NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / Hamil di luar nikah
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Seorang dosen berdiri di depan kelas. Sosok itu pembawaannya tenang, seolah ruangan memang menunggunya. Gerakannya tidak tergesa, tidak pula memberi senyum pembuka. Wajahnya datar, sorot mata dingin dan fokus tatapan seseorang yang terbiasa menguasai ruang tanpa perlu usaha.

Jas gelap yang dikenakannya rapi, kancingnya terpasang sempurna. Posturnya tegak, bahunya lurus. Tidak ada gerakan sia-sia saat ia meletakkan map di atas meja dosen.

Dia... Sagara, berdiri di sana, diam beberapa detik, cukup lama untuk membuat kelas yang semula berisik perlahan tenggelam dalam sunyi.

Darah Senja seakan berhenti mengalir. Dunia menyempit menjadi satu titik fokus yang jatuh pada Sagara.

Ia tahu... ia tahu Sagara mengajar di universitas ini. Mereka pernah membicarakannya sekilas, dengan nada netral, seolah kemungkinan itu jauh dan tidak akan bersinggungan langsung.

Tapi tidak pernah, tidak pernah ia membayangkan ini. Di kelasnya. Di hadapannya. Sebagai dosennya.

Sagara masih berdiri tegak. Tatapannya menyapu kelas dengan profesionalisme dingin. Lalu sangat singkat, matanya bertemu dengan mata Senja. Hanya sepersekian detik, tapi cukup.

Tidak ada keterkejutan di wajah Sagara. Tidak ada reaksi berlebih. Hanya jeda yang nyaris tak kasatmata sebelum ia kembali menunduk pada daftar hadir.

Namun Justru ketenangan itu yang membuat Senja makin panik. Tangannya mengepal di bawah meja. Napasnya terasa pendek. Batinnya berteriak, bagaimana kalau semuanya tahu?

Deka di sampingnya ikut menegakkan badan. “Itu… dosennya kelihatan killer,” bisiknya.

Senja tidak menjawab.

Suara Sagara mulai memecah keheningan kelas. “Selamat pagi,” katanya. Saat ia mulai berbicara, suaranya rendah dan stabil. Tidak keras, tapi mengalir dengan ketegasan yang tak bisa diabaikan.

“Pagi, Pak,” jawab kelas serempak.

“Saya Sagara. Saya akan mengajar mata kuliah ini selama satu semester ke depan.” Ia berhenti sejenak. “Saya tidak menyukai keterlambatan, ketidaksiapan, dan drama yang tidak perlu.”

Kalimat terakhir itu terdengar umum. Tapi bagi Senja, rasanya seperti ditujukan langsung padanya. Ia menunduk, berusaha menenangkan diri.

Aku mahasiswa. Dia dosen. Titik.

Batinnya lagi.

Beberapa mahasiswi di barisan belakang saling melirik. Bisikan-bisikan kecil menyusup di antara bangku.

“Profesor Sagara, ya?"

“Dingin banget…”

“Tapi kok karismatik, sih?”

"Iya, cakep juga."

"Denger-denger masih jomblo."

"Bagus dong, bisa dideketin, jadiin sugar daddy."

"hush! nggak sopan."

Senja menangkap bisik-bisik itu tanpa menoleh. Ada rasa aneh yang menyelinap, bukan cemburu, bukan pula heran. Ia hanya menyadari satu hal sederhana, bahwa sikap dingin Sagara bukan jarak, melainkan kendali. Dan kendali itulah yang membuat orang-orang terpesona.

Sagara mulai menjelaskan silabus, aturannya, sistem penilaian. Semua disampaikan dengan nada yang sama seperti di rumah, ringkas, jelas, tanpa basa-basi.

Terlalu normal. Seolah mereka tidak berbagi rahasia apa pun. Seolah mereka bukan suami istri.

Dari depan, Jelita kembali menoleh beberapa detik. Matanya menyipit, lalu ia tersenyum samar penuh makna, seperti menemukan sesuatu yang menarik.

Deka bersandar sedikit ke arah Senja. “Kamu kenal dosen ini sebelumnya? Wajahnya kayak familiar.”

Pertanyaan itu membuat jantung Senja berdegup keras. “Tidak,” jawabnya cepat. Terlalu cepat.

Deka menatapnya sesaat, seolah ingin percaya, tapi ada keraguan yang belum sempat terbentuk sempurna.

Di depan kelas, Sagara memanggil nama mahasiswa satu per satu.

“Senja.”

Mendengar itu Senja mengangkat tangan dengan kaku. “Hadir, Pak.” Nadanya dibuat seformal mungkin, agar aman.

Sagara mengangguk tanpa menatapnya lebih lama dari yang diperlukan. Tidak ada yang tahu, selain mereka berdua, bahwa pagi ini, jarak antara dosen dan mahasiswa itu hanya selapis rahasia.

Dan Senja sadar, hari-hari ke depan tidak akan sederhana. Karena masa lalu duduk di sampingnya. Dan masa kini berdiri di depan kelas.

