NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kualitas di Atas Kuantitas

Lokasi: Markas Rahasia Void Sect (Bekas Dungeon Gorgon's Pit).

Waktu: Malam Hari, Beberapa Jam Setelah Transformasi Shien.

​Udara di dalam markas bawah tanah itu tidak bergerak. Itu adalah jenis keheningan yang berat dan menekan, seperti berada di dasar samudra yang paling dalam. Hanya suara gemericik air dari danau bawah tanah dan desis pelan obor sihir api biru yang memecah kesunyian abadi di tempat itu.

​Varian, dalam wujud Shadow Lord, berdiri di balkon alami yang terbuat dari batu obsidian yang menjorok keluar dari dinding gua. Dari ketinggian ini, dia bisa melihat seluruh aula latihan di bawahnya. Dia mengenakan jubah hitam yang tepiannya terus bergerak seperti asap, dan wajahnya tertutup rapat oleh topeng porselen putih dengan retakan ungu di mata kanan.

​Dia tidak melepas topengnya. Tidak sedetik pun.

​Bagi Varian, topeng ini bukan sekadar aksesoris untuk menyembunyikan wajah. Ini adalah dinding pemisah psikologis. Di balik topeng ini, dia adalah entitas absolut, penguasa kehampaan yang tidak memiliki kelemahan manusiawi. Jika dia melepasnya, dia hanyalah Varian Valdris, seorang remaja dengan ambisi gila yang mungkin bisa dibaca emosinya. Kerahasiaan adalah fondasi kerajaannya. Loid, Agna, Shien, dan Viper melayaninya karena rasa takut dan kekaguman pada kekuatan misteriusnya. Jika mereka tahu rajanya adalah teman sekelas Shien yang baru berusia belasan tahun, dinamika kekuasaan itu bisa hancur.

​Varian menyandarkan tangannya yang bersarung tangan besi ke pagar batu. Matanya yang tajam menatap ke bawah, ke arena latihan.

​Di sana, Shien—yang baru saja terlahir kembali sebagai Abyssal Dragonoid—sedang bertarung melawan Loid.

​Shien bergerak cepat, menggunakan sayap naga hitam di punggungnya untuk bermanuver di udara secara tiga dimensi. Dia menyerang dari atas, samping, dan belakang dengan pedang Void Excalibur yang telah dikorupsi. Setiap tebasannya menciptakan gelombang angin yang membelah udara. Kekuatan fisiknya mengerikan; setiap kali kakinya memijak lantai, batu granit retak.

​Namun, Loid berdiri tenang di tengah arena. Jubah sutra hitamnya yang robek berkibar pelan. Dia tidak banyak bergerak. Kakinya seolah terpaku di satu titik pusat. Setiap kali Shien melancarkan serangan mematikan, Loid hanya menggeser tubuhnya sedikit—gerakan minimalis yang sangat efisien—atau menangkis serangan berat itu dengan sarung pedangnya.

​Ting. Tang. Tring.

​Itu adalah pertunjukan perbedaan kelas. Pengalaman bertarung puluhan tahun sebagai Grandmaster Assassin melawan kekuatan fisik murni dan amarah seorang Dragonoid muda. Teknik melawan brutalitas.

​"Kau terlalu banyak gerakan sia-sia, Bocah Naga," kritik Loid dengan suara seraknya yang terdengar bosan.

​Saat Shien mencoba menebas lehernya dengan kecepatan penuh, Loid menunduk sedikit, lalu memukul ulu hati Shien dengan bonggol gagang pedangnya.

​BUGH!

​Shien terbatuk darah, matanya melotot. Dia jatuh tersungkur, terseret beberapa meter di lantai batu.

​"Bangun," perintah Loid dingin. "Musuh tidak akan menunggu napasmu kembali. Di medan perang, istirahat berarti mati."

​Varian mengamati dari atas dengan senyum tipis di balik topengnya. Shien punya potensi dan kekuatan mentah yang luar biasa, tapi dia butuh teknik. Loid adalah guru yang sempurna untuk mengubahnya menjadi senjata pembunuh yang disiplin.

​Tiba-tiba, bayangan di pilar besar di belakang Varian menggeliat. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada napas. Hanya sedikit pergeseran tekanan udara.

