NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Di Balik Wajah Tanpa Riasan

Pagi itu, drama kecil di kamar tidur mengenai tulisan "I Love You" baru saja mereda, meski belum tuntas sepenuhnya. Hannah masih mengurung diri di kamar mandi, menenangkan detak jantungnya yang kacau, sementara Akbar bersiap di kamarnya sendiri.

Jam dinding menunjukkan pukul 06.45 WIB. Waktu bergulir cepat. Akbar harus segera berangkat ke kantor untuk mengejar rapat pagi, namun ada satu dokumen penting dari vendor beton yang tertinggal di mobil operasional kantor kemarin.

Ting tong!

Bel rumah berbunyi nyaring, memecah kesunyian pagi.

Akbar, yang baru saja selesai mengenakan kemeja kerjanya dan sedang menyisir rambut, mengerutkan kening. Siapa yang bertamu sepagi ini?

Ia berjalan keluar kamar, melintasi ruang tamu, dan membuka pintu utama.

Di teras, berdiri Annisa.

Wanita itu tampak sangat profesional seperti biasa. Ia mengenakan setelan blazer berwarna beige yang dipadu dengan rok panjang senada dan jilbab cokelat tua yang rapi tanpa sehelai rambut pun keluar. Wajahnya sudah dipoles makeup lengkap alas bedak yang flawless, alis yang terbingkai sempurna, dan lipstik matte berwarna merah bata yang memberikan kesan tegas.

"Assalamualaikum, Pak Akbar," sapa Annisa sopan, meski ada sedikit kecanggungan di matanya. "Maaf mengganggu pagi-pagi. Saya mau antar berkas kontrak vendor yang Bapak minta kemarin. Kebetulan rumah saya lewat arah sini, jadi sekalian mampir daripada Bapak harus nunggu sampai kantor."

"Wa’alaikumsalam. Oh, iya. Terima kasih, Nis. Kamu inisiatif sekali," jawab Akbar lega. Berkas ini memang ia butuhkan segera. "Masuk dulu sebentar, saya cek kelengkapannya."

"Nggak usah, Pak. Di teras saja," tolak Annisa halus. Ia tahu batasan. Berkunjung ke rumah atasan yang sudah beristri di pagi buta bukanlah hal yang bijak.

"Sebentar saja. Nis. Saya cuma mau pastikan tanda tangannya lengkap," desak Akbar profesional. Ia membuka pintu lebar-lebar.

Akhirnya Annisa menurut. Ia melangkah masuk ke ruang tamu minimalis itu. Matanya menyapu sekeliling. Rumah ini terasa... hangat. Berbeda dengan rumah Annisa yang sepi. Di sini, ada aroma samar masakan (sisa Lasagna yang dipanaskan tadi) dan aroma pengharum ruangan yang lembut.

Annisa duduk di pinggir sofa tunggal, menjaga sikap tubuhnya tetap tegak. Akbar duduk di seberangnya, mulai membolak-balik berkas di map biru itu dengan serius.

Saat itulah, pintu kamar Hannah terbuka.

Hannah baru saja selesai mandi. Ia tidak tahu ada tamu. Ia pikir bel tadi adalah kurir paket atau tetangga.

Hannah melangkah keluar menuju ruang tengah dengan santai. Penampilannya sangat kontras dengan Annisa. Hannah mengenakan gamis rumahan berbahan katun jepang berwarna mint lembut dengan motif bunga-bunga kecil. Gamis itu terlihat sederhana, nyaman, dan jatuh pas di tubuh mungilnya.

Rambutnya yang masih basah tertutup oleh jilbab instan (bergo) rumahan berwarna abu muda. Karena baru keramas, aroma sampo stroberi dan sabun mandi bayi menguar kuat dari tubuhnya, menyebar ke seluruh ruangan, mengalahkan aroma parfum mahal yang dipakai Annisa.

Wajah Hannah polos. Tanpa bedak, tanpa lipstik, tanpa pensil alis.

