Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Kacau!
Akhirnya setelah dokter Samuel mengizinkan rawat jalan di rumah, kini Aluna meregangkan kedua tangan ke atas agar otot-ototnya tidak kaku semua. Sudah bulan Oktober rupanya? Aluna mengusap bibir saat Dion mendatanginya memberikan es krim yang juga pria itu beli di supermarket barusan. "Terima kasih Mas!!" seru wanita itu. Dia menjilat es krim dengan sangat bahagia. Tingkahnya yang seperti anak kecil entah mengapa mendapat tatapan yang sangat lama waktunya oleh Arkan di depan mobil.
"Wah! Ini! Ini mobilnya bagus sekali, ini punyanya siapa?" tanya Aluna polos. Dia menoleh ke Dion. Yang punya merasa cemburu, langsung menarik wajah Aluna untuk menghadap padanya. "Ini mobil saya, kenapa? Jelek?"
"Enggak Paman! —eh Mas Arkan!" seru wanita itu. Tingkahnya seperti orang yang baru kepergok—menutup bibirnya dengan jemari tangan. Dion melihat banyak sekali notifikasi masuk dari seseorang, "Tu—Arkan saya izin sebentar, kamu bisa bawa Aluna pulang sekarang." perintah Dion. Dalam hati pikirannya sudah bergetar—namun ia tetap memasang wajah datar. Melihat perintah dari asistennya, Arkan menatap tajam kepala belakang Dion sampai hilang keberadaannya. Aluna mendesah berat, dia kembali melanjutkan memakan es sunduk di depannya.
"Kenapa kita hanya diam saja di sini Mas Arkan?"
"Ck. Sana masuk!" seru Arkan mendorong punggung Aluna ke kursi pengemudi, tak peduli kalau wanita itu protes padanya.
Melewati jalan tol yang padat, Arkan berkali-kali memencet bel mobil agar kendaraan di depannya tidak menghalangi—tapi kendaraan di depan tetap pada tempatnya. Arkan kesal memukul setir kencang. Aluna terperanjat kaget, dia membuka bungkus camilan yang terselempit di dalam saku kursi. "Mas Arkan, aku boleh makan ini gak?"
"Hm."
Aluna meneguk ludah, dia merasakan rasa gurih manis dari keripik yang dia makan. Selagi macet, wanita itu mulai berceloteh panjang tentang kehidupannya. "Mas Arkan tahu gak soal Abang Zion? Mungkin Mas Arkan belum tahu, tapi Abang Zion biasanya cerewet dari yang kamu duga. Aku selalu disayang Bibi di rumah, kadang Abang cemburu karena diriku dimanja—tak seperti dirinya, tapi aku tetap sayang dengannya... dia sudah kuanggap kakakku sendiri! Hehehe!"
BRAK!
TINNNNN—
Napas Arkan menderu, ia menatap pelan ke belakang dengan kilatan amarah—tak menerima semua cerita membosankan pada disaat waktu yang tepat. Bukannya duduk diam, anteng, Aluna malah memperburuk suasana. Bahkan polusi di sekitar mereka tambah keruh untuk dihirup.
Aluna di sini diam sebelum dia buka suara kembali. "Mas Arkan ini kenapa? Marah-marah mulu, lagi PMS nih?"
"BANGSAT! NGOMONG SEKALI LAGI, SAYA SOBEK MULUTMU!!"
Kini tatapan wanita itu mengarah padanya, Aluna malah berdiri mendekat ke belakang telinga pria itu pas—ingin melihat bagaimana ekspresi wajah pria itu. "Kamu mau apain aku Mas? Mau sobek mulutku? Hahahaha, emang Mas berani? Mending jangan deh... kalau dilakuin nanti takutnya Mas Arkan malah masuk penjara lho..."
Aluna berbisik kecil, yang semakin membuat Arkan mengepal setir yang dipegangnya. "Jangan coba-coba, awas aja... hihihi."
'Sialan wanita ini! Ck.'
Akhirnya mereka berdua tiba di mansion. Di pandangan Aluna versi remaja baru pertama kali melihat rumah yang memiliki halaman luas dan atap besar bertingkat. Ia mengusap mata cepat, 'Wah kenalan Bibi sangat kaya sekali... ini seperti mimpi, kalau aku pamer sedikit ke teman-teman kelas, bukankah mereka akan iri denganku? Hihihi.'
Para pelayan berjejer membuat garis horizontal menyambut kedatangan mereka berdua. Salah satu dibisiki oleh Arkan selagi Aluna sedang sibuk mengagumi interior rumah, suaminya memerintah semua pelayan maupun pembantu di sini untuk memanggil Aluna dengan nama panggilannya.
