"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 04
BAB 04 — Tragedi Kantin
Jam istirahat kedua. Matahari Jakarta sedang terik-teriknya, memanggang aspal halaman sekolah hingga uap panas terlihat berfatamorgana.
Namun, di dalam "The Gastronomy"—sebutan pretisius untuk kantin SMA Pelita Bangsa—udara terasa sejuk, nyaris dingin. Aroma yang menguar di sini bukan aroma soto ayam atau gorengan minyak curah. Udara berbau truffle oil, kopi arabica yang baru digiling, dan panggangan pastry mentega.
Ratusan siswa memenuhi meja-meja bundar bergaya minimalis. Suara denting sendok garpu beradu dengan piring keramik mahal menciptakan simfoni kemewahan. Di pojok, ada stan gelato yang antreannya mengular. Di sisi lain, stan pasta made-to-order dengan koki berseragam putih lengkap.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Mayang berjalan membawa kotak bekalnya.
Dia tidak ikut antrean. Dompetnya yang tipis tidak akan cukup untuk membeli segelas air mineral di sini, apalagi sepiring pasta seharga tujuh puluh ribu rupiah.
Mayang mencari sudut mati. Tempat di mana dia bisa makan tanpa perlu merasa diawasi seperti hewan sirkus.
Semua meja penuh. Kelompok-kelompok sosial sudah terbentuk paten. Meja tengah untuk anak-anak basket dan cheerleader. Meja dekat jendela untuk anak-anak olimpiade dan klub debat. Meja pojok untuk pasangan-pasangan yang sedang dimabuk asmara.
Mayang akhirnya menemukan satu kursi kosong di meja panjang dekat tempat pengembalian nampan kotor. Tempat yang dihindari siswa lain karena bau sisa makanan dan suara piring dibanting petugas kebersihan.
Mayang duduk. Dia membuka kotak bekalnya. Roti tawar sisa tadi pagi, kini sudah agak keras karena terkena udara.
Dia baru akan menggigit rotinya ketika bayangan seseorang jatuh menutupi mejanya.
Mayang mendongak.
Naufal berdiri di sana, tersenyum lebar sambil membawa nampan berisi dua piring Lasagna yang masih mengepul dan dua botol teh mahal.
“Boleh gabung?” tanya Naufal tanpa menunggu jawaban. Dia langsung duduk di depan Mayang, menggeser kotak bekal plastik Mayang sedikit ke pinggir.
“Naufal, meja kamu bukan di sini,” kata Mayang pelan, melirik ke arah meja anak-anak basket yang menatap mereka dengan heran.
“Meja gue di mana aja gue mau. Ini negara demokrasi,” jawab Naufal santai. Dia menyodorkan satu piring Lasagna ke depan Mayang. “Nih. Gue pesen kebanyakan. Mubazir kalau dibuang. Bantuin makan ya?”
Mayang menatap lelehan keju mozarella dan saus daging cincang itu. Perutnya berbunyi pelan. Jujur, dia lapar. Tapi harga dirinya menahan tangannya.
“Aku nggak bisa bayar gantinya, Fal.”
“Siapa yang minta bayar? Ini sedekah jumat. Eh, sekarang selasa ya? Yaudah, sedekah selasa,” canda Naufal. “Makan gih. Lo butuh protein buat ngelawan Bu Siska nanti di jam Sejarah.”
Mayang menatap mata Naufal. Ada ketulusan di sana. Naufal adalah tipe cowok yang hidupnya terlalu mudah, sehingga dia ingin memudahkan hidup orang lain juga.
“Terima kasih,” ucap Mayang akhirnya. Dia mengambil garpu.
Baru satu suapan masuk ke mulut Mayang, suasana kantin yang riuh tiba-tiba berubah frekuensinya. Ada suara langkah kaki yang disengaja keras.
Vivie datang.
Dia tidak sendirian. Sarah dan Oline mengapit di kiri kanan, seperti dayang-dayang setia. Di tangan Vivie, ada gelas besar berisi jus buah naga merah pekat yang kental.
Vivie berjalan lurus ke arah meja mereka. Matanya terkunci pada Naufal yang sedang tertawa bersama Mayang. Pemandangan itu—Naufal yang populer makan semeja dengan "upik abu"—membakar ego Vivie.
“Hai, Fal,” sapa Vivie manis saat sampai di meja mereka. “Tumben makan di pojokan? Lagi simulasi jadi rakyat jelata?”
Naufal berhenti mengunyah. Senyumnya hilang. “Pergi, Vie. Gue lagi makan.”
