Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Tanda Milik dan Masa Depan (TAMAT)
Di dalam ruang kelas yang kini hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya senja yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat pekat oleh emosi. Napas Wawan terasa memburu, membelai kulit wajah Ella yang kini memejamkan mata rapat-rapat. Ciuman yang awalnya hanya sebuah letupan emosi untuk membungkam Rizki, kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih intim, mendalam, dan primitif. Wawan mendekap tubuh mungil Ella seolah ingin menyatukan keberadaan gadis itu ke dalam dirinya sendiri. Ia sedang mengklaim, dengan seluruh jiwa dan raganya, bahwa gadis kutu buku yang dulu dihina satu sekolah ini adalah miliknya seutuhnya.
Saat ciuman Wawan turun ke lekuk leher Ella, memberikan sensasi panas yang membuat Ella merinding hebat, Ella mulai merasa kewalahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit. Dunianya seolah berputar.
"Wan... udah... Wan," bisik Ella dengan suara parau yang hampir habis. Ia mencoba mendorong pelan dada bidang Wawan yang terasa seperti bongkahan batu karang. Namun, Wawan yang sudah terlanjur terbawa oleh perasaan yang ia pendam bertahun-tahun seolah kehilangan kontrol diri. Ella harus mengerahkan sisa tenaganya, mendorong lebih kuat pada bahu Wawan sampai akhirnya pelukan protektif itu terlepas dengan napas yang sama-sama terengah-engah.
Ella terduduk di lantai kelas yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang kacau. Tangannya secara refleks bergerak mengusap lehernya yang terasa sedikit perih dan panas. Dengan rasa penasaran yang bercampur malu, ia mengeluarkan ponselnya dan menggunakan pantulan layarnya sebagai cermin darurat. Matanya membelalak. Di sana, di kulit lehernya yang bersih, tampak satu bercak merah keunguan—sebuah tanda milik yang sangat jelas.
"Sori, La... aku kebablasan," gumam Wawan dengan suara rendah yang penuh penyesalan. Ia mengacak rambutnya yang sudah berantakan, wajahnya tampak sangat bersalah sekaligus salah tingkah.
Keduanya terdiam sejenak. Ella menatap bercak merah di lehernya, lalu menatap Wawan yang tampak seperti kepiting rebus. Tiba-tiba, rasa canggung yang mencekam itu pecah begitu saja. Ella tidak bisa menahan diri untuk tidak menutup mulutnya, mencoba menahan tawanya yang rasanya ingin meledak.
"Aku hampir kaget!" tawa Ella pecah, suaranya bergema di kelas yang kosong. "Aku kira, aku beneran mau dimakan sama kamu! Habisnya kamu nyerang aku seperti orang kesurupan!" Ella terus tertawa sambil memegangi perutnya karena kram.
Wawan yang tadinya tegang, mendadak ikut tertawa geli melihat Ella yang tertawa lepas di atas lantai kelas. Ia memegangi belakang kepalanya yang tadi sempat terbentur. "Ya habisnya, kamu tiba-tiba narik kerah bajuku tadi! Siapa yang nggak jantungan kalau dicium duluan sama pujaan hati?"
Mereka berdua akhirnya tertawa terbahak-bahak, menertawakan kondisi mereka masing-masing. Ella dengan rambutnya yang sedikit berantakan dan bekas merah di leher, serta Wawan dengan wajah konyol dan rambut seperti terkena badai. Ketegangan yang tadinya begitu berat sirna, berganti dengan kehangatan yang tulus. Mereka tertawa sampai perut mereka sakit, merasa konyol karena melakukan adegan drama di atas lantai kelas yang berdebu. Setelah puas tertawa, mereka bangkit, saling membantu merapikan seragam, dan pulang dengan senyum yang tidak hilang dari bibir mereka masing-masing.
Satu minggu sudah terlewati, keceriaan itu berganti menjadi kecemasan kolektif yang berbeda. Hari ini adalah hari yang paling menentukan: Pengumuman Penerimaan Mahasiswa Baru.
Di dalam ruang kelas, Ella, Wawan dan bersama teman-teman lainnya yang mendaftarkan diri di universitas yang sama, tengah mematung memegang ponsel mereka masing-masing dengan tangan gemetar.
TING!
