Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan dengan cara yang aneh—cepat, tapi terasa berat.
Bagi Yurie, waktu seperti dipaksa bergerak tanpa sempat memberinya kesempatan bernapas. Pagi datang, sore berlalu, malam jatuh, semuanya dalam satu tarikan napas panjang yang melelahkan. Rumah Nazeeran berubah menjadi tempat persiapan. Agnesa semakin sibuk.
Gaun-gaun datang dan pergi. Perhiasan disusun di atas meja, dipilih bukan berdasarkan selera Yurie, melainkan harga dan kesan.
“Keluarga Reynard tidak boleh merasa kita asal-asalan,” kata Agnesa suatu siang, sambil menilai Yurie dari ujung kepala sampai kaki.
“Kamu itu investasi.”
Yurie tidak menjawab. Ia hanya berdiri, membiarkan tubuhnya diukur, disentuh, dan diarahkan.
Kayla sering ikut menonton. Kadang ia tertawa kecil, kadang ia mengomentari warna kulit Yurie, bentuk wajahnya, atau cara berdirinya. Semua terdengar seperti ejekan yang dibungkus tawa.
“Aneh ya,” kata Kayla suatu kali. “Kamu yang nggak sekolah, nggak punya apa-apa, malah dapat calon suami kaya.”
Yurie menunduk. “Mungkin karena aku cocok dengan syaratnya.”
Kayla menyeringai. “Iya. Kamu cuma cocok di situ.”
Malam hari adalah satu-satunya waktu Yurie bisa benar-benar sendiri. Ia duduk di ranjang kecilnya, memeluk lutut, menatap langit-langit. Pikirannya kembali pada pertemuan singkat itu—tatapan Kaiden yang dingin tapi tidak menusuk, suaranya yang tenang, caranya mendengar tanpa menyela.
Ia tidak tahu apa yang Kaiden pikirkan tentangnya. Tapi satu hal yang Yurie sadari: lelaki itu tidak melihatnya seperti barang.
Dan itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan.
Tiga hari sebelum pernikahan, keputusan dibuat.
“Setelah menikah, Yurie akan langsung pindah ke kediaman Reynard,” kata Bimantara di meja makan. “Itu permintaan mereka.”
Agnesa mengangguk cepat. “Masuk akal. Statusmu berubah.”
Yurie menatap piringnya. Tidak ada rasa kaget. Ia sudah menduga.
Malamnya pun, Yurie mengemas barang-barangnya sendiri. Tidak banyak. Beberapa potong pakaian sederhana, buku catatan kosong, satu sisir tua, dan bingkai foto kecil bergambar dirinya bersama ibunya. Ia menatap foto itu lama, lalu memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas.
“Ma,” bisiknya, “Yurie pergi.”
Tidak ada air mata. Tangisnya sudah terlalu sering keluar di tempat ini.
Hari kepindahan datang dengan cuaca cerah yang nyaris menyakitkan. Mobil dari keluarga Reynard datang pagi-pagi sekali. Tidak ada pelukan perpisahan. Tidak ada pesan panjang.
Agnesa hanya berkata, “Jaga sikapmu.”
Bimantara bahkan tidak keluar rumah.
Yurie melangkah masuk ke mobil dengan perasaan kosong.
Perjalanan menuju kediaman Reynard terasa berbeda dari sebelumnya. Jalanan lebih sepi, lingkungan lebih tertata. Ketika gerbang besar terbuka, Yurie menahan napas.
Rumah itu bukan seperti rumah Nazeeran.
Bangunannya luas, tapi tidak terasa dingin. Banyak jendela besar, taman hijau terawat, dan pohon-pohon tinggi yang memberi kesan tenang. Tidak ada kemegahan berlebihan, tidak ada ornamen mencolok. Semuanya terasa… berjarak, tapi tidak mengintimidasi.
Yurie turun perlahan.
Seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan senyum hangat. “Selamat datang, Nona Yurie. Saya Bu Maya.”
