NovelToon NovelToon
Music Scandal (Despina & Keyvandi)

Music Scandal (Despina & Keyvandi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Nevera

Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.

Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.

Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.

Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Mobil yang digunakan Keyvandi untuk mengantarkan Despina ke sekolah itu berhenti tepat di dekat gerbang sekolah Abdi Bangsa.

"Sayang, semangat ujiannya, agar kau segera lulus dan aku segera menikahimu."

Despina yang mendengar ucapan Keyvandi itu reflek mencubit lengan lelaki itu, sehingga membuat Keyvandi meringis pelan.

"Rasakan, emangnya enak, aku ini kan masih kecil kak."

Keyvandi mengusap bekas cubitan dari sang kekasih itu ya g terasa pedas di kulitnya. "Sayang, kau ini tega sekali, padahal kan memang benar, aku akan menikahimu setelah kau lulus SMA nanti,.aku tidak ingin lagi jauh darimu Despina, kau harus selalu ada di sampingku, dan satu-satunya cara dengan kita menikah sayang."

Despuna mengjela napasnya lelah, ia kemudian mengulurkan tangan kanannya pada Keyvandi. Namun sepertinya lelaki yang merupakan kekasih Despina itu belum mengerti, sehingga ia mengerutkan keningnya bingung. Karena Despina geram, akhirnya ia mengambil tangan kanan keyvandi lalu mencium tangan lelaki itu sebagai tanda bersalaman. Setelahnya, tanpa aba-aba Despina turun dari mobil lelaki itu dan masuk ke dalam sekolah.

Di dalam mobil, Keyvandi masih terdiam, tubuhnya kaku, lidahnya seperti Kelu, ia masih mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Sampai akhirnya lelaki itu menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar, ia mencium tangannya yang menjadi bekas Despina tadi.

"Ah, kenapa dia jadi so sweet," pikir Keyvandi, lelaki itu kemudian langsung melajukan mobilnya meninggalkan daerah Sekolah Abdi Bangsa itu.

Sedangkan Despina, gadis itu berulang kali mengetuk kepalanya, ia bingung kenapa bisa-bisanyarlakukan hal seperti itu kepada Keyvandi. "Aish, malu sekali, kenapa aku melakukan hal seperti itu tadi, pasti dia kesenangan."

Bruk

"Aww, mata lo dimana heh!?"

Seorang gadis dengan bandi berwarna biru di rambutnya itu menabrak Daisy dan memarahi gadis itu. Despina membelalakkan matany, begitu juga gadis tadi. Sampai akhirnya sebuah pelukan secara tiba-tiba menyerang Despina.

"Huaa, kau kemana saja, kenapa sudah lama tidak pernah masuk sekolah."

Daisy mengelus punggung orang yang memelukkanya itu pelan, ia berusaha menenangkan gadis yang memeluknya itu agar tidak bersedih dan menangis lagi.

"Tenanglah Delion, aku baik-baik saja, hanya kemarin ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan, jadi kau tidak perlu khawatir."

Dandelion, gadis yang tak lain adalah sahabat baik Despina itu mencubit kedua pipi tembam Despina, gadis itu memelototkanatanya pada Despina. "Enak banget ya ngomongnya, aku sangat frustasi memikirkanmu, kau bahkan sama sekali tidak pernah mengangkat teleponku, bagaimana tidak aku mengkhawatirkanmu Despina, kau tau, aku pikir kau sedang sakit, atau kau sudah meninggal karena tidak pernah ada kabar. Bahkan ketika aku datang ke rumahmu itu, satpam di rumahmu melarangku menemuimu, bagaimana aku tidak khawatir."

Despina tersenyum, kemudian ia kembali memeluk Dandelion yang sedang memarahinya. "Aku menyayangimu Delion, jamgn marah-marah ya, nanti kau cepat tua."

Dandelion memutar bola matanya malas, kemudian gadis itu langsung saja membawa Despina masuk ke dalam kelasnya. Di sepanjang koridor sekolah, tampak ramai sekali siswa dan juga siswi yang berlalu lalang, tidak sedikit dari mereka bahkan menatap Despina dan Dandelion secara terang-terangan, ada yang mencibir ada pula yang memuja kecantikan keduanya terutama kaum Adam.

"Despina!"

Seorang lelaki dengan seragam yang sama dengan Despina itu menghampiri kedua gadis itu. Despina maupun Dandelion menghentikan langkah mereka, "Kak, ada apa?"

Lelaki itu tersenyum, lalu memberikan sebuah buku lada Despina. Despina yang terlihat tidak mengerti itu mengerutkan keningnya, "Ini apa kak?"

Dandelion yamgada di samping gadis itu menghela napasnya kasar, sahabatnya ini memang bego atau bagaimana sih, ia sendiri bingung, akhirnya Dandelion mengambil benda yang diulurkan oleh lelaki tadi tanpa menunggu Despina.

"Des, ini namanya buku, masa nggak tau, buku ini untukmu, dari kak Kenzo, diambil ya, huh."

Kenzo, lelaki yang merupakan seorang kapten basket itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tersenyum. "Iya, apa yang dikatakan sahabatmu ini benar Des, itu adalah buku dan buku itu untukmu."

"Tapikan aku tidak sedang ulang tahun kak, kenapa harus dikasi buku?"

Dandelion yang ada di sebelah Despina lagi dan lahu menghela napasnya kasar, "Heran, punya sahabat lola banget, tapi pinter, gimana sih," Gumam Dandelion pelan, ia kesal dan gemeaz dengan sahabatnya itu.

