NovelToon NovelToon
Affair With My Bos

Affair With My Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Lima

Dahlia dan Pak Adnan sudah tidur dalam satu kasur yang sama dengan posisi saling membelakangi setelah adegan Dahlia jatuh di atas pangkuan bosnya yang tidak terjadi apa-apa.

Mereka masih mau menaati batasan yang tidak ingin dilanggar salah satu dari mereka, terutama Dahlia. Dahlia tidak gila seperti suaminya, merusak pernikahan yang sudah lebih dulu dirusak suaminya.

Tidak ada yang benar-benar baik yang dirasakan Dahlia saat ini namun matanya sudah perih sehingga mudah baginya untuk tidur. Meninggalkan Pak Adnan yang masih terjaga.

Pak Adnan bergerak memiringkan tubuhnya menghadap punggung Dahlia. Dia menatap punggung itu lalu baru bisa tidur pulas.

Sekarang sudah pukul sembilan pagi kala Ryan tiba di rumah. Wajah tampannya begitu segar dan senyum tidak pudar dari wajahnya.

"Kamu dapat lotre, ya?."

"Lebih sekedar dari lotre, ma."

Semakin lebar saja senyumnya Ryan.

"Dahlia belum bangun, ma?."

"Dahlia nggak pulang."

"Hah? Nggak pulang?."

Ryan segera mengecek ponselnya, tidak ada pesan atau panggilan dari Dahlia.

"Coba aku telepon dulu."

Kemudian Ryan berjalan memasuki kamar sambil mencoba menghubungi nomor istrinya.

Tersambung namun tidak ada jawaban. Tidak pernah istrinya seperti ini dan ini baru kali pertama. Tidak ada kabar pula. Perasaan dan pikiran Ryan semakin campur aduk setelah tahu Dahlia tidak ada juga di rumah mamanya.

"Kamu di mana, sayang?."

Kembali Ryan menghubunginya dan tidak berselang lama Dahlia datang membuka pintu kamar.

"Sayang, kamu dari mana?. Kamu baik-baik aja 'kan?."

Langsung memegangi pundak Dahlia, menatap setiap jengkal tubuh istrinya yang tidak kurang satu apa pun juga.

"Semalam di mana? Kata mama kamu nggak pulang? Kamu tidur di mana? Kenapa nggak ada kabar ke aku?."

Tentu saja benar jika saat ini Ryan sangat mengkhawatirkan keadaan Dahlia. Dia memang sangat mencintai istrinya.

"Semalam aku basah kuyup kehujanan, aku terjebak macet dan banjir jadi aku putuskan menginap di hotel saja."

Dahlia langsung naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.

"Di hotel mana, sayang?. Sama siapa? Pakaian siapa yang sekarang kamu pakai, sayang?."

"Hotel mana lagi yang dekat dengan rumah, aku sendiri dan pakaian ini aku beli. Minta tolong sama pegawai hotel."

Dahlia menutup tubuh dengan selimut tebal.

"Pasti kamu sangat capek, ya?."

Dahlia mengangguk.

"Kamu tidur aja lagi, nanti aku keluar sebentar ketemu Arfan."

Kembali Dahlia mengangguk, terserah jika suaminya mau berkata jujur atau membohonginya lagi. Kemudian Dahlia memejamkan mata sambil membelakangi Ryan.

Dahlia bangun dan di kamar itu hanya dia seorang diri. Menatap foto pernikahannya yang dibingkai indah menggantung di hadapannya.

"Seharusnya kamu bilang kalau udah nggak mau sama aku, mas, aku bisa melepaskanmu. Tapi..."

Dahlia kembali berpikir, menarik ucapannya jika keadaan ini jauh lebih baik daripada jika suaminya mengatakan perpisahan. Mama dan kakaknya sudah menjadi janda, masa dia mau ikutan juga jadi janda.

Dahlia segera bangun, mencoba melupakan kepahitan dalam rumah tangganya. Dia langsung ke kamar mandi dan bersiap pergi.

"Baru juga pulang sekarang mau pergi lagi, Dahlia."

"Iya, ma, aku mau ke rumah mama. Minggu depan mama mau haji jadi mumpung aku libur aku mau ke rumah mama."

"Suamimu tahu kamu ke rumah mamamu?."

"Tahu, ma."

Lalu Dahlia pergi tanpa pamit karena dia pikir mamanya sudah tahu dia mau pergi ke mana.

Dahlia sudah di rumah mamanya, memberikan apa yang menjadi kekurangan mamanya untuk bekal selama di sana.

"Ryan nggak ikut, Lia?."

"Banyak kerjaan, ma,"

"Nggak ada masalah 'kan kalian?."

Dengan cepat Dahlia menggeleng sambil menjawab pertanyaan mamanya.