“Ih, galak banget. Gue cuma mau nyapa,” kata Vivie. Dia beralih menatap Mayang yang sedang menunduk, mencoba menikmati Lasagna-nya secepat mungkin sebelum masalah datang.
“Enak makanannya, May?” tanya Vivie. “Hati-hati, perut orang miskin biasanya kaget kalau dikasih keju impor. Nanti diare.”
Mayang meletakkan garpu. Dia menelan kunyahannya susah payah.
“Permisi,” kata Mayang. Dia menutup kotak bekalnya, berniat pergi. Dia tidak mau keributan.
Saat Mayang berdiri, Vivie bergerak.
Gerakannya cepat dan terkalkulasi. Saat Mayang bergeser ke kanan untuk keluar dari bangku, Vivie pura-pura tersandung kaki kursi.
“Aduh!” pekik Vivie dramatis.
Gelas di tangan kanannya "terlempar".
Byurr!
Isi gelas itu—cairan merah pekat dingin dan lengket—tumpah sepenuhnya.
Bukan ke lantai. Tapi tepat ke dada dan bahu Mayang.
Seragam putih Mayang seketika berubah warna. Cairan merah darah itu merembes cepat, menodai kemeja, tembus ke pakaian dalam, dan menetes hingga ke rok abu-abunya. Bulir-bulir buah naga hitam menempel di mana-mana.
Hening.
Seluruh kantin terdiam. Ratusan pasang mata menoleh.
Darah? Bukan. Semua sadar itu jus. Tapi efek visualnya mengerikan. Mayang berdiri mematung, cairan merah menetes dari dagunya, membasahi lantai marmer.
“Ups,” kata Vivie. Dia menutup mulut dengan tangan, matanya membelalak pura-pura kaget. “Sorry banget! Lantainya licin sih. Gue nggak sengaja.”
Naufal membanting garpunya ke meja. Prang!
Dia melompat berdiri, wajahnya merah padam karena marah.
“Lo gila ya, Vie!” bentak Naufal. Suaranya menggelegar di seluruh kantin. “Lo sengaja kan?!”
“Kok lo nuduh gue sih, Fal? Gue kesandung!” bela Vivie, suaranya dibuat bergetar seolah dia korban. “Lagian dia juga jalannya nggak liat-liat.”
Naufal tidak peduli. Dia menyambar kotak tisu di meja, menarik segenggam penuh, dan berusaha membersihkan baju Mayang.
“May, lo nggak apa-apa? Ya Tuhan, ini lengket banget,” panik Naufal. Tangannya gemetar saat mencoba mengelap wajah Mayang. “Ayo ke UKS. Atau ke koperasi, gue beliin seragam baru sekarang.”
Mayang diam.
Dia tidak berteriak. Dia tidak menangis. Dia tidak membalas maki Vivie.
Tangan Mayang terangkat pelan, menahan tangan Naufal yang sibuk membersihkan bajunya.
“Jangan, Fal,” suara Mayang tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipermalukan di depan satu sekolah.
“Tapi May, ini—”
“Minggir.”
Mayang menepis tangan Naufal halus. Dia mengambil dua lembar tisu dari tangan Naufal.
Tapi Mayang tidak mengelap bajunya.
Dia berjongkok.
Dia mengelap lantai.
Dia membersihkan tumpahan jus yang menggenang di lantai marmer itu.
“May?” Naufal bingung. Vivie juga terdiam melihat reaksi aneh itu.
Mayang terus mengelap lantai sampai bersih dari genangan, mengumpulkan sisa buah naga ke dalam tisu, lalu membuangnya ke tempat sampah di dekatnya.
Logika Mayang bekerja berbeda. Baju sudah kotor, tidak bisa diselamatkan di sini. Tapi lantai licin bisa membahayakan orang lain. Petugas kebersihan akan dimarahi kalau lantai kotor.
Setelah lantai bersih, Mayang berdiri.
Wajahnya basah oleh jus lengket. Rambut depannya lepek berwarna merah. Tapi sorot matanya tegak lurus.
Dia menatap Vivie.
“Lain kali, kalau mau menyiram orang,” kata Mayang datar, “pakai air mineral saja. Jus buah naga susah hilang nodanya. Sayang. Harganya mahal, kan?”
Vivie ternganga. Dia mengharapkan tangisan. Dia mengharapkan Mayang lari sambil menutup muka. Atau Mayang marah dan menyerangnya (yang akan membuat Mayang dikeluarkan).
