NovelToon NovelToon
WANG SHIN

WANG SHIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengawal / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

왕신 ー 14

...왕신...

...ー...

𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰!

Tidak tahu ada berapa rumah yang dimiliki Shin. Yang ditapaki Aiko sekarang juga diakui sebagai miliknyaーrumah berbeda dari yang diketahui Sol Gibaek ada di data alamat yang diberitahukannya saat pertama kali masuk menjadi anggota Venom.

Rumah ini lumayan luas, ber-arsitektur mahal dengan halaman luas. Lokasinya sangat jauh dari titik semua yang berkaitan dengan aktifitas Shin belakangan ini. Bisa dikatakan rumah ini adalah titik buta seorang Wang Shin dari sorotan dunia luar yang menyibukannya.

“Tuan Muda pulang?” Pria dan wanita tua menyambut dengan mata berbinar kedatangan Shin yang mengejutkanーChu Jangmi dan Hong Deok, atau sebut saja Paman Hong dan Bibi Chu, mereka suami istri.

“Ya, aku pulang,” jawab Shin dengan ekspresi hangat. “Apa kabar Bibi dan Paman?”

“Kami baik, Tuan Muda,” jawab Bibi Chu, diangguki Paman Hong pertanda sama perasaannya. Keduanya adalah pengurus rumah tangga kepercayaan Shin yang ditarik dari masa kecil yang menyenangkan.

“Syukurlah,” ucap Shin sebelum kemudian menarik lembut Aiko ke sisinya. “Kenalkan, ini Aiko Hart, tamuku dari Jepang.”

“Ah, hallo, Nona. Selamat datang di kediaman Tuan Muda kami.” Ramah dua orang tua itu menyapa.

Aiko menerima dengan wajah dan balasan sedikit sungkan, “Hallo.”

"Aku akan mengantarnya ke kamar tamu untuk beristirahat. Bibi, tolong siapkan makanan yang enak.”

“Baik, Tuan Muda.”

Aiko mengikuti Shin menaiki tangga menuju sebuah kamar, sementara Paman Hong dan istrinya bersama pergi ke dapur sambil saling berbisik dengan senyum senang merekaーsenang karena Shin membawa pulang seorang teman wanita.

“Mereka cocok sekali! Tuan Muda memang pandai memilih calon!” ーBibi Chu.

“Kau benar. Aku berharap mereka secepatnya menikah agar rumah ini ramai dengan suara anak-anak kecil.” ーPaman Hong.

“Ya, Tuhan ... aku benar-benar tak sabar.”

Di antara langkah, Aiko terpekur berkali-kali memikirkan hal mencolok yang baru saja diketahuinya.

“Sebenarnya apa yang dilakukan seorang tuan muda kaya di dunia yang bahkan lebih menjijikkan dari kotoran tikus?”

Pertanyaan wanita itu tidak mengganggu, air muka Shin biasa saja, bahkan terlalu tenang untuk kategori orang yang baru saja mengungkapkan jati diri yang lama disembunyikan.

Dan saat memutuskan membawa Aiko pulang, resiko sudah siap ditanggungnya, apalagi hanya pertanyaan ringan seperti itu.

 “Sederhana saja ... di sana cukup menghibur."

Aiko menghentikan langkah, posisi tepat habis titian tangga. “Menghibur?” ulangnya seraya menggeser hadap pada Shin. “Hidupmu benar-benar membosankan, ya?” sarkasnya. “Sampai hal besar seperti itu kau anggap hiburan?!”

Shin sudah ikut berhenti, menyambut tatapan itu dengan ketenangannya. “Aiko ... apa pun yang ingin kau ketahui, akan aku jelaskan semua, tapi nanti. Untuk sekarang ikuti saja perkataanku, diam di sini dan istirahatlah.”

Bukan jawaban yang pas, Aiko semakin tak paham sisi kepribadian seorang Wang Shin yang sejauh ini mengenal, semakin banyak tabir yang sulit dimengertinya. “Lalu kau?”