​Sesosok wanita dengan pakaian ketat serba hitam muncul dari kegelapan, seolah dia terbuat dari malam itu sendiri. Itu adalah Viper, mantan pembunuh elit Black Lotus yang kini menjadi Undead Assassin dan Kepala Intelijen Varian. Kulitnya pucat mayat, tapi matanya bersinar dengan kecerdasan jahat.

​Viper berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai. "Tuanku Shadow Lord."

​Varian tidak berbalik. Dia tetap menatap pertarungan di bawah. "Bangun, Viper. Laporanmu."

​"Sesuai perintah Tuan," Viper berdiri, namun tetap menunduk hormat. Dia tidak berani menatap topeng Varian terlalu lama; aura Void yang memancar darinya membuat jiwa mayat hidupnya bergetar.

​"Berita tentang eksekusi di alun-alun dan kemunculan Tuan telah menyebar lebih cepat dari wabah pes. Jaringan intelijen bawah tanah sedang gempar. Tidak ada topik lain yang dibicarakan di kedai-kedai gelap, pasar budak, hingga menara penyihir terlarang selain 'Shadow Lord' dan 'Void Sect'."

​Viper mengambil langkah maju, suaranya terdengar bersemangat dan antusias.

​"Dampaknya luar biasa, Tuan. Reputasi kita meroket. Banyak faksi kriminal, sisa-sisa sekte sesat yang dulu dihancurkan Gereja, kelompok bandit pegunungan, hingga penyihir buronan kelas kakap... mereka semua mulai bergerak mencari kita. Mereka melihat kekuatan Tuan yang mampu menahan serangan Grand Mage Eldric dan membelah langit. Mereka ingin bernaung di bawah kekuatan itu."

​Viper mengangkat wajahnya sedikit, matanya berbinar tamak. "Saran saya, Tuan... kita harus membuka gerbang rekrutmen. Jika kita menyebarkan lokasi pos rekrutmen rahasia sekarang, kita bisa memiliki pasukan ribuan orang dalam waktu kurang dari seminggu. Kita bisa membangun kerajaan kriminal terbesar dalam sejarah benua ini! Kita bisa menguasai kota-kota perbatasan dengan kuantitas!"

​"Cukup."

​Satu kata itu memotong antusiasme Viper seperti guillotine memotong leher.

​Varian berbalik perlahan. Gerakannya tenang, namun penuh ancaman. Topeng putih tanpa ekspresi itu menatap lurus ke arah Viper, seolah menelanjangi jiwanya.

​Varian berjalan mendekati Viper. Langkah kakinya di lantai batu tidak bersuara, membuatnya tampak melayang seperti hantu. Dia berhenti tepat di depan wanita itu.

​"Rekrutmen massal?" ulang Varian. Ada nada geli yang dingin dan meremehkan dalam suara terdistorsinya. "Viper, Viper... kau mengecewakanku. Kau masih berpikir dengan mentalitas ketua geng preman selokan."

​Viper tersentak, lututnya gemetar. "Maaf, Tuan? Tapi... jumlah pasukan itu penting untuk perang. Melawan Kerajaan Aethelgard yang memiliki puluhan ribu ksatria..."

​"Jumlah itu beban, Viper," potong Varian tajam. Dia mulai berjalan mengelilingi Viper, seperti predator mengitari mangsa yang bodoh.

​"Dengar baik-baik logikaku. Jika aku merekrut seribu bandit, apa yang terjadi? Pikirkan logistiknya. Aku harus memberi mereka makan. Aku harus memberi mereka tempat tidur. Aku harus melerai pertengkaran bodoh mereka soal pembagian emas jarahan. Mereka berisik. Mereka bau. Mereka tidak disiplin."

​Varian berhenti di belakang Viper, membisikkan kata-kata ke telinganya.

​"Dan yang paling penting: Rahasia. Manusia itu mulutnya bocor. Satu bandit mabuk di kedai minum dan membual tentang markas ini demi pamer atau demi wanita, maka besok pagi, seluruh armada Inkuisitor Gereja dan Royal Guard akan mengepung tempat ini. Apa kau mau istana indah ini diratakan dengan tanah hanya karena satu bawahan bodoh?"

​Viper menelan ludah kering. Keringat dingin (kiasan) mengucur di punggungnya. "T-Tidak, Tuan. Saya tidak memikirkan sampai ke sana."

