Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candu
Dua hari berlalu sejak Bintang dan Damian tidak jadi melanjutkan liburan mereka. Tidak banyak yang berubah di antara mereka, Damian masih angkuh seperti biasanya dan Bintang berubah menjadi gadis yang keras kepala.
Pagi itu Bintang sudah mempersiapkan ayam goreng bawang putih dan juga beberapa makanan lainnya. Dia menata makanannya di atas meja kemudian mengambil bagiannya dan kembali ke kamarnya.
"Mau kemana kamu?"Tanya Damian saat dirinya tak sengaja berpapasan dengan Bintang.
"Makan."Balas gadis itu dengan nada pelan.
"Aku mau sarapan roti."Ujar Damian, seperti biasa dia tidak berniat untuk membiarkan hari hari Bintang menjadi damai.
"Tapi aku sudah buatkan sarapan."Ujar Bintang, dia menghentikan langkahnya dan menatap penuh kesal kepada Damian yang sedang berkacak pinggang.
"Apa peduliku? Aku mau roti."Balas Damian acuh tak acuh.
Bintang memejamkan matanya, berusaha untuk menahan rasa kesal di dalam hatinya. Saat ini tidak ada gunanya mencari keributan dengan Damian, maka dengan berat hati dia akhirnya mengalah dan membuatkan apa yang di inginkan oleh pria itu.
"Ini roti dan ini selainya."Ujar Bintang, dia mengeluarkan makanan itu dari dalam kulkas dan menyajikannya di hadapan Damian.
"Aku mau rotinya di panggang."Ujar Damian, pria itu duduk dengan menyilangkan kaki dan tangannya bersilang di depan dada seolah memegang teguh pridenya sebagai pria.
Bintang menarik nafasnya dalam, kemudian membuangnya.
"Baiklah."Balas gadis itu dengan nada pelan. Dia menurutinya dengan memanggang roti itu sesuai dengan keinginan Damian.
"Ini."Balasnya sambil menyerahkan roti dengan kondisi yang sudah dia panggang terlebih dahulu.
"Aku nggak suka selai cokelat, ambil yang strawberry."Ujarnya.
Bintang melotot, kali ini dia sudah agak kesal saat mendapati permintaan yang sangat menyebalkan dari Damian.
Lalu dengan kesadaran penuh dia mengambil selai cokelat itu dan mengambil selai strawberry yang di inginkan oleh Damian. Bintang menghentikan gerakannya saat matanya menangkap sebuah sambal yang ada di dalam kulkas.
Dengan imajinasinya yang cemerlang, gadis itu mengambil sebuah mangkok kecil dan memasukkannya cabai itu lalu mencampurnya dengan cabai itu.
Seringaian perlahan terbit di bibirnya, membayangkan rasa manis dari selai strawberry bercampur dengan pedasnya cabai menari di dalam mulut Damian membuatnya tak bisa menahan tawa..
"Ini."Ujar Bintang.
"Wadahnya kemana? Kenapa ada di dalam mangkok?"Tanya Damian penasaran.
"Selainya sudah habis jadi aku keluarin biar nggak susah."Ujar gadis itu.
"Baiklah, bisa ku terima alasan kamu."Ujar Damian, pria itu kemudian mengambil roti yang sudah di siapkan oleh Bintang dan meletakkan selainya di atas roti itu.
Melihat itu, Bintang hanya menahan tawanya kemudian pelan pelan dia mundur untuk menghindari kemarahan Damian.
"Kenapa pedas?!"Tanya Damian, dia mengambil jus jeruk yang ada di atas meja dan menenggaknya hingga tandas.
Sementara Bintang, dia hanya tertawa tanpa suara saat melihat Damian masuk ke dalam perangkapnya.
"Kamu..."Geram Damian, pria itu mengepalkan tangannya dan langsung berdiri untuk mengejar Bintang yang masih belum terlalu jauh darinya.
Melihat Damian yang bertindak implusif, Bintang tentunya sangat terkejut karna dia sama sekali tidak menyangka jika Damian akan berdiri dan mengejarnya.
Bruk!
Pria itu menubruknya hingga keduanya jatuh ke lantai.
"Berani ya kamu mempermainkan aku?"Tanya Damian dengan nada yang kesal.
"Aku hanya membalas apa yang kamu lakukan buat aku."Balas Bintang dengan nada acuh tak acuh.
Damian menghela nafasnya, jika dia ingin kehidupan pernikahan palsu mereka berakhir dengan damai dia memang tidak seharusnya bersikap buruk pada Bintang yang memiliki jiwa balas dendam yang lumayan kuat.
