NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 2 bagian 4

Kamis pagi Hani telah datang lebih pagi dari biasanya. Tidak ada satu pun siswa yang sudah datang, ia adalah yang pertama. Sore ini perkemahan akan dimulai dan tasnya penuh dengan atribut Pramuka, hanya ada 2 buku pelajaran itu pun karena hari ini ada ulangan. Sudah 15 menit mobilnya terparkir di halaman tapi ia masih enggan untuk keluar.  Sopirnya sudah keluar berbincang dengan seorang petugas kebersihan dan merokok, meninggalkan dirinya sendiri di mobil. Sebenarnya ia tidak takut berjalan sendirian, namun akan lebih baik jika ada teman yang ia kenal bersamanya.

Kejadian kemarin sore bukanlah hal yang mudah dilupakan. Untuk pertama kalinya ia melihat apa yang disebut hantu. Apakah benar itu hantu? Daniel bilang tidak ada satu makhluk pun yang tinggal di sana, lalu mengapa ia dan Ida dapat melihat penampakan itu? Bayangan sosok yang penuh dendam itu seolah menolak untuk meninggalkan otaknya, membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Pada awalnya ia berfikir bahwa itu hanya lah halusinasinya, tapi begitu ia sadar sosok itu tidak kunjung hilang, ia tahu itu bukan halusinasi. Apalagi setelah tahu Ida juga dapat melihatnya.

Apakah Daniel berkata jujur, atau dia hanya ingin ia dan Ida tidak memikirkan hal itu? Ia harus mendapat kejelasan. Tidak ada orang yang mengetahui kejadian kemarin sore kecuali mereka, bahkan tidak ada satu pun satpam yang tahu. Dia menolak mengatakan apa pun pada teman-teman organisasinya.

Beberapa saat kemudian mobil Daniel masuk ke halaman parkir, dengan segera ia mengumpulkan semua perlengkapannya dan keluar dari mobil. Ia menunggu Daniel turun, mengabaikan ekspresi sopirnya yang tampak heran.

“Kau tampak seperti anak itik hilang” ucap Daniel begitu berada di dekat Hani.

“Aku masih memikirkan kejadian kemarin sore, apakah kau yakin dengan apa yang kau katakan?” tanya Hani sambil menyamai langkah Daniel.

“Aku sudah bilang, tidak ada arwah atau entitas apa pun di sana” jawab Daniel kesal.

“Tapi aku tidak berhalusinasi, Ida juga melihatnya” jawab Hani ngeyel.

Daniel yang tidak sabar akhirnya membawa Hani ke tempat kemarin sore. Belum ada satu pun orang di sana, tetapi tempat itu sudah bersih. Sepertinya petugas kebersihan di halaman depan sangat rajin, hingga di waktu yang sepagi ini mereka sudah selesai. Satpam pun belum berkeliling, mungkin mereka masih melakukan apel pagi.

“Kenapa ke sini lagi?” tanya Hani takut-takut.

“Untuk memastikan apakah ada kejanggalan atau tidak. Suasananya masih sama sepi dan mendung seperti kemarin sore” ucap Daniel sambil berjalan menuju toilet itu. Hani masih dengan ragu mengikutinya, ia enggan bukan hanya karena kejadian kemarin sore  tapi juga karena tasnya berat.

Daniel mengamati dengan tenang. Bangunan ini dirancang seperti huruf L terbalik, dengan sisi bilik toilet yang tidak bisa dilihat dari luar.  Pintu masuknya berhadapan langsung dengan tembok, bilik-bilik toilet itu terletak di sisi kiri dan masing-masing punya wastafel sendiri. Namun kaca besar yang dimaksud Hani tidak ada di dekat wastafel itu, melainkan di tembok sebelah kanan dekat pintu masuk. Kaca itu besar dan hampir menyentuh lantai, tempat yang pas untuk menata penampilan.

“Penampakan itu tercermin di sisi kanan cermin. Saat aku masuk suasana ya sudah sangat dingin, lampu di 2 bilik pertama mati dan 2 bilik lainnya masih hidup. Aku tidak tahu bilik yang mana yang mereka pakai jadi aku menggunakan bilik yang terakhir. Tidak ada kejanggalan saat aku masuk, namun saat aku membuka pintu semua lampu tiba-tiba mati, aku ingin cepat-cepat keluar tapi begitu aku menoleh aku melihat pantulan itu dan tidak dapat bergerak sampai Ida datang menyeretku” jelas Hani tanpa diminta.

