Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 setelah 12 tahun kemudian
" Baiklah sesuai permintaan terakhir pak Bobby, saya siap mengambil tanggungjawab itu " ucap Hans mengangguk .
" Kedua , Nona Ayra ditetapkan sebagai pewaris tunggal atas seluruh harta yang dimiliki oleh pak Bobby dan Bu Maya disaat usianya genap 23 tahun nanti dan selama itu Pak Hans yang berstatus sebagai wali akan mengelolanya " ucap pengacara itu yang membuat Hans kaget .
" Ja, jadi , sebelum usia Ayra genap 23 tahun seluruh aset tidak di bekukan?" pertanyaan Hans yang tidak expect kalau ternyata tugasnya bukan hanya menjaga Ayra tapi juga mengelola seluruh harta warisan nya .
" Tidak, bahkan di poin ketiga pak Bobby secara sadar menyatakan bahwa Pak Hans adalah Presiden direktur dari PT. Bobby Argantara group terhitung sejak tanggal surat ini di tanda tangani tepatnya hari ini " sambung pengacara itu dihadapan seluruh Bodyguard dan Pelayan .
" Nggak, aku rasa surat ini salah karena Pak Bobby hanya meminta aku untuk," ucapan Hans langsung dipotong pengacara itu .
" Pak Hans tolong dengarkan poin dari setiap wasiat yang saya bacakan dulu " ucap pengacara itu yang diangguki Hans.
" Poin keempat, "
" Om tinggal sama Ayra kan?" tanya Ayra yang sedari tadi hanya diam memegang tangan Hans yang duduk disebelah, merasa tidak punya orang lain sebagai tempat mengadu selain Hans .
" Tidak , Om tetap tinggal di apartemen tapi Om bakalan lebih sering kesini kalau pekerjaan Om udah selesai " ucap Hans mengelus kepala Ayra yang sudah sejak bayi dia sayangi .
" Maaf pak Hans, tapi dipoin keempat ini pak Bobby meminta pak Hans untuk tinggal bersama Nona Ayra karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang dekat dengan nya " ucap pengacara itu menatap Ayra yang bersandar dilengan Hans mengusap air mata .
" Kalau Om nggak mau tinggal disini , terus Ayra sama siapa?" tangis Ayra merasa semua orang tidak lagi menyayangi nya hingga memilih pergi daripada bersamanya .
" Sayang " Hans mendudukkan Ayra dipaha nya dan mengusap air mata Ayra yang terus jatuh .
" Dengarkan Om, Ayra jangan pernah merasa sendirian apalagi takut karena Ayra tidak sendirian bukan cuma Om kan ada pelayan dan bodyguard yang juga tinggal disini bersama Ayra " Hans menunjuk puluhan bodyguard dan pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
" Om bohong sama Ayra , Hiks," tangis Ayra berlari menaiki tangga menuju kamar nya.
" Ayra " Hans mengejar Ayra yang berlari kencang kekamar nya .
" Dengarkan Om" ucap Hans yang berhasil mendapat Ayra didekat pintu kamar .
" Nggak, hiks semua orang ninggalin Ayra, hiks, nggak ada lagi yang sayang sama Ayra " tangis gadis kecil itu merasa semua orang telah meninggalkan nya .
" Om sayang sama Ayra, Ayra masih punya Om , tenang dan tidak ada yang perlu kamu takutkan, Om berjanji akan menjadi penanggung jawab sampai kamu dewasa " ucap Hans berjongkok didepan Ayra .
" Nggak Om bohong, Om bilang Ayra masih punya Om, tapi tinggal sama Ayra aja Om nggak mau " tangis Ayra memeluk leher Hans .
" Kalau nggak sama Om , Ayra sama siapa lagi, nggak ada orang yang beneran sayang Ayra " tangis gadis kecil itu didekat telinga Hans .
" Jangan tinggalin Ayra juga Om " Ayra benar-benar tidak tau lagi harus ikut dengan siapa karena dia hanya punya kedua orang tuanya yang kini telah tiada .
" Ayra, Om janji bakalan tingga sama kamu udah jangan nangis lagi ya " ucap Hans dengan seulas senyum mengusap air mata di pipi Ayra .
Hans dapat melihat sedih, takut bahkan trauma yang tergambar jelas di mata gadis kecil yang berdiri dihadapan nya dan Hans telah merasakan itu dimasa kecil nya .
