Dia pikir adiknya sudah tewas dibunuh 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 - Marah dan Tiga Alasan Logis
Pengakuan Corbin menggantung di udara malam yang dingin, lebih berat dari keheningan itu sendiri.
Analisisku tetap sama: Dia hanya orang sial yang tidak kompeten. Rasa bersalahnya itu karena kebodohannya sendiri, bukan karena niat jahat. Tapi bagi Fiora, kebodohan itu telah membunuh ibunya.
Aku melihat rahang Fiora mengeras, tangannya yang terkepal di pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menatap Corbin lagi. Pandangannya tertuju pada api unggun, namun matanya menyala dengan amarah dingin yang tertahan, menahan badai emosi yang jelas berkecamuk di baliknya.
Kan sudah kubilang, pikirku dalam hati. Instingku sudah memperingatkan sejak awal tentang dia. Tapi Fiora, dengan kebaikan hatinya yang kadang naif, bersikeras mengajaknya.
Aku benci drama. Drama membuat orang tidak fokus pada inti masalah, menambah kerepotan yang tidak perlu.
Corbin tampak kebingungan dengan matanya yang masih basah. Kurasa ia tak tahu kalau kami ada disana, dan kelompok banditnya lah yang menyerang Paleside. Ia terus melirik ke arah Fiora, mungkin mengharapkan semacam respons—pertanyaan atau apa saja selain keheningan yang menusuk ini. Tapi Fiora tetap diam membatu, tatapannya kosong tertuju pada api.
Malam itu berlalu dengan lambat. Tak ada lagi cerita. Tak ada lagi tawa.
KRAK.
Fiora mematahkan ranting kayu di tangannya, melemparnya ke api, lalu bangkit berdiri.
"Aku mau istirahat duluan," katanya singkat, suaranya datar dan tanpa emosi. Tanpa menunggu jawaban, ia membungkus dirinya dengan selimut dan membelakangi kami, menghadap dinding ceruk batu.
Corbin mencoba mengajakku bicara. Aku hanya mendengus dan menjawab singkat.
Apa yang kau harapkan? Curhat semalaman? Kau salah orang.
Akhirnya, Corbin pun mencoba tidur. Aku berjaga, memastikan ia tak membawa lari biskuitku ketika kami tidur.
.... . ....
Keesokan paginya, suasana terasa lebih dingin dari suhu udara yang sebenarnya. Fiora bangun sebelum fajar, sama sepertiku. Ia hanya membereskan barang-barangnya dengan gerakan cepat dan efisien, menghindari kontak mata dengan Corbin sepenuhnya.
Saat kami selesai berkemas, mentari sudah bersinar meskipun cuaca masih terasa dingin.
Corbin berdeham pelan. "Aku rasa... aku akan melanjutkan perjalanan sendiri dari sini," katanya, suaranya terdengar ragu. Ia menatap Fiora, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya. "Aku tidak ingin merepotkan kalian lebih jauh. Terima kasih banyak atas... bantuannya kemarin."
Fiora tidak menoleh. Ia hanya mengencangkan tali ranselnya, begitu kuat hingga aku takut talinya putus.
Aku menatap Corbin sejenak.
Meninggalkannya sendirian lagi setelah apa yang terjadi kemarin tak memberikan rasa lega. Tapi berjalan bersama dalam suasana ini juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Memaksa Fiora untuk terus berjalan bersama Corbin hanya akan menyiksa mereka berdua.
Paling tidak jarak ke Cragspire tidak terlalu jauh lagi. Kalaupun terjadi sesuatu, sepanjang dia berlari mengikuti jalanan resmi, harusnya tidak akan menjadi masalah.
"Baiklah," kataku akhirnya. "Hati-hati. Jangan melenceng dari jalan utama."
Corbin mengangguk singkat, Ada ekspresi lega di wajahnya—campuran antara sedih karena diusir dan senang karena bisa lari dari rasa kecanggungan yang baru ini.
Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan mulai berjalan menuruni jalan setapak menuju Cragspire. Sebelum jauh, Ia kembali menoleh ke belakang.
Fiora tetap sibuk dengan urusannya. Terdiam sesaat, sosoknya yang kurus dengan cepat ditelan oleh kabut pagi.
Aku memperhatikannya pergi dalam diam. Setelah ia benar-benar menghilang dari pandangan, barulah bahu Fiora merosot turun. Dia menghela napas panjang, lalu menoleh padaku.
Wajahnya lelah. Matanya bengkak. Tapi dia mencoba tersenyum, meski terlihat dipaksakan.
"Ayo," katanya singkat.