Mereka angguk setuju, dalam hati mereka bahagia karena tak perlu memanggil Aluna dengan embel-embel Nyonya. Namun dari kejauhan anak-anak buahnya, hanya Bu Lastri saja yang terlihat sangat khawatir.
Bu Lastri mendekati Aluna, memegang lengannya pelan. "Nyonya..."
"Siapa?" tanya Aluna saat tangannya dipegang, dia menoleh ke sana-kemari. Wanita itu melambai tangan cepat, "Maaf aku bukan Nyonya... namaku Aluna... aku saudara jauh Mas Arkan." ucap Aluna pelan, memastikan Bu Lastri paham akan ucapannya.
Bu Lastri terdiam tak bisa berkata-kata, 'Ini bukan Anda Nyonya... apa yang terjadi pada Anda? Saya pulang kampung jadi tak tahu apa-apa. Tahu-tahu saya dengar Anda dirawat di rumah sakit.'
"Bu Lastri." panggil Arkan, pria itu melangkah mendekat. Aluna ikut melebarkan mata, mulai tahu kalau wanita paruh baya yang memegangnya namanya Bu Lastri.
"Bawa Aluna ke kamarnya, jangan panggil dia Nyonya. Dia tak pantas jadi Nyonya di tempat ini."
"Ah... baik Tuan..."
Aluna ditarik ke kamarnya sendiri. Di depan kamar sebelum wanita itu pergi meninggalkannya, Aluna memegang tangan wanita itu. "Tunggu, Bu Lastri. Ini..."
Telapak tangan Bu Lastri dibuka lebar-lebar, Aluna rupanya memberikan hadiah spesial untuknya—beberapa biji permen yang dia dapatkan saat Pharita menjenguknya. Bu Lastri langsung merasa tak enak menerimanya, "Ini... kenapa dikasihkan ke saya? Disimpan saja untuk Anda—"
"Gak apa, ini bentuk tip dari aku karena sudah mengantar aku sampai ke kamar sementara ini!" ucap Aluna menunjukkan pintu di belakangnya. Seketika Bu Lastri terkejut dua kali mendengarnya. Ia benar-benar ingin tahu kenapa keadaan nyonyanya jadi seperti ini.
"Kamu boleh pergi Bu Lastri, terima kasih..." ucap Aluna membungkuk ke bawah, Bu Lastri juga tak tinggal diam ikut membungkuk juga.
Di dalam kamar ia melihat sebuah ruangan yang memiliki nuansa yang sangat dia inginkan. "Biasanya Bibi bilang padaku untuk menabung kalau mau beli kalkulator digital... tapi semua peralatan tulis premium ini ada di meja belajarku?! AKHHH!!!" seru Aluna gembira sendiri, dia sampai melompat penuh kegirangan. Ia juga terkejut dengan boneka teddy bear kesukaannya berada di samping meja, ia peluk erat sampai boneka yang ada di pelukannya bisa mati kapan saja.
"INI KAMAR IMPIANKU!! TERIMA KASIH BIBI! TERIMA KASIH! KARENAMU MUNGKIN AKU TAK AKAN PERNAH MENDAPAT KAMAR SEINDAH INI!!! AAAA!!" Aluna berjalan ke rak di bawah meja belajar, matanya terbelalak melihat begitu banyak macam kumpulan buku notebook bervariasi dengan beragam warna. Ia mengambil salah satu dan mencium aroma khas buku yang bisa mengundang dirinya dalam khayangan semesta.
Ia mengarahkan diri ke samping, seolah memamerkan semua benda-benda mahal ini ke kakak sepupunya. "Lihat ini Bang Zion?! Kau pasti iri kan! Ini akibatnya karena kemarin kamu berani menjahiliku! Apa yang kamu dapatkan Bang? Apa kamu dapat semua ini? No? Or yes? Or I think say neither?!"
Aluna merebahkan dirinya di lantai, mengguling-gulingkan tubuhnya ke manapun tak peduli kalau itu membuat rambutnya kotor. Juga di lantai kamar yang akan ia tinggali ini tidak ada debu sama sekali, inilah yang membuat Aluna senang tak main.
...****************...
Di sisi kawat penjara, anak buah Zion mendekat pada pria itu. "Bos, selamat atas kepulanganmu. Kami setelah keluar nanti pasti akan terus berada di belakangmu!"
Di sisi tempat Zion yang memandang para preman yang sah jadi anak buahnya selama hampir enam tahun, tertawa kecil. "Hm, kutunggu kalian semua..."
Zion akhirnya terbebas, dia berjalan menaiki bus, tangan panjangnya mencuri kartu bus milik orang seenaknya dan turun menggunakan itu.
