NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Mafia / Konflik etika
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasihat Bimbim

Elia mondar-mandir di depan jendela kamar seperti setrikaan yang tak pernah berhenti bergerak. Pikirannya penuh dengan ucapan Lea yang terus berputar di kepalanya. Ia penasaran, tapi juga takut. Jika ia menegur Nick tentang Dave yang membeli mawar putih, pria itu pasti akan bertanya dari mana ia tahu. Dan di situlah masalahnya bermula.

Seperti buah simalakama, Elia serba salah. Diam berarti membiarkan rasa curiga menggerogoti hatinya, tapi bertanya bisa membuatnya tampak mencurigakan. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk membuktikan semuanya tanpa membuka rahasia Lea.

Tiba-tiba layar ponselnya menyala, tanda pesan masuk. Elia segera meraihnya dari atas meja nakas, jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat nama Lea terpampang di layar.

Lea: “Jangan ceritakan hal ini ke siapa pun. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.”

Elia terdiam, berusaha melawan segala prasangka buruk yang menyelimuti perasaannya. Ia tak ingin keegoisannya justru melukai pihak lain. Setidaknya, Lea sudah berbuat baik dengan memberitahunya.

Sepertinya aku harus mencari tahu hal ini sendiri, gumamnya pelan.

Layar ponsel Elia kembali menyala. Sebuah pesan dari Dave masuk, menanyakan susu hangat yang tadi sempat ia janjikan.

“Astaga! Aku hampir saja lupa,” desahnya.

Elia meletakkan ponselnya kembali di atas nakas, lalu bangkit dengan tergesa dan melangkah keluar kamar, membawa pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya.

Jika Elia tengah diselimuti rasa gelisah, lain halnya dengan James yang kini larut dalam kebahagiaan. Dokter tampan itu sedang menikmati momen kencan bersama Patricia. Sebuah pertemuan yang terasa berbeda dari biasanya. Keduanya kini menunggu pengumuman film yang akan segera diputar.

“Oh iya,” ujar James sambil melirik papan jadwal, “kau mau makan apa nanti di dalam? Popcorn, kentang goreng, atau yang lain?”

“Apa saja,” jawab Patricia pelan, sedikit malu-malu. “Samakan saja denganmu.”

James tersenyum tipis, sorot matanya lembut.

“Tidak begitu, Nona Cantik. Aku ingin kau makan dan minum sesuatu yang benar-benar kau suka. Ayo, katakan saja tidak perlu malu,” ujarnya sambil menatap wajah cantik gadis itu.

Bukan hanya parasnya yang menarik perhatian James. Tubuh Patricia memancarkan aroma yang menenangkan, lembut dan segar. Mungkin saat perawatan tadi, ia memilih lulur beraroma fruity. Aroma yang entah kenapa terasa begitu pas dengan senyumannya.

“Ya sudah, aku mau kentang goreng tanpa garam dan lemon tea hangat,” ujar Patricia.

“Siap, Nona cantik.” James tersenyum, lalu beranjak dari duduknya untuk segera memesan.

Namun saat pandangan Patricia tanpa sengaja melirik ke arah kiri, dadanya mendadak terasa panas. Langkah seseorang yang begitu familiar tertangkap jelas oleh matanya—Martin. Mantan kekasihnya. Tangan pria itu menggenggam seorang wanita lain, berjalan santai memasuki pintu bioskop.

Itu kan Martin…

Sialan. Jadi ini alasannya kau mengakhiri semuanya, batinnya bergejolak.

Kau pikir hanya kau yang bisa berbuat seperti itu? Aku juga bisa.

Dengan gerakan cepat, Patricia bangkit dari kursinya dan menyusul James yang tengah mengantre. Tanpa basa-basi, ia menggandeng lengan pria itu dan sedikit menyandarkan kepalanya, seolah keduanya adalah pasangan yang sudah lama bersama.

James menoleh, jelas terkejut.

“Kau kenapa, Patricia? Apa ada yang mengganggumu?”tanya nya sambil mengedarkan pandangan ke sekitar

“Tidak, James,” jawab Patricia singkat, nadanya dibuat setenang mungkin. “Aku hanya tidak ingin menunggu sendirian di sana.”

Kini mereka tak lagi canggung memanggil nama asli satu sama lain. Namun sikap Patricia yang tiba-tiba begitu dekat tetap membuat James bertanya-tanya.

Tak jauh dari sana, Martin yang telah mendapatkan tiket bersama kekasih barunya ikut mengantre di konter popcorn dan minuman. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang sangat ia kena. Patricia, berdiri tepat di depannya, menggandeng lengan seorang pria lain.

“Patricia?” gumamnya nyaris tak terdengar.

“Ada apa, sayang?” tanya wanita di sampingnya.

Martin mengalihkan pandangan, berusaha terlihat biasa saja.

“Eh, tidak apa-apa.”

Selesai membeli camilan dan minuman, keduanya kembali ke kursi tunggu. Patricia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi, namun matanya kembali menggulir kesal saat ia menyadari Martin masih memerhatikan nya dari kejauhan. Seolah menantang, jemarinya justru makin mengerat menggenggam lengan James.

