Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sekte kanibal?
Elena hendak mengejar Isabella tapi semua manusia yang ada di gereja mengepungnya. Roxane sudah gemetar di sebelah Elena, dia berpikir akhir hidupnya sudah dekat.
"Wah kurang ajar, gara-gara kalian semua aku kehilangan buruan besar. Yasudah, akan kuajak kalian bersenang-senang dengan baik." Elena berucap dingin, mengeluarkan pedang panjang dari balik gaun lusuhnya.
"Elena.." Roxane ketakutan.
"Tetap di belakangku Roxy, lihat pertunjukan ini baik-baik." Elena tersenyum menenangkan.
Syuttt
Klang
Klang
Crashhhh
Aarrgghhhhhhhh
Elena mengayunkan pedang nya dengan sangat santai, dia tertawa bahagia sambil menebas kesana kemari. Musuh sangat banyak seperti zombie, Elena menari sambil memutar pedangnya dengan sangat indah.
Daniel dan Theor tercengang, ternyata Elena bisa menggunakan pedang. Bahkan terlihat sangat berbakat dalam bidang ini, antara senjata, tubuh dan otak merespon selaras layaknya satu.
Roxane menatap Elena penuh kekaguman mendalam, dia berbinar dan berjanji setelah ini akan mulai belajar berpedang juga. Dia ingin menjadi kuat dan hebat seperti Elena, keanggunan yang tajam dan mengagumkan.
Theor bergabung dalam pertarungan, dia menjaga punggung Elena dan ikut memperlihatkan kehebatan berpedangnya. Daniel yang melihat itu tersenyum tertarik, dia merasa mendapatkan rival yang mengagumkan. Tidak mungkin dia menyia-nyiakan kesempatan emas, dia juga harus terlihat hebat.
"Aakkkkkhhhhhhhhhhhhh."
Roxane berteriak saat seorang anak kecil dengan fisik menakutkan mengigit kakinya. Daniel yang melihat itu langsung datang melindungi, ternyata semua yang ada disini sudah tidak layak disebut manusia.
"Apa-apaan ini, jadi ini wujud asli tempat ini?." Gumam Daniel merasa tertipu.
"Mereka semua terlihat tidak waras, apa mereka masih bisa disebut manusia?." Roxane merasa mual.
"Mana mungkin ada manusia seperti ini, tutup saja matamu Roxane. Kita akhiri ini semua dengan cepat, setelah itu kita akan tau fakta sesungguhnya tentang tempat ini." Ucap Daniel.
Daniel, Theor dan Elena terus menebas dan menebas hingga semuanya habis tanpa sisa. Kebanyakan dari mereka justru melempar tubuh, mereka tidak memiliki senjata dan hanya mengandalkan tubuh terutama gigi. Terlihat seperti hewan buas, namun fisik mereka sudah cacat.
hoshh..
hoshh..
hoshh..
Suatasana langsung hening, semua gelandangan palsu itu sudah dihabisi. Para pendeta sesat juga sudah dihabisi, suasana langsung sepi menakutkan layaknya gereja kosong.
"Tidak ada waktu lagi, hari sudah malam. Cepat geledah semua tempat, kita pergi setelah melihat semuanya." Ucap Daniel.
"Tunggu, jangan berpencar." Ucap Elena.
"Itu akan membuang banyak waktu." Daniel tidak setuju.
"Bukan masalah waktu, tapi ini demi kebaikan semuanya. Aku mengetahui satu tempat yang menurutku sangat mencurigakan, tempatnya ada di dapur gereja. Aku merasa aneh karena mereka menyebut manusia sebagai kayu bakar." Ucap Elena.
"Kau tau lokasinya?." Tanya Daniel.
"Tidak sih, Theor mungkin kau bisa membantuku." Elena menatap Theor.
"Ya, jika itu dapur seharusnya ada di arah belakang." Theor menggunakan kekuatan mata, menatap ke arah belakang gereja.
Tatapan Theor menembus dinding, ruangan pertama yang terlihat adalah ruang doa. Lalu ruang makan, asrama pendeta dan yang paling belakang adalah dapur. Lokasinya terhimpit di tengah, antara ruang doa dan ruang makan.
"Ketemu." Ucap Theor.
"Bagus, cepat bergerak." Ucap Daniel.
Mereka berlari cepat dengan Theor yang memimpin jalan, di setiap lorong ada bangkai manusia. Ada juga jejak manusia terbakar karena kebakaran yang sempat dibuat Theor, mereka berlari sampai ke ruang makan dimana Elena awalnya duduk di sana.
"Dimana? ini ruang makan." Ucap Daniel celingukan.
"Di balik dinding ini, aneh sekali karena tidak ada pintu." Ucap Theor.
"Bukan tidak ada, pasti pintunya tidak terlihat." Ucap Elena.