Satu jam mata pelajaran selesai. Sagara menutup map, mengucap salam singkat, lalu keluar kelas tanpa menoleh lagi. Langkahnya mantap, posturnya tetap tegak seperti tidak ada satu pun yang mengganggu keseimbangannya barusan.

Begitu pintu ruang dosen tertutup, barulah ia menghembuskan napas lebih panjang dari biasanya. Tangannya bertumpu pada meja.

Sunyi.

Bayangan wajah Senja kembali muncul di benaknya. Cara ia duduk terlalu kaku, caranya menghindari tatapan, suara 'Hadir, Pak' yang terdengar profesional tapi bergetar halus di ujungnya.

Sagara menggeser kursi, duduk perlahan.

Ia sudah menduga kemungkinan ini. Sudah memikirkan skenario terburuk. Tapi teori selalu kalah telak dari kenyataan.

Dia di kelasku.

Kalimat itu berulang di kepalanya, sebagai pengingat. Ini bukan hanya soal etika dan reputasi, tapi juga tentang kenyamanan Senja dalam belajar.

Sagara menghembuskan napas perlahan. Profesionalitasnya terjaga, tapi pikirannya berlari ke arah yang tak diundang. Seorang mahasiswa yang duduk terlalu dekat dengan Senja. Dan seorang perempuan dengan senyum yang terasa manis tapi matanya tajam, terlalu tajam untuk sekadar teman.

Deka.

Jelita.

Alis Sagara berkerut tipis. Ingatan itu datang tanpa diundang. Kabut tebal. Jalur setapak yang salah. Senja yang tersesat. Wajah-wajah panik di kaki gunung waktu itu. Kerumunan kecil, suara saling menyalahkan, dan Deka dan Jelita yang memandang Senja terlalu lama ketika ia ditemukan bersama Sagara.

Ia ingat betul sorot mata mereka waktu itu. Bukan lega, melainkan curiga.

Sagara mengatupkan rahang. Waktu itu ia tidak peduli. Fokusnya hanya Senja yang lemah, pucat, menggigil. Dunia di luar seakan kabur. Tapi kini, dunia itu duduk di kelasnya. Dan istrinya itu ada di tengah pusaran lama yang belum sepenuhnya mati.

Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur. Deka duduk di sebelah Senja. Ia tidak menyukainya. Bukan karena cemburu yang membabi buta, Sagara bukan lelaki seperti itu, melainkan karena ia tahu jenis lelaki seperti apa Deka. Lelaki yang terlambat menyesal. Lelaki yang baru merasa kehilangan setelah melepaskan.

Dan Jelita…

Sagara mendengus pelan. Perempuan itu punya tatapan yang tidak jujur. Dulu di gunung, sekarang di kelas, tidak berubah.

Sebagai dosen, ia harus netral. Tidak boleh ada perlakuan istimewa. Tidak boleh ada proteksi berlebihan yang mencurigakan.

Sebagai suami… Rahangnya mengeras.

Ia ingin memastikan Senja aman, tenang. Tidak terintimidasi oleh masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Sagara berdiri, merapikan kemeja, kembali mengenakan topeng profesionalnya. Tenang, katanya pada dirinya sendiri.

Jaga jarak. Jaga peran. Namun, jauh di dalam dada, ada satu keputusan yang sudah bulat, ia akan diam. Ia akan menjaga. Dan jika ada satu saja yang berani mengganggu Senja, Sagara Biru tidak pernah membutuhkan banyak kata untuk membuat orang lain mengerti batasnya.

*

*

*

Senja duduk di bangku beton di sudut bangunan paling ujung. Tempat itu jarang dilewati orang. Ada pohon tabebuya yang sedang berbunga, suara angin pelan, dan bayangan gedung yang meneduhkan. Biasanya, tempat itu menenangkan, tapi hari ini tidak.

Ia memeluk tasnya, menunduk, mencoba menata napas yang belum sepenuhnya kembali normal sejak kelas tadi.

Pak Sagara.

Bahkan menyebut namanya seperti itu terasa janggal di kepalanya. Ia menarik napas panjang. Bersamaan dengan itu langkah kaki seseorang berhenti di depannya.

“Senja," sapa seseorang itu.

Senja refleks mendongak. Deka berdiri di sana, dengan senyum yang terlalu berusaha terlihat santai. Di belakangnya afa Jelita seperti bayangan yang tak pernah absen.

“Oh,” kata Senja pelan. “Kalian.”

“Kok nyempil di sini?” tanya Deka. “Sepi amat.”

“Aku suka tempat sepi,” jawab Senja singkat.

Deka mengangguk, lalu duduk di ujung bangku, menyisakan jarak. Jelita tidak duduk, ia berdiri sambil menyilangkan tangan, matanya sibuk mengamati sekitar sebelum kembali menancap pada Senja.

“Dosen barusan…” Deka membuka basa-basi. “Terkenal, katanya. Galak tapi pintar.”

Senja mengangguk.

Jelita tersenyum kecil. “Aku jadi ingat sesuatu,” katanya ringan, terlalu ringan untuk topik yang ia pilih.

