"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Vita muncul dari balik lorong dengan wajah prihatin.
Ia segera menahan tubuh Gladis yang tampak oleng, namun matanya mengikuti arah pandangan Gladis ke dalam ruangan Arkan.
"Dia Angela, Nyonya. Putri dari rekan bisnis orang tua Tuan Arkan. Dia wanita yang dari dulu sangat mencintai Kapten, dan orang tua mereka selalu menjodoh-jodohkan mereka sejak remaja."
Mendengar itu, Gladis merasakan sesak yang lebih hebat daripada saat ia tenggelam di laut.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang mulai basah oleh air mata.
Di dalam sana, Arkan dikelilingi oleh dunianya yang sesungguhnya dimana keluarga yang terpandang dan wanita yang sepadan dengannya.
"Apa artinya pengorbananku di pulau itu jika dibandingkan dengan mereka," batin Gladis pedih.
Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, Gladis mencabut jarum infus dari punggung tangannya sendiri.
Darah merembes keluar, namun ia tidak peduli dengan rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi.
"Nona Gladis! Apa yang Anda lakukan? Anda belum pulih!" seru Vita panik melihat darah di tangan Gladis.
"Aku ingin istirahat di kabin, Vita. Tolong jangan biarkan siapa pun menggangguku. Terutama mereka," jawab Gladis dengan suara datar yang bergetar.
Tanpa menoleh lagi ke arah ruangan Arkan, Gladis berjalan tertatih-tatih menyusuri lorong kapal.
Setiap langkah terasa sangat berat, bukan hanya karena luka di kakinya, tapi karena kenyataan pahit yang baru saja ia saksikan.
Sesampainya di kabin, ia mengunci pintu dari dalam dan merosot di balik pintu.
Di ruangan mewah yang sebelumnya menjadi saksi kemesraan mereka, Gladis menangis tanpa suara dan memeluk dirinya sendiri yang kini merasa sangat hampa.
Sementara itu di dalam ruang medis, Arkan yang masih lemas mencoba mendorong bahu Angela.
Matanya bergerak gelisah ke arah pintu, seolah merasakan keberadaan seseorang yang sangat ia rindukan.
"Di mana Gladis? Gerald! Di mana istriku?!"
Vita berlari kecil menuju ruang medis dengan wajah pucat.
Tangannya gemetar memegang selang infus Gladis yang masih menyisakan tetesan cairan di ujungnya.
"Tuan Arkan!" seru Vita tertahan saat melihat Arkan sudah mencoba menurunkan kakinya yang dibalut perban tebal dari ranjang.
"Nyonya Gladis, dia mencabut selang infusnya sendiri. Dia kembali ke kabin dan mengunci pintu dari dalam. Dia sepertinya sangat sedih saat melihat..."
Vita melirik ke arah Angela yang mengibaskan rambutnya.
Mendengar perkataan dari Vita, rahang Arkan mengeras.
Mata tajamnya beralih dari Vita ke arah pintu keluar.
Rasa sakit di kakinya seolah menghilang, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa akan kehilangan wanita yang telah bertaruh nyawa untuknya di pulau itu.
"Arkan, apa yang kau lakukan? Lihat kondisimu!" Angela menahan lengan Arkan, wajah cantiknya memelas.
"Biarkan saja gadis itu istirahat. Kamu harus memikirkan kesehatanmu dulu. Kamu hampir mati!"
"Lepaskan aku, Angela," desis Arkan dengan suara dingin yang menusuk.
Arkan menyambar sebuah tongkat penyangga yang ada di sudut ruangan.
Dengan susah payah dan menahan geraman kesakitan pada setiap langkahnya, ia mulai berjalan keluar.
Darah mulai merembes kembali di perban kakinya, namun ia tidak peduli.
"Arkan! Kembali ke ranjangmu!" teriak Ibunya dari belakang, namun Arkan terus melangkah dan tidak
Setiap hentakan tongkat di lantai lorong kapal terdengar seperti detak jantung yang memburu.
Arkan mengabaikan tatapan iba dan bingung dari para kru yang berpapasan dengannya.
Pikirannya hanya terisi oleh bayangan Gladis yang menangis sendirian.
Sampai di depan pintu kabin mereka, Arkan berhenti.
Ia mencoba memutar kenop pintu, namun terkunci rapat.
"Gladis* ini aku. Buka pintunya, Sayang," ucap Arkan dengan suaranya terdengar sangat lelah namun penuh permohonan.
Tidak ada jawaban dari dalam dan hanya suara isakan halus yang tertahan.
"Gladis, aku tahu kamu melihat tadi. Angela bukan siapa-siapa bagiku. Tolong, jangan hukum aku dengan mengunci diri seperti ini,"
Arkan menyandarkan keningnya di daun pintu, napasnya tersengal karena menahan nyeri di kakinya yang semakin menjadi.
Di balik pintu, Gladis duduk meringkuk, menutup mulutnya dengan tangan agar tangisnya tidak pecah lebih keras.
Ia merasa dunianya dan dunia Arkan terlalu jauh berbeda, dan kehadiran Angela serta orang tua Arkan adalah pengingat pahit akan hal itu.
"Pergilah, Arkan. Kembalilah pada keluargamu. Mereka lebih membutuhkanmu daripada aku," jawab Gladis dengan suara yang sangat pelan namun terdengar jelas oleh Arkan.
"Keluargaku adalah kamu, Gladis! Kamu yang terjun ke laut untukku! Kamu yang memanjat pohon dengan tangan berdarah-darah untuk menyelamatkanku!" seru Arkan dengan emosi yang meluap.
"Kalau kamu tidak buka pintu ini, aku akan berdiri di sini sampai kakiku membusuk!" ancam Arkan.