Dan kami pun melanjutkan perjalanan, kembali berdua. Namun, keheningan di antara kami kini terasa berbeda.
Aku berjalan dalam diam, berharap suasana hati Fiora segera membaik. Berjalan dengan mayat hidup di sebelahku sungguh membuatku gusar.
.... . ....
Perjalanan hari terakhir menuju Cragspire terasa berbeda. Lanskap perbukitan yang tadinya hijau lembut kini mulai berganti menjadi lereng-lereng yang lebih curam dan berbatu, dihiasi semak belukar yang keras dan pohon-pohon pinus yang meranggas.
Puncak-puncak Pegunungan Sigil yang memutih tertutup salju tampak semakin dekat, menjulang seperti benteng alam nan sunyi di cakrawala utara. Udara terasa lebih tipis, namun mentari bersinar terang, membuat batu-batu di sekitar kami terasa hangat saat disentuh
Sepanjang jalan, kami hanya bertemu sedikit kehidupan liar. Beberapa kawanan Domba Aranel merumput dengan tenang di padang rumput yang tersisa, bulu tebal mereka tampak kontras dengan lanskap yang semakin keras.
Sesekali, seekor Bajing Terbang Sillian meluncur di antara pepohonan pinus, kicauannya yang merdu menjadi selingan singkat dalam keheningan perjalanan kami. Tak ada tanda kehadiran hewan lebih berbahaya yang terasa.
Di sebuah ngarai sempit, langkahku terhenti. Di atas tebing, seekor Burung Hantu Cakar Batu menatap kami. Ukurannya hampir sama besar dengan badanku, dengan bulu berwarna kelabu berbintik putih yang menyatu sempurna dengan bebatuan. Cakar kakinya tampak tidak proporsional, tebal dan kuat, mencengkeram batu granit sampai retak, seolah sedang mengasahnya. Matanya yang kuning besar menatap lurus ke kiri—arah Cragspire, tanpa berkedip, menghiraukan kami yang berjalan di dekatnya.
Fiora berhenti, terpesona. "Cantik sekali..."
"Terus maju," desisku sambil mendorong ransel Fiora pelan agar terus berjalan. "Hewan itu Klasifikasi B. Jika merasa terancam akan menyerang kita. Jalan terus. Jangan lari."
Kami melewatinya dengan punggung tegang. Untungnya, burung itu sepertinya sedang tidak selera memakan daging Tarker yang alot.
Menjelang tengah hari, dari atas sebuah punggungan terakhir, kami akhirnya melihatnya: Cragspire, dikelilingi oleh dinding benteng tebal yang melindungi kota dan tampak dedaunan rimbun Pohon Palliton mencuat dibelakangnya.
Di luar dinding itu, jalan menuju gerbang kota macet total. Antrean manusia mengular di depan gerbang. Gerobak, Kuda Batu, dan para pejalan kaki yang ingin masuk atau keluar kota tertahan oleh barikade kayu yang dijaga ketat oleh prajurit Aegis Legion.
Cuaca terik, debu beterbangan setiap kali angin bertiup. Bau keringat masam dan kelelahan menguap di udara. Kebanyakan orang memilih berteduh di bawah bayangan Cabang Pohon Palliton yang menjuntai keluar dinding perbatasan kota atau beberapa tenda darurat tanpa dinding yang didirikan seadanya di pinggir jalan.
Hanya beberapa orang bertubuh prima atau kusir gerobak yang tetap berdiri di antrean, menjaga tempat mereka. Tergambar rasa frustrasi dan letih di wajah – wajah mereka yang berdiri.
Kami berhenti sejenak di kejauhan, mengamati situasi. Aku menyipitkan mata, mencoba mencari sosok kurus Corbin di antara kerumunan.
Tidak terlihat.
Aku memejamkan mata, mencoba merasakan Daya-nya, namun tidak ada apa-apa. Mungkin ia sudah tiba lebih pagi dan berhasil melewati gerbang ini atau masuk dari gerbang satu lagi.
Entahlah.
Aku mencoba cara orang penting. Aku berjalan ke depan antrean, melewati tatapan lelah dan iri dari orang-orang yang menunggu. "Permisi," kataku pada seorang prajurit Aegis Legion yang berjaga, sambil menunjukkan Lisensi Tarker-ku. "Tarker, aku hanya mampir, tidak ada hubungannya dengan blokade ini."
Prajurit itu—wajahnya tampak berumur di balik helm standar militer, zirahnya lengkap menandakan kondisi siaga penuh—hanya melirik kartu itu sekilas, melihat tampilanku dari atas hingga bawah, lalu menunjuk ke belakang antrean dengan ujung batonnya. "Silahkan masuk antrian," katanya datar, tanpa intonasi.
