Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-11
Setalah kepindahan Elisa dan adiknya ke apartemen dua hari yang lalu, pagi ini di kediaman keluarga Mahendra yang biasanya tenang mendadak diselimuti ketegangan yang tak kasat mata. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar di ruang makan seolah tak mampu menghangatkan suasana. Tuan Mahendra duduk di kursi kepalanya, menyesap kopi hitam tanpa gula sambil menatap tajam ke arah kursi kosong di hadapannya.
"Landra mana, Ma?" tanya Tuan Mahendra tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya yang menampilkan grafik saham.
Nyonya Siska menghela napas, wajahnya tampak cemas. "Masih di kamar mandi, Pa. Tadi baru saja mau duduk, tiba-tiba mukanya pucat lagi terus lari. Ini sudah ketiga kalinya sejak dari subuh tadi."
Tuan Mahendra meletakkan tabletnya dengan suara Brak yang cukup keras. "Ini tidak masuk di akal. Dia sudah lebih dari dua minggu seperti begini. Di suruh periksa ke dokter juga tidak mau, tapi kerjaannya muntah-muntah setiap kali mencium bau masakan. Apa dia kena hepatitis? Atau keracunan?"
"Mama sudah tanyakan, Pa. Dia bilangnya cuma kecapekan. Tapi Mama lihat... gejalanya aneh," bisik Siska. "Dia benci bau terasi, benci bau parfum Mama yang biasanya dia suka, bahkan tadi pagi dia minta dikirimkan rujak mangga muda ke kamarnya. Laki-laki macam apa yang ngidam mangga muda jam enam pagi?"
Mendengar kata ngidam, mata Tuan Mahendra menyipit. Sebagai pria yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, otaknya mulai merangkai kepingan-kepingan aneh dari perilaku putra tunggalnya.
Tak lama kemudian, Kalandra muncul. Langkahnya tampak berat, tangannya sesekali memijat tengkuk. Wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata.
"Duduk, Lan," perintah Tuan Mahendra dingin.
Kalandra duduk dengan perlahan. Baru saja ia hendak meraih gelas air putih, aroma nasi goreng yang baru saja diletakkan pelayan di atas meja menyeruak. Kalandra mendadak menutup hidungnya dengan serbet.
"Singkirkan itu," bisik Kalandra parau.
"Ini nasi goreng kesukaanmu, Lan. Ada udang dan sedikit terasi juga seperti yang kamu minta minggu lalu," ujar Siska heran.
"Singkirkan! Baunya... baunya sangat busuk," seru Kalandra dengan nada tinggi, sebelum kembali berdiri dan menutup mulutnya, bersiap lari kembali ke kamar mandi.
"DIAM DI SITU, KALANDRA!"
Suara menggelegar Tuan Mahendra menghentikan langkah Kalandra. Seluruh pelayan di ruangan itu tertunduk kaku. Siska pun tersentak kaget.
Tuan Mahendra berdiri, berjalan perlahan mendekati putranya. Aura wibawanya menekan udara di ruangan itu. "Papa ini bukan orang yang bodoh. Papa sudah memperhatikanmu sejak beberapa minggu ini. Kamu tidak sakit secara fisik. Tapi tubuhmu bereaksi terhadap sesuatu yang bersifat emosional dan biologis."
Kalandra menegang. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh.
"Siapa gadis itu?" tanya Tuan Mahendra, suaranya kini rendah namun penuh ancaman.
"Pa, apa maksud Papa?" Siska mencoba menengahi, meskipun hatinya mulai berdegup kencang karena ketakutan yang sama.
"Diam, Siska! Biar anakmu ini yang bicara!" Tuan Mahendra menatap lurus ke mata Kalandra. "Gejala yang kamu alami ini seperti mual di saat mencium bau menyengat, menginginkan makanan asam, sensitif terhadap aroma itu bukan penyakit. Itu sympathetic pregnancy. Reaksi seorang pria ketika pasangannya sedang mengandung. Katakan pada Papa, siapa yang kamu hamili?!"
Ruang makan itu mendadak sunyi sesenyap kuburan. Kalandra memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tahu, ia tidak bisa lagi bersembunyi. Pelarian ke apartemen kemarin hanyalah penundaan sementara. Darah Mahendra yang mengalir di tubuhnya tidak mengizinkannya untuk terus menjadi pengecut.
Kalandra berbalik, menatap ayahnya dengan sisa kekuatannya. "Namanya Elisa."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Kalandra. Siska memekik, menutupi mulutnya dengan tangan. Tuan Mahendra jarang sekali menggunakan kekerasan fisik, namun kali ini napas pria paruh baya itu memburu hebat karena amarah.