“Aku harus kembali. Urusanku dengan Sol Gibaek belum selesai.”

...----------------...

Setelah memastikan Aiko beristirahat dan makan, Shin kembali memacu mobil membelah jalanan.

Membayangkan keberanian Takeda Origaru yang melakukan transaksi di terang sinar mentari seperti ini membuatnya sedikit takjub.

Sol Gibaek pasti kewalahan menangani perubahan. Tapi untuk uang, apa pun akan menjadi bisa.

Tujuan markas besar Venom, polisi belum bergerak di sana, tidak ada apa pun yang berarti selain beberapa orang hilir mudik mengisi kekosongan tempat.

Shin kembali masuk ke mobil.

Saat sama sebelum menginjak pedal gas, ponselnya berdering panjang, dilihat nama Park Junwon terpampang meminta tanggapan suara.

Yang dikatakan Junwon adalah: Gudang produksi obat-obatan terlarang Venom sudah terkepung. Semua yang ada di sana sudah ditangkap dan diamankan, sedang dilakukan penyitaan bukti. Dilakukan oleh anggota lain dari divisi sejenis. Untuk markas akan menyusul dalam beberapa waktu, sekalian inspeksi terkait pemungutan dana keamanan ilegal terhadap para pedagang di sekitar area hiburan yang dikelola Venom.

Penutupan Junwon: “Sebentar lagi kami akan tiba di dermaga.”

“Baiklah, aku juga menuju ke sana,” Shin menanggap.

Panggilan diakhiri, mobil kembali dilajukannya.

Tujuan dermaga, tempat yang juga di bawah kekuasaan Venom.

“Pemilihan tempat yang bagus,” komentar Shin sesaat setelah tiba. Tidak ada satu pun orang asing selain orang-orang kepercayaan Gibaek. Teritorial mereka tak main-main. Turun dari mobil dan mendekat pada mereka yang sedang bersiap memindahkan barang dari mobil ke atas kapal.

“Hey! Kemana saja kau?!” Dokyung berseru tanya. “Bagaimana keadaan Nona Hart?!”

Sekejap paham, pertanyaan Dokyung mendorong Shin melirik Takeda yang sedang sibuk bersama Gibaek. Pria Jepang itu pasti sudah menjelaskan situasi mencekam pagi tadi pada Venom dan anggotanya terkait beberapa polisi konyol yang meminta gepokan uang.

Masih dipertanyakan bagaimana Takeda menyelamatkan diri dari jerat mereka.

“Aku sudah mengurusnya. Nona Hart akan terbang ke Jepang lebih dulu melalui Bandara Incheon,” jawab Shin kemudian, maksudnya tidak dengan pelayaran seperti Takeda.

Dokyung menghela napas lega dan berkata, "Syukurlah. Sayang wajah cantik itu jika sampai tertangkap mereka.”

Tanggapan Shin tak lebih dari sekilas anggukan. “Apa semua barang sudah masuk ke kapal?” tanyanya, sengaja mengalihkan topik. Nama Aiko Hart penting harus diredam di tengah kecamuk yang sesaat lagi akan mengacaukan mereka.

“Tinggal beberapa saja.”

“Hmm.” Shin manggut kecil. Tatapannya kemudian jatuh pada Sol Gibaek yang baru saja menerima panggilan telepon, terlihat ada keterkejutan sampai matanya melebar, suara memekik, dan ekspresi seperti tersengat listrik.

 Setelah ponsel lenyap di genggaman, pria itu bicara pada Takeda lalu mereka saling berjabat tangan.

Dari sana tatapan Gibaek menemukannya, pamit pada Takeda lalu membawa kaki untuk berlari menghampirinya. “Shin, kau sudah di sini rupanya. Bagaimana Nona Aiko?”

“Dia dalam posisi bergegas menuju bandara, akan terbang lebih dulu ke Jepang.”