Namun, justru di situlah letak kekuatannya.

Air wudhu dan mandi pagi membuat kulit wajah Hannah terlihat glowing alami, memancarkan rona merah muda yang sehat di pipi. Bibirnya yang basah terlihat merah alami. Matanya yang bulat dan bening tanpa lingkaran hitam yang ditutupi concealer terlihat begitu segar dan hidup.

Hannah sedang bersenandung pelan sambil mengeringkan sisa air di tangannya dengan tisu, ketika langkahnya terhenti mendadak di perbatasan ruang tengah dan ruang tamu.

Tiga pasang mata bertemu.

"Eh?" Hannah kaget. "Mbak Annisa?"

Annisa mendongak. Detik itu juga, kepercayaan diri yang dibangun Annisa selama satu jam di depan cermin pagi ini, runtuh seketika.

Annisa melihat Hannah. Ia melihat kemudaan yang meletup-letup. Ia melihat kesegaran yang tidak bisa dibeli dengan kosmetik semahal apapun. Hannah terlihat seperti embun pagi bening, murni, dan menyejukkan. Sementara Annisa tiba-tiba merasa seperti lukisan minyak yang tebal dan berat.

Annisa merasa... tua.

Perbedaan usia mereka mungkin tidak sampai sepuluh tahun, tapi pagi ini, jarak itu terasa seperti satu abad.

"Maaf, Mbak. Hannah nggak tahu ada tamu," ucap Hannah gugup, refleks merapikan jilbab instannya yang sedikit miring. Ia merasa malu karena tampil "gembel" di depan wanita karir yang stunning ini.

Namun, Hannah salah baca situasi. Annisa tidak melihatnya sebagai gembel. Annisa melihatnya sebagai pemenang.

"Pagi, Dek Hannah," sapa Annisa, suaranya terdengar sedikit serak. Ia memaksakan senyum. "Maaf saya ganggu pagi-pagi."

"Nggak apa-apa kok, Mbak," jawab Hannah ramah. Naluri tuan rumahnya muncul. "Mbak Annisa mau minum apa? Teh hangat? Atau kopi?"

"Nggak usah repot-repot..."

"Teh manis hangat saja, Dek. Kasihan Annisa kayaknya buru-buru tadi," potong Akbar santai tanpa mengalihkan pandangan dari berkas, namun nada bicaranya kepada Hannah terdengar sangat familier dan lembut. Berbeda sekali dengan nada bicaranya pada Annisa yang formal.

"Oke, sebentar ya," Hannah berbalik menuju dapur.

Annisa menatap punggung Hannah yang menjauh. Gamis katun itu melambai ringan. Annisa melihat betapa luwesnya Hannah bergerak di rumah ini. Ini wilayah kekuasaan Hannah.

Tak lama kemudian, Hannah kembali dengan nampan berisi dua cangkir teh. Ia meletakkannya di meja. Saat ia menunduk meletakkan cangkir, Annisa bisa melihat wajah Hannah dari jarak dekat. Pori-pori kulit yang halus, bulu mata yang lentik alami tanpa maskara.

Cantik sekali, batin Annisa mengakui dengan pedih. Pantas Pak Akbar jatuh cinta. Siapa laki-laki yang tidak mau pulang disambut wajah sebening ini?

Selama ini Annisa berpikir ia lebih baik dari Hannah karena ia pintar, mandiri, dan setara secara intelektual dengan Akbar. Tapi pagi ini, Annisa sadar bahwa laki-laki seperti Akbar yang dunianya sudah keras dan penuh tekanan mungkin tidak mencari partner debat di rumah. Ia mencari keteduhan. Dan Hannah adalah definisi keteduhan itu.

"Silakan diminum, Mbak," tawar Hannah sambil tersenyum tulus.

Senyum itu. Senyum tanpa beban. Senyum yang belum terkontaminasi oleh politik kantor atau kepahitan hidup.