Lisensi Tarker-ku tidak dianggap. Antara situasinya memang segenting itu, atau Tarker dianggap setara dengan tukang sayur di sini.
Aku menghela napas.
Baiklah, cara mudah tidak berhasil.
Fiora melihatku kembali ke belakang dengan penasaran, aku hanya menggeleng lemah.
Kami terjebak di antrean membara ini selama sekitar tiga puluh menit dan hanya bergeser beberapa langkah, aku melirik Fiora. Wajahnya mulai memerah karena panas, keringat membasahi pelipisnya.
"Fiora, kau ke sana saja," kataku, menunjuk ke arah kerumunan orang yang berteduh. "Tunggu di tempat teduh."
"Tak apa-apa, segini masih aman. Aku ini pernah seleksi Tarker lo..." Jawabnya dengan memberikan senyuman.
Bukan Fiora namanya kalau tidak menyapa semua orang. Dia menyadari di depan kami, seorang pria tua—yang dari tampilannya seharusnya sudah tidak bekerja lagi— berdiri menahan karung goni di kakinya. Tampak semakin lelah, sesekali terbatuk dan menyeka keringat di dahinya yang keriput.
"Kek," Fiora menyapanya, “Kakek tak apa? Mari kita istirahat di pinggir dulu. Biar teman saya yang menggantikan antrian.”.
Tunggu.? Apa?!
Si kakek menatapku dengan ragu, lalu Fiora kembali memberikan tatapan mengiba yang sama seperti saat mengajak Corbin.
Merepotkan sekali. Apakah dia akan menolong semua orang disepanjang perjalanan?
Meskipun Tetua di Godo sering mengutip sabda Nabi Besar “Siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka urusannya akan dimudahkan oleh semesta”.
Baiklah... Anggap saja aku sedang ‘menabung kemudahan’.
Aku mengangguk pelan. “Saya bantu ya Kek,” gumamku, mengambil alih karung goni itu.
"Terima kasih, Nak," katanya lega. Fiora segera membantunya berjalan ke tempat teduh sembari memberi isyarat jempol padaku, sementara aku meletakkan karung goni si kakek di depanku sebagai penanda antrean.
Entah berapa lama lagi aku menunggu. Kulihat Fiora berbincang akrab dengan si Pria tua. Memang itu adalah keahliannya. Saat antrian sudah memasuki area sejuk di bawah tenda, si Kakek berdiri dan mengajak Fiora kembali ke antrian.
Fiora mengatakan orang-orang sudah cukup lelah dan frustrasi mengantre. Bisik-bisik keluhan terdengar di tempat istirahat: tentang pemeriksaan yang terlalu lama, tentang barang-barang yang disita tanpa alasan jelas, tentang ketidakpastian kapan mereka bisa melanjutkan perjalanan.
Akhirnya, giliran si kakek tiba. Ia menunjukkan surat-suratnya, diperiksa sebentar, lalu diizinkan masuk. Sebelum pergi, ia menoleh belakang mengangguk kecil penuh terima kasih padaku dan Fiora. Fiora tersenyum dan melambai padanya.
Kini giliran kami. Prajurit yang tadi menatapku. "Identitas? Izin Perjalanan?"
Aku kembali menunjukkan lisensi Tarker-ku. "Zane Elian Kareem. Tarker. Singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Farreach."
Prajurit itu memeriksanya lebih teliti kali ini, lalu matanya beralih ke Fiora yang melangkah maju. "Kau?"
Fiora tampak sedikit gugup di bawah tatapan tajamnya. "A-aku Fi-Fiora—"
"Dia adikku," aku menyela cepat.
Sesaat kata itu terasa menghujam jantungku. Bahkan hanya menyebutnya saja terasa begitu berat.
"Izin Perjalanan?" tanya si prajurit sembari menaikkan alis.
“Tidak ada,” jawabku cepat. "Aku membawanya mengungsi kemari dari Paleside yang diserang beberapa hari lalu. Kami tak tahu tentang aturan ini. Lagipula desa Paleside hancur, tak ada pihak yang bisa menerbitkan surat izin perjalanan resmi."
kata ‘Paleside’ langsung menarik perhatian. Beberapa warga di antrean terdekat berhenti mengeluh tentang panas dan mulai berbisik – bisik di antara mereka.
"Paleside?"
"Kudengar desa itu hancur..."
"Kabarnya di serang bandit..."