"Siapa dia? Apa anak dari rekan bisnis Papa? Atau salah satu sosialita yang sering mengejarmu?" tanya Tuan Mahendra dengan gigi terkatup.
"Bukan Pa…dia... dia hanya seorang kurir makanan," jawab Kalandra lirih.
Mendengar itu, Tuan Mahendra tertawa getir, tawa yang lebih menakutkan daripada kemarahan. "Seorang kurir? Kalandra Mahendra, kau yang aku didik dengan nilai-nilai kehormatan, yang aku percayakan memimpin ribuan karyawan dan sekarang kau merusak seorang gadis kurir? Apa Kamu yang memaksanya?!"
"Pa, dengerin Landra dulu__" Kalandra mencoba membela diri.
"JAWAB!” bentak papanya, “Apa kau merusaknya secara paksa?!" Tuan Mahendra mencengkeram kerah kemeja Kalandra, matanya merah padam. "Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi binatang! Jika kamu suka, kamu lamar! Jika kamu cinta, kamu datangi orang tuanya! Bukan dengan merenggut masa depannya seperti preman jalanan!"
"Landra dijebak, Pa!" teriak Kalandra akhirnya, air mata frustrasi mulai menggenang. "Malam itu waktu pertemuan di hotel, Pak Danu menaruh sesuatu di minuman Landra. Landra tidak sadar saat itu dan Landra kehilangan kendali. Di saat Landra bangun, semuanya sudah terjadi. Gadis itu... dia yatim piatu, dia hanya sedang bekerja mengantar makanan ke kamar yang salah."
Cengkeraman Tuan Mahendra perlahan mengendur, namun kemarahannya tidak surut. Ia justru merasa gagal sebagai orang tua. "Dijebak atau tidak, faktanya adalah kamu telah menghancurkan hidup seorang gadis. Seorang yatim piatu yang sedang berjuang mencari nafkah, dan kamu merampas satu-satunya kehormatan yang dia miliki?"
Siska mulai terisak. "Ya Tuhan, Landra... bagaimana bisa..."
Tuan Mahendra berbalik, membelakangi putranya. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak sedikit merosot. "Di mana dia sekarang?"
"Landra sudah memindahkannya ke apartemen Landra. Landra akan menikahinya lusa, secara siri dulu agar status anak itu jelas, lalu setelah Landra akan melegalkannya," jelas Kalandra cepat.
"Menikah siri? Kamu mau menyembunyikan dia seolah dia adalah aib?!" Tuan Mahendra berbalik lagi, wajahnya masih memerah. "Keluarga Mahendra tidak pernah melakukan pernikahan sembunyi-sembunyi Landra! Jika kamu sudah berbuat, kamu harus mengakui di depan dunia! Bawa dia ke sini. Sekarang."
"Pa, dia masih trauma," cegat Kalandra. "Melihat Landra saja dia masih ketakutan. Jika Landra membawanya ke rumah besar ini, dia akan merasa semakin terintimidasi."
"Papa tidak peduli!" bentak Tuan Mahendra. "Bawa dia sore ini. Papa mau lihat siapa gadis yang sudah kamu hancurkan hidupnya itu. Dan jangan harap Papa akan memberikan restu dengan mudah sebelum Papa melihat pertanggungjawabanmu yang nyata!"
Tuan Mahendra melangkah pergi meninggalkan ruang makan, namun ia berhenti di ambang pintu. "Satu lagi... urusan Pak Danu, biar Papa yang selesaikan. Dia sudah berani-beraninya menyentuh anakku, dia akan tahu apa artinya kehancuran yang sesungguhnya. Tapi kamu, Landra... bersiaplah untuk membayar setiap tetes air mata gadis itu."
Setelah ayahnya pergi, Kalandra merosot ke kursi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Siska mendekat, mengusap punggung putranya dengan lembut namun penuh duka.
"Ma... Landra benar-benar menyesal," bisik Kalandra.
"Menyesal saja tidak cukup, Nak," ujar Siska lirih. "Mama kecewa, Landra. Sangat kecewa. Tapi Mama lebih sedih memikirkan gadis itu. Dia sendirian, hamil, dan harus berhadapan dengan pria yang menyerangnya. Bagaimana dia bisa bertahan?"
"Landra akan menjaganya, Ma. Landra janji."
"Buktikan itu pada Papa, Landra. Jangan hanya dengan uang. Dia tidak butuh hartamu, dia butuh harga dirinya kembali."