Senja seketika menegang.

“Waktu kamu tersesat di gunung dulu,” lanjut Jelita, nada suaranya seperti sedang mengobrol soal cuaca. “Kamu sama beliau, kan?”

Senja menelan ludah. “Iya.”

Deka mengernyit, menyadari ketidak jujuran Senja waktu di kelas tadi. "Katanya nggak kenal?"

Senja tak menjawab. Jelita menyambung ucapan.

“Saat kita menemukan Senja saat tersesat di gunung itu, 'kan dia dengan Pak Sagara. Lebih tepatnya mereka bermalam.”

Kata bermalam itu jatuh pelan, tapi menghantam keras.

Deka melirik Jelita, lalu kembali ke Senja. Ada kegelisahan di wajahnya. “Kamu nggak diapa-apain 'kan waktu itu?”

“Aku selamat karena beliau,” jawab Senja cepat. Jujur tapi tak sepenuhnya terbuka. Itu tidak perlu.

Jelita memiringkan kepala, senyumnya tidak sampai ke mata. “Maksudku… ya kamu tahu sendiri. Laki-laki dan perempuan, di hutan, malam hari, sampai nginep. Pasti capek, dingin. Kadang… bisa terjadi hal-hal yang nggak direncanakan.”

Dunia Senja membeku. Suara angin terdengar terlalu keras. Detak jantungnya naik ke telinga.

“Tidak ada apa-apa,” katanya, berusaha menjaga suara tetap rata.

“Ah, aku cuma nanya,” kata Jelita sambil mengangkat bahu. “Soalnya orang-orang waktu itu sempat ngomong macam-macam.”

Senja menatap lurus ke depan. Tangannya dingin. Di dalam kepalanya, satu pikiran berulang.

Mereka curiga. Jangan sampai.

Deka menggeser duduknya sedikit lebih dekat. “Kalau kamu nggak nyaman, bilang saja. Kita kan… teman.”

Teman.

Kata itu terasa asing. Senja lantas berdiri. Gerakannya tenang, tapi ada batas yang ia tarik jelas.

“Aku mau ke perpustakaan,” katanya.

Jelita tersenyum lagi, senyum yang menyisakan tanya. “Santai aja, Sen. Aku cuma khawatir. Apalagi sekarang dosennya orang yang sama.”

Senja mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Lalu ia pergi, meninggalkan dua pasang mata yang mengikuti langkahnya. Di balik langkah yang tampak tenang, jantung Senja berdebar keras.

Rahasia itu masih utuh, tapi ia tahu, mulai hari ini, ia harus lebih berhati-hati.

Karena masa lalu tidak hanya duduk di bangku kelas, tapi juga ikut mengawasi.

Bersambung~~

1
Najwa Aini
Ya harus lahh
Najwa Aini
Wahh hebat..eh aku ralat. tidak hebat.
tdk butuh keahlian untuk mengendalikan berita negativ. tidak butuh skill, tidak butuh smart. cukup gak punya hati aja, sedikit memoles narasi, cuzz berita buruk itu berlari, menyebar, singkat.
Mia Camelia
kasian senja, udh mulai di bully😂😂😂
Ayuwidia
Astaghfirullah, kejam banget omongannya
Ayuwidia
Sunyi itu malah lebih mengerikan dari pada ucapan kasar
Nofi Kahza
ada banyaakkk
partini
tuan saga apa ga bisa kasih bodyguard bayangan buat istrimu dia hamil loh sesuatu bisa terjadi apa lagi banyak yg ga suka be smart dong pak dosen jangan lemot
partini: ah suka yg kehujanan dulu baru beli payung ok ok
total 2 replies
Ayuwidia
Sagara suami siaga, meski tidak banyak kata, atau aksi yg bisa dilihat oleh mata
Ayuwidia
Betul
Ayuwidia
Aku pingin kuliah di sana, tapi cuma bisa bermimpi tanpa berkeinginan untuk mewujudkan
Ayuwidia: udahhh 🤭
total 2 replies
Ayuwidia
Nggak kebayang gimana sulitnya Sagara menahan gejolak rasa pingin itu
Nofi Kahza: ngilu mbook...😆
total 1 replies
Najwa Aini
ngopi ☕..yak tapi diminum nanti. siang masih puasa
Nofi Kahza: makasih kaka sayangku../Kiss/
total 1 replies
Najwa Aini
Aku kawal. bener..jangan sampai Senja ku kenapa².
Najwa Aini
Top Markotop deh Sagara..👍
Najwa Aini
setuju.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
Najwa Aini: Benar juga...tapi energiku masih habis sekarang
total 2 replies
Najwa Aini
Saat² penyiksaan bagi Sagara dimulai..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..
Najwa Aini
Gak suka sama jelita. tapi gak setuju juga dia diperlakukan kayak gitu
Najwa Aini
Slam ini nama grup band luar negeri yg sempat aku suka dulu
Najwa Aini
definisi antara ada dan tiada, mungkin si pandi ini ya
Najwa Aini
eaa..eaa..dermawan kok ke amarah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!