Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pulang ke Pelukan Keluarga
Cahaya biru redup dari kolam air panas masih membekas di pakaian mereka yang lembap.
Di jalanan berbatu Kota Tanpa Nama yang sunyi, Jian Wuyou berjalan dengan langkah santai namun berwibawa. Di lengannya, ia menggendong Li Hua.
Li Hua, yang tadi sempat mencoba menjadi agresif, kini benar-benar telah kembali menjadi pemalu.
Wajahnya disembunyikan rapat-rapat di ceruk leher Jian Wuyou, jemari tangannya meremas jubah suaminya dengan erat.
Ia tidak berani mendongak karena telinganya masih terasa panas akibat rasa malu yang luar biasa atas kegagalannya tadi.
"Turunkan aku, Wuyou... ini memalukan jika ada yang melihat." bisik Li Hua dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru angin kelabu.
"Biarkan saja mereka melihat," jawab Jian Wuyou dengan nada santai yang jarang ia tunjukkan. "Biarlah para monster di kota ini tahu bahwa pria paling berbahaya di sini sedang melayani permaisurinya."
Begitu mereka mendekati rumah batu tua yang menjadi tempat bernaung, pintu kayu yang berat itu tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras.
"AYAH! IBU!"
Dua bayangan kecil melesat keluar. Jian An dan Jian Han ternyata sudah bangun sepenuhnya. Energi mereka mungkin belum pulih total, tapi semangat mereka untuk mencari orang tua mereka sudah meluap-luap.
Jian An berlari paling depan, matanya yang berwarna ungu berkilat saat melihat ayahnya menggendong ibunya. Ia mengerem langkahnya tepat di depan mereka, kepalanya dimiringkan dengan bingung.
"Ayah? Apakah Ibu terluka lagi? Kenapa kakinya tidak menyentuh tanah?" tanya Jian An dengan kepolosan anak berusia sebelas tahun yang belum mengerti "urusan orang dewasa".
Jian Han, yang biasanya lebih tenang, berhenti di samping adiknya. Ia menatap ayahnya yang terlihat jauh lebih segar, lalu menatap ibunya yang wajahnya merah padam seperti sedang demam tinggi.
"Ibu... wajahmu sangat merah. Apakah kau terkena racun kabut kelabu saat keluar tadi?" tanya Jian Han dengan nada cemas yang tulus.
Mendengar pertanyaan anak-anaknya, Li Hua merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
Ia meronta kecil di pelukan Jian Wuyou, memaksa suaminya untuk menurunkannya. Begitu kakinya menyentuh tanah, Li Hua langsung merapikan pakaiannya dengan gerakan canggung yang sangat cepat.
"I-Ibu tidak apa-apa! Benar-benar tidak apa-apa! Hanya... hanya udaranya sedikit panas tadi!" seru Li Hua sambil mengelak dari tatapan penasaran putra-putranya.
Jian Wuyou tertawa kecil, suara tawa yang dalam dan penuh kehangatan. Ia mengusap kepala Jian An dan Jian Han secara bersamaan. "Ibumu tidak sakit, anak-anak. Dia hanya baru saja memberikan 'pelajaran berharga' pada Ayah tentang keberanian."
"Pelajaran keberanian?" Jian An menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apakah Ibu melawan monster di luar sana? Kenapa Ayah tidak membiarkan aku ikut membantu?"
"An, Han, masuklah ke dalam," ucap Li Hua cepat-cepat sambil mendorong kedua punggung anaknya masuk ke rumah. "Mei Lian sudah menyiapkan bubur hangat. Kalian harus makan agar meridian kalian cepat pulih!"
Di dalam rumah, suasana menjadi sangat hangat. Mei Lian tersenyum penuh arti saat melihat rombongan itu masuk. Ia tahu betul apa yang terjadi, namun ia cukup bijaksana untuk tetap diam dan melanjutkan tugasnya menyiapkan makan malam.
Mereka duduk mengelilingi meja kayu besar. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip, Jian Wuyou menatap satu per satu wajah anggota keluarganya. Rasa lelah akibat bertarung melawan hukum langit seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa syukur.
"Ayah," Jian Han berbicara setelah menghabiskan buburnya. Tatapannya menjadi serius, sangat mirip dengan Jian Wuyou. "Kapan kita mulai latihan lagi? Aku tidak ingin menjadi beban saat orang-orang berbaju emas itu datang lagi."
Jian An ikut mengangguk, tangannya mengepal. "Aku juga, Ayah. Aku ingin bisa mengendalikan kekuatan ungu itu tanpa membuat Ibu menangis karena takut aku meledak."
Jian Wuyou terdiam sejenak. Ia meletakkan sumpitnya, aura di sekelilingnya berubah dari seorang suami yang santai menjadi seorang guru yang agung.
"Mulai besok fajar," ucap Jian Wuyou. "Kita tidak hanya akan berlatih teknik pedang. Aku akan mengajari kalian cara menyatukan jiwa kalian dengan alam. Jika kalian ingin menguasai ranah Jiwa Sejati di usia muda, kalian harus belajar bahwa kekuatan terbesar bukan berasal dari amarah, melainkan dari keinginan untuk melindungi."
Li Hua menggenggam tangan Jian Wuyou di bawah meja. Ia tahu, masa damai yang singkat ini akan segera berganti dengan latihan yang keras dan menyakitkan bagi anak-anaknya.
Namun, kali ini ia tidak akan takut. Ia akan berdiri di samping mereka, menjadi pelabuhan terakhir bagi suami dan anak-anaknya saat dunia kembali mencoba menghancurkan mereka.