Suara notifikasi serentak bergema. Ella dengan napas tertahan membuka email pemberitahuan di ponselnya. Matanya berbinar melihat tulisan besar berwarna hijau: "Selamat! Anda Diterima sebagai Mahasiswa Baru..."
"Wawan, aku diterima!" Ella meloncat kegirangan.
Wawan tersenyum tipis. "Tentu saja kamu lolos, Ella. Mustahil bagi kampus manapun untuk menolakmu dengan otak seencer itu."
"Gimana denganmu, Wan? Kamu juga diterima, kan?" tanya Ella penuh harap. Namun, ekspresi Wawan mendadak berubah drastis. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya merosot, menciptakan aura kesedihan yang membuat jantung Ella seolah berhenti berdetak.
"Wan? Kamu nggak... kamu nggak lolos?" suara Ella mengecil, ia berjalan mendekat dengan perasaan khawatir setengah mati.
Tiba-tiba, tawa nakal pecah dari bibir Wawan. Ia menyodorkan layar ponselnya tepat di depan hidung Ella. Layar itu penuh dengan warna hijau—tanda ia diterima di universitas dan jurusan yang sama dengan Ella!
"Kau ini benar-benar menyebalkan!" Ella memukul lengan Wawan dengan kesal. Wawan terkekeh puas, lalu dengan gerakan spontan, ia mengangkat tubuh kecil Ella, memutar-mutarnya di depan seluruh teman sekelas.
"Wawan, turunkan! Malu!" rengek Ella saat menyadari teman-temannya mulai bersiul menggoda, "Wah, mereka beneran pacaran ya?"
Di tengah keriuhan itu, Rizki Pratama mendekat. "Kalian berdua diterima?" tanyanya datar.
"Eh, i.. iya," jawab Ella kaku.
"Kamu sendiri gimana, Ki?" tanya Wawan.
"Aku? Tentu saja diterima. Kamu lupa siapa aku? Peringkat ketiga di sekolah ini," jawab Rizki dengan kesombongan khasnya, tapi kali ini senyumnya tampak lebih tulus.
"Cih, tapi aku gak lihat namamu di daftar pengumuman kampus kami," cibir Wawan jengkel.
"Tentu saja nggak ada namaku di sana. Karena aku mendaftar di universitas yang berbeda dengan kalian. Rasanya capek kalau aku harus melihat wajah kalian terus," balas Rizki yang seketika membuat seisi kelas meledak dalam tawa. Mereka tidak menyangka Rizki dan Wawan akhirnya bisa bicara seakrab itu.
Rizki berbalik untuk pergi. "Ah, sudahlah. Mataku rasanya panas melihat kemesraan kalian," sindirnya sambil melirik tangan Ella yang memeluk lengan Wawan. Ella yang sadar langsung melepaskannya dengan malu-malu, tapi Wawan justru menarik Ella kembali ke pelukannya.
"Ya sudah, sana pergi. Ngapain masih di sini?" usir Wawan dengan gaya sombong yang dibuat-buat.
Rizki melangkah mundur sambil tertawa puas. "Oh, iya. Segeralah sukses dan mapan, Wawan. Kalau enggak, gue yang akan datang melamar Ella lebih dulu!"
"Hah! Lu bilang apa? Dasar brengsek!" teriak Wawan dengan wajah yang seolah mengeluarkan asap karena terpancing emosi. Namun detik berikutnya, ia berbalik ke arah Ella dengan wajah merengek kekanakan. "Ella, aku janji akan belajar gila-gilaan. Aku akan bekerja keras sampai mapan. Tapi kamu harus janji juga ya, jangan pernah terima lamaran si Rizki itu nanti!"
Ella tertawa kecil, hatinya terasa penuh. Ia mengusap pipi Wawan yang masih memerah. "Iya, iya. Kamu cerewet sekali."
Kisah perjuangan Ella, si "itik buruk rupa" yang dulu selalu bersembunyi di pojok kelas, akhirnya berakhir dengan manis. Namun, perjalanannya bersama "pahlawan berandalan"-nya baru saja benar-benar dimulai di bawah langit masa depan yang cerah.
...--------TAMAT--------...
BACA KISAH CINTA MEREKA SELANJUTNYA DI,
"Satu Nama di Persimpangan Hujan"
......................