NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BARA DENDAM DIBALIK JERUJI

Berita kematian Firman Syaputra memenuhi tajuk utama seluruh stasiun televisi nasional. Namun, yang jauh lebih menggemparkan publik adalah pengumuman mengenai suksesi kepemimpinan di FB Build. Nama Adam Ashraf mendadak menjadi pencarian teratas. Publik sempat bertanya-tanya mengapa bukan Ansel Aulian, sang putra mahkota, yang memegang kendali. Namun, setelah pihak pengacara memberikan klarifikasi sejarah perusahaan bahwa keluarga Bramasta adalah pilar utama pendiriannya opini publik berbalik mendukung keadilan sejarah tersebut.

Di sisi lain, di sebuah sel sempit yang pengap, mata Denis Subandi tertuju pada televisi kecil yang terpasang di sudut koridor penjara. Berita tentang pelantikan Adam dan duka keluarga Syaputra membuat rahangnya mengeras. Luka di hatinya masih basah; ayahnya, Subandi, baru saja meninggal dunia di dalam tahanan akibat serangan jantung karena tak kuasa menahan malu dan beban hukuman.

"Ayah mati karena mereka... dan sekarang mereka merayakan kemenangan di atas pampasan perang," desis Denis dengan suara parau.

Ia teringat kembali saat ia diizinkan menghadiri pemakaman ayahnya satu minggu lalu. Dengan tangan terborgol dan pengawalan ketat polisi, ia berdiri di depan nisan tanpa bisa menyentuh tanah pemakaman ayahnya dengan layak. Rasa hina itu kini bermutasi menjadi dendam yang pekat.

"Jon!" panggil Evan pada seorang narapidana yang merupakan kaki tangannya di luar. "Sampaikan pada orang-orang kita yang ada di luar. Temui Ansel Aulian. Anak itu sedang murka karena hartanya dirampas. Katakan padanya, aku punya cara untuk menghancurkan Adam dari dalam. Musuh dari musuhku adalah temanku." ujar Denis, dengan wajah yang sudah dipenuhi api dendam.

Permintaan Sang Ibu

Sementara itu, di kediaman besar keluarga Syaputra, suasana masih sunyi dan kelabu. Asnita duduk di ruang keluarga dengan tatapan kosong, tangannya terus menggenggam tasbih. Aurel dan Adam duduk di hadapannya, mencoba memberikan kekuatan.

"Adel, Adam... Mama mohon pada kalian," suara Asnita bergetar. "Tinggallah di sini untuk sementara. Mama tidak sanggup sendirian di rumah sebesar ini, apalagi melihat kelakuan Ansel yang semakin tidak terkendali."

Aurel melirik Adam, mencari persetujuan di mata suaminya. "Tapi Ma, apartemen kami dekat dengan kantor. Jika di sini, perjalanannya agak jauh."

"Tidak apa-apa, Adel," potong Adam lembut. Ia menggenggam tangan ibu mertuanya. "Kami akan tinggal di sini. Keamanan Mama dan ketenangan rumah ini lebih penting sekarang."

Asnita menangis haru. Ia menatap Adam dengan tatapan penuh harap. "Terima kasih, Adam. Sebenarnya... ada hal lain yang ingin Mama titipkan padamu. Ini soal Ansel."

"Ada apa dengan Ansel, Ma?" tanya Adam serius.

Asnita menghela napas panjang, mencoba menggali memori lama. "Dulu, Ansel adalah anak yang sangat pendiam dan penurut. Dia sangat sayang pada kakaknya. Tapi entah di mana letak salahnya, sepuluh tahun terakhir ini perangainya berubah total. Dia menjadi tamak, pemarah, dan seolah tidak mengenal kami lagi. Mama tidak tahu siapa yang mempengaruhinya selama dia di luar negeri."

Tugas Berat dari mertua.

Asnita memegang tangan Adam dengan erat, seolah menyandarkan seluruh harapannya pada pria yang tujuh tahun lebih muda dari putranya itu.

"Adam, Mama tahu umurmu baru amu memasuki dua puluh tiga tahun, sedangkan Ansel sudah hampir kepala tiga. Tapi Mama melihat kedewasaan di matamu yang tidak dimiliki anak Mama. Tolong Mama Adam, tolong kembalikan Ansel yang dulu. Mama tidak ingin kehilangan anak lagi setelah kepergian Papa," isak Asnita.

