Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolong Rahasiakan
#16
“40 juta?!”
Kedua mata Bu Saodah melotot, separuh tak percaya bahwa ada ponsel dengan harga fantastis melebihi harga motor matic milik Sayuti, salah satu teman karaokenya.
Sungguh tak sebanding dengan ponsel milik Arimbi yang ia belikan seharga 3,5 juta rupiah, itu pun dengan menggunakan uang jatah bulanan dari keluarga Dio. Padahal Bu Saodah sudah merasa benda pipih milik Arimbi sangatlah mahal, tapi ternyata ponsel milik anak menantunya harganya sungguh menggiurkan.
Tapi kemudian, Bu Saodah tersenyum miring. “Pasti hape bajakan itu, kesingnya aja dibuat sama, biar kita percaya kalau itu hape yang asli, padahal hape kentang.” Setelah menyatakan prasangka buruk nya tentang benda milik menantunya, bibir Bu Saodah meliuk seperti ruwetnya jalan di tikungan sempit.
Padahal kepalanya melengos melirik ponselnya yang buluk dimakan usia, semakin dilihat justru terlihat makin mengenaskan karena sudah direkatkan dengan bantuan selotip serta karet gelang.
Niat hati ingin membeli ponsel baru bulan berikutnya, karena mengutamakan ponsel untuk anak kesayangannya. Tapi, takdir berkata lain, bulan berikutnya Lilis resmi menjadi janda, hilang pula angan-angan Bu Saodah pamer ponsel baru ke teman-teman karaokenya.
“Ck, dibilangin tak percaya, nanti kalau tahu jangan menyesal, ya. Nih, aku tunjukkan berapa harga ponsel itu.” Arimbi mulai mengetik sesuatu di laman ponselnya.
Tak lama kemudian, Arimbi menunjukkan gambar ponsel yang ia maksudkan. “Lihat! Ada daftar harganya sekalian. Lebih dari 40 juta, Bu!”
Akhirnya Bu Saodah hanya bisa menelan ludahnya susah payah, padahal cuma setara air satu sendok makan. Tapi rasanya seperti menelan gumpalan batu berduri, susah sekaligus menyakitkan.
Wajah cemberut itu seketika berbinar setelah mendengar bisikan Arimbi beberapa saat kemudian.
•••
“Jadi begitu?” gumam Pak Penghulu Desa.
Rayyan tak bisa diam saja, setidaknya ia harus mendatangi orang yang paling dipercaya, yang tidak akan menyebar aib yang semalam menimpa Lilis, yakni Pak Penghulu desa. Demi meluruskan apa yang terjadi semalam.
“Saya, tidak akan membatalkan pernikahan, Pak. Saya melakukannya dengan niat yang benar, dan saya juga yang kini bertanggung jawab penuh atas diri Lilis.”
Pak Penghulu desa tersenyum, pemuda di hadapannya ini sungguh mengagumkan, benar-benar pria yang luar biasa. “Tapi, saya juga meminta satu hal,” sambung Rayyan kemudian.
“Katakan, Nak. Kalau Bapak bisa, pasti akan Bantu semaksimal mungkin.”
“Ini, soal Karman, Pak.” Rayyan nyaris berbisik. “Saya ingin memberi pelajaran setimpal pada pria durjana itu.”
“Astaghfirullah, sabar, Nak. Jangan mengedepankan emosi, nanti yang ada kamu menyesal,” nasehat Pak Penghulu desa.
“Menyesal kenapa, Pak?”
“Ya, kalau bablas lalu menganiaya orang, kan justru kamu yang jadi bulan-bulanan masa.”
Rayyan terbahak, “Buat apa repot-repot mengotori tangan, Pak. Wong saya mau minta bantuan polisi untuk menggerebek Karman.”
“Ealaah, tak kira kamu mau main hakim sendiri.”
“Baiklah, Pak. Jika demikian kami pamit akan ke kantor polisi membuat laporan. Nanti kami perlu kesaksian Bapak, bila diperlukan.” Rayyan pun pamit.
Setelah mendapatkan data-data tentang Karman dari penghulu desa, jangan dikira Rayyan akan main sopan. Ia sangat geram setelah mendengar rekam jejak kejahatan Karman yang kerap membuat warga resah, entah bagaimana pria itu bisa menjadi salah satu pekerja yang menggarap ladang cabainya.
Pria bernama Karman itu kini telah menghilang dari desa sebelah, tempat semula ia tinggal. Tapi Rayyan tak akan melapor pada polisi, pria itu hendak minta bantuan Agung agar mengerahkan anak buahnya.
