Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keep Your Friend Close, but Your Enemy Closer
Rommy tetap mengayunkan langkahnya dengan muka merah menahan emosi dan tangan terkepal menuju kelas Axel. Beberapa orang murid mengikutinya, karena mengira akan terjadi duel seru dari kedua pimpinan geng tersebut. Erick terkesiap melihat Rommy menghampiri Axel.
Murid-murid di kelas Rommy yang tergabung dalam kedua geng sekolah tersebut juga beranjak mengikuti Rommy, bersiap-siap pada segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Mauren ikut mengikuti dari belakang, berharap Rommy tidak berbuat sesuatu yang bisa mengacaukan segalanya.
Sesampainya di kelas Axel, tampak Axel sedang duduk dan sibuk mengerjakan sesuatu, dan tampak kaget melihat Rommy menghampiri di kelasnya. Namun dia mencoba tetap bersikap ramah dan tenang.
“Oh, ada the legendary Rommy,” sapa Axel ramah tapi bernada menyindir. “Mari, silakan duduk.”
Kemudian dia membetulkan posisi duduknya dan menarik kursi untuk diduduki Rommy. Keadaan menjadi hening, menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Terdengar suara bisik-bisik yang menantikan apa yang akan terjadi. Terdengar suara derit dan suara meja dan kursi yang bergeser karena mereka berebut posisi paling strategis. Terkecuali Mauren yang berada di belakang mereka dan berusaha keras berada di depan.
“Gua langsung aja, tidak berbasa-basi, Xel,” kata Rommy pelan sambil duduk. “Pak Sajit memanggil gua. Kegiatan sosial yang sedang gua rencanakan harus atas nama sekolah dan tidak boleh mengatasnamakan kelompok atau geng. Dan gua ditunjuk jadi ketuanya.”
“Lalu, apa hubungannya dengan gua?” tanya Axel tanpa melihat Rommy dan terus memperbaiki tasnya yang agak koyak karena tadi terjepit meja.
“Gua mengajak lu dalam susunan kepanitiaan jadi seksi keamanan,” kata Rommy.
Murid-murid yang mengikuti Rommy langsung berseru kaget mendengar tawaran Rommy kepada Axel. Axel pun tak kalah terkejut dan segera meletakkan tasnya.
“Lu mau jadikan gua sebagai bodyguard lu dengan menyuruh gua jadi seksi keamanan?” kata Axel nyinyir.
Mauren yang marah mendengar nyinyiran Axel ikut meradang. “Axel, sebaiknya kamu jangan nyinyir. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik, kamu terima tawaran Rommy itu atau tidak?”
“Ma… Mauren? Kamu ikut kemari?” tanya Rommy terkejut campur grogi.
Mauren hanya tersenyum mendengarnya.
Setelah Rommy menguasai diri, dia berkata kepada Axel, “Gua tunggu jawaban dari lu lewat pesan WhatsApp malam ini, karena pelaksanaan kegiatan sudah mendekat. Kami tidak bisa menunggu lagi.”
Rommy lantas meninggalkan Axel di kelasnya tanpa bicara sepatah kata pun. Anak-anak yang kecewa karena perang besar antara dua pentolan geng itu tidak terjadi langsung membubarkan diri.
“Apa yang lu bicarakan dengan Axel, Rom?” tanya Erick sesampainya Rommy kembali ke kelasnya.
“Gua tawarin dia jadi seksi keamanan untuk kegiatan sosial yang akan datang,” jawab Rommy.
“Ah, lu gila? Menawari Axel jadi seksi keamanan sama aja bikin kacau acara sosial yang lu gagas, Rom,” sergah Erick.
“Ini semata-mata demi lu supaya Axel lupa dengan ancamannya terhadap lu, Rick,” jawab Rommy. “Itu cuma ide spontan gua setelah baca pesan dia.”
“Gua berterima kasih banget dan gua akuin itu ide brilian, Rom,” jawab Erick sambil menelan ludah. “Tapi gua betul-betul tahu siapa Axel.”
“Axel akan berhadapan dengan gua kalau dia berani macam-macam,” ujar Mauren tiba-tiba.
Selepas ketegangan di sekolah, Rommy tahu satu-satunya cara menenangkan pikirannya adalah kembali ke Sasana Tinju Bulungan. Sore hari, dia meluangkan waktu sejenak di sasana tinju dan melakukan gerakan shadow boxing untuk melatih kecepatan pukulan dan footwork. Gerakan Rommy sudah lebih luwes sekarang daripada saat pertama kali berlatih tinju.
Tak berapa lama, Mauren datang dan langsung melakukan pemanasan berupa senam dan peregangan otot, yang membuat konsentrasi Rommy buyar.
“Ayo fokus, jangan terpengaruh apa pun!” kata Coach Barda. “Bagus, Rommy. Gerakan shadow boxing-mu sudah lebih baik sekarang.”
Sore itu Rommy kembali hanya berlatih pukulan dan gerakan kaki. Meskipun demikian, Coach Barda tetap tidak mengizinkan Rommy melakukan sparring partner sebelum Rommy siap.
Sepulang latihan tinju, Mauren disambut mamanya di rumah.
