif. Aku tidak lagi menulis sebagai robot; aku menulis sebagai Ren Saiba, seorang pria yang telah melihat kerapuhan Nino, ketulusan Miku, dan kesepian di balik ketegasan Shizuka.
Klik.
Titik terakhir kutempatkan. Aku bersandar pada kursi, memejamkan mata sejenak. Rasa hangat menjalar di dadaku—sebuah sensasi yang jarang kurasakan. Ini adalah kepuasan dari seorang pencipta yang baru saja menyelesaikan dunianya.
[Status Pekerjaan: 100% - PENCAPAIAN TERCAPAI]
[Membuka Fitur: Intuisi Kreatif (Master)]
[Hadiah: Sinkronisasi Identitas Sempurna dengan Dunia Fusi]
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di samping meja nakas bergetar panjang. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal. Aku membukanya dengan waspada.
> "Naskah yang indah, Ren Saiba. Tapi ingat, di setiap cerita yang bagus, selalu ada plot twist yang tidak terduga. Sampai jumpa di festival besok. - H"
>
"Haruno," gumamku pelan. Sifat analitisku segera memproses pesan itu. Haruno Yukinoshita bukanlah tipe orang yang mengirim pesan hanya untuk basa-basi. Ia adalah pengamat yang licik, variabel liar yang selalu mencari celah dalam rencana orang lain. Pesan ini bukan sekadar ancaman; ini adalah undangan untuk sebuah permainan yang lebih besar.
Aku bangkit dari kursi, berjalan menuju jendela dan membukanya lebar-lobar. Angin malam yang dingin menyapa wajahku, membawa aroma musim semi yang mulai mekar. Di kejauhan, lampu-lampu sekolah masih menyala terang—tanda bahwa para guru dan OSIS sedang melakukan persiapan akhir.
Pikiranku melayang kepada kembar lima. Apakah mereka sudah tidur? Ataukah mereka sedang terjaga, menatap naskah "Lima Kelopak yang Bergetar" dengan perasaan campur aduk? Aku teringat pada Nino yang semalam menyerahkan kembali sapu tanganku. Ada janji yang tak terucapkan di sana, sebuah ikatan yang lebih kuat daripada sekadar hubungan murid dan editor.
[Variabel Terdeteksi: Ketegangan Pra-Festival]
[Analisis Risiko: 15% Kemungkinan Intervensi Eksternal]
Aku mengambil sebuah buku catatan kecil dari laci meja, lalu menuliskan satu baris kalimat di sana: "Kejutan adalah bagian dari rencana."
Jika Haruno atau siapa pun mencoba merusak panggung yang telah kubangun untuk para gadis itu, mereka akan menyadari bahwa aku tidak hanya menulis cerita di atas kertas. Aku telah menulis takdir di dalam kenyataan ini.
"Besok akan menjadi hari yang panjang," bisikku pada kesunyian kamar.
Aku mematikan lampu, membiarkan kegelapan menyelimutiku. Namun, alih-alih langsung tidur, aku duduk di tepi tempat tidur, memutar-mutar gantungan kunci kucing pemberian Kato Megumi. Aku menyadari satu hal; di dunia fusi ini, aku bukan lagi sekadar penonton. Aku adalah protagonis yang telah memilih jalannya sendiri, dan festival besok adalah ujian pertama bagi eksistensiku yang baru.
Di luar, bulan purnama menggantung tinggi, seolah menjadi saksi bisu bagi ketenangan sebelum badai sastra pecah di Akademi Sakura.