“Ayo, kita lanjutkan perjalanan, aku perlu sinyal stabil untuk bicara dengan Om Agung.”
Nanang yang hari ini bertugas menjadi sopir ojol untuk Rayyan, mula menjalankan motornya, hingga satu jam kemudian mereka pun tiba di sebuah Bank, yang menyediakan mesin penarikan tunai. Tapi Rayyan memilih menarik uang secara manual, karena ia harus membayar para pekerja yang sedang ngebut menggarap ladangnya.
Selain itu ia juga harus memberikan nafkah untuk istrinya, hah istri? Rayyan tersenyum tipis kala mengingat kenyataan bahwa saat ini dirinya adalah pria beristri.
Setelah selesai dengan urusan Bank, barulah mereka mencari tempat duduk nyaman, karena Rayyan harus bicara dengan asisten kesayangan papanya, Agung.
Rayyan menyodorkan lembaran menu makanan pada Nanang, “Pesan apa saja,” katanya tanpa suara.
Nanang mengangguk paham, ini bagian paling menyenangkan ketika menjadi teman Rayyan, pria itu selalu royal pada saatnya. Bukan sekedar foya-foya atau membuang uang untuk hal-hal tak berguna.
“Halo, Ray? Om baru mau menghubungimu.”
“Menghubungiku? Ada apa, Om?” Jika Agung bilang akan menghubungi, artinya ada hal penting yang harus mereka diskusikan.
“Om ada di kota yang letaknya tak jauh dari desa Nanang. Bisakah kita bertemu sebentar?”
“Iya, Om, nanti aku usahakan ke sana. Masalahnya disini tak ada mobil, kalau naik motor Nanang bisa-bisa tahun depan baru tiba.”
Nanang mengumpat pelan, ketika mendengar ejekan si anak konglomerat, untung teman baik, kalau tidak sudah ditinggalkan begitu saja.
“Gampang, aku akan kirim mobil beserta sopir, kirimkan saja lokasi desa Nanang.”
“Siap, Om.”
“Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Agung kemudian.
Rayyan terdiam sejenak, nyaris tak ada hal yang bisa ia sembunyikan dari Agung, pria itu sudah seperti om, kadang kakak, kadang bestie yang membantunya menyembunyikan jejak kejahatan.
“Om— semalam—” Rayyan kembali ragu, hendak lanjut atau sudahi saja.
“Jangan berbelit-belit, cepatlah! Waktuku sangat berharga.”
“Cih, iya-iya, tahu asisten Tuan Gusman adalah paling sibuk sejagad raya! Menyebalkan,” celetuk Rayyan, yang disambut dengan tawa renyah Agung.
“Baiklah, baiklah, demi kamu aku tak akan sibuk satu jam kedepan,” bujuk Agung, ini trik lama bila anak dari sang atasan ngambek, saat itu Rayyan masih anak-anak.
Ditambah lagi, identitasnya sebagai satu-satunya pewaris Senopati Group harus disembunyikan rapat-rapat. Jadilah Rayyan seorang anak yang penyendiri, karena selalu di bayang-bayangi dengan ketakutan Tuan Gusman. Takut bila terjadi apa-apa dengan putra bungsunya.
Agung bersedia meluangkan waktu sejenak demi Rayyan, kadang mereka nonton, kadang Rayyan minta ditemani main di luar, kadang hanya mengubek-ubek kolam ikan milik Almarhum Zidan, kakak Rayyan.
“Om, semalam aku menikah.”
Jeder!
Ini hal paling mengejutkan diantara semua hal, satu-satunya sifat Rayyan yang sama persis dengan sifat Almarhum Zidan. “Ray, nggak lucu banget omongan kamu.”
“Memang, Om. Kalau lucu aku sudah jadi pelawak,” celetuk Rayyan.
“Sumpah! Kalau sekarang kamu di hadapanku, aku akan melemparmu dengan bangku atau apa saja!” omel Agung geram sambil memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
“Jangan, Om. Kalau marah, nanti Om sakit, siapa yang akan menemaniku bermain?”
“Istrimu! Ajak saja dia bermain!" teriak Agung. "Duh, Ray, Ray, kamu tahu kondisi jantung mamamu, bukan? Kalau sampai dia terkejut, lalu—” Agung tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Rayyan terkekeh, tapi juga sedih bila mengingat kedua orang tuanya yang sudah berusia senja. “Om dan Tante Rosa, tolong jangan beritahu Mama dan Papa, ya?”
“Mana bisa Om dan Tantemu menyimpan rahasia dari kedua orang tuamu. Mereka adalah dua orang yang paling mempercayai kami.”
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