“Waktunya lima menit lagi,” ujar James sambil melirik arlojinya.

Patricia tak langsung menanggapi. Pandangannya masih terpaku pada Martin. Ada dorongan kuat dalam dadanya. Keinginan untuk berdiri, berjalan menghampiri pria itu, lalu melayangkan tinju agar semua amarahnya tumpah.

“Patricia, kau sedang melihat apa?” tanya James akhirnya.

Patricia tersentak. “Eh, tidak,” jawabnya cepat. “Tadi sepertinya aku melihat seseorang yang kukenal.”

“Siapa? Temanmu ada di sini juga?”

“Bukan,” ucap Patricia singkat, lalu menghembuskan napas. “Sudahlah, tidak penting.”

Namun cara genggamannya pada lengan James tak juga mengendur. Seakan ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bukan orang lain.

Lima menit berlalu. Suara pengumuman akhirnya menggema di seluruh area bioskop. Patricia dan James pun bangkit dari tempat duduk mereka, lalu melangkah bersama memasuki studio sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket.

“Filmnya memakan waktu sekitar dua jam. Pakai ini,” ucap James sambil memakaikan jaket ke tubuh Patricia. Ia tak ingin gadis di sampingnya menggigil kedinginan, mengingat pakaian Patricia yang cukup tipis.

Patricia tersenyum, hatinya terasa hangat. James memang tipe pria yang peka. Bahkan hal-hal kecil pun selalu ia perhatikan.

“Terima kasih, James. Tapi… apa kau sendiri tidak merasa kedinginan?” tanyanya lembut.

James menggeleng pelan. “Aku sudah terbiasa dengan suhu ruang operasi. Bahkan dinginnya lebih dari ini,” ujarnya. Ia tersenyum tulus. “Lagipula, selama ada kau di sampingku, aku tidak akan merasa kedinginan.”

Ucapan itu membuat pipi Patricia merona. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di hatinya. Sebuah kehangatan yang lahir dari perhatian dan tutur kata seorang pria yang begitu baik.

Beralih pada Elia, gadis itu uring-uringan tanpa alasan yang jelas. Ia memindahkan posisi tidurnya ke kiri dan ke kanan, namun kantuk tak juga datang menghampiri.

“Sial… aku jadi tidak bisa tidur,” gumamnya pelan.

Akhirnya Elia bangkit dari ranjang, melangkah keluar kamar, lalu menuju halaman belakang. Di sana, ia mendapati Lisa dan Bimbim tengah mengobrol pelan.

“Eh, Nyonya,” sapa keduanya hampir bersamaan, nada mereka terdengar gugup.

Elia mengangkat alis, menatap Bimbim lalu beralih ke Lisa.

“Bimbim, tumben kau masih ada di sini?” tanyanya sambil menyipitkan mata. Sekilas, Elia seperti mencium aroma pendekatan di antara mereka berdua.

Bimbim menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“I-iya, Nyonya. Saya habis membelikan sesuatu untuk Lisa,” ujarnya sambil menyengir kikuk.

Lisa langsung melotot ke arahnya sebagai kode keras.

“Eh, ini, Nyonya… Bimbim tadi aku suruh beli cokelat,” katanya cepat-cepat, berusaha terdengar santai.

Elia menepuk keningnya sambil tertawa kecil.

“Kalian ini… kenapa harus malu-malu dan berpura-pura di depanku? Santai saja.”

Keduanya hanya tersenyum, berusaha menutupi rasa malu masing-masing.

“Kalau kau ingin cokelat, kenapa harus minta Bimbim membelikannya?” lanjut Elia. “Kau tahu kan stok cokelat yang Dave berikan masih ada. Tunggu sebentar, aku ambilkan.”

Elia berjalan menuju kulkas dan mengambil beberapa batang cokelat.

“Ini untuk kalian berdua,” ujarnya sambil menyerahkan masing-masing satu.

“Wah, terima kasih, Nyonya,” kata Bimbim senang. Lalu, dengan wajah serius bercampur berani, ia menatap Lisa. “Tapi cokelat yang aku berikan ke Lisa itu bukan sekadar cokelat biasa. Ada rasa sayangku di dalamnya.”

Elia langsung tertawa, sementara Lisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, pipinya memerah. Tak lama kemudian, ia mencubit lengan Bimbim hingga pria itu berteriak kecil.

“Jadi intinya kalian sudah pacaran?” tanya Elia sambil tersenyum usil.

“Eh, tidak, Nyonya! Kami tidak pacaran kok. Cuma… teman dekat,” jawab Lisa buru-buru.

“Hah? Kukira kita sudah resmi pacaran sekarang,” protes Bimbim. “Aku kan sudah memberikan apa yang kau inginkan.”

“Enak saja,” sahut Lisa ketus. “Kau pikir aku akan luluh cuma karena cokelat? Mimpi! Lagipula cokelat yang kau beli itu murah, tidak seenak cokelat yang Tuan Dave berikan untuk Nyonya Elia.”

Bimbim tersenyum, kali ini lebih tenang.