“Bagaimana, Ren, latihan tinjunya?” tanya Mama Mauren.
“Lancar, Ma. Coach Barda orangnya asyik,” jawab Mauren. “Ini Mauren sedang cari dojo dekat rumah.”
Mama Mauren yang mantan karateka nasional saat mudanya itu hanya geleng-geleng melihat putrinya begitu tergila-gila pada olahraga bela diri, karate dan tinju.
“Mama selalu dukung kamu melakukan apa yang kamu suka, tapi apa kamu tidak capek dan terganggu sekolahnya?” tanya Mama Mauren lagi.
“Tenang, Ma. Karatenya sudah ban hitam, sayang kalau tidak dilatih. Lagian Mauren bisa bagi waktu, kok, Ma,” jawab Mauren. “Lagian kapan-kapan mau kumite sama Mama.” Lalu Mauren tergelak.
“Mama sudah tua sekarang, dan kamu sudah lebih jago dari Mama,” kata Mama Mauren.
“Eh, di film-film silat, yang tua-tua itu justru yang jago-jago,” kata Mauren.
“Ah, itu kan film,” sergah Mama Mauren lagi.
Sedang di kamarnya yang berantakan, Axel sedang berpikir keras apakah dia sebaiknya menerima tawaran Rommy, musuh besarnya itu, untuk jadi seksi keamanan atau tidak. Sejenak dia rebahan di kasurnya sambil menikmati lagu-lagu Kendrick Lamar di HP-nya.
Tiba-tiba ada pikiran jahat masuk ke kepalanya dan segera dia menulis pesan WhatsApp kepada Rommy:
“Rom, gue terima tawaran lu jadi seksi keamanan kegiatan sosial itu. Dengan syarat gua bebas menentukan anggota gua.”
Rommy yang bisa membaca jalan pikiran Axel menjawab:
“Deal!”
Tapi dia tersenyum kecil dan berkata dalam hati, “Gua tahu jalan pikiran lu, Xel.”
Dia lalu menempelkan poster kutipan dari film The Godfather yang terkenal yang baru saja dia cetak, sambil terus tersenyum:
“Keep your friends close, but your enemy closer.”
Dia lalu menuliskan pesan WhatsApp ke grup sekolah:
“Selamat malam, teman-teman semua. Seperti yang sudah kalian dengar, Pak Sajit mengambil alih kegiatan sosial yang akan kami adakan menjadi atas nama sekolah dan merupakan agenda resmi sekolah. Beberapa guru juga akan mengawal kegiatan ini agar bisa berjalan lancar.
Sementara ini dalam susunan kepanitiaan saya ditunjuk oleh Pak Sajit sebagai ketua panitia dan yang sudah menyatakan bersedia yaitu sdr. Axel yang mau menjadi seksi keamanan. Terima kasih kepada Axel.
Selanjutnya, berikut adalah daftar kepanitiaan kegiatan sosial di panti tersebut. Yang mau bergabung menjadi panitia secara sukarela, silakan japri kepada saya:
Penanggung Jawab
Ketua Panitia
Wakil Ketua Panitia
Sekretaris
Bendahara
Seksi Logistik
Seksi Perlengkapan
Seksi Dokumentasi
Seksi Acara / Program
Seksi Konsumsi
Seksi Humas / Publikasi
Seksi Keamanan
Seksi Dana / Sponsorship
Seksi Kesehatan
Seksi Dekorasi / Tata Ruang”
Tak lama, grup WhatsApp sekolah ramai dengan pesan-pesan dari para murid merespons pesan dari Rommy itu. Salah satunya berbunyi:
“Wow! Rommy dan Axel bersekutu. Apa yang sedang terjadi?”
Rommy diam saja dan hanya tersenyum membaca pesan itu.
Tak lama, ada pesan japri masuk dari Erick:
“Lu yakin masukin Axel dalam susunan kepanitiaan? Pasti ambyar, bro.”
Rommy membalas:
“Tenang aja, Rick. Gua sudah antisipasi. Lu mau jadi seksi dana/sponsorship? Kan lu jago cari dana dan sponsor buat event.”
Jawaban Erick:
“Gua nggak keberatan, bro. Cuma gua masih kepikiran tentang Axel.”
Lalu Rommy membalas pesan WhatsApp Erick:
“Pokoknya tenang saja, perkara itu sudah gua pikirin dan antisipasi.”
Tidak lama kemudian ada pesan masuk dari Mauren yang membuat Rommy makin bersemangat:
“Rom, aku mau jadi seksi acara.”
Rommy segera membalas tanpa menunda-nunda:
“Terima kasih, Ren, atas dukungan kamu.”
Lalu Mauren membalas dengan emotikon hati yang membuat hati Rommy berbunga-bunga malam itu.
Tak lama, beberapa pesan japri masuk di HP Rommy, semuanya mengajukan diri jadi panitia dalam kegiatan sosial di panti jompo itu.
Rommy tersenyum girang. Paling tidak ada tiga hal yang membuatnya girang malam itu. Pertama, Mauren masuk dalam kepanitiaan. Kedua, susunan panitia sudah lengkap. Dan ketiga, dia punya ide untuk mengerjai Axel. Soal apa gerangan?