"Terima kasih, Dek," Annisa meraih cangkir teh itu. Tangannya sedikit gemetar. Ia merasa insecure. Sangat insecure. Ia merasa makeup tebalnya pagi ini justru membuatnya terlihat palsu di hadapan keaslian Hannah.

"Berkasnya sudah oke, Nis," suara Akbar memecah lamunan Annisa. Akbar menutup map itu dan menyerahkannya kembali (atau menyimpannya).

Akbar kemudian menoleh pada Hannah. Tatapan Akbar berubah total. Dari tatapan bos yang kritis, menjadi tatapan suami yang memuja.

"Dek, kamu sudah sarapan Lasagna-nya lagi?" tanya Akbar.

"Belum, Mas. Nunggu Mas Akbar," jawab Hannah polos.

"Ya sudah, sana sarapan duluan. Nanti maag kamu kambuh. Mas selesaikan ini sebentar sama Annisa," perintah Akbar penuh perhatian. Tangan Akbar terulur sekilas, menyentuh lengan Hannah pelan. Sentuhan kecil yang intim.

Annisa memalingkan wajah. Ia tidak sanggup melihatnya.

"Saya... saya pamit dulu saja, Pak," Annisa tiba-tiba berdiri. Ia merasa sesak napas berada di ruangan itu lebih lama lagi.

"Lho? Tehnya belum habis, Mbak," cegah Hannah.

"Nggak apa-apa, Dek. Saya takut telat absen," dusta Annisa. Ia harus keluar dari sini sebelum air matanya merusak mascara-nya. "Permisi Pak Akbar, Dek Hannah. Assalamualaikum."

Tanpa menunggu jawaban panjang lebar, Annisa berjalan cepat keluar rumah, menuju mobilnya.

Di dalam mobil, Annisa menatap wajahnya di kaca spion. Ia melihat gurat lelah di balik bedaknya. Ia melihat wanita karier yang kesepian.

"Kalah," bisik Annisa pada pantulan dirinya. "Kamu kalah telak, Nis."

Sementara itu, di dalam rumah.

Hannah menutup pintu setelah Annisa pergi. Ia menghela napas lega.

"Mas..." Hannah menatap Akbar sambil memegang pipinya sendiri. "Hannah malu banget tadi."

"Kenapa malu?" tanya Akbar heran, sambil menyeruput teh buatan istrinya.

"Hannah kucel banget! Belum bedakan, masih pake baju tidur, bau apek..."

Akbar tertawa lepas. Ia berdiri, menghampiri Hannah.

"Kucel apanya?" Akbar mencondongkan wajahnya, mengendus puncak kepala Hannah yang tertutup jilbab instan. "Wangi begini kok. Bau stroberi. Segar."

"Ih, Mas Akbar!" Hannah mendorong dada suaminya pelan, pipinya merona merah lebih merah dari blush on manapun.

"Mas serius. Kamu itu cantik kalau habis mandi. Cantik natural," puji Akbar tulus. "Annisa mungkin rapi karena tuntutan kerja, tapi kamu... kamu cantik karena kamu Hannah."

Hati Hannah berdesir hebat. Pujian itu, ditambah kejadian barusan, sedikit demi sedikit mulai menambal lubang insecure-nya.

Hannah tidak menyadari bahwa pagi ini, tanpa perlu bersusah payah, ia telah memenangkan "perang dingin" yang bahkan tidak ia ketahui sedang terjadi. Ia menang hanya dengan menjadi dirinya sendiri: sederhana, tulus, dan apa adanya.

"Ya sudah, sana ganti baju. Katanya mau kuliah," suruh Akbar lembut.

"Iya, Mas."

Hannah berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah yang jauh lebih ringan. Bayangan Annisa yang sempurna tadi entah kenapa tidak lagi terlihat menakutkan. Mungkin karena tatapan Akbar tadi... tatapan yang meyakinkan Hannah bahwa di mata suaminya, ia adalah satu-satunya yang terlihat bersinar pagi ini.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!