" Udah jangan nangis Om bakalan tinggal disini sama Ayra , sekarang harus tidur dan istirahat karena sudah malam" ucap Hans menggendong Ayra dan menaruhnya diatas ranjang.
" Tidurlah" Hans duduk ditepi ranjang menyelimuti dan mengelus kepala Ayra , Hans ingin Ayra tertidur agar dia bisa melupakan segala hal yang telah pergi meninggalkan nya untuk sejenak .
" Om janji ya , nggak bakalan pergi " kata Ayra memegang tangan Hans dan memindahkan kepalanya keatas paha Hans .
" Iya , Om berjanji tidurlah" ucap Hans mengelus-elus kepala Ayra .
Sejak tamat kuliah Hans meminta kepada pak Bobby untuk tinggal terpisah karena ingin mandiri dan pak Bobby menyetujui nya hingga sampai sekarang mereka tinggal terpisah namun Hans sering datang kerumah utama untuk bermain dengan Ayra .
" Usiaku baru 21 tahun , aku harap bisa menjalankan peran dan tanggungjawab yang besar ini " ucap Hans mengelus kepala Ayra yang sudah tertidur sambil menarik nafas berat .
...12 tahun kemudian......
" Selamat siang Nona Ayra " sapa seorang bodyguard pada Ayra yang berjalan ceria menenteng paper bag memasuki pintu utama perusahaan.
" Siang, Apa Om ada diruangan nya?" tanya Ayra yang diangguki bodyguard itu.
Tok
Tok
" Masuk " suara berat Hans dari dalam .
" Selamat siang Om " suara cempreng Ayra yang membuat Hans yang sudah mumet dengan pekerjaan menjadi pusing mendengar suara nya .
" Ihhhhh, ekspresi Om gitu amat " cemberut Ayra duduk dikursi berhadapan dengan Hans .
" Ada apa? uang jajan kamu habis?" tanya Hans menebak karena gadis itu selalu datang menemui nya jika uang nya sudah habis .
" Mmmmh, masih banyak , Om berprasangka buruk aja , aku tadi masak tau dan bawa makan siang untuk Om " kata Ayra dengan cemberut mengeluarkan kotak dari paper bag yang dibawanya.
" Oooo, sini, pas banget lagi laper" ucap Hans menerima kotak itu lalu membukanya .
" Gimana enak ?" tanya Ayra dengan wajah excited nya .
" Biasa aja " jawab Hans dengan cuek tanpa apresiasi.
" Ihhhh, Om beneran nyebelin , pantas aja nggak nikah-nikah " umpat Ayra dengan bad mood .
" Mulut kamu lama-lama minta dijahit ya, biar nggak bicara lagi " Hans langsung menarik bibir Ayra yang selembut mochi itu .
" Habis Om, gitu kali nilai nya , kenapa nggak sekalian bilang rasa masakan aku nggak enak " ketus Ayra memangku tangan nya .
" Itu kamu yang bilang bukan Om " ucap Hans yang telah menghabiskan semua isi kotak itu , pertanda makanan yang Ayra bawa enak .
" Ihhhhh, kata Om biasa aja rasanya tapi kotaknya bersih dalam sekejap " ucap Ayra yang tidak menyadari Hans makan secepat itu .
" Iya Biasa aja cuma lagi lapar " kata Hans kembali fokus dengan laptopnya.
" Wajah Om biasa aja" ketus Ayra yang kadang geram sekali dengan Om nya yang kelewat dingin melebihi kulkas 8 pintu , untung Ayra sayang makanya dia selalu peduli .
" Enak " komentar Hans setelah beberapa saat saling diam.
" Enak dong , Ayra yang masak gitu Lo " ucap Ayra menepuk dadanya dengan bangga .
" Mmmm, besok masak lagi " kata Hans mengetik dengan kedua tangannya dan fokus menatap layar laptop.
" Om beliin aku Tas baru napa?" pinta Ayra yang membuat Hans langsung menarik nafas panjang .
" Tuh kan , ada maunya" kata Hans menatap Ayra yang duduk berhadapan dengan nya sambil geleng kepala.
" Ayo Om, please " wajah panda Ayra yang sangat ingin tas ekslusif itu
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