Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4-"Hah? Papa bercanda kan? Ini tahun 2026, Pah! Mana ada jodoh-jodohan?,.. "
"Sudah, Mas Arlan mandi dulu sana. Habis itu kita makan malam bareng. Ada yang mau Ayah bicarakan," ujar Ayah Arlan sambil menepuk pundak putranya.
Arlan hanya mengangguk pelan. Ia menyeret langkahnya ke kamar, membersihkan diri, dan berganti pakaian. Di kepalanya, bayangan wajah pucat Aluna saat pingsan tadi pagi masih terbayang-bayang, disusul wajah merah padam gadis itu saat melemparkan bantal padanya di UKS. "Cewek merepotkan," batinnya ketus.
Di rumah Aluna
Aluna menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Di dalam kamar, ia segera melepas seragam sekolahnya yang sudah terasa lengket dan menggantinya dengan kaus oversized serta celana kain santai. Rambutnya yang tadi berantakan kini ia kuncir kuda dengan rapi.
Setelah merasa lebih segar, ia turun kembali ke bawah. Di dapur, ia melihat Mamanya sedang sibuk memotong sayuran dan menyiapkan bumbu untuk ayam mentega.
"Sini, Mah. Aluna bantuin," ujar Aluna sambil mendekat dan mengambil pisau dari tangan Mamanya.
Mama Aluna sempat tertegun, menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Lho, beneran mau bantu? Tadi katanya lemas banget?"
"Ya daripada rebahan terus bosen, mending bantu Mama," gumam Aluna pelan sambil mulai mengiris bawang merah dengan gerakan yang cukup cekatan. Aluna memang sering membantu di dapur kalau sedang mood, dan memasak adalah salah satu cara dia untuk healing dari stres sekolah.
Mama tersenyum, lalu menyandarkan punggungnya di meja dapur sambil memperhatikan Aluna. "Nah, gitu dong. Kan cantik kalau begini, kelihatan kayak anak perawan yang siap dipinang."
"Hah? Dipinang apa sih, Mah? Aluna masih enam belas tahun, kelas sebelas juga belum kelar," balas Aluna sambil tertawa kecil, menganggap itu hanya candaan rutin sang Mama.
Papa yang sedang membaca koran di meja makan pun ikut menimpali tanpa mengalihkan pandangan. "Ya siapa tahu, Al. Teman lama Papa punya putra tunggal yang hebat sekali. Ayahnya disiplin, anaknya apalagi. Umurnya cuma beda dua tahun sama kamu, sekarang dia kelas dua belas."
Aluna menghentikan irisan pisaunya sejenak. "Dua tahun? Kakak kelas dong? Siapa namanya?"
Papa tersenyum tipis, matanya melirik Mama sebentar. "Ada deh. Yang jelas, kami sudah bicara sama orang tuanya. Kami berencana menjodohkan kamu sama dia. Biar ada yang jagain kamu kalau Papa lagi dinas luar kota."
Tak!
Pisau di tangan Aluna menghantam talenan dengan cukup keras. Ia menoleh ke arah Papa dengan mata membelalak. "Hah? Papa bercanda kan? Ini tahun 2026, Pah! Mana ada jodoh-jodohan?,lagipula Aluna ini masih kecil loh,pah!"
"Papa serius, Al. Anaknya berprestasi, ketua organisasi pula. Papa rasa dia pas buat kamu yang hobinya bikin guru piket darah tinggi," lanjut Papa santai.
Aluna mendengus kencang, ia kembali memotong bawang dengan tenaga ekstra sebagai pelampiasan. "Gak mau! Pokoknya Aluna nggak mau! Pasti cowoknya kaku, ngebosenin, dan hobi ngatur. Di sekolah udah cukup Aluna ketemu modelan kayak gitu, jangan sampe di rumah juga ada!"
Mama hanya terkekeh sambil mengaduk bumbu di wajan. "Kamu jangan benci-benci banget dulu, Al. Belum liat orangnya kan? Siapa tahu nanti malah kamu yang ngejar-ngejar dia."
Di sisi lain, di rumah Arlan yang sunyi dan tertata rapi, Arlan sedang duduk di meja makan bersama Ayah dan Bundanya. Suasana makan malam mereka sangat tenang, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
"Mas Arlan," Ayah Arlan membuka suara setelah menyelesaikan suapannya.
"Iya, Yah?" Arlan menaruh sendoknya dengan posisi presisi.
"Ayah dan bunda mau ngomong penting sama kamu" ucap ayah Arlan.
"Apa?"tanya Arlan pendek.
"Ayah sudah bicara dengan sahabat lama Ayah," ujar Ayah Arlan, menatap putra tunggalnya dengan saksama. "Beliau punya putri yang sangat baik. Kami sudah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua."
Arlan terdiam. Sendok dan garpunya yang baru saja diletakkan dengan sangat rapi kini tampak seperti benda asing di matanya. "Dijodohkan? Ayah, Arlan baru delapan belas tahun. Fokus Arlan sekarang adalah ujian akhir dan persiapan masuk universitas."
"Ayah tahu, Mas. Tapi ini bukan berarti kalian langsung menikah besok," Bunda menimpali dengan suara lembutnya. "Ini hanya ikatan awal. Ayah dan Bunda ingin kamu punya seseorang yang bisa mengimbangi hidup kamu yang terlalu serius. Gadis ini kelas sebelas, umurnya enam belas tahun. Dia satu sekolah dengan kamu."
Arlan menghela napas panjang, sebuah ekspresi langka yang menunjukkan rasa frustrasinya. Pikirannya melayang ke seantero siswi kelas sebelas di sekolahnya. Banyak yang berprestasi, banyak yang anggun, tapi hatinya tiba-tiba berdenyut aneh saat bayangan Aluna gadis berantakan yang tadi memaki-makinya muncul di benak.