"Tidak bisakah kita menjalani pernikahan ini dengan damai? Maksudku layaknya teman?"Tanya Bintang, dia terlihat enggan sebenarnya untuk bermasalah dengan Damian. Tapi jika pria itu terus menindasnya dan membuatnya berada dalam posisi yang tidak sesuai tentunya Bintang tak akan tinggal diam begitu saja.
Damian diam, jauh dalam lubuk hatinya dia juga menginginkan hal yang sama dengan apa yang di inginkan oleh Bintang.
"Akan ku pikirkan nanti karna sekarang ada yang lebih mendesak."Ujar Damian, dia menarik tangan Bintang dan mengarahkannya pada belalai pria itu. Bintang membulatkan matanya, dia tidak tahu kapan benda lembek itu berubah menjadi sangat keras.
"Apa?"Tanya Bintang malu malu.
"Bagaimana kalau kita lanjut produksi? Sepertinya kamu sudah baik baik saja."Ujar Damian dengan nada pelannya.
Bintang tak menjawab, tangannya masih berada di benda keras itu dengan pikiran yang berkecamuk. Dia takut nanti dia tidak bisa berjalan seperti sebelumnya.
"Aku akan pelan pelan."Ujar Bintang dengan nada meyakinkan. Jujur saja, dia sebenarnya juga merasa bersalah kepada Bintang setelah kejadian itu.
"Lakukan."Ujar Bintang pada akhirnya.
Mendengar itu, Damian tersenyum dia pun langsung mencium bibir Bintang dengan perlahan. Awalnya pelan, kemudian lambat laun berubah menjadi lebih ganas dan menuntut.
"Kita akan melakukannya di sini?"Tanya Bintang dengan nada yang terkejut karna Damian sudah mulai membuka baju mereka.
"Aku sudah tidak tahan lagi hanya untuk sekedar berpindah ke kamar."Ujar Damian, setelah memastikan jika Bintang benar benar siap dia pun langsung memasukkan miliknya ke dalam liang hangat dan nikmat milik Bintang.
"Ahh."Lenguh Damian sesaat setelah penyatuan itu, rasanya benda keras kebanggaan Damian terasa di sedot oleh kewanitaan Bintang. Membuatnya tak tahan untuk tidak melenguh nikmat atas itu.
"Sakit?"Tanya Damian, ini adalah penyatuan ketiganya dengan Bintang dan sebagai perawan pasti melakukan ini untuk ketiga kalinya pasti akan tetap terasa sakit bagi Bintang.
"Sedikit."Balas Bintang pelan.
"Kalau begitu aku akan menggerakkannya perlahan."Ujar Damian dengan nada meyakinkan.
Bintang hanya menggangguk dan berusaha untuk kembali mempercayai Damian dalam proses ini.
Seperti katanya, Damian menggerakkan tubuhnya perlahan. Sebenarnya dia agak tersiksa dengan gerakan pelan ini tapi lagi lagi dia harus memperhitungkan Bintang yang masih baru.
"Ahh uhh."Ujar Bintang tak tertahankan, rasa nikmat itu tak bisa dia tahan. Gadis itu bahkan merasa ingin lebih setiap kali Damian mengenai titik kenikmatannya.
"Lebih cepat."Pintanya, entah kenapa instingnya terus mengatakan jika Damian mempercepat gerakannya maka semakin nikmat pula permainan mereka.
"Kamu yakin?"Tanya Damian penasaran.
"Aku yakin."Balas Bintang dan tanpa berpikir panjang Damian akhirnya tak menahan diri lagi. Dia langsung mempercepat gerakannya dan bertekad untuk membuat Bintang menjerit semakin nikmat atas gerakannya.
"Gimana?"Tanya Damian, berusaha mendapatkan validasi atas usahanya.
"Semakin nikmat, ahh."Lenguh Bintang, matanya terpejam menikmati setiap gerakan kasar dan brutal yang di lakukan oleh Damian.
Mendengar itu Damian menyeringai, dia semakin menikmati permainan mereka yang sudah berubah menjadi candu baginya.
Harus di akui, tubuh Bintang bagaikan terasa candu bagi Damian. Sebagai pria yang sudah berlabuh di banyak liang wanita, tubuh Bintang terasa paling nikmat baginya.
'Tubuhnya sangat nikmat, entah aku bisa menghilangkan candu ini atau tidak.' Gumam Damian di dalam hatinya. Hanya tiga kali, dan hal itu sudah cukup untuk membuat Damian merasa candu terhadap tubuh Bintang.
Dan begitulah akhirnya kedua manusia itu akhirnya menghabiskan pagi mereka dengan pertikaian kenikmatan yang membuat candu bagi Damian.