Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bayang di Balik Janji
Pagi itu, cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah-celah jendela pendopo, membentuk pola emas tipis di lantai kayu jati yang masih lembab oleh sisa hujan semalam. Livia terbangun lebih dulu, tubuhnya terasa berat dan hangat dalam pelukan Rangga yang masih tertidur di sampingnya. Mereka berdua masih berada di atas meja pendopo—selimut tipis yang mereka gunakan sebagai alas sudah kusut dan basah oleh embun pagi. Pakaian mereka berserakan di sekitar, bukti bisu dari malam yang penuh janji dan hasrat.
Livia menatap wajah Rangga yang damai dalam tidur. Bekas gigitan dan goresan kecil di leher serta bahunya terlihat jelas di bawah sinar pagi—tanda kepemilikan yang ia minta sendiri semalam. Ia menyentuh salah satu tanda itu dengan ujung jari, merasakan denyut nadi Rangga yang stabil di bawah kulitnya. Ada perasaan aneh yang menyelimuti dadanya: campuran antara kepuasan dan ketakutan. Kepuasan karena akhirnya ia merasa benar-benar dimiliki—dan ketakutan karena ia tahu, di balik semua janji manis itu, dunia luar masih menunggu untuk merobek semuanya.
Rangga membuka mata perlahan. Matanya langsung mencari Livia, dan saat melihatnya, senyum kecil muncul di bibirnya. “Pagi,” bisiknya, suaranya masih serak karena tidur.
Livia membalas senyum itu, tapi ada keraguan di matanya. “Pagi. Papa gimana?”
Rangga menghela napas, tangannya menyusuri punggung Livia dengan lembut. “Mama tadi pagi bilang dokter sudah cek lagi. Kondisinya stabil, tapi masih observasi sampai sore. Kita bisa ke sana nanti.”
Livia mengangguk, tapi pikirannya melayang ke hal lain. “Rangga... janjimu kemarin. Soal paspor, PBSI, Nadia... kamu masih ingat?”
Rangga menarik Livia lebih dekat, mencium keningnya. “Aku ingat. Semuanya. Pengacara sudah dalam perjalanan ke sini. Kita akan ke imigrasi sore ini setelah Papa stabil. PBSI juga—aku sudah hubungi teman di sana. Mereka bilang ada celah kalau kita ajukan surat keterangan dari dokter bahwa ini 'keadaan darurat keluarga'. Nadia... aku sudah kirim pesan ke dia malam tadi. Aku bilang jelas: jangan muncul lagi. Kalau dia masih nekat, aku akan bicara langsung dengan keluarganya.”
Livia diam sejenak. “Kamu yakin dia akan mundur?”
Rangga menatapnya tajam. “Kalau tidak, aku akan buat dia mundur. Aku tidak main-main lagi, Livia. Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu karena ragu. Sekarang aku tahu—aku tidak mau hidup tanpa kamu. Dan aku tidak akan biarkan siapa pun, termasuk Nadia, merusak itu.”
Livia mengangguk pelan, tapi ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. “Aku percaya kamu. Tapi aku juga tahu Nadia bukan orang yang mudah menyerah. Dia muncul di rumah sakit kemarin bukan kebetulan. Ada yang memanggilnya. Dan kalau bukan kamu, kalau bukan Mama Ratna... siapa?”
Rangga mengerutkan kening. “Mungkin salah satu abdi dalem. Atau teman keluarga. Tapi itu tidak penting lagi. Yang penting sekarang adalah kita.”
Mereka bangkit perlahan, mengumpulkan pakaian yang berserakan. Livia mengenakan hoodie-nya kembali, sementara Rangga membenarkan kemeja yang sudah kusut. Mereka berjalan berdampingan menuju rumah utama, tangan saling bertaut—sebuah gestur kecil yang terasa sangat berarti setelah semua kekacauan.
Di dalam rumah, suasana lebih tegang. Mama Ratna duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan, matanya merah karena kurang tidur. Ia menatap Livia dan Rangga masuk, ekspresinya campur aduk antara lega dan kekhawatiran.
“Papa sudah bangun,” katanya pelan. “Dia ingin bicara dengan kalian berdua.”
Livia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Mereka berjalan ke kamar Papa Rangga. Pria tua itu duduk bersandar di tempat tidur, wajahnya pucat tapi matanya masih tajam. Ia menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Duduklah,” katanya lemah.
Rangga dan Livia duduk di samping tempat tidur. Papa Rangga menghela napas panjang.
“Aku sudah bicara dengan dokter. Aku harus istirahat panjang. Tidak boleh stres lagi. Itu artinya... aku tidak bisa lagi mengatur segalanya seperti dulu.”
Rangga mengangguk. “Pa... aku akan ambil alih. Aku janji.”
Papa Rangga menatapnya lama. “Aku tahu kamu bisa, Ngga. Tapi aku juga tahu kamu punya pilihan sendiri sekarang.” Matanya beralih ke Livia. “Dan kamu, Livia... aku salah menilaimu. Aku pikir kamu hanya akan jadi beban. Tapi kamu datang semalam, meskipun aku tahu kamu marah. Kamu tetap ada di sini untuk Rangga. Itu... itu berarti banyak.”
Livia terkejut. “Pa... aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”
Papa Rangga tersenyum tipis. “Tidak. Kamu melakukan lebih dari itu. Karena itu... aku ingin kalian berdua tahu—aku tidak akan lagi menghalangi kalian. Paspor Livia... aku akan bicara dengan kenalanku di imigrasi sore ini. Dan karier bulutangkismu... aku akan pastikan PBSI tidak lagi menekanmu.”