Daniel terdiam, bersandar pada tembok di antara 2 wastafel. Dia mengamati keadaan yang sudah terang dan melihat saklar utama lampu yang dimatikan. Dia mencoba membuka satu per satu pintu bilik dan tidak terjadi apa pun.

“Andre masuk dan menggunakan bilik pertama dan tidak merasakan kejanggalan apa pun, sampai ia selesai, menutup pintu dan lampu di bilik pertama mati. Lalu Ida masuk kedua dan menemukan lampu bilik pertama mati, jadi ia menggunakan bilik ke-2 dan angin dingin sudah mulai terasa ketika ia menutup pintu. Dan kau menggunakan bilik ke-4 dan menemukan penampakan” ucap Daniel menganalisis.

“Kau mencurigai sesuatu?” tanya Hani.

“Sepetinya ada mekanisme dibalik ini semua. Jika dugaanku benar maka,”

Daniel tidak melanjutkan kalimatnya, ia menyalakan saklar utama dan berjalan menuju bilik pertama menutup pintu yang terbuka dan membukanya kembali, seperti yang Andre katakan lampu di bilik itu padam. Lalu ia melakukan hal yang sama pada bilik ke-2 dan benar saja ada hawa dingin dan hembusan udara yang memenuhi ruangan.

“Daniel, suasananya seperti kemarin sore” ucap Hani mulai merinding.

“Perhatikan cerminannya!” Perintah Daniel. Hani menurut dan melihat cermin.

Daniel menyeringai kecil dia membuka pintu bilik ke-4, dan begitu ia menutupnya kembali semua lampu dalam ruangan tiba-tiba mati menyisakan lampu di bilik ke-4 tetap menyala. Ia kemudian membuka pintu itu kembali dan menahannya dengan kakinya. Sepertinya dugaannya benar, penampakan itu muncul.

“Dan, itu dia muncul lagi kamu melihatnya kan?” ucap Hani sambil menunduk.

“Perhatikan baik-baik apakah dia hantu atau proyektor?” ucap Daniel masih bersandar pada dinding di belakang Hani.

Hani yang mendengar itu segera menatap pantulan di cermin itu dengan takut-takut. Mata gadis itu masih dipenuhi dendam dan kebencian. Namun kini perhatian Sora bukan pada gadis itu tetapi pada cahaya biru yang terpantul di cermin, hantu itu juga tidak sejelas kemarin. Dengan ragu ia mengerakan tangannya ke udara, dan benar saja  ada cahaya yang mengenai tangannya.

“Terlalu banyak cahaya, membuatnya tidak terlalu terlihat jelas. Yang pasti kalian melewatkan bilik ke-3, mari kita buka” ucap Daniel sambil membuka pintu bilik ke-3, dan begitu pintu itu ditutup kembali suara desisan seorang wanita keluar memenuhi ruangan.

“Kau yang tidak bertanggung jawab aku akan membunuhmu”

Sora yang menyaksikan hal itu terdiam dan berusaha mencerna apa yang terjadi.

“Andre dan Ida masuk ke dalam 2 bilik pertama membuat mekanisme mematikan lampu dan menyalakan pendingin udara, dan kebetulan kau masuk ke bilik ke-4 dan mengakibatkan proyektornya menyala. Ini lah penampakan yang kalian lihat” jelas Daniel.

“Lalu bagaimana caranya menghilangkan ini semua?”

Setelah pertanyaan Sora selesai pintu bilik ke-4 yang tadi ditahan oleh kaki Daniel akhirnya tertutup sendiri dan itu mengakhiri semua pertunjukan. Udara dingin hilang, lampu kembali menyala dan yang pasti tidak ada penampakan.

“Kau belum sempat menutup pintu saat itu, dan Ida masuk sebelum pintu itu tertutup juga. Jadi mekanismenya masih bekerja, namun begitu pintu tertutup mekanisme itu selesai. Butuh waktu 10 detik sampai pintu itu tertutup sempura, dan perlu waktu lebih lama bagi para satpam untuk datang ke tempat ini. Ini juga menjelaskan kejadian sebelumnya” jelas Daniel.

Hani yang mengetahui semuanya masih terdiam. Ia tidak tahu harus bersyukur atau kecewa dengan situasi ini. Karena itu artinya dia tidak benar-benar melihat hantu, beruntung ia tidak menceritakan hal ini pada keluarganya kalau tidak kakak laki-lakinya pasti akan mengejeknya selama berhari-hari.

“Kita harus keluar dari sini sebelum ada banyak orang yang datang dan salah paham” ucap Daniel. Ia berjalan keluar setelah mematikan kembali saklar utama dan membiarkan Hani mengejarnya. Ada beberapa siswa yang memandang mereka dengan heran meski sisanya berjalan dengan acuh.