Prajurit di depanku tampak tidak terpengaruh oleh bisikan itu. "Aku tak peduli ceritamu, Tarker," katanya dingin. "Tidak ada Izin Perjalanan, tidak bisa masuk. Kami hanya menjaga keamanan. Silahkan mundur."
Penolakan datar itu menjadi pemantiknya. Wajah Fiora yang tadinya gugup kini memerah karena kesal.
"Menjaga keamanan kau bilang?!" serunya, suaranya menggelegar, bergetar, menarik lebih banyak perhatian.
Kerumunan di belakang kami mulai riuh dengan suara berbisik. Suasana memanas dalam hitungan detik. Tangan-tangan prajurit lain mulai meraba gagang baton mereka.
Tunggu Fiora. Sabar. Jangan tiba-tiba meledak.
"Di mana penjagaan kalian saat desa kami diserang?! Di mana Aegis Legion saat Paleside membutuhkan perlindungan?! Kalian tidak ada di sana! Dan sekarang," Fiora menunjuk antrean yang panjang dengan geram, "saat kami mencoba mengungsi sejenak, kalian mempersulit dengan alasan ‘menjaga keamananan’?!", ucapnya beringas dengan mata melotot.
Wah. Mengerikan juga Fiora kalau sudah marah. Mulai sekarang aku harus hati-hati bicara, tak boleh memancing sisi marahnya.
Kata ‘menjaga keamanan’ itu seperti menyulut sumbu. Seperti percikan api di jerami kering, kemarahan Fiora menular. Satu orang berteriak setuju, lalu dua, lalu puluhan.
"Benar! Kami juga dipersulit!"
"Sudah berjam-jam kami menunggu di bawah panas!"
"Pemeriksaan macam apa ini?! Kalian pikir kami ancaman?!”
“Biarkan kami lewat!"
Suasana yang tadinya hanya lelah dan frustrasi kini berubah menjadi kemarahan terbuka.
Aku tak menyangka warga yang lain akan terprovokasi. Ini sempurna. Fiora telah menciptakan badai kecil yang kubutuhkan.
Prajurit di depan kami tampak panik di balik helmnya. Beberapa rekannya segera mendekat, mencoba menenangkan kerumunan yang mulai mendesak maju. Seorang Perwira—berpangkat Decurion, tampak dari baris 3 yang tersemat di lengannya—mendorong maju melewati keributan.
"Ada apa ini?! Tangkap wanita yang berteriak itu!"
Di tengah kekacauan itu, saat perhatian Decurion terbagi antara menenangkan warga dan memahami situasi kami, aku mendekat padanya.
"Jika aku boleh bicara, Tuan Decurion,” menjaga suaraku tetap logis dan tenang di tengah keributan. “Ada tiga alasan kenapa kau harus membiarkan kami lewat,"
"Satu, nama kami tidak ada dalam daftar buronan atau orang mencurigakan yang kalian pegang, kan? Dua, kami tidak membawa barang berbahaya. Tidak ada hewan ilegal, tidak ada barang selundupan."
Aku berhenti sejenak, membiarkan kata-kataku meresap.
"Dan tiga," lanjutku, sedikit merendahkan suaraku, "Apa hal paling berbahaya yang bisa dilakukan satu pria dan satu wanita di kota yang sudah dipenuhi oleh puluhan, mungkin ratusan, prajurit Aegis Legion bersenjata lengkap seperti kalian?"
"Pikirkan baik-baik, Decurion. Kami hanya dua orang lelah yang ingin istirahat. Jika kau tangkap wanita ini, kau harus menulis laporan dan menghadap atasanmu menjelaskan kenapa barikade jebol diamuk massa hari ini."
Decurion itu terdiam, menatapku lekat. Ia tidak punya argumen kuat untuk membantah logikaku. Di belakangnya, tekanan dari kerumunan warga semakin terasa. Akhirnya, dengan helaan napas kesal, ia memberi isyarat pada prajuritnya. "Biarkan mereka masuk. Aku tak mau melihat mukanya lagi!"
Aku menarik lengan baju Fiora sebelum dia sempat berterima kasih atau berteriak lagi.
"Cepat Fiora," bisikku. "Dan tolong jangan pernah lakukan hal itu lagi tanpa memberitahuku sebelumnya."
tujuan diganti dan mengesampingkan pekerjaan juga normal² aja. soalnya orang mana yang ga kangen setelah insiden mengerikan itu?/Frown/
karena aku bisa tau rasa cemasnya mengkhawatirkan satu satunya orang yang dipunya
udah biarin aja debat sampe capek /Facepalm/