“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa mengikutiku terus seperti bayangan?"
Alvino membanting pintu mobilnya dengan keras di area parkir kampus. Gadis ceroboh yang ia temui di kafe benar-benar memiliki nyali baja.
Sepanjang perjalanan, gadis itu tidak berhenti mengoceh, padahal Alvino sedang berada di ambang kehancuran mental karena memikirkan foto-foto mesra Cahaya dan Jeremy yang mulai tersebar di lingkungan terdekat mereka.
Gadis itu turun dari kursi penumpang, merapikan roknya yang sedikit kusut. "Namaku Ayu. Kan tadi sudah kubilang, aku mencari seseorang. Dan sepertinya kau adalah kunci untuk menemukannya."
Alvino menyipitkan mata, emosinya tersulut. "Kunci? Apa maksudmu? Kalau mau minta tolong cari alamat, cari di peta, jangan ganggu aku!"
Ayu tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat jauh lebih dewasa dan licik daripada sikap cerobohnya tadi.
"Kau pacarnya Cahaya, kan? Gadis yang sekarang sedang asyik bermain peran jadi calon istri di mansion Sebastian?"
Deg.
Jantung Alvino seolah berhenti berdetak. Ia langsung mencengkeram bahu Ayu.
"Bagaimana kau tahu?!"
"Aduh, pelan-pelan! Sakit!" Ayu meringis, melepaskan tangan Alvino. "Aku adalah adik tiri Stella. Mantan istri Jeremy. Dan jangan kaget, Alvino... aku tahu soal pernikahan kontrak itu. Ayahku punya mata-mata di mana-mana. Kami tahu Jeremy sedang melakukan sandiwara konyol untuk mempertahankan Elio."
Alvino terhuyung mundur. Jadi, sandiwara ini sudah bocor ke pihak keluarga mendiang istri Jeremy?
"Kalau kau sudah tahu itu kontrak, kenapa kau masih mencariku?" tanya Alvino lirih.
Ayu melangkah mendekat. "Karena mata-mataku juga melihat sesuatu yang lain di biro jasa tadi pagi. Foto mereka, Alvino. Mereka tidak terlihat seperti orang kontrak. Jeremy mencium gadis itu dan dia tidak menolaknya. Apa kau mau diam saja melihat pacarmu pelan-pelan jatuh ke pelukan pria kaku itu?"
Rahang Alvino mengeras. Bayangan Jeremy mencium pipi Cahaya membuat darahnya mendidih.
"Itu cuma akting!"
"Akting yang sangat menjiwai, bukan?" pancing Ayu. "Dengar, Alvin. Kita punya tujuan yang sama. Kau ingin gadis itu kembali dan aku ingin membawa Elio ke Indonesia. Ayahku tidak akan membiarkan Elio diasuh oleh wanita asing yang hanya dibayar. Bawa aku ke rumah itu sekarang. Kita hancurkan sandiwara mereka dari dalam."
Alvino terdiam. Pikirannya berperang hebat. Namun, rasa cemburu yang sudah mencapai ubun-ubun membuatnya kehilangan logika.
"Baiklah. Masuk ke mobil."
"Bodoh! Kau pikir aku peduli pada Elio? Justru aku tidak ingin ada satu jalang pun yang mendekati calon suamiku," batin Ayu dalam hati.
****
Jeremy sedang berdiri di ruang tamu, sementara Cahaya baru saja selesai mengganti pakaiannya.
"Om, saya rasa ciuman tadi pagi itu berlebihan. Jangan dimasukkan ke hati ya," ucap Cahaya, mencoba mencairkan suasana yang canggung sejak mereka pulang.
"Siapa juga yang memasukkannya ke hati? Itu murni demi efisiensi dokumen," balas Jeremy kaku, meski tangannya terus memainkan kunci mobil di saku celananya.
Tiba-tiba, suara bel mansion berbunyi dengan nyaring. Martha bergegas membukanya, namun sedetik kemudian, ia kembali dengan wajah pucat pasi.
"Tuan... ada tamu."
Di ambang pintu, berdirilah Alvin dengan wajah keras, dan di sampingnya, seorang gadis cantik dengan gaya elegan yang sangat familiar bagi Jeremy.
"Ayu?" desis Jeremy. Matanya membelalak tak percaya.
"Halo, Kakak Ipar. Maaf ya aku datang tiba-tiba tanpa memberi kabar. Tadi aku tersesat dan untungnya diantar oleh pria ini yang katanya pacar dari calon istrimu," ucap Ayu dengan nada manis yang berbisa.
Cahaya berdiri mematung di samping sofa. Ia menatap Alvino yang menatapnya dengan pandangan penuh tuntutan, lalu menatap gadis asing itu yang kini menatapnya dengan pandangan merendahkan.
"Vin, kenapa kau bawa dia ke sini sih?" bisik Cahaya menghampiri Alvin.
"Aku cuma ingin memastikan sesuatu, Ay. Apa ciuman di foto tadi pagi itu juga bagian dari kontrak?" tanya Alvino langsung tanpa basa basi.
Jeremy langsung melangkah maju, berdiri di depan Cahaya seolah memagari gadis itu.
"Untuk apa kau membawa keluarga mendiang istriku ke sini, bocah coklat?!" Jeremy menunjuk Alvino.
"A—apa bocah coklat?" tanya Alvin shock. Bisa-bisanya pak tua ini memanggilnya bocah coklat. Secara kulitnya putih mulus karena dirinya memang blasteran inggris.
"Dan kau, sejak kapan kau ikut campur urusan pribadiku di Milan?" tanpa menjawab Alvin, Jeremy beralih pada Ayu.
Ayu tertawa kecil, lalu melangkah masuk tanpa diundang. "Urusan pribadi? Kak, ayah tahu ini semua cuma bohongan. Ayah tahu wanita ini hanya pengasuh yang kau bayar untuk memakai cincin. Tapi melihat Alvino yang begitu marah, sepertinya kalian berdua mulai menikmati kontrak ini, ya?"
Ayu menatap Cahaya dengan tajam. "Jadi ini pengganti Stella? Mahasiswi mungil yang butuh uang sampai rela menjual harga dirinya untuk jadi istri bayaran?"
"Jaga mulutmu!" bentak Jeremy.
"Kenapa? Takut rahasianya terbongkar di depan Elio?" Ayu melirik ke arah tangga di mana Elio baru saja muncul karena mendengar keributan.
semangat 💪 untuk cerita yg lain Thor 👍 salam sukses selalu ya ❤️🙂 trimakasih 🙏
aku masih berharap 🤭
pantas kemarin aku merasakan detik detik ending dan ternyata memang selesai
terimakasih kak sudah membuat cerita ini dengan sangat baik ,sudah menghibur pembaca sepertiku🙏