Tapi Mayang malah memberinya tips laundry?
“Lo...” Vivie kehabisan kata-kata.
Mayang mengambil kotak bekalnya.
“Permisi. Saya mau ganti baju,” ucap Mayang sopan.
Dia berbalik dan berjalan membelah kerumunan.
Siswa-siswa lain menyingkir memberinya jalan, seolah Mayang membawa wabah penyakit. Atau mungkin, karena mereka segan melihat aura dingin yang memancar dari gadis berlumuran "darah" buah itu.
Naufal hendak mengejar, tapi langkahnya terhenti. Dia melihat punggung Mayang yang tegap. Gadis itu tidak membutuhkan ksatria. Gadis itu adalah ksatrianya sendiri.
Di lantai dua, di balkon VIP Lounge yang menghadap ke area kantin bawah.
Vino berdiri bersandar pada railing kaca.
Dia melihat semuanya dari awal.
Dia melihat Vivie mendekat. Dia melihat insiden itu. Dia melihat Naufal yang panik seperti ayam kehilangan induk.
Dan dia melihat Mayang.
Di tangan Vino ada secangkir Espresso. Asap tipis mengepul.
Saat Mayang berjongkok membersihkan lantai alih-alih menangis meratapi bajunya, mata Vino menyipit.
“Menarik,” gumamnya.
Adrian, Ketua OSIS yang berdiri di sebelahnya sambil memegang roti, ikut melihat ke bawah.
“Gila tuh cewek baru. Mental baja atau emang nggak punya urat malu?” komentar Adrian sambil mengunyah. “Kalau cewek lain pasti udah histeris. Si Vivie emang toxic parah. Lo nggak mau turun tangan, Vin? Itu beasiswa lo yang lagi dibantai.”
Vino menyesap kopinya pelan. Pahit.
“Nggak perlu,” jawab Vino.
“Kenapa? Lo tega amat.”
“Dia nggak butuh ditolong, Yan. Lo liat tangannya tadi?”
“Tangan? Kenapa tangannya?”
Vino menunjuk dengan dagu ke arah punggung Mayang yang menghilang di pintu kantin.
“Tangannya mengepal sebentar saat disiram. Ada jeda dua detik sebelum dia rileks dan jongkok. Itu artinya dia marah. Sangat marah. Tapi dia punya kontrol diri di atas rata-rata. Dia mengkalkulasi untung-rugi kalau dia ngamuk di sana.”
Vino meletakkan cangkirnya di meja balkon.
“Kalau dia nangis, dia kalah. Kalau dia nyerang Vivie, dia kalah telak (DO). Satu-satunya cara menang adalah dengan tidak bereaksi seperti korban. Dia mematikan kepuasan Vivie.”
Adrian geleng-geleng kepala. “Analisis lo serem. Itu manusia, Vin, bukan objek penelitian.”
“Semua manusia adalah objek penelitian sampai terbukti sebaliknya,” balas Vino dingin.
Namun, di dalam hatinya, ada rasa hormat yang tumbuh setitik.
Gadis penjual bubur itu baru saja lolos seleksi alam tahap pertama. Dia tidak hancur di bawah tekanan.
“Gue ke bawah,” kata Vino tiba-tiba.
“Mau ngapain? Labrak Vivie?”
“Nggak. Gue mau ke gudang OSIS.”
“Ngapain?”
“Cari stok seragam cadangan. Gue nggak mau image sekolah rusak karena ada murid keluyuran kayak zombie berdarah di lorong.”
Vino berbohong. Dia tidak peduli image sekolah. Dia hanya merasa... terganggu. Ada dorongan aneh untuk memberikan "hadiah" atas keberhasilan Mayang melewati tes mental barusan.
Toilet perempuan di lantai dasar sepi.
Mayang berdiri di depan wastafel besar di depan cermin.
Dia menyalakan keran air. Air dingin mengucur deras.
Pertahanan dirinya runtuh sedikit.
Tangannya gemetar hebat saat dia membasuh wajahnya. Dia menggosok kulit pipinya kasar, berusaha menghilangkan rasa lengket yang menjijikkan itu.
Air di wastafel berubah merah muda, berputar masuk ke lubang pembuangan.
Mayang menatap pantulan dirinya di cermin.
Menyedihkan.
Seragam putihnya hancur. Noda ungu kemerahan menyebar di dada seperti peta benua yang cacat. Dia mencoba menguceknya dengan sabun cuci tangan, tapi percuma. Noda buah naga terlalu kuat.
