Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Masalah yang Diizinkan Masuk
Resepsionis mengangkat wajah. Senyumnya tetap profesional, meski sorot matanya menunjukkan sedikit keterkejutan melihat sosok Ayza di antara jas dan blus formal.
“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin bertemu Pak Reza,” ucap Ayza lembut, tapi jelas. “Reza Pratama.”
Jari resepsionis sudah bergerak di atas keyboard. “Apakah sudah ada janji?”
“Belum,” jawab Ayza singkat.
Resepsionis berhenti mengetik, menoleh lagi. “Maaf, Bu, kalau tanpa janji—”
“Tolong sampaikan saja,” potong Ayza, suaranya tetap rendah, tak memaksa. “Nama saya Ayza Humaira. Katakan… ini penting.”
Resepsionis terdiam sejenak, menatap mata Ayza. Sesuatu di sana membuatnya mengangguk, meski ragu.
“Baik. Mohon tunggu sebentar.”
Ayza mengangguk, lalu melangkah ke kursi tunggu. Duduk dengan punggung tegak, kedua tangan menggeser manik-manik tasbih di pangkuan. Sekilas, ia tampak seperti tamu yang datang karena undangan. Bukan perempuan yang datang karena terdesak.
Padahal di balik cadar itu, napas Ayza ditahan lebih dalam dari biasanya.
"Kalau aku gak bisa ketemu Kak Reza, aku gak tahu harus ke mana lagi," batinnya lirih.
Di lantai atas, sekretaris Reza mengetuk pintu ruang kerja Reza dua kali.
"Masuk," ucap Reza dari dalam.
Sekretaris itu masuk lalu menutup pintu pelan. “Pak Reza,” katanya hati-hati. “Ada seorang perempuan ingin bertemu. Namanya Ayza Humaira. Katanya… penting.”
Reza mendongak, wajahnya langsung berubah.
“Ayza?” ulangnya pelan, seolah nama itu benda asing, padahal justru terlalu akrab.
Untuk sesaat, pikirannya melayang ke setiap percakapan mereka selama ini. Setiap mereka debat, setiap adu argumen, pada akhirnya hanya mendapatkan satu kesimpulan yang selalu sama: ia tidak pernah menang.
"Huhh... Mau apa sih dia ketemu aku?" gumamnya hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Tatapannya turun ke dokumen di meja. Laporan belum ditandatangani, rapat belum selesai. Pekerjaan menumpuk seperti dinding pertahanan terakhir.
“Katakan aku sedang sibuk,” ujarnya cepat. “Tidak bisa menemui siapa pun.”
Sekretaris mengangguk, lalu keluar. Pesan itu berpindah tangan, dari sekretaris ke resepsionis. Dari resepsionis ke Ayza.
"Bu Ayza," panggil resepsionis membuat Ayza menoleh.
"Ya?"
"Maaf, Bu. Pak Reza sedang sibuk. Tidak bisa menemui siapapun," ucap resepsionis sopan.
Ayza terdiam, masih duduk di kursi tunggu. Wajahnya tenang, tapi kepalanya penuh perhitungan.
"Uangku tinggal recehan. Kuota habis. Pulsa darurat sudah kupakai," batinnya.
Ia tersenyum pahit di balik cadarnya. Ia tak punya pilihan untuk mundur.
Ayza beranjak dari duduknya. Tak lama ia sudah berdiri di depan meja resepsionis.
“Kalau Pak Reza tidak mau menemui saya,” katanya datar, “tolong sampaikan satu hal.”
Resepsionis menatapnya, fokus mendengarkan.
“Saya akan mengadu langsung ke orang tuanya.”
Kalimat terdengar ringan, tanpa ancaman, tapi justru karena itu terasa tajam.
Resepsionis terdiam beberapa detik. “Mohon tunggu sebentar,” katanya sebelum kembali mengangkat telepon.
Panggilan kedua sampai ke sekretaris. Sekretaris menyampaikannya ke Reza.
Reza menutup mata sesaat. Ia tahu, kalau Ayza sudah membawa nama orang tuanya, itu artinya ia tidak datang untuk berbasa-basi.
“Suruh dia naik,” katanya akhirnya dengan nada terpaksa. “Sekarang.”
"Baik, Pak," ucap sekretaris, lalu berbalik meninggalkan ruangan.
Reza memijit pelipisnya sendiri. "Aku baru saja mengizinkan masalah masuk ke ruanganku sendiri."
Di lantai bawah, resepsionis menatap Ayza. "Bu Ayza, Pak Reza menunggu Anda di lantai dua tiga, lift sebelah kiri," ujarnya lalu menunjuk lift yang ia maksud.