"Aku lelah dengan semuanya, Arkan! Aku akan menyusul mama dan papa. Aku tidak mau melihatmu lagi. Pergilah!!" teriak Gladis diselingi tangis histeris yang memilukan.
Mendengar kata-kata 'menyusul mama dan papa', jantung Arkan seakan berhenti berdetak.
Ia tahu betapa rapuhnya Gladis setelah semua trauma yang ia lalui, dan rasa bersalah kini menghantam Arkan lebih kuat daripada hantaman ombak semalam.
"Gladis! Jangan bicara seperti itu! Buka pintunya, Sayang!"
Arkan menggedor pintu kabin dengan tangan gemetar, sementara tangannya yang lain mencengkeram tongkat penyangga agar tidak jatuh.
"Aku suamimu, Gladis! Aku nakhodamu! Kamu tidak boleh pergi ke mana pun tanpaku!"
Di dalam kabin, Gladis menatap perban di tangan dan kakinya yang kini mulai memerah karena luka-lukanya terbuka kembali saat ia berlari tadi.
Ia merasa kecil dan merasa tidak pantas oleh situasi.
"Kamu punya Angela! Kamu punya orang tuamu! Kamu punya segalanya, Arkan! Sedangkan aku hanya pengganggu di hidupmu," isak Gladis sambil membenamkan wajah di lututnya.
Arkan mengerang, rasa sakit di kakinya sudah tak tertahankan hingga ia merosot jatuh dan duduk bersandar di depan pintu kabin.
Darah mulai mengalir membasahi lantai lorong dari balik perbannya yang lepas.
"Dengarkan aku, Gladis. Aku tidak peduli pada Angela. Aku tidak peduli pada restu siapa pun. Di pulau itu, saat aku hampir mati, hanya wajahmu yang aku lihat. Kamu adalah nyawaku sekarang. Jika kamu memilih untuk pergi menyusul orang tuamu, maka aku akan menjadi orang pertama yang akan ikut bersamamu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, bahkan di kematian sekalipun."
Keheningan menyelimuti lorong itu sejenak. Nafas Arkan mulai terengah-engah, wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah, namun ia tetap menempelkan telinganya di pintu, menunggu respon istrinya.
"Buka pintunya, Sayang. Kakiku berdarah lagi. Aku butuh perawatku, aku butuh istriku," rintih Arkan, kali ini dengan nada yang benar-benar rapuh.
Mendengar rintihan sakit Arkan, pertahanan Gladis goyah.
Rasa cintanya yang besar mengalahkan ego dan rasa sakit hatinya.
Dengan tangan gemetar, ia merangkak menuju pintu dan perlahan memutar kunci.
Ceklek!
Pintu terbuka sedikit, Gladis melihat Arkan terduduk lemas di lantai dengan wajah yang sangat pucat dan lantai yang mulai ternoda darah.
Begitu pintu terbuka, Gladis melihat Arkan yang terduduk lemas dengan darah yang merembes dari perbannya.
Rasa takut kehilangan kembali menyelimuti hatinya, melenyapkan amarahnya seketika.
Gladis langsung berlutut dan memeluk Arkan dengan erat.
"Arkan! Maafkan aku, maafkan aku," isak Gladis sambil berusaha menahan tubuh besar suaminya.
Namun, momen emosional itu terinterupsi oleh suara langkah kaki yang terburu-buru.
Angela datang dengan wajah merah padam, diikuti oleh beberapa perawat.
"Arkan! Apa yang kau lakukan di sini?! Lihat, kakimu berdarah lagi karena wanita ini!" teriak Angela dengan nada tinggi.
Ia mencoba menarik lengan Arkan secara paksa dari pelukan Gladis.
"Ayo kembali ke ruang medis! Kamu tidak seharusnya berada di sini bersama gadis pembawa sial ini!"
Gladis berdiri dengan cepat. Sebelum Angela sempat menarik Arkan lebih jauh, tangan Gladis melayang di udara.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Angela hingga wajah wanita itu tertoleh ke samping.
Suasana lorong seketika menjadi sunyi senyap. Angela memegang pipinya yang mulai memerah, matanya terbelalak tidak percaya.
"Jaga mulutmu, Angela!" desis Gladis dengan tatapan mata yang tajam dan penuh otoritas yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Dia suamiku. Aku yang mempertaruhkan nyawaku untuknya di laut, dan aku yang menyelamatkannya di pulau itu. Kamu tidak punya hak sedikit pun untuk menyentuhnya!"
Angela tertegun, kehilangan kata-kata melihat keberanian Gladis.
Tanpa mempedulikan Angela lagi, Gladis segera mengambil HT yang terjatuh di dekat tongkat Arkan.
"Dokter Sarah! Segera ke kabin Kapten! Kapten Arkan mengalami pendarahan hebat, cepat!" seru Gladis dengan suara tegas.
Gladis kemudian membantu Arkan berdiri, membiarkan suaminya bersandar sepenuhnya pada tubuhnya yang mungil namun kini terasa begitu kuat.
Ia membawa Arkan masuk ke dalam kabin dan menutup pintu tepat di depan wajah Angela yang masih membeku.
Di dalam kabin, Gladis membaringkan Arkan di tempat tidur dengan sangat hati-hati.
Sambil menunggu Dokter Sarah, ia mengambil handuk bersih untuk menekan luka Arkan agar pendarahannya berkurang.
Arkan menatap istrinya dengan senyum tipis, meski wajahnya pucat karena menahan sakit.
"Istriku, ternyata sangat galak," bisiknya menggoda.
Gladis menatap Arkan dengan mata yang masih basah, namun kali ini ada ketegasan di sana.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu atau menghinaku lagi, Arkan. Tidak lagi."
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget