NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antagonis Bergerak

Kantor Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nusantara selalu memiliki atmosfer yang khas. Dingin karena pendingin ruangan yang dipasang maksimal, sunyi oleh konsentrasi para fungsionarisnya, dan sarat akan aura kekuasaan yang tak kasat mata. Namun bagi Kania, siang ini udara di ruangan itu terasa jauh lebih tipis dari biasanya. Seolah oksigen di sekitarnya sengaja disedot habis oleh rasa tidak nyaman yang terus bergejolak di dadanya.

Dari meja kerjanya yang tertata sangat presisi, di mana alat tulis disejajarkan menurut ukuran dan map laporan disusun berdasarkan kode warna, Kania terus mencuri pandang ke arah ruangan Presiden Mahasiswa. Pintu jati di sana sedikit terbuka, menampakkan siluet pria yang selama dua tahun ini menjadi poros dunianya.

Di dalam sana, Genta sedang duduk di balik meja besarnya. Biasanya, Genta akan nampak seperti patung yang sedang berpikir, fokus sepenuhnya pada tumpukan proposal atau monitor yang menampilkan data universitas. Namun hari ini, pemandangan itu terasa salah.

Genta sedang menatap layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, sebuah gerakan yang nyaris tidak terlihat bagi mata awam, namun bagi Kania, itu adalah sebuah ledakan. Genta sedang tersenyum. Bukan senyuman diplomatis yang sering ia tunjukkan pada rektor, melainkan sebuah ekspresi yang sangat personal dan jujur.

Genta kemudian menyentuh gantungan kunci Slime biru yang tergantung di ponselnya dengan ibu jari, mengelusnya perlahan seolah benda silikon murah itu adalah artefak kuno yang sangat berharga.

Kania mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ia teringat saat-saat di mana ia adalah satu-satunya orang yang diperbolehkan melihat sisi manusiawi Genta. Dialah yang selalu menyiapkan air hangat saat Genta mulai sesak napas karena cemas, dialah yang dengan sigap membatalkan pertemuan rektorat jika tangan Genta mulai gemetar di balik meja. Selama ini, Kania bangga menjadi satu-satunya "perisai" yang menjaga agar citra sempurna sang Presiden Mahasiswa tetap utuh.

Namun sekarang, kehadiran Rara, gadis logistik yang nampak berantakan itu, mulai mengikis eksklusivitas tersebut. Otoritas Kania sebagai wakil sekaligus pelindung Genta merasa terancam oleh seseorang yang sama sekali tidak memiliki kualifikasi di matanya.

***

Kania bukan tipe orang yang akan menyerang secara membabi buta. Baginya, strategi yang matang adalah segalanya. Pengetahuan adalah senjata yang paling mematikan jika digunakan pada waktu yang tepat. Setelah jam operasional kantor BEM berakhir dan ruangan mulai sepi, Kania tidak langsung pulang. Ia memasuki ruang arsip digital kemahasiswaan menggunakan akses fungsionaris seniornya.

"Rara... Falensia Rara," gumam Kania dengan nada dingin, mengetikkan nama itu di kolom pencarian.

Data muncul di layar, menampakkan profil mahasiswi semester tiga jurusan Ilmu Komunikasi. Kania menyisir setiap detailnya dengan mata yang tajam. Ia mencari celah, mencari alasan yang bisa ia gunakan untuk mendiskreditkan gadis itu di depan Genta.

"Jalur masuk: Prestasi non-akademik? Menulis jurnalisme tingkat provinsi?" Kania mendengus sinis, matanya berkilat di balik pendar layar monitor. Bagi Kania yang masuk melalui jalur olimpiade sains internasional dan memiliki IPK nyaris sempurna di Fakultas Hukum, latar belakang Rara terlihat sangat medioker. Rara hanyalah mahasiswi biasa yang kebetulan memiliki keberanian lebih untuk mengusik ketenangan Genta.

Namun, kejutan sebenarnya datang saat Kania memeriksa sistem administrasi persuratan BEM. Di sana, ia menemukan sebuah surel permohonan wawancara dari Rara dengan status 'Disetujui'.

"Tugas mata kuliah Pengantar Jurnalisme: The Human Behind the Power?" Kania membaca lampiran proposal itu dengan napas yang mulai memburu. "Dia mau membongkar sisi manusiawi Genta hanya untuk mendapatkan nilai A? Dan Genta menyetujuinya tanpa lewat sekretariat?"

Kemarahan Kania memuncak saat menyadari bahwa Genta telah melangkahi protokol organisasi demi gadis ini. Baginya, Rara bukan sekadar mahasiswi yang beruntung, Rara adalah parasit oportunis yang ingin mengorbankan privasi dan martabat Genta demi kepentingan akademis pribadinya. Kania menutup laptopnya dengan suara keras yang menggema di ruang arsip yang sepi.

***

Sore harinya, rapat pleno BEM digelar untuk membahas evaluasi orientasi mahasiswa. Suasana terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Genta, yang biasanya memimpin dengan instruksi yang presisi dan cepat, nampak beberapa kali kehilangan fokus. Ia salah menyebutkan nama departemen, dan kacamata hitam yang tadi ia gunakan saat menjadi asisten dosen kini tersampir di kerah kemejanya, seolah-olah dia sedang terburu-buru.