Zion menatap rumah lamanya yang berada tepat di sebelah taman, pria itu membuka gerbang yang sudah berlumut. Tembok rumah sudah roboh tak bersisa, tak ada yang berniat membeli ataupun membangun kembali kediaman ini, karena tetangga sekitar sudah menandai rumah itu bertahun-tahun lamanya.
Pria itu memandang tembok yang dicoret sembarangan.
"KAU PENIPU WINDA!"
"KEMBALIKAN UANG SAYA!"
"WINDA! KAU MATI SAJA!!!"
"WINDA KAU JALANG, JANGAN GODA SUAMIKU!!"
"KARENA KAU JANDA, JANGAN SEENAKNYA SOK JADI KEMBANG KOMPLEK!"
"PENIPU SIALAN!!!"
"KAU DAN ANAKMU SAMA SAJA! KALIAN PANTAS MASUK NERAKA!!"
Zion menipiskan mata, dia memukul dinding kencang. "Ina... hahaha, kalau kau tak datang ke rumahku tak akan aku melihat keadaan kacau balau seperti ini... tapi aku sangat ingin melihatmu tersiksa lagi Ina, di mana kau... di mana kau sekarang? Aku sudah bebas Ina... biarkan aku menikmatimu... aku mohon Ina..."
Zion menutup sebelah mata, dia mengingat momen terakhir saat tangannya tak sengaja menusuk tempat paling vital di bagian perut Aluna saat itu, Aluna yang memegang perutnya dengan bersimbah darah. "Bang—Zion... sa—kit..."
"Hahaha, hahahaha!" Untung saja tetangga lewat pada hari itu segera menyegel pergerakan Zion di tempat dan memberikan pertolongan gawat darurat pada Aluna yang sudah sekarat pada saat itu.
Zion bisa merasakan bagaimana darah-darah segar tersebut memenuhi sela tangannya, ia mengusap keringat telapak tangannya ke wajah seolah membayangkan itu adalah darah Aluna.
"Ah... mantap sekali..."
...****************...
"Susu itu untuk siapa?"
"AH! NYO—Aluna?! Jangan ngagetin bisa gak? Huft, kamu bikin jantungku mau copot saja." ucap Dion, setelah dia membuatkan secangkir kopi susu di gelas seharga lima puluh juta itu akan ia berikan kepada tuannya yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor. Arkan memintanya untuk membuatkan kopi susu agar otaknya bisa encer. Aluna mengulurkan kedua tangannya ke depan, "Mas Dion! Biar aku aja! Aku juga mau berterima kasih sama Mas Arkan karena telah menerimaku di sini!!"
"Ah tidak perlu Aluna, kamu cukup duduk anteng di sana, atau kembali ke kamar saja."
"ENGGAK! ENGGAK! POKOKNYA AKU MAU NGANTERIN MINUMAN ITU KE MAS ARKAN! POKOKNYA AKU! AKU!!"
"Ah... iya... bisa tidak jangan berteriak Aluna?" pekik Dion. Dia memberikan cangkir di tangannya dengan hati-hati agar tak jatuh. Tangan Aluna tidak gemetar sama sekali, seolah dia sudah terbiasa.
"Oke! Sekarang di mana ruangannya Mas Arkan?"
Dion menghela napas pelan. "Di sana..." tunjuknya malas sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Arkan berhenti mengetik, dia melepas kacamata untuk melindungi sinar cahaya komputer. "Masuk."
Saat Dion membukakan pintu, Aluna masuk dengan nada bahagia sambil lompat-lompat. "MAS ARKAN!!! INI KOPI BUAT KAMU!!!"
"Tu—tunggu Aluna! Nanti tumpah kalau lompat-lompat!!" seru Dion panik sendiri, bahkan di sini ia malah merasa sesak melihat kelakuan asbun wanita itu.
Arkan terkejut, dia berdiri. "BERANINYA KAU KESINI?! DION! KENAPA KAU MALAH MEMBAWANYA MASUK?!!"
"Ma—maaf Tuan..."
Aluna menaruh cangkir kopi di atas meja kerja pria itu, tepat di sampingnya Aluna tersenyum licik. "Jangan marahi Mas Dion terus. Ini keputusanku sendiri Mas, lagian kenapa Mas se-gak mau itu sih kalau aku datang kemari? Memang aku ini bakteri ya, sejijik itu?"
Arkan langsung tangkas menjawab. "YA! KAU NODA! BAKTERI! YANG MEMBANDEL—"
Mendengarnya bukannya sakit hati, malah dibuat bahan godaan untuk wanita itu. "Heh emang aku semembandel itu ya? Jadi aku gak gampang dilupakan dong? Senangnya aku diperhatikan..."
