NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: BAYANG-BAYANG JOKO

Hari ke-1.965. Setahun sudah sejak Dewi pulang dari rumah sakit jiwa. Malam. Hujan deras mengguyur. Petir menyambar-nyambar di langit.

Aku berdiri di depan jendela kamar Risma. Lampu kamar mati—listrik lagi padam. Hanya cahaya petir yang sesekali menerangi. Cukup untuk melihat bayangan-bayangan di luar.

Tapi mataku tak lepas dari pagar rumah. Dari bayangan yang kadang muncul di malam-malam seperti ini. Hitam. Diam. Memandang.

Joko. Ia tak pernah benar-benar pergi.

Setahun sudah sejak damai. Setahun Dewi menjalani terapi. Setahun Risma berjuang dengan kondisinya. Setahun Budi tumbuh jadi anak yang lebih pendiam.

Hidup kami perlahan membaik. Rumah sudah diperbaiki. Cat baru warna hijau muda menutupi bekas coretan-coretan Joko. Jendela baru menggantikan yang pecah dulu. Pagar dicat ulang, tebal, biar nggak mudah dirusak.

Dewi rutin kontrol ke psikiater setiap bulan. Obatnya mulai dikurangi. Matanya nggak kosong lagi. Ia sudah bisa masak, sudah bisa tertawa, sudah bisa bercanda dengan Budi. Kadang aku lihat ia menyanyi kecil sambil masak—seperti dulu. Sebelum semua ini terjadi.

Budi 4 tahun. Udah masuk TK. Seragam putih merahnya selalu bersih disetrika Dewi. Setiap pulang sekolah, ia langsung lari ke kamar Risma. Tas sekolah nggak sempat diturunin.

"Kak, Budi pulang!"

Risma selalu tersenyum setiap lihat Budi. Senyum lebar. Kadang tangannya bergerak, seperti mau tepuk tangan.

Aku kerja serabutan. Jadi kuli pasar, kadang narik becak kalau lagi sepi. Penghasilan cukup buat makan dan terapi Risma. Nggak mewah. Tapi cukup.

Kami mulai bisa bernapas lega.

Tapi Joko... ia seperti hantu. Tak pernah muncul, tapi selalu ada. Kadang kulihat motor beat hitamnya parkir di ujung gang. Kadang kudengar tawanya dari kejauhan—entah nyata atau cuma bayangan di kepala. Kadang Budi bilang, "Pa, orang itu lihat rumah kita lagi."

Aku sudah lapor polisi berkali-kali. Tapi Joko tak pernah berbuat sesuatu yang bisa dipidanakan. Ia hanya... ada. Menunggu. Seperti ular yang siap menerkam.

Petir menyambar lagi. Terang sesaat. Dan di sela kilat itu, aku lihat bayangan hitam di ujung gang. Diam. Memandang.

Aku pegang kayu di samping jendela. Sudah biasa. Setiap malam, selalu siap.

Risma di kursi, matanya ke arahku. Ia tahu. Ia selalu tahu.

"Pa... Pa..." panggilnya lirih.

Aku hampiri. Pegang tangannya. Tangannya hangat. Kecil. Tapi selalu menenangkan.

"Nak, Bapak di sini. Joko nggak akan bisa masuk."

Risma tersenyum. Senyum tipis itu. Senyum yang sama dari dulu. Senyum yang selalu bikin aku lupa semua masalah.

Tapi di luar, petir menyambar lagi. Dan bayangan itu masih di sana.

Joko masih menunggu.

 

Risma 6 tahun sekarang.

Perkembangannya lambat. Sangat lambat. Tapi ada.

Dulu cuma bisa panggil "Pa" sekali-sekali. Sekarang lebih sering. Pagi-pagi, begitu aku bangun, ia sudah panggil, "Pa... Pa..." seperti menyapa.

Dulu cuma bisa panggil "Bu" kalau Dewi dekat. Sekarang kadang panggil walau Dewi di dapur. Seperti bilang, "Bu, aku di sini."

Dan Budi... sekarang ia bisa panggil "Di". Jelas. "Di... Di..." Kalau Budi main di dekatnya, Risma panggil terus.

Budi senang bukan main. "Kak, Budi di sini! Budi temenin Kakak!"

