Lima tahun lalu, Kiara diceraikan Jonathan, alasan perceraian itu tidak lain karena cinta pertama Jonathan kembali. Tanpa Jonathan tau, ternyata Kiara membawa benih darinya.
Setelah Lima tahun kemudian, Kiara dan Jonathan dipertemukan kembali dalam sebuah acara perayaan ulang tahun perusahaan tempat Kiara bekerja. Tak disangka, pertemuan itu menghadirkan kembali cinta yang telah lama menghilang di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benerkan, Ngajak Ribut!
Kiara tak kuat lagi menunggu, akhirnya wanita cantik ini pun memutuskan berdiri dan bersiap protes pada mantan suaminya.
"Maafkan saya, Pak, bolehkah saya tunggu di ruangan saya saja. Maaf saya kurang nyaman duduk di ruangan ini terlalu lama, saya... " Kiara tak kuasa melanjutkan ucapannya.Tatapan mata Jonathan seakan mengintimidasinya. Jonathan langsung menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya, kembali ia menatap wajah Kiara yang tampak gugup.
"Kenapa ngomongnya nggak lanjut? ku lihat kamu semakin berani sekarang," ucap Jonathan, nada bicaranya santai, tapi cukup membuat suasana mencekam.
"Tidak, maksud saya, tidakkah lebih baik saya bekerja dari pada duduk saja di sini nggak ngapa-ngapain, Pak. Saya ga mau dibilang makan gaji buta nanti sama yang lain," jawab Kiara, gugup.
"Kamu berada di ruangan direktur, mana mungkin kamu nganggur. Tenang saja, meskipun kamu hanya melihatku bekerja, aku akan tetap gaji kamu kok," ucap Jonathan ringan.
"Saya tahu, tapi saya hanya ga enak sama yang lain," jawab Kiara, masih berusaha sabar.
"Ngapain ga enak sama yang lain, yang gaji kamu kan aku, iya kan? harusnya kamu ga enaknya sama aku dong, bukan sama mereka," serang Jonathan lagi.
Sumpah Demi apa, ingin rasanya Kiara mengajak duel maut saja, dari pada berdebat tak jelas seperti ini. Astaga, ini sih menyebalkan.
"Pak, tolonglah dewasa lah sedikit. Kita di tempat kerja, nggak bisa seenaknya begini," ucap Kiara, bertambah tak nyaman.
"Jadi menurutmu aku ke kanak-kanakan?" balas Jonathan sembari melangkah mendekati Kiara, mengukung wanita ini, mengurungnya tepat dalam dekapan, membuat Kiara merasa rikuh.
"Tidak, maksud saya, astaga, Pak. Ayolah, jangan begini, Pak, tolonglah jangan begini, mengertilah sedikit, saya mohon," ucap Kiara sembari mendorong dada Jonathan, tentu saja agar pria ini menjauh darinya.
Jonathan tersenyum melihat sikap gugup sang mantan istri. Rasanya begitu menyenangkan bisa mempermainkan wanita yang diam-diam ia rindukan ini.
"Pak, saya mohon, menjauhlah, jangan seperti ini," pinta Kiara gugup.
Jonathan langsung berdiri tegak, merapikan jasnya, kemudian dia pun berkata...
"Jangan seperti ini, apa maksud mu? apa kamu pikir aku mau menggodamu?" tanya Jonathan, kembali dengan stelan sikap dinginnya.
"Tidak, bukan itu maksud saya, saya rasa anda mengerti maksud saya. Maaf, Pak, jika tidak ada yang masalah, bolehkah saya kembali ke ruangan saya?" tanya Kiara, gugup.
"Enak saja, kamu pikir aku memanggilmu ke sini karena ga ada perlu, duduk," pinta Jonathan, seraya duduk di sofa bekas tempat Kiara menunggunya tadi.
Lagi-lagi Kiara tak punya pilihan, selain menuruti pria arogan ini. Tanpa banyak bertanya ia pun segera duduk tepat di samping Jonathan, si pria menyebalkan ini.
Suasana hening sejenak, tampak Kiara begitu gugup, sedangkan Jonathan tampak senang dengan ekpresi natural sang mantan istri.
"Katakan padaku, apa alasanmu mau resign?" tanya Jonathan, serius.
"Tidak ada, saya hanya ingin pindah kerja saja. Pengen cari pengalaman yang baru," jawab Kiara berbohong.