Dion ingin muntah sendiri mendengarnya, gendang telinganya serasa pecah dua-duanya. Kacamata Arkan seolah akan retak mendengar godaan wanita itu, dia mencengkeram jidat Aluna di genggaman tangannya sampai membekas tangannya.
"DIAM! DIAM! DIAMMMM!!!!"
"Auh! Aduh! Aduh sakit!! Haha geli..."
"Geli... hahaha... kayak gelitikannya Bibi,"
Arkan langsung berhenti menekan jidat wanita itu, dia menurunkan tangannya perlahan ke bawah. Melihat situasi intim tersebut Dion langsung mengalihkan wajah, tak cocok untuk dirinya yang berumur dua puluh lima ke atas.
Melihat tangan Arkan turun ke bawah, wanita itu malah nampak polos, sedikit ada kerutan di dahinya. "Mas, jangan sentuh-sentuh." ucap wanita itu, akhirnya dia buka suara lalu melindungi pusar perutnya. Aluna berteriak, "Kalau Mas memang pengen segitunya nyentuh perut lucuku kenapa harus sekarang! Emang Mas Arkan gak punya?!"
Dion berhenti mengalihkan pandangannya, ia ikut menahan tawa. 'Perut lucu? Pffft—ah maafkan saya Tuan...'
Arkan sedikit peka dengan asistennya yang menahan tawa, pria itu seperti biasa memberikan tatapan tajamnya agar Dion ciut.
Dering ponsel di saku Dion berdering, pria itu menghentikan menahan tawa lalu izin pergi ke pinggir tembok.
"Iya?"
"Ada apa?"
"Hah?! Apa! Kau bilang apa!"
"Ti—tidak mungkin!" seru Dion. Setelah telepon mati dia kembali ke tuannya untuk membisikkan sesuatu yang sangat penting. Di saat Dion sedang berbisik, Aluna penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Ada apa Mas Dion?"
"Mas Arkan?" tanya Aluna kepada mereka berdua. Tapi lantas di sini Aluna hanya mental remaja yang tak pantas tahu apa-apa. "Sialan!" Arkan segera menampik jas dan kunci mobilnya. Aluna akan membuntuti dari belakang tapi untungnya Dion menghalangi. "Aluna... silakan tidur ya? Istirahat jangan keluyuran lagi..."
"Ta—tadi ada apa Mas Dion? Kenapa Mas Arkan pergi begitu saja..."
"Ah itu... aku juga gak tahu sih, mending kamu belajar deh."
Aluna langsung membelalak mata lebar, dia setuju dengan hal itu segera berlari pergi ke kamarnya. Untung saja kini Dion bisa mengusap keringat lega.
Di dalam mobil Arkan menyetir mobil secara ugal-ugalan, dia berhenti tepat di depan kantornya. Beberapa penjaga langsung mendekatinya, "Tuan Arkan, selamat malam."
"Malam, ada apa ini? Kata Dion ada kekacauan di sini."
"Ya Tuan, di dalam..."
Arkan melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam area kantor, dia melihat ke sekeliling. Dirinya berhenti di depan para karyawan yang masih lembur di sana saling berkumpul. "Ada apa ini? Jelaskan sekarang juga."
Para karyawan langsung gagap sendiri, mereka menoleh ke belakang pelan-pelan. "Tu—tuan Arkan... begini, ada seratus laporan dari orang sakit yang terkena alergi dari produk kita..."
Salah satu dari mereka terlihat sedih, menepis air matanya pelan. "Ini tidak kami sangka... media sedang gencar akan memboikot semua produk yang telah kita keluarkan Tuan,"
"Apa?! Gila, minggir!" seru pria itu, meminggirkan salah satu badan karyawannya. Ia melihat siapa orang yang memberikan kesaksian, Mahendra. Pria licik itu masih belum berhenti, dia terus bersuara lantang.
"Ada keluarga kecil yang kelaparan, memakan jajan instan itu! Dan mereka tidak tahu kalau itu jadi dampak buruk bagi mereka! Ini tak boleh dibiarkan! Sama-sama kita harus membuang makanan itu sebelum terlambat, atau keadaan kita sama dengan keadaan saudara kita ini."
Mahendra berteriak lantang di depan para wartawan, "Kalian tak boleh diam saja! Ayo boikot perusahaan Seo!"
"BOIKOT!!!"
BRAK!
Dalam sekali hantaman layar komputer retak semua, karyawannya kaget kepalang tak percaya. Kepalan tangan terlihat, kilatan tajam mendera. Arkan menggericik bibir bagai korek api.
"SIALAN! SIALAN!!!"
Bersambung...