“Tapi apa alasan mereka memasang perangkat seperti itu, apa tujuannya?” tanya Sora begitu berhasil mengejar langkah Daniel.

“Mana aku tahu, itu tidak ada hubungannya denganku” jawab Daniel cuek.

Hani menghela nafas pasrah, perkemahan akan dimulai siang ini ia harap semuanya akan berjalan dengan baik. Kebanyakan Dewan Ambalan yang bertugas tidak akan masuk untuk pelajaran hari ini, namun itu tidak berlaku untuk mereka. Ada ulangan sejarah dan ekonomi di 2 jam pertama dan jika mereka tidak masuk mereka harus mengulang di Minggu depan, semakin lama mereka mengulur waktu semakin banyak pula tugas dan pelajaran yang harus mereka kejar.

Belum ada satu orang pun yang datang ketika mereka sampai di kelas. Arwah Yuan juga tidak terlihat di tempatnya, entah karena ia tidak ingin muncul atau karena Daniel datang dengan Hani. Ia tidak terlalu memikirkannya. Namun begitu ia mengingat Yuan secara otomatis ia mengingat cerita Jonatan beberapa hari yang lalu.

“Han, apakah Yuan mati saat masih berstatus pacaran?” Tanya Daniel tiba-tiba.

Hani terkejut namun menjawab,

“tidak bisakah kau menggunakan kata yang lebih halus, Yuan manusia bukan binatang. Iya dia meninggal saat masih berpacaran dengan seorang mahasiswa PPL. Kenapa?”

Daniel meletakan ranselnya dan duduk dengan tatapan menerawang ke depan. Wanita yang dijadikan ‘penampakan’ di toilet itu adalah seorang gadis yang menggunakan baju OSIS dengan wajah yang berlumur darah. Memang sulit untuk mengenali wajahnya, tapi yang pasti itu siswa. Jika Yuan meninggal dalam perjalanan ke sekolah mungkinkah arwahnya akan tinggal di sepanjang jalan itu juga? Mungkin itu yang menjadi alasannya suka menghilang.

“Ceritakan padaku kronologi kejadiannya, dan apakah mantan atau pacarnya pergi untuk pemakamannya?” Tanya Daniel cepat.

“Kau mencurigai sesuatu?” tanya Hani kaget.

Daniel belum sempat menjawab, dan ke-4 temannya memilih waktu itu untuk menyela.

“Hani, aku tahu kejadian kemarin sore sulit dilupakan tapi bukan berarti kamu bisa memanipulasi Daniel sendirian. Aku juga perlu diterawang, apakah ada arwah yang menempel padaku” tanya Ida. Mereka ber-4 meletakan tasnya di bangku dengan suara brug yang cukup keras.

Daniel memutar bola matanya bosan.

“Aku sudah bilang tidak ada penampakan apa pun di sana” jawab Daniel jengkel.

Hani akhirnya menceritakan apa yang menjadi temuan mereka pagi ini. Ke-4 siswa itu tampak terkejut, namun tidak terlalu kaget.  Mungkin itu salah satu jebakan yang digunakan pengurus untuk memeriahkan acara perkemahan tahun ini.

“Woh, hanya proyektor ya. Aku kira itu nyata, kalian tahu sekilas hantu itu terlihat seperti Yuan tapi karena wajahnya yang berlumur darah dan penuh dendam aku jadi ragu. Untung kalian bilang itu bukan hantu nyata, aku hampir berpikir kalau arwah Yuan masih berkeliaran di sekolah ini” jawab Ida lega.

“Sebenarnya da, Daniel sudah melihat arwah Yuan masih di kelas ini. Dia juga sedang menanyakan kronologi kecelakaan yang menimpa Yuan dan aku belum sempat bercerita” sepa Hani ragu-ragu.

Ida belum sempat meluapkan keterkejutannya dan Ilyas sudah terlebih dahulu menyela,

“Aku tahu kronologinya karena saat itu dia di depanku. Kalian tahu pertigaan yang di depan pasar, disitu kejadiannya. Saat itu sudah agak siang Yuan dan temannya ada tepat di depanku. Tapi aku tidak tahu apa yang menghancurkan fokus Yuan, yang aku lihat ban motornya menginjak sebuah batu seukuran kepalan tangan dan membuatnya oleng. Dari arah berlawanan ada sebuah truk besar, Yuan tidak terlindas ia hanya masuk ke kolong truk itu. Aku pikir saat itu ia akan bangun dan tertawa tetapi dia tidak bangun sampai ambulan datang. Hanya perlu waktu 1 jam bagi UGD untuk menyatakan Yuan meninggal dan penyebab adalah serangan panik dan asma yang kambuh secara bersamaan” jelas Ilyas.