Adam terdiam sejenak. Ia menyadari beban ini sangat berat. Mengubah hati seseorang yang sudah tertutup kabut ketamakan bukanlah hal yang mudah, apalagi saat ini Ansel menganggap dirinya sebagai musuh bebuyutan.

"Mama jangan khawatir," ucap Adam dengan nada yang sangat tenang dan berwibawa. "Selama Adam masih di sini, saya akan berusaha merangkulnya. Jika kata-kata tidak bisa menyentuhnya, maka tindakan saya yang akan bicara. Ansel hanya sedang tersesat dalam ambisinya sendiri."

Aurel menatap suaminya dengan rasa kagum yang kian mendalam. "Bagaimana bisa pria semuda ini memiliki ketenangan seperti samudera?" batinnya. Ia merasa sangat beruntung, namun juga cemas akan keselamatan Adam.

Konfrontasi di Lorong Rumah

Malam itu, Adam sedang berkutik dengan laptopnya diruang Makan. Karena ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinda. Namun rasa haus menyerang ia pun beranjak menuju dapur untuk mengambil minum, ia berpapasan dengan Ansel yang baru saja pulang dengan bau alkohol yang menyengat. Ansel menyeringai sinis saat melihat Adam mengenakan pakaian rumah di kediaman Syaputra.

"Oh, lihatlah sang pahlawan kita. Sudah resmi pindah ke sini untuk menguasai setiap sudut rumah?" ejek Ansel sambil sempoyongan.

Adam tetap tenang, ia tidak terpancing sedikit pun. "Aku di sini karena permintaan Mamamu, Ansel. Beliau butuh dukungan, sesuatu yang seharusnya kamu berikan sebagai anak laki-laki."

Ansel tertawa keras, tawa yang terdengar hampa. "Jangan menceramahi Aku! Kamu itu cuma anak kecil yang kebetulan dapat warisan. Umurmu baru berapa, hah? Kamu bahkan belum tahu rasanya membangun kerajaan, dan sekarang kamu mau mengaturku?"bentak Ansel penuh kebencian terhadap Adam.

Adam melangkah maju, memperkecil jarak. Meski lebih muda, postur tubuh Adam yang tegap dan tatapannya yang tajam membuat Ansel sedikit terdesak.

"Umur memang tidak bisa dibeli, Ansel. Tapi kedewasaan dibentuk oleh ujian hidup. Kamu menghabiskan sepuluh tahunmu untuk bersenang-senang dengan uang Papa, sementara aku menghabiskan sepuluh tahunku untuk bertahan hidup dan membangun segalanya dari nol," ucap Adam dengan suara rendah namun menekan. "Aku tidak ingin mengaturmu. Aku hanya ingin kamu sadar, sebelum kamu kehilangan segalanya, termasuk ibumu."

Ansel mendengus, mencoba mendorong bahu Adam namun Adam tidak bergeming sedikit pun. "Kita lihat saja, nanti Adam. Siapa yang akan bertahan paling lama. Kamu pikir kamu sudah menang? Permainan baru saja dimulai."

Ansel masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Adam menghela napas panjang, merapalkan doa agar ia diberikan kesabaran ekstra. Di sudut gelap, ia tidak menyadari bahwa ponsel Ansel sedang bergetar, menampilkan pesan singkat dari nomor yang tak dikenal: "Temui aku di dermaga jam satu malam. Kita selesaikan urusan Adam."

1
sry rahayu
🥹
sry rahayu
kasian Arumi
sry rahayu
😄
sry rahayu
syukurlah
sry rahayu
good luck adam
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wah nih mulut belom pernah makan sambel setan level neraka ya..... enak sekali ngomong nya
sry rahayu
selalu nunggu up nya thor
Trie Vanny
Selalu hadir untuk mendukung karya kakakku ini👍👍👍🤭
Ramanda.: Terimakasih Adikku 😍😍. Aku selalu padamu muachh.😘😘
total 1 replies
sry rahayu
semangat 💪
Irni Yusnita
semua cerita yg kau buat selalu bagus dan menarik 👍 lanjut Thor 👍
Wandi Fajar Ekoprasetyo
Weh singkat sekali langsung terkuak kasus yg udh lama.......Hem..... kira² ada balas dendam apa lagi nih dr keluarga Denis
Wandi Fajar Ekoprasetyo
semangat kak othor.....d tunggu up nya
Wandi Fajar Ekoprasetyo
mulai goyah pertahan Aurel
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wajah tenang penuh dendam
Ai Sri Kurniatu Kurnia
hadir
Lia siti marlia
hadir thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!