Ekspresinya makin kaya. Kalau senang, ia tersenyum lebar. Sampai kelihatan gusinya. Kalau sedih, matanya langsung berkaca-kaca, air mata menggenang di pinggir. Kalau marah—iya, ia bisa marah—ia tutup mata rapat-rapat dan menolak disuap. Mulutnya dikatupkan rapat, nggak mau buka.

Dewi dulu stres kalau Risma marah. Sekarang sudah paham. "Nak, Ibu minta maaf. Makan dulu, ya?" Biasanya Risma mau buka mata setelah dibujuk.

Aku dan Dewi belajar membaca semua isyarat itu. Gerakan jari. Kedipan mata. Suara kecil dari tenggorokan. Risma punya bahasa sendiri. Dan kami, perlahan, jadi penerjemahnya.

Setiap malam, sebelum tidur, aku duduk di samping Risma. Cerita tentang hari itu. Tentang Budi yang dapat bintang di sekolah. Tentang Dewi yang masak sayur kesukaannya. Tentang aku yang dapat 50 ribu hari ini.

Risma mendengar. Matanya fokus. Kadang ia merespons dengan gerakan jari. Kadang ia tersenyum. Kadang ia panggil "Pa" pelan.

Itu sudah lebih dari cukup.

 

Tapi di balik ketenangan, bayang-bayang Joko tak pernah pergi.

Aku sering lihat motor beat hitam parkir di ujung gang. Kadang di pagi hari, waktu aku mau ke pasar. Kadang malam, waktu semua orang tidur.

Pengendaranya tak pernah turun. Hanya diam. Memandang rumah kami. Helm hitam menutupi wajah. Tapi aku tahu. Itu Joko.

Budi suatu hari bertanya. Kami lagi makan siang. Tiba-tiba ia nunjuk ke luar jendela.

"Pa, itu orang jahat?"

Aku menoleh. Motor hitam itu parkir di ujung gang. Seperti biasa.

Aku bisa bohong. Bilang itu bukan Joko. Bilang itu tukang ojek nunggu penumpang. Tapi aku lihat mata Budi. Matanya tak bisa dibohongi.

"Iya, Nak. Tapi jangan takut. Bapak jagain."

Budi mengangguk. Tapi sejak itu, ia tak mau main di luar rumah.

Padahal teman-temannya sering main di lapangan dekat rumah. Main kejar-kejaran, main bola, main kelereng. Budi hanya lihat dari jendela. Sambil duduk di samping Risma.

Aku tanya suatu sore, "Nak, main sama teman?"

Budi geleng. "Budi jagain Kakak."

Aku tahu itu bukan alasan. Budi takut. Takut kalau ia main di luar, Joko akan datang. Takut kalau ia tinggal, keluarganya kenapa-kenapa.

Aku duduk di sampingnya. Peluk dia.

"Maaf, Nak. Bapak belum bisa kasih rasa aman buat kamu."

Budi balas peluk. Erat. Tangannya yang kecil melingkar di leherku.

"Nggak apa-apa, Pa. Budi sama Kakak aja. Kakak juga takut sendirian."

Aku lihat Risma. Risma lihat Budi. Lalu tersenyum. Seperti bilang, "Makasih, Dek. Kamu jagain Kakak."

Malam itu, aku nangis di dapur. Dewi lihat. Ia diam. Hanya pegang tanganku.

 

Setiap kali aku cemas, gelisah, takut—aku duduk di samping Risma.

Risma akan menatapku. Lama. Matanya dalam. Seperti membaca semua yang ada di hatiku.

Lalu tangannya bergerak. Meraih tanganku. Genggamannya hangat. Kadang ia panggil, "Pa... Pa..." lembut.

Seperti bilang, "Tenang, Pa. Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana."

Aku selalu tenang setelah itu. Risma, dengan segala keterbatasannya, jadi penenang keluarga. Ia tak bisa bicara banyak. Tapi kehadirannya cukup. Lebih dari cukup.

Dewi juga sering duduk di sampingnya. Kalau stres, kalau pusing, kalau ingat masa-masa gelap di rumah sakit jiwa. Risma akan pegang tangannya. Kadang ia panggil, "Bu... Bu..." pelan.

Dewi selalu nangis. Tapi nangis lega. "Makasih, Nak. Makasih udah ada buat Ibu."

