NovelToon NovelToon
Ketika Talak Telah Terucap

Ketika Talak Telah Terucap

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.7
Nama Author: Leny Fairuz

Pernikahan yang terjadi antara Ajeng dan Bisma karena perjodohan. Seperti mendapat durian runtuh, itulah kebahagiaan yang dirasakan Ajeng seumur hidup. Suami yang tampan, tajir dan memiliki jabatan di instansi pemerintahan membuatnya tidak menginginkan hal lain lagi.
Ternyata pernikahan yang terjadi tak seindah bayangan Ajeng sebelumnya. Bisma tak lain hanya seorang lelaki dingin tak berhati. Kelahiran putri kecil mereka tak membuat nurani Bisma tersentuh.
Kehadiran Deby rekan kerja beda departemen membuat perasaan Bisma tersentuh dan ingin merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya, sehingga ia mengakhiri pernikahan yang belum genap tiga tahun.
Walau dengan hati terluka Ajeng menerima keputusan sepihak yang diambil Bisma. Di saat ia telah membuka hati, ternyata Bisma baru menyadari bahwa keluarga kecilnya lah yang ia butuhkan bukan yang lain.
Apakah Ajeng akan kembali rujuk dengan Bisma atau menerima lelaki baru dalam hidupnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Suami Tak Berhati

Hanya satu jam Deby mampir ke  kediaman Nurita. Bisma langsung mengantarkan ia ke rumah saudaranya selama ia berkunjung ke Surabaya.

Setelah keduanya memasuki mobil dan meninggalkan kediaman Nurita. Dengan cepat Ajeng membersihkan sisa-sisa air mata yang tak bisa ia bendung keluar. Bening mata putri kecilnya membuatnya berusaha tegar.

“Jeng .... “ Nurita dan Mayang yang duduk bersama di sofa ruang keluarga menatap kehadiran Ajeng di hadapan mereka.

“Maaf ma, mbak ... saya ketiduran .... “ Ajeng berusaha menyunggingkan senyumnya.

Nurita dan Mayang saling berpandangan. Mereka merasa lega jika apa yang dikatakan Ajeng benar. Artinya saat Bisma datang dengan teman wanitanya Ajeng tidak melihat.

“Bisma sudah menghubungimu?” Nurita bertanya dengan hati-hati.

“Belum ma.  Mungkin papanya Lala masih ada kerjaan yang gak bisa ditinggal,” Ajeng berusaha menetralkan suaranya yang bergetar menahan kesedihan.

“Dasar anak itu,” Nurita mendengus kesal dengan tingkah Bisma seperti orang lajang tak memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, dan kini telah menjadi seorang ayah.

“Assalamu’alaikum .... “ taklama kemudian suara bariton Bisma sudah muncul di hadapan mereka.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” ketiganya menjawab kompak.

Tanpa rasa bersalah Bisma langsung duduk di hadapan Ajeng. Ia menatap bayi cantik yang kini matanya terbuka cerah.

Bisma merasakan getaran yang berbeda saat matanya menatap bayi perempuan yang baru berusia tujuh hari itu. Dengan perasaan berdebar jemarinya mengelus rambut putrinya yang tampak ikal lebat.

“Badan dibersihkan dulu jika ingin menggendongnya,” dengan cepat Mayang menginterupsinya.

Ajeng hanya diam menyaksikan interaksi adik kakak itu. Ia  ingin segera beristirahat dari semua peristiwa dan kejadian hari ini yang membuat tidak hanya fisik tetapi mentalnya juga lelah.

“Bayi itu sangat sensitif. Kamu baru datang dari luar. Jangan sampai membawa virus untuk Lala,” Nurita menasehati Bisma.

Tatapan Bisma beralih pada Ajeng yang tetap tenang tak terusik dengan percakapan ketiganya. Ia membelai kepala putrinya yang kini mulai menguap karena kecapean.

“Ma, aku bersiap pulang,” Ajeng mulai bangkit dari duduknya, “Kasian  pak Kusni udah nungguin dari tadi.”

“Kita pulang bersama,” tegas Bisma.

Ia ingin segera kembali ke rumah. Masih banyak laporan yang harus ia kerjakan pulang dari kunker ke luar negeri.

“Baik mas. Aku akan membereskan semua barang Lala di kamar,” Ajeng segera mengulurkan Lala pada Mayang yang ingin menggendongnya,

Bayi Lala memang mendatangkan kebahagiaan bagi segenap penghuni rumah, walau Ajeng tidak yakin dengan Bisma sendiri.

“Kenapa kamu membawa perempuan disaat acara anakmu?” tembak Nurita langsung begitu Ajeng sudah tidak berada di hadapan mereka, “Apa kamu tidak bisa menjaga perasaan Ajeng? Untung saja para tamu sudah pulang, dan Ajeng tidak melihat semuanya.”

Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan  putra bungsunya itu. Sebagai seorang perempuan, ia dapat melihat bagaimana cara pandang Deby terhadap putranya.

“Dia hanya teman sekantor,” kilah Bisma, “Apa salahnya mengajaknya mampir dan mengundangnya sekalian.”

“Memang kado apa yang ia bawa untuk Lala?” kejar Mayang tak suka.

Ia pun yakin dengan pemikiran mamanya bahwa Deby bukan hanya rekan biasa di mata adiknya.

Bisma terdiam. Ia pun melupakan kado yang sepatutnya ia berikan, sebagai tanda terima kasih pada Ajeng yang telah memberinya seorang putri yang kini begitu dibanggakan mamanya dan Mayang.

“Aku merasakan bahwa kamu dan perempuan itu memiliki hubungan spesial,” Mayang menatap Bisma seperti menguliti adiknya, “Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar.

“Aku sudah dewasa. Dan aku bisa menentukan mana yang baik atau tidak untukku,” Bisma berusaha membela diri karena merasa terus dipojokkan kedua perempuan yang sangat ia sayangi dalam hidupnya.

“Mudahan apa yang kamu katakan benar, bahwa kalian hanya rekan kerja,” Nurita menimpali perkataan Bisma, “Mama tidak ingin ada gangguan dalam pernikahan kalian.”

Dalam mobil saat kembali ke rumah mereka, tidak ada percakapan yang terjadi. Ajeng pun malas untuk membuka mulut. Ia mengikuti saja ritme yang diciptakan Bisma. Ia  hanya ingin menciptakan kenyamanan bagi dirinya dan putri kecilnya serta orang-orang yang masih peduli padanya.

Begitu mobil tiba di rumah, Dimas yang masih berada di dalam langsung keluar dan membantu membawa kado yang diberikan keluarga besar Nurita yang berdatangan pada saat acara tadi.

Ia dapat melihat suasana hening yang terjadi antara kakaknya dan kakak iparnya. Selama ini Dimas memang jarang berinteraksi dengan Bisma. Jika ia dan almarhum bapak berkunjung, kakak iparnya itu berada di luar kota.

Ia tidak berani untuk mendekat dan bersikap sok akrab, apalagi Ajeng sudah mengingatkan jauh-jauh hari, bagaimana sikap suaminya pada adik semata wayangnya.

“Suamimu gak ikut makan malam nduk?” lek Sumi memandang Ajeng saat ketiganya menghadapi meja makan untuk makan malam bersama.

“Ayahnya Lala jarang makan malam Lek. Porsi makannya sangat dijaga,” Ajeng berusaha memberi alasan.

Ia melihat sejak habis shalat Magrib Bisma langsung memasuki ruang kerja. Kalau sudah seperti itu, biar ada bencana atau badai sekalipun tak akan membuatnya keluar dari sana.

Lek Sumi menatapnya dengan lekat. Ia yakin Ajeng menyembunyikan sesuatu akan hubungannya dengan sang suami.

Pada  acara tujuh bulanan kemaren saat ayahnya masih hidup, ia sempat menyampaikan kecurigaannya tentang hubungan ponakan dan suaminya yang sangat pendiam dan jarang berinteraksi dengan mereka.

Tapi seperti Ajeng, bapaknya pun tidak banyak bicara. Ia hangya mendoakan semoga hubungan pernikahan anaknya berjalan langgeng dan hanya ajal yang memisahkan.

“Apa masmu selalu sibuk seperti itu nduk?” lek Sumi ingin memastikan kcurigaannya.

Ia dapat melihat raut tertekan pada wajah ponakannya yang berusaha ia sembunyikan dengan tetap tersenyum pada suaminya yang bersikap dingin.

“Ya lek. Apalagi ayahnya Lala baru pulang dinas luar negeri. Banyak laporan perjalanan yang harus ia buat sebagai pertanggung jawaban,” Ajeng berkata pelan sambil meraih piring di hadapannya untuk di isi nasi.

“Seperti pesan almarhum bapakmu, kamu harus bahagia,” mata lek Sumi berkaca-kaca saat mengucapkannya, “Selama  ini, keluarga kita selalu diremehkan orang kampung.”

“Terserah orang ngomong lek .... “ Dimas menyahut santai mendengar ucapan lek Sumi.

Selama ini di kampungnya hanya Ajeng dan Sari yang bersekolah hingga SMA. Kebanyakan begitu tamat SMP langsung bekerja dan menikah.

Apalagi semenjak Ajeng mulai berkuliah, makin banyak yang nyinyir dan mengatakan bahwa semua yang ia lakukan  hanya membuang-buang uang.