"Tentu saja nggak ada, lagi pula bukan cuma sekarang aja aku ke sini tanpa Ryan."

"Iya, cuma..."

"Mama tenang aja, aku dan Ryan baik-baik aja. Dan dia menitipkan uang ini untuk mama, buat jajan mama di sana."

Dahlia memberikan sejumlah uang ke tangan mamanya mengatasnamakan suaminya. Padahal tentu saja semua itu kebohongan, namun demi menyenangkan mamanya dia melakukan itu.

"Sampaikan terima kasih mama pada suamimu."

"Iya, mama."

Dahlia sangat bahagia bisa melihat senyum di wajah mamanya karena Ryan.

"Dan ini untuk keponakanku yang paling tampan."

Lalu kemudian Dahlia memberikan satu lembar uang pecahan seratus ribu.

"Makasih, tante Dahlia."

"Sama-sama, Bayu."

"Yang kurang apa lagi, ma?."

Kemudian Dahlia mengecek semuanya dan sudah sesuai daftar yang dibuat mamanya.

"Oke, karena semuanya sudah, sekarang waktunya kita makan."

Mereka keluar dari kamar dan langsung duduk di ruang keluarga di mana makanan yang dibawa Dahlia sudah ada di sana.

"Ini kesukaanmu, kak."

Menyerahkan bungkusan tongseng.

"Kamu masih ingat aja, dek."

"Sesekali aja, kak, boleh makannya."

"Iya, darahku nanti naik lagi. Berdua aja aku makannya sama mama."

"Aman, kak."

"Mama sedikit aja, kak."

"Iya, ma, buat besok aja lagi kalau nggak habis."

Kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apa pun yang dirasakan Dahlia saat ini saat bersama keluarganya walau tanpa sosok Papa karena sudah pergi meninggalkan mereka.

Mama menoleh saat ponsel Dahlia menyala.

"Dari Ryan, ya?."

"Iya, ma."

"Mama mau bicara, boleh?."

"Boleh banget, ma, bentar ya, ma?."

Dahlia lebih dulu yang bicara sama Ryan sebelum ponselnya diberikan pada mamanya.

"Ma."

"Kamu lagi sibuk, ya?."

"Iya, ma, tapi pekerjaanku udah selesai jadi aku bisa ke rumah mama sekalian jemput Dahlia."

"Mama senang kamu bisa ke sini, mama tunggu."

"Iya, ma, sebentar lagi aku sampai."

"Iya."

Mama mengembalikan ponselnya pada Dahlia dengan senyum lebar.

Ryan sudah berada bersama mereka, mama yang paling senang dengan keberadaan Ryan. Mama menghidangkan makanan kesukaan Ryan dan terus ngobrol bersama Ryan.

Waktu jua yang mengharuskan mereka berpisah, Ryan dan Dahlia pamit pulang dan mereka meninggalkan rumah mama.

"Untung mama bilang kalau kamu ke sini, kalau nggak aku nggak ke sini."

"Aku nggak mau aja mengangguk waktu kamu yang lagi di luar bersama Arfan."

"Untungnya lagi urusanku bersama Arfan udah selesai jadi bisa jemput kamu."

"Mau langsung pulang apa mau jalan-jalan dulu, sayang?."

"Pulang aja, aku capek."

"Padahal aku maunya kamu jawab mau jalan-jalan dulu. Tapi, ya, udah, kalau kamu capek kapan-kapan aja jalan-jalannya."

Dahlia tidak merespon karena dia melihat ponselnya yang menyala, sebuah pesan masuk dari Pak Adnan tapi Dahlia mengabaikannya. Dia tidak mau membuat masalah yang akan memperkeruh semuanya.

Setelah tiba di rumah baru Dahlia menjawab panggilan telepon Pak Adnan yang menghubunginya.

"Halo."

Dahlia langsung masuk ke kamar mandi.

"Kamu gimana?."

"Aku baik."

"Nggak demam?."

"Nggak, cuma pusing sedikit aja."

"Aku pijat, mau?."

Dahlia tersenyum.

"Nggak, makasih."

"Ya, udah, minum obat aja."

"Iya, lebih baik minum obat aja."

"Aku senang kamu baik-baik aja."

"Hmmm."

Dahlia menatap ponselnya, dia tidak mengira akan menjadi dekat dengan bosnya. Apa yang dikatakan Lusi tidak salah tapi dia harus tetap diam jangan sampai ada yang tahu.

1
Yanti Gunawan
gak adil banget buat dahlia😫😭😭
Siti Sarifah
keren
Siti Sarifah
ceritanya selalu bagus, gk pernah gagal untuk membuat pembaca ikut larut dlm emosi dr cerita
Linda Yohana
Bagus novelnya
Yanti Gunawan
mbok yo d banyakin thor thor jangan pelit" up😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!