NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 : Retakan Kaca di Atas Luka

"Lihatlah kalian sekarang," bisik Isabel, jemarinya menyentuh permukaan dingin dinding sel yang berlumut. "Satu berada di rumah sakit dengan jiwa yang hancur, satu di ambang kehancuran reputasi, dan satu lagi sedang membakar dirinya sendiri demi dendam yang sia-sia."

Lampu neon di langit-langit penjara berkedip menyedihkan, menimbulkan suara dengung yang konsisten di dalam sel Isabel yang sempit. Namun, bagi Isabel, suara itu terdengar seperti musik termanis yang pernah ia dengar. Ia duduk di atas ranjang besinya, menatap televisi kecil yang diletakkan di luar sel dengan mata yang berbinar penuh kepuasan.

Ia tertawa kecil—suara tawa yang hampa namun tajam—saat melihat wajah Alicia di layar televisi. Wajah yang biasanya angkuh, yang selalu menatapnya dengan pandangan merendahkan, kini tampak hancur oleh pengkhianatan. Isabel tahu bahwa Santiago, meski sudah gila, telah memberikan pukulan yang lebih mematikan daripada peluru mana pun. Rahasia Ibiza bukan sekadar skandal bisnis; itu adalah racun yang akan membusukkan hubungan Alicia dan Rafael dari dalam.

"Kau pikir kau bisa memiliki semuanya, Alicia? Kau pikir kau bisa merebut takhtaku dan hidup bahagia dengan monster Montenegro itu?" gumam Isabel sinis. "Kau tidak akan pernah memiliki kedamaian selama bayang-bayang masa lalumu masih bernapas. Aku mungkin di sini, membusuk, tapi aku adalah pemenang yang sesungguhnya. Aku melihat kalian saling mencabik dari kejauhan."

Isabel menyandarkan kepalanya ke dinding, membayangkan wajah Rafael yang terluka dan wajah Alicia yang ketakutan. Baginya, ini adalah hiburan terbaik yang bisa diberikan dunia setelah semua yang mereka lakukan padanya.

...****************...

Di sebuah rumah aman yang pengap di pinggiran kota, aroma antiseptik dan besi darah memenuhi udara. Rafael duduk di tepi tempat tidur, perbannya sudah basah oleh warna merah yang baru. Namun, rasa perih di perutnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya saat melihat Alicia sedang mengemasi tas kecilnya dengan gerakan yang kaku dan mekanis.

"Kau mau pergi ke mana, Alicia?" suara Rafael berat, tertahan oleh emosi yang hampir pecah.

Alicia tidak menjawab. Ia terus melipat kemeja hitamnya dengan tangan yang gemetar.

"Alicia! Jawab aku!" raung Rafael, ia mencoba berdiri namun ringisan kesakitan menghentikannya. "Setelah semua yang terjadi di kantor jaksa... setelah aku hampir mati melindungimu, kau ingin pergi begitu saja?"

Alicia akhirnya berhenti. Ia berbalik, menatap Rafael dengan mata yang bengkak karena tangis namun sedingin es. "Aku harus pergi, Rafael. Ke sebuah tempat yang tidak akan pernah kau temukan. Aku harus mencari bukti bahwa Santiago memalsukan dokumen Ibiza itu. Aku harus membersihkan namaku dari lumpur yang kalian ciptakan!"

"Kalian?" Rafael tertawa pahit, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Kau mengelompokkan aku dengan pria gila itu? Aku mempertaruhkan nyawaku untukmu, Alicia!"

"Tapi kau menyembunyikan skandal itu dariku!" teriak Alicia, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang pucat. "Kau membiarkan aku menjadi wajah dari sebuah proyek yang ternyata dibangun di atas air mata nelayan miskin! Kau tahu Santiago sedang memasang jebakan, tapi kau memilih diam agar proyek itu tetap berjalan. Kau sama saja dengan ayahmu, Rafael. Kau hanya mencintai kekuasaan, bukan aku!"

Rafael terpaku. Kata-kata itu lebih tajam daripada peluru yang bersarang di perutnya. Ia melangkah tertatih, mencoba meraih tangan Alicia, namun wanita itu menghindar seolah-olah Rafael adalah wabah.

"Jangan sentuh aku," bisik Alicia. "Setiap kali kau menyentuhku, aku merasa sedang disentuh oleh kebohongan!"

"Kau pergi bukan untuk mencari bukti, Alicia," tuduh Rafael, matanya kini berkilat penuh kecurigaan yang beracun. "Kau pergi karena kau ingin menemuinya, kan? Kau ingin menemui Santiago secara rahasia. Kau masih merasa memilikinya. Kau masih memiliki sisa-sisa kesetiaan pada pria yang pernah menjadi suamimu!"

"Apa kau bilang?" Alicia menatap Rafael dengan tidak percaya. "Apa maksud perkataanmu itu?"

"Kau mendengarku!" raung Rafael, rasa cemburu dan luka bercampur menjadi satu. "Kau masih mencintainya! Di dalam lubuk hatimu yang paling dalam, kau lebih memercayai drama gila Santiago daripada kejujuranku. Kau ingin lari ke masa lalumu karena kau tidak punya keberanian untuk menghadapi masa depan bersamaku di pengadilan besok!"

PLAK!

Suara tamparan Alicia bergema di ruangan yang sunyi itu. Alicia berdiri dengan tubuh gemetar hebat. "Kau benar-benar monster, Rafael. Kau pikir setelah hampir mati dilalap api karena ulah Santiago, aku masih punya perasaan padanya? Aku pergi karena aku butuh menjauh darimu! Aku butuh udara yang tidak berbau Montenegro!"

