Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 Bertemu
3 Tahun Kemudian
Aluna duduk di meja makan sembari fokus pada laptopnya, sebentar sebentar tangannya mengambil makanan dan matanya tetap fokus pada laptop tersebut.
"Aluna mending makan dulu nanti kalau sudah selesai baru lihat laptop kembali," ucap Melly temannya yang mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Ini tanggung Melly, aku sudah mengirim semua lamaran kerja ke perusahaan Antam. Aku berharap langsung dapat balasan saat ini juga," jawabnya.
"Kamu nggak ada capek-capeknya memasukkan lamaran pekerjaan?" tanya Melly.
"Apa yang membuatku harus lelah. Hidup butuh makan dan bukankah aku harus mencari pekerjaan yang tetap agar tetap melanjutkan hidup," jawabnya.
"Kamu memiliki orang tua yang kaya raya. Apa salahnya kamu bekerja di sana, mungkin salah satu pabrik orang tua," ucap Melly.
"Kamu jangan mengejek ku, semenjak mempermalukan orang tuaku 3 tahun lalu dan saat itu. Abi juga sudah tidak menganggapku sebagai anak. Mereka benar-benar kecewa kepadaku dan ini adalah resiko dari perbuatanku," ucap Aluna menerima takdirnya.
"Lalu kamu tidak merindukan kedua orang tuamu?" tanya Melly.
"Sudah pasti. Tetapi mendengar kabarnya dari kak Jiya. Bahwa Umi sudah baik-baik saja membuatku jauh lebih lega," jawab Aluna dengan mata berkaca-kaca ketika mengingat kedua orang tuanya.
..."Sampaikan pada anak itu, haram hukumnya dia menginjakkan kaki di rumah ini, anak durhaka yang telah mempermalukan orang tua!" Aluna kembali mengingat panggilan telepon melalui kakaknya di mana sang Abi benar-benar murka kepadanya....
Perkataan itu masih dia ingat sampai saat ini, masih terasa begitu sangat sakit dan tidak mudah bagi Aluna datang ke rumahnya meminta maaf karena orang tuanya saat ini masih kecewa kepadanya.
"Jadi kamu hanya berhubungan dengan kakakmu saja?" tanya Melly membuat Aluna menganggukkan kepala.
Dratt-drattt-drattt.
Ponselnya tiba-tiba saja berdering. Aluna dengan cepat mengangkat telepon tersebut.
"Hallo Assalamualaikum!" sapa Aluna.
"Benar ini. Kiara Aluna Zayana?" tanya seorang wanita dalam panggilan telepon tersebut.
"Benar saya sendiri," jawabnya.
"Saya Tiara dari Perusahaan Antam. Saya baru saja melihat lamaran pekerjaan kamu, jadi besok bisa datang ke perusahaan untuk melanjutkan interview, siapa tahu saja kamu beruntung dan bisa lulus interview," ucap wanita tersebut membuat Aluna benar-benar kaget dengan mata melotot.
"Benarkah?" tanyanya dengan suara keras dan bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.
Melly yang meneguk air putih menjadi tersedak karena kelakuan temannya itu.
"Baiklah! Saya besok pagi akan datang dan tidak terlambat sedikitpun," ucap Aluna begitu semangat.
"Alhamdulillah!" Aluna tampak kegirangan dengan melompat-lompat ketika telepon tersebut sudah mati.
"Aluna ada apa? kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Melly.
"Melly, aku besok akan dipanggil ke perusahan Antam untuk interview," jawabnya terdengar begitu excited dan bahkan membuat teman yang kaget.
"Sungguh!" tanyanya tidak percaya membuat Aluna menganggukkan kepala.
"Alhamdulillah!" Melly jika terlihat begitu bahagia dan kedua wanita itu langsung berpelukan.
"Semoga saja besok segala sesuatu di permudahkan dan kamu bisa lulus dengan cepat," ucap Melly. Aluna menjawab dengan amin secepatnya.
*******
Perusahaan Antam.
Aluna duduk bergabung dengan teman-teman yang akan mengikuti interview bersama dengannya.
Perusahaan besar itu memang sedang mencari beberapa karyawan, tetapi yang melamar ke perusahaan itu cukup banyak membuat Aluna semakin deg-degan.
Bagaimana tidak dia akan bersaing dengan orang-orang yang pasti memiliki standar jauh lebih tinggi di atasnya.
Aluna hanya modal percaya diri dan datang dengan penuh semangat dan juga penampilan yang sopan. Menggunakan beleazer berwarna hitam berbahan Korea dipadukan dengan rok putih di atas mata kakinya.
