NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAIRAN PERAK DI CANGKIR KOPI

"Lo beneran bisa liat dia, Julian? Gue ngerasa kayak lagi ngomong sama AC kantor. Dingin, ada suaranya, tapi kalau gue pegang, cuma angin."

Lukas menyesap kopi kalengnya dengan ragu. Ia duduk di kursi belakang taksi hitam Julian yang sedang melaju pelan membelah kemacetan di daerah Harmoni. Di sampingnya, kursi itu tampak kosong bagi mata manusia biasa. Namun, jika dilihat melalui spion tengah yang telah dimodifikasi dengan lensa perak, di sana duduk seorang wanita muda dengan jaket denim yang tampak sedikit transparan, memegang payung biru di pangkuannya.

Viona—atau Nirmala—tersenyum tipis, meski senyum itu tidak memancarkan kehangatan fisik. "Gue nggak sedingin itu, Lukas. Lo-nya aja yang kurang peka sama getaran dimensi. Lagian, kopi lo itu bau banget, mending lo tutup deh."

"Tuh, denger kan? Dia protes soal kopi lo. Penjaga realitas emang sensitif sama bau barang murahan," sahut Julian tanpa menoleh. Matanya tetap fokus pada jalanan, namun tangan kirinya terus memutar jam saku yang kini detaknya terdengar lebih berat dari biasanya.

"Yah, sori deh. Gue butuh kafein buat nahan stres gara-gara setiap pagi liat Ibu Elena lewat depan halte tapi nggak kenal sama gue," Lukas menghela napas, wajahnya berubah sendu. "Rasanya aneh, Kak Vio. Kita kayak hantu yang nonton film bioskop tentang hidup kita sendiri, tapi kita nggak diajak main."

Suasana di dalam taksi mendadak hening. Narasi tentang pengorbanan memang terdengar agung saat diucapkan di puncak Monas, namun menjalaninya setiap detik adalah siksaan sunyi. Bagi Viona, melihat ibunya berjalan tegak dengan kaki sehat adalah kebahagiaan terbesar, namun fakta bahwa ia tidak bisa lagi mencium tangan ibunya atau sekadar berteriak "Vio pulang!" adalah lubang hitam yang terus menghisap jiwanya.

"Pekerjaan kita belum selesai, Lukas," ucap Viona memecah keheningan. Suaranya terdengar seperti bisikan air hujan yang jatuh di permukaan kaca. "Reset kemarin emang ngebalikin keadaan, tapi ada 'sampah' yang tertinggal. Kalian ngerasa nggak kalau hujan pagi ini baunya beda?"

Julian menginjak rem secara mendadak. Taksi itu berhenti tepat di depan lampu merah yang anehnya berwarna putih—bukan merah, kuning, atau hijau.

"Gue ngerasa sejak kita lewat daerah Kota Tua tadi," Julian merogoh sesuatu dari dasbor. Sebuah botol kecil berisi cairan perak yang bergejolak. "Ini bukan air hujan. Ini Essence of Deletion. Sesuatu dari luar dimensi kita lagi nyoba merembes masuk lewat celah yang Vio buat pas ngehancurin Arsitek Abadi."

"Maksud lo, musuh baru?" Lukas menegakkan duduknya, gawainya yang baru—yang ditenagai oleh sisa roda gigi Alfred—mulai mengeluarkan suara dengung peringatan. "Sensor gue dapet sinyal aneh di Stasiun Kota. Ada pola waktu yang... nggak ada polanya sama sekali. Kayak kertas yang disobek-sobek terus dilem asal-asalan."

Viona menggenggam gagang payung birunya. Ia merasakan getaran hebat dari bawah aspal jalanan Jakarta. Sebagai Jangkar, ia bisa merasakan "sakit" yang dialami oleh kota ini. Dan saat ini, Jakarta sedang menjerit.

"Turunin gue disini," perintah Viona.

"Vio, lo belum stabil. Kalau lo keluar dari taksi ini tanpa perlindungan frekuensi gue, lo bisa kesedot ke masa lalu orang lain!" Julian memperingatkan dengan nada keras.

"Gue nggak punya pilihan, Julian. Ada orang yang kejepit di antara gerbong kereta di Stasiun Kota. Kalau gue nggak ke sana sekarang, keberadaan dia bakal dihapus permanen, dan itu bakal memicu efek domino yang bisa ngeruntuhin satu blok kecamatan," Viona menembus pintu taksi begitu saja, raga transparannya melayang tipis di atas trotoar.

