NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RACUN PANGERAN

"Mau apa ke sini? Aku sudah lama tidak menerima pesanan pembuatan senjata. Pergilah!" usirnya lagi dengan nada yang semakin ketus.

Master Hephaestus berbalik, mulai melangkah berat menuju pintu rumah batunya, mengabaikan kehadiran sang Pangeran dan belasan ksatria yang menjaganya.

"Tunggu!" teriak vion, suaranya memecah kesunyian lembah dan seketika menghentikan langkah kaki tua itu.

"Master, aku tidak datang untuk memesan senjata. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting padamu!"

Lelaki tua itu menoleh perlahan. Matanya menyorot tajam dari balik kerutan wajahnya, terlihat sangat enggan untuk sekadar bertele-tele atau meladeni pembicaraan lebih lanjut.

Vion tidak membuang waktu. Ia menengadahkan tangannya ke samping, memberi kode tegas kepada Von Gardo. Sang ksatria segera paham; ia mengambil sebuah benda panjang yang terbungkus kain beludru hitam pekat dari balik pelana kuda, lalu menyerahkannya dengan penuh rasa hormat ke tangan vion.

Vion menggenggam benda berat itu dengan kedua tangannya. Sambil menatap mata abu-abu sang pandai besi, ia merendahkan suaranya agar tidak tertiup angin ke telinga orang lain.

"Master, aku ingin kita membahas ini di dalam. Aku tak ingin ada mata atau telinga lain yang mengetahui tentang hal ini," pinta vion dengan raut wajah yang sangat serius.

Master Hephaestus tidak menolak. Rasa penasaran mulai menggerogoti dinding keangkuhannya; ia penasaran dengan benda di balik kain hitam itu, dan terlebih lagi, ia sangat penasaran dengan sosok pemuda yang berdiri di depannya—seorang pangeran yang bicara dengan nada yang sama sekali tidak mirip bangsawan mana pun yang pernah ia temui.

Tanpa berucap sepatah kata pun, sang pandai besi berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya yang remang-remang. Vion segera mengikutinya dari belakang. Von Gardo pun ikut masuk dengan tangan tetap siaga pada gagang pedangnya, sementara seluruh anak buahnya segera menyebar, membentuk barikade ketat mengelilingi rumah tua itu guna memastikan tak ada penyusup yang mendekat.

Di dalam, ruangan itu dipenuhi aroma jelaga, besi tua, dan kayu bakar. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah kecil di dinding batu.

"Kau ini sebenarnya siapa?" tanya Hephaestus setelah mereka duduk saling berhadapan, hanya terhalang oleh sebuah meja kayu ek tua yang penuh dengan bekas goresan palu.

Vion menarik napas panjang, masih mendekap pedang yang terbungkus kain itu di pangkuannya.

"Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengenalkan diriku yang sebenarnya, Master. Karena sejujurnya, tempat ini memang bukanlah negeriku... bukan duniaku."

Ia berhenti sejenak, lalu perlahan meletakkan benda itu di atas meja. Dengan tangan yang sedikit gemetar, vion membuka ikatan kain beludru hitam yang membungkusnya, menampakkan sebilah pedang panjang dengan gagang perak berbentuk kepala serigala yang matanya terbuat dari batu rubi merah darah.

"Bukankah Anda... yang telah menempa pedang ini?" tanya vion, matanya menatap tajam ke arah Hephaestus.

Kedua mata Master Hephaestus membulat sempurna, tubuhnya tersentak hingga hampir terjungkal dari kursi kayunya yang reyot.

"Pedang Stormbringer..." lirihnya dengan suara yang pecah, seolah-olah baru saja melihat hantu dari masa lalu bangkit di hadapannya.

Kedua mata Vion menyorot tajam, mengunci wajah tua Hephaestus yang kini tampak pucat pasi dan dipenuhi keringat dingin.

