NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Jebakan di Sungai Hutan

Di depan rombongan, sungai kecil yang biasanya jernih kini terlihat mengalir lambat, airnya berwarna coklat keruh karena lumpur setelah hujan semalam. Pak Kades berhenti di tepi sungai, tangannya memegang golok erat. “Ini jalan pintas ke arah gubuk tua. Tapi airnya naik tinggi. Kita harus nyebrang hati-hati.”

Siti Aisyah berdiri di belakang suaminya, matanya tak lepas dari permukaan air yang bergoyang pelan. Dalam hatinya, firasat buruk semakin kuat. “Pak... airnya... terasa aneh. Seperti ada yang hidup di dalamnya.”

Kang Asep memegang tangan istrinya. “Kita nyebrang bareng. Pegang erat-erat.”

Mereka mulai melangkah masuk ke sungai. Air dingin langsung menyentuh betis, lumpur menempel di kaki seperti tangan yang menarik ke bawah. Kang Ujang maju paling depan, tombaknya digunakan sebagai tongkat penyangga. Tapi baru beberapa langkah, air yang tadinya coklat keruh tiba-tiba berubah warna—merah pekat, seperti darah yang baru mengalir dari luka dalam. Bau amis menyengat naik, bercampur kemenyan dan sesuatu yang busuk.

Rombongan berhenti, tapi lumpur di dasar sungai seperti hidup—ia menarik kaki mereka ke bawah, seperti tangan-tangan tak kasat yang mencengkeram pergelangan kaki. Kang Ujang terseret lebih dalam, air merah sudah mencapai pinggangnya. “Kang! Tolong! Ini nggak bisa gerak!”

Pak Kades berteriak, “Pegang tangan! Jangan lepas! Ini ilusi! Jangan percaya mata!”

Tapi ilusi itu terasa terlalu nyata. Air darah mulai naik lebih cepat, seperti banjir yang tiba-tiba. Permukaannya bergolak, dan dari kedalaman muncul bayang-bayang samar—wajah-wajah anak kecil yang tenggelam, mata mereka terbuka lebar, mulut ternganga seolah menjerit tanpa suara. Siti Aisyah menjerit pelan, “Mereka... mereka anak-anak yang diambil dulu! Mbah Saroh... dia tunjukin!”

Kang Asep memeluk istrinya dari belakang, tapi lumpur menarik kakinya juga. “Nen, pegang aku erat! Jangan lepas!”

Tiba-tiba, permukaan air pecah. Dari tengah sungai, sosok Nenek Gerandong muncul perlahan—rambut kelabu panjangnya mengapung seperti rumput laut busuk, daster putih kotornya basah menempel di tubuh kurus yang penuh luka bakar. Matanya merah menyala seperti bara api yang tak pernah padam. Ia tak bicara langsung, tapi suaranya bergema di kepala semua orang, serak dan dingin seperti angin dari kubur.

“Anakku... kau datang juga. Dan kau bawa yang lain... bagus. Darah ini... darah kalian yang seharusnya. Kalian selamatkan dia dulu... sekarang kalian bayar dengan yang lebih muda.”

Siti Aisyah menatap Nenek itu dengan mata penuh air mata. “Mbah... lepaskan kami. Kami tahu kau menderita. Tapi bayi-bayi ini tak salah. Kembalikan Lilis... kembalikan mereka semua.”

Nenek Gerandong tertawa pelan, suaranya bergema di antara pepohonan. “Lepaskan? Kau lolos dulu, Siti Aisyah. Kau yang seharusnya jadi milikku. Sekarang... kalian semua milikku.”

Ia mengangkat tangan kurusnya, dan air darah ilusi naik lebih tinggi, mencapai dada rombongan. Kang Ujang mulai tenggelam, mulutnya penuh air merah yang rasanya seperti darah asli di lidahnya. “Tolong! Ini nyata! Aku... aku nggak bisa napas!”

Pak Kades mengangkat tangan, mulai melantunkan doa keras-keras, suaranya menggema melawan tawa Nenek Gerandong. “Ya Allah... lindungi kami dari syaithan yang terkutuk. Ampuni dosa kami...”

Tapi Nenek itu tak goyah. Ia melayang lebih dekat ke Siti Aisyah, tangannya hampir menyentuh wajah perempuan itu. “Datanglah padaku... anakku. Tukar dirimu... dengan bayi-bayi itu. Mungkin... dendam ini bisa lunas.”

Siti Aisyah gemetar, tapi matanya penuh tekad. “Aku... aku siap. Ambil aku. Tapi lepaskan yang lain.”

Kang Asep menjerit, “Nen! Tidak!”

Tapi sebelum Nenek Gerandong menjawab, sosok itu tiba-tiba memudar, seperti asap yang ditiup angin. Air darah ilusi surut seketika, kembali menjadi coklat keruh biasa. Lumpur melepaskan cengkeraman. Rombongan terjatuh di tepi sungai, batuk-batuk dan tersengal.

Kang Ujang terbatuk air, wajahnya pucat. “Dia... dia pergi. Tapi... dia bilang tukar.”

Siti Aisyah berdiri goyah, tangannya memegang dada. “Dia mau aku. Aku yang lolos dulu. Mungkin... kalau aku masuk lebih dalam sendirian... dia kembalikan bayi-bayi itu.”

Pak Kades menggeleng keras. “Tidak, Nen. Kita bareng. Kita hadapi bareng. Ini jebakan untuk memisahkan kita.”

Tapi di hati Siti Aisyah, keputusan sudah terbentuk. Ia menatap hutan yang semakin gelap di depan. “Aku harus coba. Demi Lilis... demi anak-anak desa.”

Rombongan diam, hanya suara air sungai yang mengalir pelan, seperti bisik janji gelap yang belum selesai.

\*\*\*

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!