Hujan mulai turun. Namun, butiran-butirannya tidak membasahi aspal. Setiap tetes yang jatuh justru menghapus warna dari apapun yang disentuhnya. Trotoar yang tadinya abu-abu berubah menjadi putih pucat, lalu transparan. Orang-orang yang berlalu-lalang tampak tidak menyadari bahwa pakaian mereka mulai kehilangan detail.

Viona membuka payung birunya. Zrrrttttt! Pendar cahaya safir terpancar, menciptakan zona berwarna di tengah dunia yang mulai memudar menjadi sketsa pensil.

"Lukas! Julian! Ikutin jalur biru gue!" teriak Viona.

Mereka berlari menuju gerbang Stasiun Kota. Di sana, pemandangannya jauh lebih mengerikan. Sebuah gerbong kereta api tua dari zaman kolonial tampak bertabrakan dengan KRL modern. Namun, tidak ada suara dentuman logam. Kedua kereta itu saling menembus satu sama lain, menciptakan glitch visual yang menyakitkan mata.

Di tengah-tengah tabrakan dimensi itu, seorang pria tua dengan seragam pegawai kereta api zaman dulu berdiri mematung. Tangannya memegang sebuah lentera yang apinya berwarna hitam. Pria itu menatap Viona dengan mata yang kosong, namun air mata perak mengalir di pipinya.

"Tolong... jadwalnya salah... kereta ini nggak seharusnya sampai di sini..." bisik pria itu.

Viona mendekat, namun langkahnya tertahan oleh suara tawa yang dingin dari arah peron atas. Sosok pria jangkung dengan setelan jas abu-abu metalik dan kacamata satu lensa (monocle) berdiri di sana, memegang sebuah pena bulu yang terbuat dari tulang.

"Sungguh anomali yang indah," ucap pria itu. Suaranya terdengar seperti lembaran kertas yang disobek. "Halo, Sang Jangkar. Nama saya adalah The First Archivist. Dan saya di sini untuk mengoreksi kesalahan yang kamu sebut sebagai 'kedamaian'."

Lukas mengangkat gawainya, mencoba memindai sosok itu. "Kak! Hati-hati! Dia bukan dari Ordo Chronos! Dia... dia lebih tua! Energinya berasal dari sebelum waktu diciptakan!"

Pria itu menggerakkan pena bulunya di udara, menuliskan sebuah kata dalam bahasa yang tidak dikenal. Seketika, rel kereta di bawah kaki Viona melilit seperti ular, mengunci gerakannya.

"Viona, kamu tahu kenapa ibumu bisa jalan lagi?" tanya Sang Pengarsip dengan senyum tipis yang mengerikan. "Karena kamu mencuri kesehatan dari orang lain di garis waktu yang berbeda. Setiap detik kebahagiaan yang kamu rasakan di rumahmu saat ini, adalah satu jam penderitaan bagi pria tua di depanmu ini."

Viona membelalakkan mata. Jantungnya—atau apa pun yang menjadi pusat energinya—terasa remuk. "Nggak mungkin... Alfred bilang..."

"Alfred adalah pembohong yang baik, sama seperti ayahmu," Sang Pengarsip melangkah turun, menembus udara seolah ada anak tangga di sana. "Sekarang, kembalikan 'pinjaman' itu, atau aku akan menuliskan nama ibumu di kolom 'Kematian yang Terlupakan' sore ini juga."

Lukas dan Julian mencoba menerjang, namun dengan satu jentikan jari, waktu di sekitar mereka membeku sepenuhnya. Hanya Viona yang masih bisa bergerak, terengah-engah di tengah jepitan rel yang semakin kencang.

"Pilih, Viona," bisik Sang Pengarsip tepat di telinganya. "Tetap jadi pahlawan palsu, atau biarkan kota ini kembali ke kekosongan yang jujur?"

Viona menatap pria tua berlentera hitam itu, lalu ia melihat pantulan wajah ibunya yang sedang tertawa di dalam api lentera tersebut.

"Jadi... semua ini cuma tumbal?" tanya Viona dengan suara hancur.

1
Mila Febri
wah kayak nya seru..mau mampir akh🤭
Nameika: Selamat datang Kak.. Mari kita berpetualang bersama Viona 🤩
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!