“Apa tidak ada pemeriksaan lain?” tanya Daniel.

“ Tidak. Yuan tidak terluka parah, dan visum tampaknya tidak diperlukan jadi pihak keluarga hanya membawanya pulang dan memakamkannya di sore hari” jawab Ilyas.

“Untuk pertanyaan mu sebelumnya Dan, ke-2 mantan Yuan datang dan kekasihnya juga datang. Namun karena Yuan belum memperkenalkannya pada kedua orang tuanya, dia tidak mengucapkan bela sungkawa secara langsung. Ia hanya datang dan pulang dulu bersamaku” ucap Hani setelah Ilyas selesai.

“Kau akan melakukan pengusiran arwah?” tanya Andre yang sejak tadi diam.

“Aku sudah bilang melakukan pengusiran arwah bukanlah hal yang mudah. Lagipula arwah Yuan tidak menganggu jadi biarkan saja. Jika memang benar semua hal yang ia inginkan sudah selesai maka seharusnya ia tidak ada di sepanjang jalan tempat kejadian atau sekolah, tapi arwahnya masih ada disini itu artinya ada sesuatu yang tersembunyi di tempat-tempat ini yang berkaitan dengan dia. Dan jika dugaanku benar bahwa kejadian di toilet itu berkaitan dengan Yuan, maka orang yang memasang perangkat itu pasti ada kaitannya dengan Yuan. Entah ia ingin mengungkapkan sesuatu atau menyembunyikan sesuatu. Mungkin diperlukan otopsi untuk memastikan kecurigaanku” jawab Daniel malas. Bertepatan dengan itu bell tanda masuk berbunyi, memecahkan konsentrasi anak-anak itu.

“Tapi Yuan meninggal 5 atau 6 bulan yang lalu. Dia sudah membusuk” ucap Jonatan bingung.

“Aku akan coba menghubungi Om Bima untuk kasus ini, aku yakin ahli forensik bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tahan dulu ceritanya, aku belum belajar sejarah” ucap Andre.

Mereka pun kembali ke tempat duduk masing-masing dan mulai membuka buku untuk belajar. Terdengar sangat terlambat dan tidak berguna, meski begitu itu lebih baik daripada memasrahkan nilai kepada keberuntungan. Setidaknya mereka masih sempat untuk membaca bab pertama jadi mereka masih bisa menjawab 2 soal pertama.

Lima menit kemudian guru sejarah itu masuk.

“Tutup semua buku kalian dan masukan ke dalam tas dan sediakan selembar kertas dan alat tulis kalian. Karena hari ini listrik mati ibu akan mendiktekan soalnya dan kalian harus menulisnya. Waktu ulangan 2 jam mata pelajaran ya, tidak ada perpanjangan waktu” ucapnya.

Semua siswa mengerutkan dahi mendengar kalimat itu, mati listrik bukanlah hal yang wajar di sekolah mereka.

“Tumben mati lampu, padahal kita tidak telat bayar SPP” ucap Jonatan.

“Tidak tahu lah. Sebenarnya tadi genset sekolah sudah dinyalakan, tapi anak-anak bahasa ada praktikum jadi tidak bisa merata sampai ke kelas kita. Ya syukuri saja ya, yang penting kelas kita di pinggir jadi tidak terlalu panas. Hitung-hitung melatih tulisan tangan kalian, sudah lama kan tidak menulis dengan tangan?” jawab guru itu berusaha sabar. Dia tahu selalu ada diskriminasi di sekolah ini, untung anak-anak Bahasa memilih hari ini untuk praktik. Jadi tidak akan ada perang antara anak-anak IPA dan IPS.

“Kata-kata dari mana itu Bu? Laporan Bahasa Inggirs ditulis tangan semua, mana dibaca karakter tulisannya” jawab Ilyas tidak terima.

Di sisi lain Daniel memikirkan sesuatu yang lain, kenapa listrik sekolah tiba-tiba mati? Padahal tadi pagi tidak terjadi masalah apa pun. Apakah mungkin karena ia dan Hani menyalakan saklar di toilet pagi ini? Tapi jika itu berhubungan artinya orang yang memasang perangkat pada toilet adalah orang yang punya akses ke aliran listrik sekolah. Mungkin itu petugas kebersihan atau staff lainnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!