Tangan Hephaestus yang gemetar perlahan terulur, berniat untuk menyentuh bilah pedang hitam legam yang memancarkan aura dingin itu. Namun, dengan gerakan kilat, Vion menarik pedang itu menjauh, menyembunyikannya kembali di balik jubahnya.

"Katakan, rahasia apa yang tersembunyi di dalam baja ini?" tuntut Vion dengan nada mengancam.

"Dan bicaralah jujur—apakah kau yang mengirim pembunuh bayaran itu untuk menghujamkan belati ke d**a Pangeran Alaric?"

Hephaestus menatap wajah Vion dengan saksama, lalu beralih menatap Von Gardo yang berdiri tegap di samping meja dengan tangan yang sudah siap menghunus pedang.

"Kalian... kalian ini berasal dari Istana Valerius?"

Vion mendongak sejenak, bertukar pandang dengan Von Gardo, lalu mengangguk pelan dengan raut wajah yang tak tergoyahkan.

"Ya, kami dari Istana Valerius," sahut Von Gardo dengan suara berat yang menggetarkan ruangan, matanya menatap tajam ke arah Master Hephaestus.

"Dan pria di depanmu ini adalah Pangeran Alaric, yang d**anya ditembus oleh pedang terkutuk ini. Katakan, apakah kau adalah antek dari Kerajaan Northumbria?"

"Bukan! Bukan, bukan!" Hephaestus menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya menunjukkan ketakutan yang murni. Kedua tangannya melambai di udara, menolak tuduhan yang dilontarkan Von Gardo.

"Aku tidak tahu-menahu soal perselisihan antar kerajaan. Aku tidak mengenal mereka, dan aku pun tidak mengenal kalian semua!"

Vion menegakkan posisi duduknya. Atmosfer di dalam bengkel tua itu terasa semakin menyesakkan, bau besi berkarat bercampur dengan ketegangan yang nyata.

Ia menatap tajam wajah tua di depannya, mencari kejujuran di balik mata yang mulai rabun itu.

"Jika kau bukan bagian dari mereka, maka jelaskan padaku sekarang," tuntut Vion dengan nada dingin yang menuntut jawaban pasti.

"Bagaimana bisa pedang Stormbringer ini sampai ke dalam istana Valerius dan berakhir di d**aku?"

Kedua mata tua Master Hephaestus menyipit, menatap Vion dengan ketelitian yang nyaris tidak wajar.

Ia beranjak dari kursinya, sedikit membungkuk dengan tubuh yang ringkih, lalu satu tangannya yang kasar terulur perlahan, bermaksud menyentuh bahu Vion untuk memastikan apa yang ia lihat.

Prak!

Dengan gerakan secepat kilat, Von Gardo memukul tangan tua itu menggunakan sarung pedangnya sebelum sempat menyentuh sang Pangeran.

"Cukup jawab pertanyaan dari Pangeran Alaric! Jangan berani-berani menyentuh kulitnya!" seru Von Gardo dengan nada tegas yang menggetarkan seisi ruangan.

"Ah... aku hanya penasaran," gumam Hephaestus sembari menarik kembali tangannya dan mengusap punggung tangannya yang memerah.

Ia menjauh sedikit dari Vion, namun matanya tetap terpaku pada pemuda itu.

Kembali kedua mata tua itu melotot, menyorot tajam ke arah Vion seolah ingin menembus tulang rusuknya.

"Bagaimana mungkin kau masih bisa bernapas, Nak? Racun yang melumuri bilah Stormbringer itu adalah racun Belladonna hitam dari dasar neraka—racun paling mematikan di seluruh daratan Eropa. Tak ada satu pun manusia yang sanggup bertahan lebih dari tiga detak jantung setelah darahnya tersentuh baja itu."

Hephaestus terdiam sejenak, suaranya berubah menjadi bisikan yang mengerikan.

"Kecuali jika... ada seseorang yang melakukan ritual terlarang untuk menukar nyawanya dengan nyawamu? Atau ada jiwa lain yang terseret masuk saat jiwamu yang lama hendak pergi?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!