Livia merasa dadanya sesak. “Pa... terima kasih.”
Papa Rangga mengangguk lemah. “Tapi ada satu hal lagi. Nadia... dia sudah menelepon Mama tadi pagi. Dia bilang dia ingin datang lagi, 'untuk membantu'. Mama bilang tidak, tapi aku tahu dia tidak akan berhenti begitu saja.”
Rangga mengepal tangan. “Pa, aku sudah bilang ke Nadia untuk mundur. Kalau dia masih nekat—”
Papa Rangga mengangkat tangan. “Biarkan aku yang bicara dengan keluarga Darmawan. Mereka masih punya pengaruh, tapi aku juga punya. Aku akan pastikan dia tidak lagi mengganggu kalian.”
Livia menatap mertuanya dengan tatapan penuh syukur, tapi juga kewaspadaan. “Terima kasih, Pa. Tapi... aku rasa Nadia bukan orang yang mudah menyerah. Dia punya rencana. Aku merasa dia tidak hanya ingin Rangga—dia ingin mengambil alih semuanya.”
Papa Rangga mengangguk pelan. “Aku tahu. Nadia... dia pintar. Dia tahu bagaimana memanfaatkan celah. Tapi sekarang celah itu sudah tertutup. Aku akan pastikan itu.”
Rangga memandang ayahnya dengan tatapan penuh tekad. “Pa, biar aku yang tangani Nadia. Aku tidak mau Papa stres lagi.”
Papa Rangga tersenyum lemah. “Kamu sudah besar, Ngga. Aku percaya padamu.”
Mereka keluar dari kamar dengan hati yang sedikit lebih ringan. Di koridor, Rangga menarik Livia ke pelukannya. “Kita hampir menang, Liv. Papa sudah di pihak kita. Nadia tidak akan bisa apa-apa lagi.”
Livia mengangguk, tapi ada perasaan tidak enak yang masih menggelayut di hatinya. “Aku harap begitu. Tapi aku tidak percaya Nadia akan menyerah begitu saja.”
Sore itu, mereka pergi ke kantor imigrasi bersama pengacara. Proses banding berjalan lancar—surat keterangan dari dokter dan dukungan dari kenalan Papa Rangga membuat semuanya lebih cepat. Paspor Livia akan dikembalikan dalam 3-5 hari kerja.
Di perjalanan pulang, Rangga memegang tangan Livia erat. “Lihat? Aku janji, aku tepati.”
Livia tersenyum. “Terima kasih.”
Tapi saat mereka tiba di wisma, sebuah mobil mewah hitam sudah parkir di depan gerbang. Dari dalam mobil itu, Nadia turun dengan gaun merah darah yang elegan, senyumnya manis tapi dingin.
Rangga langsung menegang. “Dia di sini.”
Livia merasakan darahnya mendidih. “Kita hadapi bersama.”
Nadia melangkah mendekat, matanya tertuju pada Livia dengan tatapan penuh kemenangan tersembunyi. “Rangga, Livia... aku dengar Papa sudah stabil. Aku datang untuk memberikan dukungan.”
Rangga melangkah maju, berdiri di depan Livia seperti perisai. “Nadia, aku sudah bilang kemarin. Jangan datang lagi.”
Nadia tersenyum tipis. “Aku tidak datang untukmu, Rangga. Aku datang untuk Papa. Dan untuk Mama Ratna. Mereka masih menganggapku bagian dari keluarga ini.”
Livia melangkah ke samping Rangga, menatap Nadia langsung. “Mereka sudah bilang tidak perlu. Papa sudah bicara dengan keluargamu. Kamu tidak punya tempat di sini lagi.”
Nadia tertawa kecil. “Papa? Dia sedang sakit. Dan Mama Ratna... dia masih butuh seseorang yang paham protokol. Seseorang yang tidak bikin skandal setiap hari.”
Rangga menggeram pelan. “Cukup, Nadia. Pergi sekarang, atau aku yang akan buat kamu pergi.”
Nadia menatap Rangga dengan tatapan penuh tantangan. “Kamu yakin? Kalau aku pergi, aku bawa semua rahasia kecil keluarga ini. Termasuk rahasia yang Papa sembunyikan dari kalian berdua.”
Livia merasakan jantungnya berdegup kencang. “Rahasia apa?”
Nadia tersenyum lebih lebar. “Tanya saja Mama Ratna. Atau Papa. Kalau mereka berani cerita.”
Rangga maju satu langkah lagi. “Pergi sekarang, Nadia. Ini peringatan terakhir.”
Nadia mengangkat bahu, lalu berbalik ke mobilnya. Tapi sebelum masuk, ia menoleh ke Livia. “Kamu menang ronde ini, Livia. Tapi permainan belum selesai.”
Mobil itu melaju pergi, meninggalkan debu dan ketegangan yang semakin tebal di udara.
Livia menatap Rangga. “Apa rahasia yang dia maksud?”
Rangga menggeleng. “Aku nggak tahu. Tapi kita harus cari tahu. Sekarang.”
Di dalam rumah, Mama Ratna menunggu di ruang keluarga, wajahnya pucat. Saat Livia dan Rangga masuk, ia menatap mereka dengan tatapan penuh rasa bersalah.
“Ada yang harus Mama ceritakan,” katanya pelan. “Dan ini... ini akan mengubah segalanya.”
Livia merasakan jantungnya jatuh. Apa pun yang akan dikatakan Mama Ratna selanjutnya, ia tahu—pertarungan baru saja dimulai.