Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Retaknya Sangkar Emas
Dingin. Itulah satu-satunya kata yang bisa menggambarkan suasana di penthouse selama tiga hari terakhir. Jordan benar-benar menjalankan ancamannya. Ia tidak menyentuh Airin, tidak menatapnya, bahkan tidak menyahut saat Airin menyapanya di meja makan. Jordan berangkat ke kantor sebelum Airin bangun dan pulang saat larut malam hanya untuk mengunci diri di kamar tamu.
Airin merasa hancur. Rasa bersalah karena telah membahayakan nyawanya sendiri dan mengkhianati perlindungan Jordan membuatnya nekat. Sore itu, ia memasak sup iga kesukaan Jordan dan membuat secangkir kopi hitam tanpa gula, persis seperti yang biasa Jordan minta. Ia duduk di lantai, bersandar pada pintu kamar tamu tempat Jordan mengurung diri, menunggunya pulang semalaman.
Pukul dua pagi, pintu lift terbuka. Jordan melangkah masuk dengan wajah lelah, dasinya sudah longgar. Ia terhenti saat melihat Airin tertidur meringkuk di depan pintu kamar tamu dengan nampan makanan yang sudah dingin di sampingnya.
Airin terbangun karena suara langkah kaki. "Jordan... kamu sudah pulang? Aku buatkan sup, aku panaskan ya?" ucapnya dengan suara serak, mencoba meraih ujung jas Jordan.
Jordan menyentak tangan Airin dengan kasar. "Apa yang kamu lakukan? Berhenti bersikap menjijikkan seperti ini, Airin!" bentaknya, suaranya menggelegar di lorong sunyi itu.
"Aku cuma mau minta maaf, Jordan... tolong jangan diamkan aku lagi," Airin menangis, mencoba memeluk kaki Jordan.
"Minta maaf?" Jordan tertawa sinis, matanya berkilat penuh kebencian yang dalam. "Kamu hampir membuatku gila karena ketakutan, dan sekarang kamu pikir semangkuk sup bisa membayar pengkhianatanmu? Kamu tidak lebih dari beban, Airin! Aku menyesal telah begitu terobsesi pada gadis egois dan tidak tahu diuntung sepertimu. Pergi dari hadapanku! Keluar dari sini kalau kamu memang sangat ingin bebas!"
Kata-kata "beban" dan "menyesal" menghujam jantung Airin hingga terasa berhenti berdetak. Tanpa sepatah kata lagi, Airin bangkit dengan tubuh gemetar. Ia mengambil tas kecilnya dan melangkah keluar dari penthouse itu di tengah malam yang buta.
Airin pergi ke satu-satunya tempat yang ia anggap aman: rumah orang tuanya. Dengan sisa harapan, ia mengetuk pintu rumah megah keluarga Rodriguez. Namun, yang menemuinya bukan pelukan hangat, melainkan tatapan dingin sang Ayah di balik pintu yang hanya terbuka sedikit.
"Ayah... Jordan mengusirku..." Airin terisak.
"Pulanglah pada Jordan, Airin," suara Tuan Rodriguez terdengar tanpa belas kasihan. "Kamu sudah mempermalukan keluarga dengan mencoba kabur. Ayah tidak menerima anak yang tidak bisa menjaga martabat dan komitmennya pada pria yang sudah menjamin keselamatannya. Sebelum kamu berdamai dengan Jordan, jangan pernah injakkan kaki di rumah ini."
Pintu tertutup rapat. Airin berdiri mematung di teras rumahnya sendiri. Dunia benar-benar telah membuangnya. Sahabatnya hilang, kekasihnya membencinya, dan orang tuanya menolaknya.
Dengan jiwa yang kosong, Airin kembali ke apartemen Jordan menggunakan kunci cadangan yang masih ia simpan. Keadaan sangat sunyi; Jordan sepertinya sudah pergi lagi atau tidak ingin menemuinya.
Airin berjalan menuju kamar mandi utama. Ia menyalakan keran bathtub, membiarkan air hangat memenuhi bak porselen itu hingga meluap ke lantai. Ia masuk ke dalam air dengan pakaian lengkap, matanya menatap kosong ke langit-langit.
"Mungkin benar... aku hanya beban," bisiknya lirih.
Rasa lelah yang luar biasa, depresi karena penolakan, dan rasa kesepian yang mencekik membuatnya merasa mengantuk. Airin perlahan-lahan menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Ia tidak lagi mencoba melawan. Ia membiarkan kegelapan air menyelimuti indranya hingga kesadarannya perlahan-lahan menghilang, meninggalkan tubuhnya yang mengapung tak berdaya di bawah permukaan air.
Di saat yang sama, Jordan yang baru saja kembali dari bar untuk menenangkan pikirannya, merasa firasat buruk yang sangat kuat. Ia berlari menuju kamar mandi, dan jantungnya seolah berhenti saat melihat air meluap dari bawah pintu.
"AIRIN!!!"