Kania tahu ini adalah saat yang tepat untuk memberikan peringatan.

"Genta," panggil Kania di tengah pembahasan anggaran. Suaranya tenang, namun memiliki daya tekan yang mampu membungkam seluruh ruangan.

Genta mendongak, matanya yang tajam menatap Kania. "Ya, Kania? Ada masalah dengan anggarannya?"

"Anggarannya aman. Tapi aku perhatikan fokusmu yang tidak aman belakangan ini. Terutama sejak insiden di gudang logistik itu," Kania memberikan jeda yang cukup lama, membiarkan anggota rapat lainnya mulai saling bertukar lirik. "Sebagai Presiden Mahasiswa, setiap langkahmu adalah representasi dari ribuan mahasiswa. Berurusan terlalu dekat dengan mahasiswi jurnalis yang dikenal haus berita seperti Rara... itu bisa sangat berisiko bagi citramu, Genta."

Genta meletakkan pulpennya. Atmosfer di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Matanya menatap Kania dengan dingin, tatapan yang biasanya ia gunakan untuk menghancurkan argumen musuh politiknya.

"Urusan pribadiku tidak ada hubungannya dengan kinerja BEM, Kania," sahut Genta dengan nada rendah yang mengancam.

"Bisa jadi ada hubungannya, kalau gadis itu memanfaatkanmu untuk tugas kuliahnya dan mencoreng reputasi BEM sebagai organisasi yang profesional," balas Kania dengan senyum tipis yang mematikan, ia tidak mundur sedikit pun. "Jangan sampai Pangeran Es kita berubah jadi bahan tertawaan hanya karena terlalu lunak pada seseorang yang sedang mengincarmu sebagai objek wawancara."

Seluruh ruangan rapat membeku. Beberapa anggota inti BEM menunduk, tidak berani bernapas terlalu keras. Genta mengepalkan tangannya di atas meja, urat-urat di lengannya nampak menonjol, tanda bahwa amarahnya sedang ditekan sekuat tenaga.

"Rapat selesai. Semuanya silakan keluar. Kania, tetap di sini," perintah Genta tanpa kompromi.

Di dalam ruangan yang kini hanya berisi mereka berdua, konfrontasi memuncak. Genta berdiri membelakangi Kania, menatap pemandangan kampus di balik jendela besar. "Jangan pernah sebut namanya lagi dalam konteks organisasi, Kania. Atau aku akan mulai meragukan profesionalismemu sebagai wakilku."

Kania tertegun. Genta baru saja mengancam posisinya secara terbuka demi Rara. Selama dua tahun, Kania adalah orang kepercayaan Genta, namun sekarang, posisi itu nampak goyah. Kania tahu sekarang: titik lemah Genta Erlangga bukan lagi kecemasannya, melainkan gadis bernama Rara itu.

***

Kania berjalan keluar dari kantor BEM dengan wajah yang nampak tenang, namun di dalam hatinya badai kebencian sedang mengamuk. Ia tidak akan membiarkan Genta hancur hanya karena seorang mahasiswi jurnalis yang tidak tahu diri. Jika Genta tidak bisa menjauhkan diri, maka Kania yang akan membuat Rara menjauh.

Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah grup chat rahasia di Telegram yang berisi para penggemar fanatik Genta yang dikenal sebagai "Genta’s Guardians". Di grup itu, Kania memiliki identitas anonim yang sangat berpengaruh.

“Kalian sudah lihat postingan Lambe Kampus terbaru?” ketik Kania. “Aku punya info orang dalam. Cewek itu ternyata sengaja mendekati Kak Genta untuk memanfaatkan pengaruhnya demi tugas eksklusif jurnalisme. Dia merencanakan semua insiden itu agar bisa sedekat mungkin dengan Presma kita.”

Dalam hitungan detik, grup itu meledak dengan kemarahan yang meluap-luap.

“Sudah kuduga! Cewek itu emang keliatan haus pansos!”

“Kita nggak bisa biarin Kak Genta dimanfaatin sama orang kayak dia. Reputasi Kak Genta taruhannya!”

“Gimana kalau kita kasih dia sambutan hangat besok di kampus?”

Kania tersenyum tipis melihat layar ponselnya. Ia tidak perlu turun tangan secara langsung. Ia cukup memberikan sedikit bensin pada api kebencian yang sudah ada, dan para fans fanatik itu yang akan melakukan sisanya.

Malam itu, saat Rara sedang bersiap untuk masuk ke dalam game, ia merasakan firasat aneh yang menggelitik tengkuknya. Ia tidak tahu bahwa pesan-pesan singkat di layar ponsel ribuan mahasiswa sedang menyusun sebuah narasi yang akan mengubah pandangan seluruh kampus padanya. Esok bukan lagi soal bisikan samar, melainkan tentang bagaimana ia harus bertahan di tengah kesunyian yang menghakimi, sebelum langit akhirnya memutuskan untuk menumpahkan bebannya dalam bentuk hujan lebat yang akan membawanya kembali pada sang Paladin.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!