Aluna berpenampilan anggun dan sopan untuk mengikuti interview dengan penuh harapan bisa lolos ke tahap selanjutnya dan menjadi karyawan tetap di perusahaan itu.
"Bismillah ya Allah..." batin Aluna sejak tadi tidak lupa mengucapkan kata bismillah untuk mengawali segala sesuatu yang dia mulai.
"Selanjutnya Aluna Keira Zayana!" Aluna tersentak kaget saat namanya dipanggil.
"Saya!" sahut Aluna langsung berdiri dan jantungnya berdebar semakin kencang.
"Mari silahkan!" karyawan tersebut mempersilahkan masuk membuat Aluna menganggukan kepala dengan beberapa kali menarik nafas dan membuang perlahan ke depan.
Aluna akhirnya memasuki ruang interview membuat jantungnya semakin berdebar begitu kencang seolah-olah ingin jatuh.
Di dalam ruangan itu terdapat dua wanita dan 1 pria yang duduk di tengah terlihat fokus pada tabletnya dengan jari-jarinya sejak tadi bergerak pada tablet itu.
"Silahkan duduk!" titah salah satu wanita menjadi petugas interview.
Suaranya dengar sangat menakutkan membuat Aluna kehilangan kepercayaan dirinya.
"Perkenalan diri kamu dengan lengkap!" titah wanita tersebut membuat Aluna menganggukkan kepala.
"Perkenalan nama saya Aluna Keira Zayana, saya berusia 23 tahun dan lulusan universitas Jakarta dalam bidang bisnis manajemen," ucapnya terdengar begitu gemetar saat memperkenalkan diri secara singkat.
Perlahan kepala pria yang sejak tadi fokus pada tabletnya mengangkat. Pria tampan dan gagah itu tak lain adalah Ravindra. Matanya langsung tertuju pada wanita yang berdiri tepat di depannya.
"Saya melihat cv kamu. Kamu memiliki pengalaman bekerja di perusahaan swasta di Singapura selama 1 tahun lebih, kamu juga pernah bekerja di bagian tekstil kurang lebih 8 bulan," wanita yang satunya membuka-buka dokumen yang sudah disiapkan karyawannya sebagai bahan untuk mempertimbangkan melamar kerja di depannya itu.
"Benar," jawab Aluna.
"Kenapa kamu harus pindah bekerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain? Apa yang membuat kamu tidak cocok dengan perusahaan tersebut?" tanya wanita itu.
Aluna mencoba menjelaskan dengan tenang mungkin membuat mereka mengganggu-anggukkan kepala.
"Apa bisa kamu lakukan untuk membuat saya yakin jika kamu mampu berada di perusahaan saya?" tanya Ravindra untuk pertama kali mengeluarkan suaranya ketika dua rekannya sejak tadi sudah mengajukan banyak pertanyaan.
"Saya memiliki kemampuan yang tidak bisa saya sebutkan, saya tidak bisa menjanjikan pekerjaan apapun itu. Tetapi insyallah saya tidak akan mengecewakan perusahaan ini. Saya memiliki prinsip jika sudah mencintai suatu pekerjaan maka akan terus mencintainya," jawab Aluna secara singkat.
Ravindra hanya menanggapi dengan mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya Allah, apa jawabanku sudah tepat, kenapa reaksi mereka seperti itu?" batin Aluna tidak bisa menduga-duga tentang posisinya saat ini.
****
Ketika menjalankan interview cukup lama dengan bertaruh nyawa dan sudah pasti keputusannya akan diberitahu beberapa hari lagi.
Aluna mampir sebentar ke Mall, untuk menenangkan diri, sejak tadi dia begitu sangat tegang, melihat tiga orang yang meng interviewnya membuat jantungnya berdebar begitu kencang.
Aluna butuh refreshing paling tidak untuk makan sebentar. Dengan langkahnya yang anggun sembari memegang botol minuman, kepalanya berkeliling melihat sesuatu yang ingin dia kunjungi.
Langkah Aluna tiba-tiba saja terhenti ketika melihat lurus di depannya. Wajahnya tampak berkerut memastikan wanita dan pria yang tampak berjalan romantis kurang lebih beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Wanita dan pria itu tak lain adalah Jiya. Jiya tampak romantis menggandeng Firman. Jiya seperti biasa penampilannya begitu anggun menggunakan hijabnya dan juga pakaian yang sopan.
Keduanya tampak tersenyum seolah-olah pasangan begitu sangat dekat. Ketika jarak kedua orang tersebut semakin dekat mengarah pada Aluna dan membuat keduanya menghentikan langkah ketika menyadari ada seseorang wanita yang menghalangi jalan mereka dan membuat keduanya kaget.
Bersambung.....