Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Lembah batang maut(fix)
Pagi itu, langit di atas Sekte Awan Mendung tertutup awan kelabu yang berat, seolah alam pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi. Di gerbang utama, seorang Guru Tetua memberikan instruksi terakhir.
"Tujuannya adalah Lembah Bayang Maut. Ambil Bunga Nadir Langit dan kembali hidup-hidup," ucap sang Guru dengan suara datar.
Zhao Feng, yang wajahnya masih sedikit pucat akibat teror 24 jam sebelumnya, gemetar saat melihat siapa rekan setimnya. "K-kenapa aku harus pergi dengan orang ini, Guru? Dia ... dia tidak normal!"
Guru itu hanya berbalik tanpa menoleh lagi. "Karena Li Qiye memiliki ketenangan yang kau butuhkan. Kalian cocok satu sama lain."
"Coco—" Kalimat Zhao Feng terputus sebelum sempat selesai.
"Jangan banyak bicara. Jalan," potong Fang Yuan. Suaranya tidak keras, namun memiliki bobot yang membuat Zhao Feng tersedak kata-katanya sendiri.
Fang Yuan berjalan melewati mereka tanpa ekspresi, jubahnya menyapu tanah, diikuti oleh Bai Lie yang membungkuk hormat.
Perjalanan itu sunyi. Zhao Feng berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Fang Yuan, sementara Bai Lie terus melirik tuannya dari belakang.
"Orang gila ini semakin jarang bicara," batin Bai Lie ngeri. "Dulu ia masih menunjukkan amarah. Sekarang? Dia seperti mayat yang berjalan dengan pedang di tangannya. Aku tidak bisa lagi menebak apakah dia manusia atau iblis."
Mereka sampai di sebuah lembah yang dipenuhi pohon-pohon raksasa dengan dahan yang meliuk seperti tangan iblis. Kabut tipis yang berbau busuk merayap di permukaan tanah.
"Tempat ini membuatku tidak nyaman," bisik Zhao Feng, tangannya gemetar memegang hulu pedangnya. "Apa benar tanaman itu ada di sini? Li Qiye, kenapa kau tidak takut sama sekali? Kau ... kau punya perasaan atau tidak?"
Fang Yuan tidak menjawab. Langkah kakinya stabil, tidak melambat sedikit pun. Baginya, ketakutan adalah kemewahan yang sudah ia buang di dimensi bintang.
"Lepaskan tanganku, bocah! Ikuti saja Tuanku jika kau ingin tetap bernapas," bentak Bai Lie sambil melepaskan cengkeraman Zhao Feng dari lengannya.
Di tengah lembah, sebuah cahaya biru redup terpancar dari tanaman di balik batu besar. Bunga Nadir Langit. Namun, saat Fang Yuan mendekat, tanah meledak.
BOOM!
Tiga makhluk raksasa setinggi tiga meter bangkit dari dalam tanah. Tubuh mereka terdiri dari tumpukan batu dan akar tua, dengan mata merah yang menyala.
Mereka adalah Golem Penjaga Bumi, makhluk dengan kemampuan regenerasi yang mustahil.
Fang Yuan melesat tanpa peringatan. Ia berputar di udara, Qi Yin dan Yang melilit tinjunya.
"Penghancur Batu: Getaran Langit!"
Satu pukulan mendarat di dada golem pertama, membuatnya retak. Namun, golem kedua mengayunkan lengan akarnya yang masif.
Fang Yuan menyilangkan tangannya untuk menangkis, namun kekuatan itu terlalu besar untuk ditahan secara mentah.
DUAK!
Tubuh Fang Yuan terhempas jauh, menabrak barisan pepohonan hingga menghilang dari pandangan.
"Li Qiye!" teriak Zhao Feng panik. Kini, dua golem yang tersisa mengalihkan perhatian mereka pada Zhao Feng dan Bai Lie.
"Sial! Bagaimana ini? Dua makhluk ini ... auranya di puncak Ranah ke-2!" Zhao Feng mulai bergetar hebat.
Bai Lie mencabut pedangnya, aura Pendirian Fondasi miliknya meledak. "Dasar penakut! Jika kau ingin mati, mati saja sendiri! Aku punya perintah untuk melindungi misi ini!"
Bai Lie melesat, pedangnya membentuk busur cahaya.
SHING!
Ia berhasil memotong salah satu lengan golem itu, namun dalam hitungan detik, akar-akar baru tumbuh dan menyambung kembali lengan tersebut. Golem satunya lagi menghantam Bai Lie dari samping.
BRAK!
Bai Lie menghantam pohon besar sampai hancur, ia memuntahkan darah segar. "Uhuk! Sial ... regenerasi macam apa ini? Sepertinya aku terlalu lama mengurung diri dan tidak tahu betapa liarnya dunia luar."
Zhao Feng, yang terdesak oleh insting bertahan hidup, akhirnya bergerak.
"Teknik Tebasan angin!"
Pedangnya mengeluarkan energi biru yang tajam, memotong-motong tubuh golem tersebut menjadi serpihan kecil.
Namun, potongan-potongan batu itu merayap kembali dan menyatu. Zhao Feng melompat mundur, wajahnya dipenuhi keputusasaan.
Tiba-tiba, golem-golem itu menyemburkan cairan hijau beracun. Asap asam membakar udara.
Bai Lie dan Zhao Feng terbatuk, paru-paru mereka terasa terbakar. Dalam kondisi lemah itu, mereka dihajar habis-habisan oleh tinju batu golem.
Zhao Feng tergeletak di tanah dengan napas tersengal, tulang-tulangnya terasa remuk. Di sampingnya, Bai Lie bersandar pada sisa batang pohon dengan tubuh penuh luka.
"A-apa kita akan mati di sini?" tanya Zhao Feng dengan suara serak.
"Kau saja yang mati," sahut Bai Lie pahit. "Aku tidak diizinkan mati sebelum Tuanku memberi perintah."
Dua golem itu mengangkat tangan mereka yang besar, siap meremukkan kepala kedua orang itu. Namun, langkah kaki yang berat terdengar dari balik kabut.
Sesosok pria muncul. Pakaiannya compang-camping, jubah murid dalamnya sudah robek di sana-sini, dan darah menetes dari pelipisnya.
Namun, yang mengerikan bukan lukanya, melainkan apa yang ia seret di tangan kirinya.
Fang Yuan berjalan pelan, menyeret kepala golem ketiga yang sudah hancur total—inti energinya telah dicabut paksa.
"Li Qiye ... " desis Zhao Feng tak percaya.
"Tuan ... " Bai Lie merasakan bulu kuduknya berdiri.
Fang Yuan melepaskan kepala golem yang ia seret dan menatap dua makhluk di depannya.
Matanya tidak menunjukkan kemarahan, hanya ketenangan yang mencekam. Niat membunuh yang sangat pekat keluar dari tubuhnya, membuat udara di lembah itu seolah membeku.
"Hanya tiga jam," suara Fang Yuan terdengar serak dan dingin. "Kalian membuatku membuang waktu tiga jam."
Ia mengepalkan tangannya, dan Mutiara Petir di dadanya mulai berdengung, memancarkan kilatan ungu yang membuat bayangannya di tanah tampak seperti monster raksasa. Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.