“Sekarang semua warga di kampung kagum dengan keberhasilanmu,” lek Sumi bercerita dengan penuh semangat, “Apalagi setelah kamu menikah dengan nak Bisma.”

Ajeng tersenyum miris. Orang hanya melihat di permukaan. Mereka tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi dalam rumah tangga mereka. Tapi ia tidak ingin membukanya di depan lek Sumi dan  Dimas. Biar ia menanggung semuanya sendiri. Karena dari awal ia tau, inilah resiko yang akan  ia terima karena menerima perjodohan sepihak.

Kini hari-harinya kembali sepi setelah  kepergian lek Sumi. Tepat  3 bulan ia menemani Ajeng menjalani cuti melahirkan dan mengasuh baby Lala hingga menjadi bayi yang semakin menggemaskan.

“Apa kamu gak bisa mendiamkan anakmu?” suara Bisma membuat Ajeng terkejut.

Tadi siang ia baru saja membawa Lala untuk imunisasi. Tentu saja Bisma tidak pernah menemaninya untuk mengantar bayi mungil mereka. Ajeng telah mati rasa atas semua sikap Bisma. Hanya keajaiban yang membuat lelaki batu itu menjadi perhatian.

Tanpa menjawab ucapan Bisma, ia berjalan ke kamar sambil menepuk punggung Lala dengan pelan. Setiap habis imunisasi si kecil memang selalu rewel. Ia pun tak berharap Bisma untuk mengantar apalagi menemani si kecil untuk imunisasi atau pun ke dokter jika ada keluhan tentang bayi mereka.

Bisma menatap Ajeng yang hanya memandangnya sekilas. Ia menghela nafas sesaat. Pekerjaannya benar-benar menyita waktu. Walau pun sekarang ia selalu kembali di akhir pekan, tetap saja tak merubah sikapnya dengan keluarga kecil yang kini semakin lengkap.

Ada keinginannya untuk menggendong Lala, putrinya yang sangat cantik dan menggemaskan. Tapi ia risih karena masih terlalu kecil. Ia pun belum pernah menggendong seorang bayi atau pun anak kecil. Jadi ia menekan keinginannya untuk berinteraksi dengan putri mereka.

1
echa purin
👍🏻👍🏻👍🏻
Roynaldi Ananda
jadi pingin pikiran ini sama dengan author akhirnya bisma rujuk kembali sama ajeng
Roynaldi Ananda
harusnya bisma secepatnya berbicara dari hati kehati dengan ajeng
Roynaldi Ananda
walaupun ibu orangnya jujur tapi tak pantas memperkeruh masalah yang terjadi
Roynaldi Ananda
kalau bisma bisa balikkan dengan ajeng maka cerita ini yang pertama saya baca karena selama ini cerita yang sejenis semuanya pisah habis
Roynaldi Ananda
tebus semua kesalahan yang pernah diperbuat dan kejar ajang kembali kesempatan kedua masih terbuka dan perceraian secara hukum negara belum sah
💟노르 아스마💟
seru meski berat ...👍👍👍
Alif
cukup bingung jarak umur antara ajeng andika dn dharmawan, klo dl teman sekolah berarti seumuran sama ajeng yg br 34,trus ceritanya andika dn dharmawan seumuran bhisma selisihnya hmpir 10 th gmn alur ceritanya knp gk singkron
Alif
bknya umurnya blm ada 40 wkt 7 bknya mayang br 38 msk tiba2 40 lbh sih thor myangnya lho br melahirkan wktu bisma sakit jd loncatny jgn jauh2 thor
Alif
senyum2 dewe aq thor😍
Alif
siap thoor lanjuut..
Alif
bener ajeng klo nutup komunikasi di fitnah tp gk ad yg bela padahal tau btul karakternya ajeng, tp pd diem aja
Alif
tapi aq seneng dg semangat bisma dan dia jg bs menjaga diri gk celap celup sembarangan
Alif
bner aja klo anaknya karakternya bgitu orang bpknya aja sll membenarkan setiap tindak tanduk anaknya gk pduli itu bner atau salah
Alif
bnyak juga uler keket di cerita ini😄
Alif
br tau rasanya orang di cuekin dan gk di anggap emang enaak, dia istri yg kata berbagi tempat tidur berbagi bantal dg teganya gk kau anggap melahirkan gk kamu tgguin, dg sombongnya kamu gk merasa bersalah sekarang baru di cuekin gt aja sdh gk Terima, mungkin di matamu ajeng gk menarik tp percayalah di mata lelaki lain dia sungguh berharga.
Alif
mudah2an ajeng gk mau balikan sama si bisma peak itu, sdh dpt berlian malah milih baru krikil😂😂😂😂
amilia indriyanti
malah koyo Mr RK
Reni Setia
makasih untuk novelnya
chika aprilia
lah lo status udh suaminya mlh selingkuh, lbh parah oiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!