Yurie terkejut dengan sapaan itu. “Terima kasih.”
“Silakan masuk. Tuan Kaiden sudah menunggu.”
Nama itu membuat jantungnya berdegup.
Kaiden berdiri di ruang tengah. Pada hari ini ia mengenakan kemeja putih dan celana gelap. Sederhana. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja menyelesaikan sesuatu.
“Kamu sudah sampai,” katanya.
“Iya,” jawab Yurie pelan.
“Capek?”
Yurie menggeleng. “Tidak.”
Kaiden menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Kalau begitu, saya antar ke kamarmu.”
Kamar Yurie berada di lantai dua. Ruangannya luas, dengan jendela besar menghadap taman. Tempat tidur rapi, meja belajar, lemari kayu. Semuanya bersih, tenang, dan… asing.
“Kalau ada yang kamu butuhkan, bilang ke Bu Maya,” kata Kaiden. “Atau ke saya.”
Yurie menatapnya. “Terima kasih.”
Kaiden hendak pergi, lalu berhenti di ambang pintu. “Yurie.”
“Iya?”
“Kamu tidak harus takut di sini.”
Setelah pintu tertutup, Yurie duduk di tepi ranjang. Untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya terasa longgar. Ia tidak tahu berapa lama perasaan itu akan bertahan, tapi ia menikmatinya.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang berbeda. Tidak ada teriakan. Tidak ada perintah kasar. Para staf bersikap sopan. Mereka memanggilnya “Nona Yurie” tanpa nada merendahkan.
Kaiden tidak sering berbicara, tetapi kehadirannya terasa. Ia selalu memastikan Yurie makan. Ia tidak pernah memaksanya keluar kamar, tetapi juga tidak mengabaikannya.
Suatu sore, Yurie duduk di taman, membaca buku yang ia temukan di rak kecil kamarnya. Langkah kaki terdengar mendekat.
“Kamu suka membaca?” tanya Kaiden.
Yurie mengangguk. “Dulu Mama sering bacakan.”
Kaiden duduk di bangku seberangnya. “Buku ini tentang apa?”
“Perjalanan,” jawab Yurie. “Tentang seseorang yang mencari rumah.”
Kaiden terdiam sejenak. “Menarik.”
Ada jeda. Sunyi yang tidak canggung.
“Kaiden,” Yurie memberanikan diri, “bolehkah aku bertanya?”
“Tentu.”
“Kenapa kamu setuju menikah denganku?”
Kaiden menatap taman di depannya. “Karena pernikahan ini akan terjadi, dengan atau tanpa persetujuan saya.”
Yurie mengangguk. “Lalu?”
“Lalu saya memilih tidak menyakiti orang yang tidak bersalah.”
Jawaban itu sederhana, tapi jujur.
......................
Malam sebelum pernikahan, Yurie sulit tidur. Ia berdiri di balkon kamarnya, menatap langit. Angin berembus pelan, membawa aroma dedaunan basah.
Ia memikirkan ibunya. Ia memikirkan hidup yang ditinggalkannya. Dan ia memikirkan Kaiden—lelaki asing yang akan menjadi suaminya, tanpa janji cinta, tanpa cerita romantis.
Namun di balik semua ketidakpastian itu, ada satu hal yang Yurie rasakan dengan jelas:
Ia tidak lagi sendirian.
Di lantai bawah, Kaiden berdiri di ruang kerja, menatap foto lama di tangannya. Seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengannya tersenyum di foto itu—Jayden Reynard.
“Besok,” gumam Kaiden pelan, “semuanya akan berubah.”
Dan tanpa Yurie ketahui, rumah yang kini memberinya rasa aman menyimpan rahasia besar—tentang kematian, kehilangan, dan permainan kekuasaan yang perlahan akan menyeretnya ke dalam pusaran yang jauh lebih gelap dari rumah yang ia tinggalkan.