...----------------...
Sementara itu, di apartemen mewah Kalandra, Elisa sedang duduk di balkon, ia menatap langit Jakarta yang mulai mendung. Di tangannya ada sebuah biskuit jahe yang diberikan pelayan untuk meredakan mualnya. Sedangkan sang adik Aris begitu asyik bermain di dalam, suaranya yang riang sesekali terdengar sampai ke balkon.
Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah panggilan dari Kalandra.
Elisa ragu sejenak sebelum mengangkatnya. "Hallo?"
"Elisa..." suara Kalandra terdengar sangat berat dan sedikit bergetar di seberang sana. "Bersiaplah. Sore ini, saya akan menjemputmu dan Aris."
"Ke mana?" tanya Elisa cemas.
"Ke rumah orang tua saya. Mereka... mereka sudah tahu semuanya."
Gelas biskuit di tangan Elisa hampir terjatuh. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa sakit. "Mereka sudah tahu? Tapi... tapi bukankah kita sepakat untuk sembunyi dulu? Mas, saya belum siap. Saya takut."
"Saya tahu kamu takut, Elisa. Saya juga takut," Kalandra menjeda kalimatnya, mencoba mengatur napasnya yang kembali terasa mual. "Tapi Papa saya mendesak. Dia ingin bertemu denganmu. Kamu tidak perlu khawatir, saya akan ada di sampingmu. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, bahkan itu orang tua saya sendiri."
"Tapi... bagaimana dengan Aris?"
"Biarkan dia ikut. Mama saya akan menjaganya di taman saat kita bicara dengan Papa. Tolong, Elisa... ini langkah pertama untuk melegalkan semuanya. Kita juga tidak bisa bersembunyi selamanya dalam sangkar emas ini."
Elisa menutup matanya, menghirup udara dingin yang mulai menusuk. Ia tahu, hari ini akan datang. Hari di mana ia harus berdiri di hadapan penguasa dinasti Mahendra sebagai gadis yang dirusak oleh putra mereka.
"Baiklah," jawab Elisa pendek. "Saya akan bersiap."
Sore itu, mobil SUV hitam Kalandra memasuki gerbang mansion Mahendra yang menjulang tinggi. Elisa menggenggam tangan Aris dengan sangat erat. Aris, yang belum mengerti apa-apa, hanya terpana melihat rumah yang lebih besar dari sekolahnya itu.
"Kak, ini rumah apa istana ya?" bisik Aris polos.
Elisa hanya tersenyum tipis, matanya menatap pintu jati besar yang sudah terbuka. Di sana, Tuan dan Nyonya Mahendra sudah berdiri menunggu dengan wajah yang sulit dibaca.
Kalandra turun terlebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Elisa. Saat kaki Elisa menyentuh lantai marmer pelataran rumah itu, ia merasa seolah seluruh mata di dunia sedang menyorot padanya, menelanjangi kemiskinannya dan traumanya.
Kalandra mendekat, mencoba meraih tangan Elisa untuk memberinya kekuatan, namun Elisa secara refleks menarik tangannya menjauh. Kalandra menghela napas, ia mengerti.
"Ayo," ajak Kalandra pelan.
Mereka berjalan mendekat. Siska segera maju, matanya berkaca-kaca saat melihat Elisa. Ia tidak melihat diri Elisa sebagai seorang kurir rendahan, ia melihat seorang anak perempuan yang wajahnya sangat polos dan tampak sangat ketakutan.
"Kamu Elisa?" tanya Siska lembut.
Elisa menunduk dalam, ia mencium tangan Siska dengan takzim. "Iya, Bu. Maafkan saya..."
"Jangan minta maaf, Nak. Kamu tidak salah apa-apa," Siska memeluk Elisa dengan hangat, membuat Elisa tersentak namun perlahan bahunya mulai bergetar karena tangis yang ia tahan.
Namun, suasana kembali dingin saat Tuan Mahendra berdehem. Pria itu menatap Elisa dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Masuk ke dalam," ujar Tuan Mahendra datar. "Kita bicara di ruang kerja saya. Kalandra, bawa adik gadis ini ke taman bersama pelayan. Dia tidak boleh mendengar apa pun."
Perjanjian di ruang kerja itu akan segera dimulai. Sebuah pertemuan yang akan menentukan apakah Elisa akan menjadi bagian dari keluarga itu karena cinta, atau hanya sebagai bentuk penebusan dosa yang pahit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat membaca☺️🥰
Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya Manteman🙏🏻🙌🏾❤️