"Tidak apa-apa Des, aku hanya ingin memberikannya padamu, aku dengar kau adalah seorang penulis dan juga kau sangat suka membaca novel, maka dari itu aku memberikan hadiah ini padamu barangkali kau sangat senang."

Despina mengangganggukkan kepalanya mengerti, "Oh, baiklah, aku akan menerimanya, terimakasih ya kak, padahal tidak perlu, ini adalah hal yang merepotkan untuk kakak."

Kenzo mengulurkan tangannya ke atas kepala Despina dan mengacak rambut ikal gadis manis itu. "Tidak apa, aku menyukai senyumanmu, jika kau tersenyum seperti itu sangat cantik Despina."

Despina yang di perlakukan seperti ini tersneyum tipis, tapi sebenarnya dalam dirinya merasa tidak nyaman.

"DESPINA!" Panggilan dari seseorang itu membuat Despina terkejut. Bukan hanya Despina, tapi hampir semua orang yang ada di koridor sekolah dan juga Dandelion serta Kenzo yang juga bingung. Seorang gadis berjalan menuju ke arah Despina berdiri. Gadis dengan rambut berhighlight berwarna coklat dan abu-abu itu terlihat begitu mempesona. Rok 5 CM di atas lutut, baju seragam yang pas di badan, jangan lupakan dasinya yang tidak rapi, serta kedua sisi lengan baju gadis itu di lipat, bukan hanya itu saja, sepatu dan tas yang di kenakan gadis itu adalah sepatu dan tas branded keluaran terbaru, membuat siapa saja yang melihat pasti sudah bisa menebak jika gadis itu bukanlah gadis sembarangan.

"Kak Runa?" Gumam Despina.

Ya, gadis tadi adalah Aruna, ternyata apa yang Aruna katakan kemarin bukanlah lelucon biasa, gadis itu benar-benar melakukan apa yang ia rencanakan, Aruna, masuk menjadi seorang siswi di Abdi Bangsa hanya demi menemani Despina.

"Hai Despina."

"Kok kakak disini?" Tanya Despina, gadis itu bukannya menjawab sapaan dari Aruna, justru ia memberikan pertanyaan balik kepada Aruna.

Aruna tersenyum tenang mendengar pertanyaan dari kekasih Keyvandi itu. "Iya dong, aku pindah sekolah kemari karena ingin bersamamu." Aruna menatap Despina dengan senyuman lebarnya dan memaik turunkan alisnya.

Despina menghela napasnya lelah, ia memang dikelilingi orang-orang ajaib, kadis sepertinya memang harus kuat mental.

"Emb, apa ini teman-temanmu Des?" Tanya Aruna, gadis itu memandangi Dandelion dan juga Kenzo bergantian.

Depsina menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban dari pertanyaan Aruna.

"Halo, perkenalkan aku Aruna Faradisya Nuraga." Aruna yang tersenyum lebar itu mengulurkan tangannya pada Dandelion.

Dandelion tersenyum, "Halo Aruna, emb, Aku Dandelion panggil saja seperti itu, aku sahabat Despina dari masih kecil."

Aruna menganggukkan kepalanya, dalam hati ia bersyukur karena ternyata Despina memiliki sahabat di sekolah ini, jadi selama ini Despina masih ada yang menemani.

"Kalau dia siapa?"

"Oh, ini adalah kak Kenzo, dia adalah calon pac---"

Sebelum Dandelion menyelesaikan ucapannya Despina lebih dulu membekap mulut sahabat bar-barnya itu. Aruna yang melihat tingkah Despina dan juga Dandelion itu mengerutkan keningnya heran. Kenzo yang mengerti pun kini mengulurkan tangannya pada Aruna, "Aku Kenzo, panggil saja begitu, aku adalah teman Despina, dan mungkin suatu saat akan menjadi pacarnya."

Aruna mengangganggukkan kepalanya mengerti, "Kalian semua seangkatan ya?" Tanya Aruna lagi, gadis itu memang cerewet, ia sangat suka berbicara, jadi apapun yang ingin ia ketahui pasti ia tanyakan.

Ketiganya kompak mengangguk, "Ya, kita sekelas, tapi emmang Despina yang paling muda seangkatan, maka dari itu ia suka manggil orang lai dengan sebutan kak."

Aruna mengerti sekarang, "Baiklah, emb, Despina, bisa antarkan aku ke ruang Kepala sekolah?"

Despina tampak melihat kearah Dandelion, ternyata gadis itu menganggukkan kepalanya, "Yaudah, kau antarkan saja Aruna, aku akan ke kelas, karena jika kita berdua pergi bersama mengantarkan Aruna, maka kita akan sama-sama terlambat."

Akhirnya Despina setuju dengan yang dikatakan Dandelion, gadis itu langsung mengantarkan Aruna menuju ruang kepala sekolah. Tidak lama kemudian, bel masuk berbunyi, siswa dan siswi abdi bangsa masuk ke kelas mereka masing-masing, sedangkan Despina dan juga Aruna masih di luar, menuju ruangan kepala sekolah.

"Kak, ini udah sampai," ucap Despina, gadisnutu dan juga Aruna berhenti tepat di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ruang kepala sekolah.

"Kalau begitu aku masuk terlebih dahulu, tunggu ya."

Despina mengangganggukkan kepalanya saja, kemudian gadis itu duduk di jejeran kursi depan ruang kepala sekolah itu.

"Heh, jalang!"

.

.

.

TBC

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!