Budi kalau sedih—karena nggak bisa main, karena takut—juga lari ke Risma. Ia duduk di samping kursi. Cerita tentang harinya. Risma mendengar. Kadang tersenyum. Kadang tangannya bergerak, seperti mengelus rambut Budi walau nggak sampai.

Keluarga kami aneh. Seorang ayah dengan luka di hati. Seorang ibu dengan masa lalu kelam. Seorang anak 6 tahun yang tak bisa apa-apa. Seorang balita 4 tahun yang terlalu cepat dewasa.

Tapi kami utuh. Saling menguatkan.

 

Malam itu, jam 2 dini hari. Aku terbangun karena suara motor.

Beat hitam. Parkir tepat di depan rumah.

Joko turun. Sendirian. Pakai jaket hitam, celana jeans, sepatu boot. Tak pakai helm. Wajahnya jelas kelihatan di bawah lampu teras.

Aku bangkit. Ambil kayu di samping jendela. Siap.

Dari kamar, Dewi bangun. "Mas, ada apa?"

"Joko."

Dewi pucat. "Jangan keluar, Mas."

Aku tak dengar. Aku ke luar. Berdiri di teras. Kayu di tangan.

Joko jalan ke pagar. Berhenti. Menatapku. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

"Pak, tenang. Saya cuma mau ngomong."

Aku tak menjawab. Hanya waspada. Siap kalau ia macam-macam.

Joko tersenyum. Senyum yang tak pernah bisa dipercaya. Senyum yang selalu bikin aku ingin tampar wajahnya.

"Saya mau kasih tahu. Saya pindah. Besok saya ke luar kota. Urusan bisnis. Lama."

Aku diam. Otakku bekerja cepat. Benarkah ini? Atau jebakan?

Joko lanjutkan, "Saya tahu Bapak nggak percaya. Tapi ini benar. Saya pamit."

Ia balik badan. Naik motor. Sebelum pergi, ia menoleh. Satu tatapan terakhir.

"Oh iya, Pak. Saya dengar anak Bapak, Risma, mulai bisa panggil-panggil. Bagus. Semoga cepat sembuh."

Ia pergi. Motor beat itu melaju pelan. Hilang di ujung gang.

Aku membeku. Kayu di tangan jatuh.

Joko tahu. Joko tahu Risma mulai bisa bicara. Joko tahu perkembangannya. Joko tahu semuanya.

Berarti... ia selalu mengawasi. Selalu. Dari jauh. Tanpa kami sadari.

Aku masuk. Tubuhku lemas. Gemetar.

Dewi pegang aku. "Mas, kenapa? Dia ngomong apa?"

"Joko tahu, Ri. Dia tahu Risma mulai bisa panggil."

Dewi pucat. "Maksudnya?"

"Dia selalu ngawasin kita. Selama ini. Dia tahu semuanya."

Dewi nangis. "Mas... aku takut."

Aku genggam tangannya. "Aku juga, Ri."

Kami masuk ke kamar Risma. Risma tidur. Tenang. Tak tahu apa-apa. Napasnya teratur. Dadanya naik turun pelan.

Aku duduk di sampingnya. Pegang tangannya.

"Nak, Joko tahu kamu. Tapi Bapak nggak akan biarkan dia sentuh kamu."

Risma tak bergerak. Tapi genggamannya... genggamannya menguat. Dalam tidur, ia pegang jariku. Erat.

Aku nggak tidur semalaman. Duduk di samping Risma. Memandanginya. Berjaga.

Besok, Joko pergi. Tapi aku tahu, ini belum selesai.

Joko akan kembali. Dan saat itu tiba, aku harus siap.

Di luar, hujan mulai reda. Malam makin larut. Tapi di dalam, Risma tidur nyenyak. Dengan senyum tipis di wajahnya.

Ia tak tahu. Atau mungkin ia tahu, tapi ia tenang. Karena bapaknya di sampingnya.

Aku cium keningnya.

"Makasih, Nak. Makasih udah jadi penenang keluarga."

Risma tak jawab. Tapi senyumnya... senyumnya masih ada.

Dan itu cukup. Untuk malam ini. Untuk seterusnya.

 

[BERSAMBUNG KE BAB 32: HIDUP TANPA BAYANG-BAYANG]

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!