Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arman Ditangkap
Lima hari berlalu sejak aku kirim pesan terakhir ke Arman.
Lima hari aku hidup seperti robot. Bangun. Mandi. Sarapan dengan Leonardo. Tersenyum saat dia minta. Bicara saat dia tanya. Diam saat dia kerja.
Seperti boneka yang diprogram ulang.
Leonardo terlihat sangat puas. Dia bahkan mulai lebih lembut. Tidak ada lagi ancaman. Tidak ada lagi amarah. Seolah dia pikir aku sudah jinak sepenuhnya.
Tapi pagi ini, semuanya berubah.
Aku sedang duduk di perpustakaan membaca buku yang bahkan tidak kuingat judulnya, saat pintu terbuka dengan keras.
Leonardo masuk dengan wajah... berbeda. Ada kilau di matanya. Kilau kemenangan.
Di belakangnya, Andrew masuk sambil membawa tablet. Wajahnya datar seperti biasa tapi ada senyum tipis di bibirnya.
"Nadira," panggil Leonardo. Suaranya terdengar... senang? "Ada berita bagus."
Jantungku langsung berdegup cepat. Berita bagus untuk Leonardo pasti berita buruk untukku.
"Apa... apa itu?" tanyaku dengan suara pelan.
Leonardo duduk di sofa di seberangku. Andrey berdiri di sampingnya sambil menunjukkan sesuatu di tablet.
"Temanmu yang sok pahlawan itu," ucap Leonardo sambil tersenyum lebar. "Arman Prasetya. Dia baru saja ditangkap."
Dunia terasa berhenti.
"Apa?" bisikku. "Tapi... tapi aku sudah... aku sudah bilang padanya untuk berhenti..."
"Oh dia memang berhenti hubungi kau," balas Leonardo. "Tapi dia tidak berhenti menyelidiki. Bodohnya, dia pikir dengan tidak hubungi kau, dia bisa lolos dari pengawasan kami."
Andrew memutar tablet. Menunjukkan foto.
Foto Arman.
Dia duduk di lantai beton. Tangan terikat di belakang punggung. Wajah babak belur. Mata kiri bengkak. Bibir pecah berdarah. Baju robek di beberapa bagian.
Tapi matanya... matanya masih menyala. Masih ada api perlawanan di sana.
"TIDAK!" aku berdiri. Hampir terjatuh tapi berhasil menjaga keseimbangan. "Lepaskan dia! Kumohon lepaskan dia! Dia sudah tidak ganggu lagi! Dia sudah..."
"Dia sudah menyerahkan semua datanya ke jurnalis lain," potong Leonardo dengan nada dingin. "Dia pikir dengan menyebarkan data, dia bisa aman. Tapi Andrew lebih cerdik. Andrew lacak semua kontak Arman. Semua jurnalis yang dia hubungi. Dan kami sudah... urus mereka semua."
Urus. Artinya dibunuh.
"Dan sekarang Arman ada di Milan," lanjut Leonardo sambil berdiri. "Di gudang bawah tanah markas RED ASHES. Tempat yang sangat... istimewa untuk tamu istimewa."
"Kumohon..." aku jatuh berlutut. "Kumohon jangan sakiti dia... aku sudah lakukan semua yang kau minta... aku sudah patuh... kumohon..."
Leonardo berjalan mendekatiku. Berjongkok di depanku. Tangannya mengangkat daguku.
"Aku tahu kau sudah patuh," ucapnya lembut. "Dan aku hargai itu. Tapi dia... dia sudah terlalu banyak tahu. Dia sudah kumpulkan terlalu banyak bukti. Dia ancaman yang harus dihilangkan."
"Tapi... tapi dia sudah tidak berbahaya lagi... kau sudah hapus semua data nya... dia tidak bisa apa-apa..."
"Dia tahu terlalu banyak tentangku. Tentang organisasiku. Tentang kau." Leonardo tersenyum tipis. "Dan yang paling penting, dia masih punya harapan untuk selamatkan kau. Aku bisa lihat di matanya di foto itu. Dia masih pikir ada cara."
Dia berdiri. Berjalan ke jendela.