“Ya, aku tahu cokelat itu murah. Karena memang hanya itu yang mampu ku beli,” katanya jujur. “Tapi setiap pemberian yang kuberikan padamu selalu mengandung ketulusan… dan rasa cinta.”

Ucapan itu membuat Elia terdiam.

Tanpa disadari, pikirannya melayang. Apakah semua pemberian Dave padanya benar-benar lahir dari ketulusan atau sekadar rasa kasihan?

Kata-kata Bimbim terasa sederhana, namun bermakna luas. Bahwa seseorang yang benar-benar mencintai akan selalu berusaha, apa pun caranya. Dan di dalam setiap usaha itu, selalu ada arti cinta yang tulus.

Ketiganya kembali asyik mengobrol, membahas hal-hal ringan yang tak penting. Elia sampai tak kuasa menahan tawa saat Bimbim terus saja menggoda Lisa tanpa henti. Di saat seperti itu, Elia sadar—ia hanya membutuhkan hiburan sederhana, sesuatu yang bisa membuat ingatannya beristirahat sejenak dari pikiran-pikiran yang membuat dadanya sesak.

“Hm.” Suara dehaman dari balik pintu membuat ketiganya menoleh bersamaan. Ternyata Dave berdiri di sana, sambil membawa gelas kotor di tangannya.

“Dave, tumben kau belum tidur?” tanya Elia santai, sambil menggigit cokelat yang tadi Dave berikan.

“Aku belum mengantuk,” jawab Dave. “Kalian sedang apa di sini?”

“Ah, kami cuma membicarakan tentang cokelat,” sahut Elia ringan.

Dave terkekeh kecil.“Seperti tidak ada topik lain saja.”

“Kau tahu?” lanjut Elia sambil tersenyum usil. “Bimbim diam-diam ternyata suka pada Lisa. Dia bahkan membelikan cokelat untuknya.”

“Wah?” Dave mengangkat alis, lalu menunjuk wajah mereka bergantian. “Bimbim… Lisa?”

“Ah tidak, Tuan,” Lisa buru-buru menyangkal. “Kami hanya dekat saja. Benar kan, Bim?”

“Tidak, Tuan,” kata Bimbim mantap. “Mulai malam ini aku menganggap Lisa sebagai pacarku.”

“Aku tidak mau!” protes Lisa spontan.

“Lho, bagaimana sih?” balas Bimbim heran. “Aku sudah menyatakan perasaanku sejak tadi sore. Sekarang kau malah menolak ku?”

“Kau bukan tipeku!” jawab Lisa ketus.

“Lalu kau ingin tipe seperti apa?” tanya Bimbim menantang.

“Aku ingin Pria tampan seperti aktor Thailand yaitu Mario Maurer,” ujar Lisa sambil tersenyum, seolah tengah membayangkannya.

Bimbim terdiam sejenak, lalu berkata pelan namun tegas,

“Jangan bermimpi terlalu jauh. Aku beri tahu satu hal padamu. Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang mencintaimu dengan tulus. Karena penyesalan biasanya datang saat orang itu sudah pergi.”

Deg.

Kata-kata itu melesat seperti anak panah, tepat mengenai sasaran. Wajah Dave seketika berubah sendu, tubuhnya kaku di tempat.

Begitu pula Elia. Tanpa sadar, ia menoleh ke arah Dave. Pria itu terdiam, sorot matanya redup seolah kata-kata Bimbim barusan bukan sekadar untuk Lisa, melainkan juga menggema tepat di dalam hatinya.

1
kalea rizuky
Jalang hidup nya enak bgt
kalea rizuky
mana karma. buat jalang enaknaja dia dia sukain alex dan bahagia punya anaknya rela q mending di buat kegugudan trs rahim. rusak itu baru adil
kalea rizuky
laki bejat selingkuh ampe nidurin
sutiasih kasih
demi jalang.... n ancamannya km gercep ambil tindakan dave....
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
Nnar Ahza Saputra
alex bertindak,, itu kn anak.ny alex,,,
kalea rizuky
cpet bkin Cerainthor gk sbar nunggu Dave gila
sutiasih kasih
lanjut thor
sutiasih kasih
lagian... istri sah di anggp musuh... di hindari....
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
Cookies
lanjut
Cookies
lanjut thor
kalea rizuky
nyesel mu g guna uda makan itu jalang bergilir lu doyan kam
sutiasih kasih
mkanya jgn nafsu yg km gedein dave.... smpe" buta mata dan hatimu...
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
sutiasih kasih
jgn prnah ada kata kmbali elia...
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
sutiasih kasih
istri cantik... paket komplit... harus brsaing dgn perempuan yg cm modal selangkangan🙄🙄
sutiasih kasih
ya elah.... bini di rumsh nungguin dgn setia....
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...
Melinda Cen
lanjut perbnykkan eps nya dong
Nnar Ahza Saputra
gugat cerai aza... pergi nd menjauh,,,
Melinda Cen
lanjut
Melinda Cen
yeee akhirnya Dave menyesal. jgn mau kembali lg elia
Cookies
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!