Semuanya mencari lokasi pintu di semua dinding, mencari dengan fokus. Dengan penerangan yang minim, suasana yang sepi menakutkan mereka seperti sedang masuk rumah hantu.
ceklak
Drrkkkkkk
"Terbuka!!! lihat, ada lorong disini." Pekik Roxane.
Semuanya berkumpul di tempat Roxane, di sana ada sebuah lorong aneh yang entah menuju kemana. Theor memeriksa, dan benar saja itu arah ke dapur.
Mereka akhirnya masuk dengan membawa obor, suara tapak kaki mereka yang menggema di lorong itu terasa menakutkan. Bahkan Roxane sudah mual, dia terbawa suasana yang aneh.
Deg.
Hueeekkkkkk
Mereka reflek mual saat tiba di dapur yang mereka cari-cari, di sana ada tungku besar yang masih mengepul berisi makanan yang biasanya di sajikan mereka.
Tapi yang aneh, kayu bakar yang mereka gunakan adalah tulang belulang manusia. Lalu ada beberapa potongan yang terlihat, itu sangat membaut mual dan Roxane sampai tidak kuat lagi.
"Brengsek, kita pergi saja. Aku akan meminta Ayahku mengirimkan pasukan." Daniel merasa jijik.
"Tunggu, kalian pergilah lebih dulu." Ucap Theor, dia biasa saja.
Akhirnya Elena, Roxane dan Daniel keluar duluan dan muntah. Mereka menunggu di depan gereja, sungguh sangat menjijikan sekali.
Sedangkan Theor saat ini sedang menumpahkan kuali besar, melihat semua isi dengan seksama. Menggeledah semuanya, berusaha mendapatkan bukti atau apapun yang terlihat penting.
Sampai akhirnya dia menemukan buku resep. Sebuah buku dengan aksara kuno. Dengan gambar aneh yang memperlihatkan manusia direbus hidup-hidup dalam kuali, sepertinya buku itu memiliki informasi penting.
Theor membawa itu dan pergi dari sana, setelah keluar. Theor dan Daniel memutuskan untuk membakar gereja itu, apalagi setelah mereka sadar jika di sana aslinya sangat sepi. Tidak ada rumah, dan hanya ada satu satunya gereja ini saja.
"Apa ini semacam sugesti? padahal saat kita pertama kali datang semuanya terlihat normal." Gumam Roxane, kena mental.
"Aku pikir ini semua karena sandiwara mereka. Jadi apa yang kau dapatkan Theor?." Tanya Daniel.
"Sebuah buku aneh." Theor menunjukan bukunya.
"Aku dan Roxy melihat Isabella, tapi dia pergi saat kekacauan terjadi. Kita kehilangan jejaknya, ternyata dia bersembunyi disini." Ucap Elena.
"Apa kau yakin?." Daniel masih berusaha menyangkal.
"Sungguh, karena kita berdua sempat pura-pura terkena hipnotis. Kita melihat sendiri Isabella datang dan bicara dengan pendeta, membahas soal kayu bakar." Ucap Roxane, dia merinding.
Roxane merasa ngeri dan takut, ternyata gadis yang selama ini dia pikir naif dan menyebalkan. Merupakan sosok yang keji, bahkan hidup di lingkungan menjijikan seperti ini.
Roxane terus saja muntah karena dia sempat mengepah makanan yang ada di sini, meskipun tidak di telan tapi tetap saja itu menjijikan. Elena juga sama mualnya, sungguh penemuan yang mengerikan dan mengejutkan sekali.
"Ini sekte kanibal, atau mungkin pengikut kaum sesat." Ucap Theor.
"Maksudmu bersekutu dengan iblis?." Tanya Daniel.
Deg.
Elena tersentak, dia jadi teringat dengan Elena di kehidupan pertama yang pernah bersekutu dengan penyihir gelap. Dia menyerahkan jiwanya pada Iblis, dan berakhir mati menyedihkan.
"Apa sekarang peran itu di tukar? atau memang ada misteri yang harus aku pecahkan?." Batin Elena pusing.
"Ayo kita kembali, jika benar ada orang yang bersekutu dengan Iblis. Maka harus segera di bunuh, dia mengancam perdamaian umat manusia." Ucap Daniel.
"Meskipun dia Isabella?." Sindir Roxane.
"Aku menyukai Isabella yang lugu, ceria dan kekanakan. Jiwa ternyata sifat asli Isabella seperti ini, maka tidak mungkin aku masih menyukainya." Jujur Daniel, meskipun dia kecewa tapi dia jadi membenci Isabella.
Akhirnya mereka bersiap kembali, wajah mereka terlihat lelah. Pakaian yang mereka kenakan kotor, tapi setidaknya mereka tidak pulang dengan tangan kosong.
kami tunggu karya selanjutnya💪💪💪💪
terbaik thor 😍
tetap semangat, semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
utamakan kesehatan 🥰
biar bisa berkarya lagi😍