"Jadi aku harus pastikan dia paham," lanjutnya. "Paham bahwa tidak ada harapan. Paham bahwa kau sudah sepenuhnya milikku. Dan setelah dia paham itu... baru aku akhiri penderitaannya."
Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. "Kumohon jangan bunuh dia... kumohon..."
"Aku belum bilang aku mau bunuh dia," balas Leonardo sambil menoleh. "Aku bilang aku akan akhiri penderitaannya. Beda tipis, tapi beda."
Dia memberi isyarat pada Andrew.
Andrew mengetik sesuatu di tabletnya. Lalu suara terdengar dari speaker tablet.
Suara video call.
Layar menampilkan ruangan gelap. Beton kasar. Lampu redup yang bergoyang.
Dan di tengah ruangan, Arman diikat di kursi besi. Wajahnya lebih parah dari foto tadi. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Baju nya basah entah keringat atau darah atau keduanya.
Di sampingnya berdiri Marco. Dengan tangan berlumuran darah. Dan di tangannya ada tongkat besi yang juga berdarah.
"Marco," panggil Leonardo. "Apa dia sudah bicara?"
Marco menggeleng. "Belum, Don. Kami sudah coba beberapa cara tapi dia keras kepala. Tidak mau bilang dimana dia simpan backup data terakhirnya."
Leonardo menghela napas. "Berapa lama sudah?"
"Tiga jam, Don."
"Dan dia masih belum bicara?" Leonardo terdengar sedikit kagum. "Impressive."
Di layar, Arman mengangkat kepalanya. Matanya yang hampir tertutup bengkak mencoba melihat kamera.
"Nadira..." suaranya serak. Nyaris tidak terdengar. "Apa... apa kau di sana?"
Aku ingin teriak. Ingin bilang aku di sini. Tapi suaraku tidak keluar. Hanya isak tangis yang tidak bisa kutahan.
Leonardo meraih tablet dari Andrey. Memutar kamera ke arahku.
"Dia di sini," ucap Leonardo. "Dan dia baik-baik saja. Lebih baik daripada kau sekarang."
Arman menatap layar. Air matanya jatuh bercampur darah di wajahnya.
"Nadira..." bisiknya. "Aku... aku minta maaf... aku gagal selamatkan kau..."
"TIDAK!" aku berteriak akhirnya. "Bukan salahmu! Ini semua salahku! Kumohon Arman jangan minta maaf..."
"Cukup drama nya," potong Leonardo sambil memutar kamera kembali ke Arman. "Marco, aku kasih kau satu jam lagi. Kalau dia masih belum bicara, patahkan jarinya satu per satu. Mulai dari kelingking kanan."
"Siap, Don," balas Marco sambil tersenyum sinis.
"Tunggu," panggil Arman dengan suara yang lebih keras walau terdengar kesakitan. "Aku... aku akan bicara..."
Leonardo tersenyum. "Oh? Sekarang kau mau bicara? Setelah lihat Nadira?"
Arman mengangguk lemah. "Data terakhir... di cloud storage... akun email kedua ku... password nya tanggal lahir Nadira..."
Marco mengetik sesuatu di ponselnya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk. "Ketemu, Don. Data masih utuh."
"Bagus," ucap Leonardo. "Hapus semuanya. Pastikan tidak ada backup lagi di manapun."
"Siap."
Leonardo menatap layar lagi. Menatap Arman yang sudah hampir tidak sadarkan diri di kursi itu.
"Kau tahu," ucap Leonardo dengan nada santai. "Aku sebenarnya kagum sama kau. Tiga jam disiksa dan baru bicara setelah lihat Nadira. Itu artinya kau benar-benar peduli padanya."
Arman tidak menjawab. Hanya menunduk dengan napas tersengal.
"Tapi sayangnya," lanjut Leonardo. "Peduli saja tidak cukup. Kau tidak punya kekuatan untuk lindungi dia. Tidak punya koneksi untuk lawan aku. Yang kau punya cuma idealisme bodoh tentang keadilan dan penyelamatan."
Dia berhenti sejenak.
"Dan sekarang kau lihat hasilnya," bisiknya. "Kau disiksa. Data mu hilang. Dan Nadira tetap di sini. Di sampingku. Sebagai istriku. Selamanya."