​Varian berjalan kembali ke pagar balkon, merentangkan tangannya seolah memeluk kekosongan gua raksasa itu.

​"Aku tidak butuh sampah. Penjahat biasa, pembunuh bayaran murahan... mereka tidak punya loyalitas. Mereka bergabung karena takut atau serakah. Saat Kerajaan datang dengan pasukan besar, sampah-sampah itu akan lari ketakutan, atau lebih buruk... mereka akan memenggal kepalaku dari belakang demi mendapatkan pengampunan Raja."

​Varian menunjuk ke bawah, ke arah Loid yang baru saja menahan serangan api naga Shien dengan satu tangan kosong yang dialiri mana.

​"Lihat mereka," kata Varian, nada suaranya berubah menjadi bangga dan posesif.

​"Loid, seorang Grandmaster yang tak terkalahkan dalam teknik pedang dan strategi. Shien, seorang Dragonoid dengan potensi evolusi tak terbatas. Agna, Death Knight yang tak kenal lelah, tak kenal sakit, dan tak bisa mati. Satu dari mereka setara dengan satu divisi pasukan biasa. Itulah standar Void Sect."

​Varian berbalik menghadap Viper sepenuhnya. Aura ungunya menyala, membuat bayangan di ruangan itu memanjang mengerikan.

​"Void Sect bukan tempat penampungan sampah masyarakat. Kita adalah Lingkaran Elite. Kelompok kecil yang terdiri dari monster-monster terkuat, bencana berjalan yang bisa meruntuhkan kota sendirian. Efisiensi, Viper. Itu kuncinya. Aku lebih suka punya lima jenderal yang bisa membelah gunung daripada lima ribu prajurit yang mati kena satu bola api penyihir."

​Viper menjatuhkan diri, bersujud di lantai. "Saya mengerti, Tuan! Visi Tuan jauh melampaui pemikiran dangkal saya. Maafkan kebodohan hamba!"

​"Tidak apa-apa. Wajar kau berpikir begitu, itu insting lamamu," kata Varian, nadanya kembali tenang namun tetap otoriter. "Tapi ingat ini: Kita tidak butuh pengikut yang memuja kita. Kita butuh Ketakutan. Biarkan dunia menebak-nebak seberapa besar pasukan kita. Misteri adalah senjata yang lebih kuat daripada jumlah. Biarkan mereka berpikir kita ada di mana-mana, padahal kita hanya ada di sini."

​"Lalu, Tuan..." Viper bertanya dengan hati-hati tanpa mengangkat kepala. "Bagaimana dengan mereka yang mencoba mencari markas ini untuk bergabung? Beberapa dari mereka mungkin gigih mencari."

​Varian tertawa pelan di balik topengnya. Suara tawa itu tidak mengandung kehangatan, hanya kekejaman yang pragmatis.

​"Oh, itu mudah. Jadikan itu ujian seleksi alam. Pasang jebakan di Hutan Blackwood. Bunuh mereka semua yang mencoba masuk tanpa undangan. Jadikan mayat mereka peringatan di pintu masuk hutan."

​Varian mengepalkan tangannya. "Darah mereka akan menjadi pesan bagi dunia: Hanya kematian yang menanti di sini. Itu akan menyaring siapa yang benar-benar kuat dan siapa yang cuma cari mati."

​"Dimengerti, Tuanku Shadow Lord. Perintah akan dilaksanakan segera."

​Varian mengangguk. Dia melihat jam pasir di meja samping. Waktu 'bermain' sebagai Raja Iblis sudah habis untuk malam ini. Dia harus kembali ke peran lainnya sebelum matahari terbit.

​"Loid!" panggil Varian dari balkon, suaranya menggema.

​Di bawah, Loid dan Shien berhenti bertarung dan mendongak serentak.

​"Ya, Tuan?" jawab Loid dengan suara berat.

​"Jaga markas. Latih Shien sampai dia berhenti bergerak seperti kadal mabuk. Ajari dia cara membunuh, bukan cara bertarung. Aku harus pergi 'mengurus urusan di permukaan' untuk beberapa waktu."

​"Siap laksanakan," jawab Loid sambil membungkuk.

​Varian membuka portal bayangan di belakangnya. Dia melangkah mundur, menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan para monster elitnya menjaga takhtanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!