"Jangan nangis," bisik Mayang pada cermin. Suaranya pecah.
Air mata mendesak keluar dari sudut matanya, tapi dia menahannya dengan cara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa asin darah.
Budhe Sumi butuh uang obat. Bapak di surga butuh doa. Dia butuh sekolah ini.
"Jangan nangis. Jangan kasih mereka kepuasan itu."
Mayang menarik napas panjang, menepuk pipinya dua kali. Plak. Plak.
Dia membuka kancing kemejanya yang basah dan lengket. Dia hanya memakai kaos dalam tipis di baliknya. Dia memeras ujung kemeja itu di wastafel.
Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu utama toilet.
"Mayang Sari?"
Itu suara laki-laki. Berat. Datar.
Mayang tersentak. Dia mendekap kemejanya ke dada. "Siapa? Ini toilet cewek!"
"Gue tahu. Gue nggak masuk. Gue di depan pintu."
Suara Vino.
Jantung Mayang berhenti sejenak. Mau apa lagi dia? Mau mengejek? Mau bilang kalau seragam kotor melanggar aturan sekolah?
"Ada apa, Kak?" tanya Mayang waspada, suaranya berusaha terdengar normal.
"Buka pintunya sedikit. Tangan gue pegel."
Mayang ragu. Dia memakai kemeja basahnya lagi dengan asal, tidak dikancingkan sepenuhnya, lalu berjalan ke pintu. Dia membukanya sedikit, hanya celah sepuluh sentimeter.
Vino berdiri di sana, bersandar di tembok koridor dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah bungkusan plastik transparan berisi kain putih.
Dia tidak melihat ke arah celah pintu. Dia membuang muka ke arah lain, menjaga sopan santun (atau mungkin jijik melihat kondisi Mayang).
"Ambil," kata Vino, menyodorkan bungkusan itu lewat celah pintu tanpa menoleh.
Mayang menerimanya. "Apa ini?"
"Seragam bekas panitia tahun lalu. Masih layak pakai. Dry clean."
Mayang memegang kain itu. Bersih. Wangi laundry.
"Kenapa Kakak kasih ini?"
Vino akhirnya menoleh sedikit, tapi matanya tetap dijaga agar tidak melihat ke bawah leher Mayang. Dia menatap mata gadis itu.
"Seragam lo bau buah busuk. Mengganggu konsentrasi belajar di kelas nanti. Gue nggak mau nilai rata-rata kelas turun karena polusi udara."
Alasan yang sama. Selalu alasan logis dan egois.
"Dan..." Vino berhenti sejenak. Dia melihat sisa noda merah di pipi Mayang yang belum bersih sempurna.
"Vivie itu bodoh. Jangan turunkan level lo dengan meladeni dia. Diamnya lo tadi... itu strategi yang bagus. Pertahankan."
Setelah mengucapkan itu, Vino berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya santai, seolah dia baru saja membuang sampah, bukan memberikan bantuan.
Mayang menutup pintu toilet kembali. Dia bersandar di daun pintu, memeluk bungkusan plastik itu.
Di dalamnya, ada kemeja OSIS lengan panjang dengan bahan yang jauh lebih bagus dari seragam jatah sekolah.
Mayang membukanya. Ada secarik sticky note kuning tertempel di kerah baju itu. Tulisan tangan cakar ayam khas dokter atau orang jenius.
Note: Jangan lupa balikin besok. Udah disetrika. Kalau lecek, lo setrika ulang. - V.
Untuk pertama kalinya sejak insiden tadi, air mata Mayang menetes satu butir. Tapi kali ini bukan karena sedih.
Dia tersenyum kecil. Menghapus air mata itu cepat-cepat.
Mayang berganti baju. Kemeja itu sedikit kebesaran di bahunya, lengan bajunya kepanjangan hingga menutupi punggung tangan. Tapi bahannya hangat. Dan wanginya... wangi cedarwood dan mint. Wangi yang sama dengan ruang OSIS.
Mayang menatap cermin lagi. Dia terlihat berbeda dengan kemeja kebesaran ini. Dia terlihat seperti seseorang yang dilindungi.
"Terima kasih, Partner," bisik Mayang, meniru panggilan Vino pada rekan kerjanya.
Dia merapikan rambut, mencuci muka sekali lagi, dan melangkah keluar toilet.
Kepalanya tegak.
Tragedi Kantin gagal menghancurkannya. Justru, itu memberinya armor baru.
Bersambung......