Arman mengangkat kepalanya sedikit. Menatap kamera dengan mata yang nyaris tidak bisa terbuka.
"Nadira..." bisiknya lagi. "Maafkan aku..."
Aku tidak tahan lagi. Aku merebut tablet dari tangan Leonardo.
"Arman dengarkan aku!" teriakku ke layar. "Ini bukan salahmu! Kau sudah berusaha! Kau sudah lakukan lebih dari yang seharusnya! Kumohon... kumohon jangan minta maaf..."
"Aku... aku harap kau bisa... bisa bahagia..." suara Arman makin lemah. "Walau bukan bersamaku... walau di sini... semoga kau... temukan cara untuk... bertahan..."
"ARMAN!" aku menangis. "Kumohon bertahanlah! Kumohon jangan menyerah!"
Tapi Leonardo merebut tablet dariku. Menutup video call.
Layar mati.
Dan aku jatuh berlutut. Menangis dengan suara yang bahkan tidak terdengar seperti manusia lagi.
Leonardo berjongkok di sampingku. Memelukku dari belakang.
"Sshhh," bisiknya sambil mengusap rambutku. "Sudah selesai. Semuanya sudah selesai."
"Kau... kau monster..." isakku. "Kau monster yang..."
"Ya, aku monster," potongnya dengan nada tenang. "Monster yang melindungimu dari dunia. Monster yang tidak akan membiarkan siapapun membawa kau pergi. Bahkan pahlawan sok benar seperti dia."
Dia mencium kepalaku.
"Marco akan urus dia," bisiknya. "Perlahan. Aku sudah perintahkan untuk tidak bunuh dia terlalu cepat. Biarkan dia merasakan kegagalannya dulu."
"KAU SADIS!" teriakku sambil mencoba melepaskan diri. Tapi pelukannya terlalu kuat.
"Aku realistis," balasnya. "Aku tahu bagaimana cara membuat orang paham bahwa melawanku itu sia-sia. Dan sekarang, Arman paham. Kau paham. Dan semua orang yang pernah pikir bisa ambil kau dariku... mereka semua akan paham."
Dia mengangkatku. Menggendongku walau aku memberontak.
"Istirahatlah," ucapnya sambil membawaku ke sofa. "Kau butuh tenang. Besok kita akan terima kabar bahwa temanmu sudah... pergi. Dan setelah itu, kita bisa mulai hidup tanpa gangguan lagi."
Dia meletakkanku di sofa. Tapi aku langsung meringkuk. Memeluk lutut sambil menangis.
Leonardo berdiri di sana. Menatapku dengan tatapan yang aneh. Campuran antara kasihan dan kepuasan.
"Andrey," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dariku. "Pantau Marco. Pastikan prosesnya berjalan lancar. Dan laporkan padaku setiap perkembangan."
Andrew mengangguk dan keluar dengan tablet nya.
Leonardo duduk di ujung sofa. Tangannya menyentuh kakiku.
"Aku tahu kau benci aku sekarang," ucapnya pelan. "Aku tahu kau pikir aku monster terburuk yang pernah ada. Dan mungkin kau benar."
Dia diam sejenak.
"Tapi ingat satu hal, Nadira," lanjutnya. "Semua yang kulakukan, aku lakukan untuk pastikan kau tetap di sini. Tetap aman. Tetap bersamaku. Karena kehilangan kau... itu satu-satunya hal yang tidak bisa kuterima."
Aku tidak menjawab. Tidak bisa. Yang bisa kulakukan hanya menangis.
Menangis untuk Arman yang sekarang disiksa di gudang jauh di Milan.
Menangis untuk diriku yang tidak bisa lakukan apapun untuk selamatkan dia.
Menangis untuk semua yang sudah hilang.
Kebebasan.
Harapan.
Kemanusiaan.
Semuanya hilang.
Dan yang tersisa cuma rasa sakit yang tidak ada habisnya.
Rasa sakit yang akan terus ada sampai aku mati.
Atau sampai aku benar-benar kehilangan kemampuan untuk merasakan apapun lagi.