"Terima kasih," ucap Ayza, lalu berjalan menuju lift.
"Siapa dia?" gumam resepsionis menatap Ayza yang menghilang di balik pintu lift, lalu menggeleng cepat. "Bukan urusanku." Ia kembali pada pekerjaannya.
Lift membawa Ayza ke lantai atas. Di dalamnya, beberapa karyawan mencuri pandang. Di lorong kantor, kepala-kepala menoleh tanpa sadar.
Wanita itu tidak berpakaian mencolok, tapi gamis longgar dan cadarnya yang tak biasa ada di dunia perkantoran menarik perhatian. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Siapa dia?"
"Dia gak nyasar 'kan?"
"Nggak mungkin. Lihat caranya melangkah. Tegak, tenang, kayak tahu banget ke mana arah yang bakal dia tuju."
Ayza berjalan lurus menuju ruangan Reza. Sekretaris tanpa sadar beranjak dari duduknya saat melihat Ayza.
"Anda Bu Ayza?" tanyanya memastikan.
Ayza berhenti tepat di depan meja wanita itu. "Iya, benar."
"Pak Reza menunggu Anda di dalam," ucap sekretaris seraya memberi isyarat tangan ke arah pintu ruangan Reza.
"Terima kasih," ucap Ayza kemudian mengetuk pintu yang dimaksud.
"Masuk." Suara Reza terdengar dari dalam.
Tanpa ragu Ayza masuk, lalu menutup pintu pelan. Klik. "Assalamu'alaikum," ucapnya seraya berjalan menuju meja Reza.
Reza mengangkat wajahnya. "Wa'alaikumsalam. Ada apa kau mencariku hingga ke sini?" tanyanya tanpa basa-basi.
“Aku mau minta uang.” Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa nada mendesak, tanpa ragu.
Reza mengangkat sebelah alis. Ia menyandarkan punggung ke kursi, berusaha terlihat santai.
“Aku sudah menghitung semua keperluan rumah. Uang yang aku kasih itu cukup.”
Ayza mengangguk kecil. “Cukup,” katanya lembut.
Reza baru hendak menarik napas lega, ketika Ayza melanjutkan,
“Kalau aku gak masak steak.” Ia sedikit mencondongkan tubuh. “Dan kalau gak ada uang administrasi serta ganti rugi di kantor polisi buat ngeluarin Fahri.”
Kursi Reza berderit pelan saat ia mengubah posisi duduk. Tatapannya berpaling ke layar ponsel. Jarinya bergerak cepat membuka aplikasi bank.
“Akan kukirim ke ATM-mu,” ucapnya datar.
Reza mendongak karena Ayza tidak beranjak dari tempatnya berdiri. “Kenapa masih di sini?”
“Aku gak punya uang buat pulang.” Ayza mengucapkannya seperti fakta sederhana. “Gak ada kuota juga.”
Reza memejamkan matanya sejenak, membuang napas kasar. Ia mengirim pulsa ke nomor Ayza, merogoh dompetnya mengambil selembar uang kertas berwarna merah.
"Ini," ucapnya sambil menyodorkan uang itu pada Ayza. "Dan cepat pergi. Aku masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Ayza mengambil uang itu tanpa tergesa. “Oh ya,” katanya sambil berbalik. “Kasih aku nomor yang bisa dihubungi. Jangan buat aku repot nyari kamu lagi.”
Reza membuang napas kasar.
Tangan Ayza sudah di gagang pintu ketika ia berhenti. “Sekali lagi kamu gak bisa dihubungi…” katanya tanpa menoleh. “Aku pulang. Ke rumah orang tuaku. Assalamu'alaikum."
Reza membulatkan matanya. "Kau--"
Tapi Ayza sudah menghilang di balik pintu.
Reza menatap pintu itu lama. Lalu--
Plak!
Tanpa sadar ia memukul meja sedikit keras.
"Sial! Aku bahkan kalah sebelum berdebat."
Sementara itu lift yang dinaiki Ayza berhenti di lantai satu dengan bunyi pelan.
Ting.
Pintu lift terbuka, Ayza melangkah keluar. Langkahnya terhenti ketika pandangannya tanpa sengaja jatuh ke arah lobby.
Di ambang lobby, seorang perempuan baru saja masuk. Langkahnya cepat, mantap. Blazer rapi, sepatu berhak tinggi berdetak ringan di lantai marmer. Resepsionis yang tadi menyambut Ayza, kini berdiri tegak.
...🔸🔸🔸...
...“Ada perempuan yang tidak datang untuk berdebat, karena ia tahu, diamnya sudah cukup untuk menang.”...
...“Kadang, kekalahan terjadi sebelum satu kata pun diucapkan.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