“Hum, begitu lebih baik. Kerja bagus!” puji Gibaek sambil kembali melirik ponselnya dengan resah. Jelas ada kesibukan di luar transaksi penting sekarang, semua bisa melihat itu walau sekilas. “Aku harus ke suatu tempat. Kalian tangani sisanya di sini.”

“Kau mau kemana? Ada masalah apa?” Namdong yang bertanya.

“Pokoknya ada hal penting yang harus kuurus. Aku pergi!”

Tanpa menunggu kata setuju dari rekan-rekannya, Gibaek berlari meninggalkan mereka.

“Sialan itu selalu semena-mena!” Dokyung mengerang sambil menggeleng. “Sepenting apa urusannya itu selain di sini sekarang?”

Shin menelisiknya melalui punggung yang menjauh. Gibaek sudah memasuki mobilnya kemudian melaju pergi. Ponsel dikeluarkannya untuk mengetik sebuah pesan; Ikuti Sol Gibaek, ーuntuk dikirim pada seseorang.

Tak lama kemudian pemuatan sudah selesai.

Saat kapal akan diatur untuk segera berangkat ....

“JANGAN BERGERAK! KALIAN SUDAH DIKEPUNG!”

Keterkejutan menyerang semua orang tanpa ampunan.

“Polisi?!”

“Bagaimana bisa polisi mengetahui transaksi ini?!”

“Siaaall!”

Saat semua kelabakan, Namdong menemukan Shin tidak sama dengan mereka. Pria itu diam di posisi tidak berubah, menatap keadaan dengan wajah tanpa ekspresi, sebelum kemudian menjauh dengan langkah tenang, tanpa takut meski peluru polisi mulai berdesing di sana sini.

“Wang Shin?!”

1
chaa
semangat 💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: nggak, Kak.
gk semangat aku ... 😭
total 1 replies
Be___Mei
Hemmm, pekerjaan Shin nggak jauh jauh dari orang berkuasa.
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: emang gitu, Mak?🤓
total 1 replies
Be___Mei
Nahhh, kan. Gerak-gerik Nyonya Lim nggak bisa. Orang kaya elit emang begitu 🤧
Be___Mei
Pinter juga Nyonya ini
Be___Mei
Ian, cewek???
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Laki, Mak.
Ian Haris🤓
total 1 replies
Be___Mei
Cobain masakan Kalimantan juga ya 😂
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Jangan bilang buaya goreng?🤣
total 1 replies
Be___Mei
kwkwkwk barulah terungkap bahwa Shin tajir melintir 😂😂
Be___Mei
Udahlah, Shin. Cewek banyak kok di dunia. Salah satunya aku 🤭 cuma aku sedikit berbeda dengan Ana. Kalau Ana biasanya pakai gaun seksoi, aku pakainya daster 😂😂
Be___Mei
Aishhh!! Ana Sibal ****
Be___Mei
Ya elah, Neng! Dikasih aman malah kabur.
Be___Mei
Mamam tuh calon mantu idaman
Be___Mei
Iya juga. Ngapain coba meladeni Gibek padahal dia udah hapus ikatan kontrak sama Shin. Apakah dia mau berpijak di dua perahu?? Ana oh Ana
Be___Mei
Bayangin wajah visual artis kpopnya kebingungan. Pasti lucu tapi kasihan juga 🥲🤣
Be___Mei
Istri mana yang bisa menolak pesona seorang Shin?! Walaupun nikah kontrak, tapi mereka pasangan sah 🤧
Be___Mei
Teman Anda! Teman baru Anda 🤧 orang yang selalu kau andalkan, itu dia suami Ana
Be___Mei
Perasaanku mengatakan Takeda masih hidup. Pria sekuat itu tidak mudah jadi ubi kan mak???
Machan
kurang menantang ye, Shin😆
Machan
bisa jujur juga ternyata mulutnya
Machan
anjay, keren tatonya
Machan
pernah ngalamin ini saat rapat pembentukan anggota OSIS🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!