"Benarkah? bukankah kamu bilang sama Pak Megan, kalo kamu mau merawat nenekmu yang sedang sakit. Nenekmu yang mana lagi yang mau kamu rawat?" tanya Jonathan, menyindir. Sengaja ia mempertanyakan hal ini, karena ia ingin tahu alasan Kiara ingin meninggalkan pekerjaannya kali ini. Jonathan benar-benar ingin tau alasan Kiara ingin pergi dari sini, sebab Jonathan merasa, Kiara ingin meninggalkan pekerjaannya di hotel ini karena keberadaannya.
"Apa sih, aku kan pengen cari pengalaman yang lain, jadi terserah aku lah mau alasan apa," gerutu Kiara dalam hati.
Bibir Kiara memang diam, tapi Jonathan tau jika hati dan pikiran mantan istrinya ini sedang memakinya.
"Udah, jangan ditahan, kalo mau mengumpat, ngumpat aja. Semakin kamu diam, semakin aku yakin kalo kamu sedang berkata kasar, iya kan?" ucap Jonathan, dengan senyuman meledek, seperti biasa.
"Apa sih? ga jelas!" ucap Kiara, kesal.
"Tu kan bener, lagi kesel kan sama aku. Kenapa Kiara? kamu ga terima kita cerai. Kalo ga terima, aku siap kok rujuk sama kamu!" ucap Jonathan, sedikit bercanda.
Sumpah Demi apa, ingin sekali Kiara mencekik leher pria menyebalkan ini. Kiara tidak tahu apa arti ucapan itu, entah itu serius atau bercanda. Karena menurut Kiara, makna ucapan itu serasa menyakitkan baginya. Ucapan itu seperti menghina, merendahkan, bahkan seperti melecehkan martabatnya.
"Maaf, saya tidak tahu apa maksud anda, Pak. Urusan pribadi kita adalah masa lalu. Keberadaan saya di sini hanya ingin mempertanyakan maksud anda, kenapa anda menahan saya. Bagi saya duduk diam seperti tadi bukankah bekerja, maaf jika saya kurang paham dengan maksud Bapak menahan saya di sinj," jawab Kiara, mencoba tetap sopan, meskipun sebenarnya dia ingin benar-benar memaki pria menyebalkan ini.
"Astaga, Kiara, kamu benar-benar nggak berubah ya, masih suka baperan seperti dulu, aku memintamu ke sini, karena aku pengen tahu alasan kamu resign, itu saja" jawab Jonathan, santai.
"Saya sudah jawab kan, jadi boleh saya resign?" balas Kiara, mulai kesal.
Melihat ekpresi kesal sang mantan istri, sekaligus keinginannya yang kekeh untuk berhenti, Jonathan semakin yakin jika ini hanyalah alasan Kiara yang ingin menghindari dirinya.
"Kita sudah bertemu lagi, maka jangan harap kamu bisa pergi dari ku," gumam batin Jonathan, senang.
"Secara pribadi, aku nggak punya wewenang atas peraturan yang sudah di buat. Kalo kamu mau resign, silakan bayar denda. Kamu tau aku seorang pengusaha, aku nggak akan ambil keputusan yang membuatku rugi. Jadi silakan pilih, bertahan atau bayar denda," jawab Jonathan sembari beranjak dari tempat duduknya. Lalu melangkah kembali ke kursi kebesarannya. Tentu saja dengan langkah gagahnya yang di selimuti kesombongan. Astaga, ini tampak begitu menyebalkan bagi Kiara.
Wajah Kiara memerah, menahan amarah. Ia tahu saat ini Jonathan pasti sedang mempermainkan dirinya. Ia tau Jonathan pasti sedang memancing emosinya. Pria ini sengaja menahannya hanya untuk mengajaknya berdebat. Sunggu Kiara benar-benar kesal di buatnya. Tanpa berpamitan, Kiara pun memilih meninggalkan ruangan pria menyebalkan ini. Sedangkan Jonathan hanya tersenyum karena merasa berhasil membuat pujaan hatinya marah.
Dasar Jonathan...
Pria ini langsung tersenyum senang saat melihat Kiara meninggalkan ruangannya dengan keadaan kesal.
Bersambung...
ayo dong Thor bikin Jonathan menyesal atas kata²nya, jgn cuma ngomong Kiara jahat,, padahal dia yg sangat jahat