Alicia menyambar tasnya, berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi.

"Jika kau melangkah keluar dari pintu itu, Alicia... jangan pernah kembali," ancam Rafael dengan suara yang parau. "Besok aku akan menghadapi ayahku sendirian di pengadilan. Jika kau tidak ada di sana, maka bagiku, kau adalah bagian dari pengkhianat itu."

Alicia berhenti di ambang pintu. "Keadilan tidak butuh penonton, Rafael. Dan cintamu... cintamu hanyalah sebuah penjara emas lainnya. Selamat tinggal."

BRAKK!

Pintu tertutup keras. Rafael jatuh terduduk di lantai, meremas rambutnya sendiri. Ia berteriak dalam sunyi, meratapi kehancuran kepercayaan yang baru saja ia bangun dengan darahnya sendiri.

Sementara itu, Alicia memacu mobilnya menembus kegelapan malam. Ia tidak memberi tahu siapa pun—bahkan ayahnya atau tim keamanannya—ke mana ia pergi. Tujuannya adalah sebuah vila tua yang terbengkalai di pesisir utara, tempat yang pernah menjadi "kantor bayangan" Santiago di awal pernikahan mereka.

Hujan mulai turun, membasahi kaca depan mobil seolah-olah langit ikut menangis bersamanya. Alicia merasa sesak. Ia merasa dikelilingi oleh pria-pria yang ingin mengendalikannya. Santiago dengan kegilaannya, Rafael dengan dominasinya, dan Hector dengan kekejamannya.

"Aku bukan pion kalian," bisik Alicia pada dirinya sendiri di tengah isak tangisnya.

Perjalanan itu memakan waktu lima jam. Saat ia sampai, vila itu tampak seperti hantu di tengah kabut. Dingin dan menyeramkan. Alicia masuk dengan kunci yang ia simpan di dalam liontin lamanya—sebuah rahasia yang ia sembunyikan bahkan dari Rafael.

Di dalam, aroma debu dan kenangan pahit menyambutnya. Ia menyalakan lampu senter, mencari sebuah brankas kecil yang tersembunyi di balik dinding perpustakaan. Jika Santiago memalsukan dokumen Ibiza, jejak digital aslinya pasti ada di sini, di server cadangan yang selalu ia gunakan untuk memeras rekan bisnisnya.

Dengan tangan gemetar, Alicia mulai membongkar tumpukan kertas tua. Setiap lembar yang ia sentuh mengingatkannya pada masa-masa di mana ia masih sangat lugu, saat ia mengira Santiago adalah pelindungnya. Ternyata, sejak hari pertama, ia hanyalah alat investasi bagi pria itu.

"Tunjukkan padaku di mana kau menyembunyikannya, Santiago..." gumam Alicia penuh dendam.

...****************...

Matahari terbit dengan enggan di langit Spanyol, tertutup oleh awan kelabu yang menggantung rendah. Gedung Pengadilan Agung sudah dikepung oleh wartawan dan demonstran yang meneriakkan hujatan terhadap keluarga Montenegro.

Rafael turun dari mobil hitamnya. Ia tampak pucat, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang menyembunyikan perban di perutnya. Ia berdiri tegak, menggunakan tongkat besi untuk menopang tubuhnya. Namun, matanya terus mencari di antara kerumunan. Ia mencari satu sosok yang ia harapkan ada di sana—Alicia.

Namun, Alicia tidak ada.

"Dia benar-benar tidak datang, Tuan," bisik asisten pribadinya.

Rafael tidak menjawab. Ia merasakan jantungnya seolah diremas oleh tangan besi. Rasa sakit di perutnya tidak sebanding dengan rasa kosong di sampingnya. Ia masuk ke dalam ruang sidang, di mana ayahnya, Hector Montenegro, sudah duduk di kursi terdakwa dengan wajah yang tetap sombong dan tenang.

"Lihatlah putra kebanggaanku," ejek Hector saat Rafael duduk di kursi saksi. "Datang sendirian seperti anjing yang ditinggalkan pemiliknya. Di mana wanitamu, Rafael? Apakah dia sudah sadar bahwa bersamamu hanyalah jalan menuju neraka?"

Rafael menatap ayahnya dengan tatapan yang membara. "Dia tidak perlu ada di sini untuk melihatku menghancurkanmu, Ayah."

"Menghancurkanku?" Hector tertawa rendah, sebuah suara yang sangat memuakkan. "Tanpa Alicia, kau tidak punya bukti apa-apa. Kau hanya seorang putra yang sedang meracau karena patah hati. Jaksa tidak akan mendengarkanmu tanpa dokumen asli yang dibakar Delgado."

Sidang dimulai. Suasananya begitu tegang hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum perang. Rafael memberikan kesaksiannya, menceritakan setiap detail kejahatan ayahnya, namun jaksa penuntut terus memojokkannya dengan pertanyaan tentang skandal Ibiza.

"Tuan Montenegro, bagaimana kami bisa memercayai kesaksian Anda terhadap ayah Anda, sementara Anda sendiri dituduh melakukan pengusiran paksa di Ibiza?" tanya Jaksa.

Rafael terdiam. Ia menatap kursi penonton yang kosong di barisan depan—kursi yang seharusnya ditempati oleh Alicia. Ia merasa seluruh dunia sedang menertawakannya. Ia merasa pengorbanannya sia-sia.

...****************...

Sedangkan, di vila tua yang sunyi, Alicia akhirnya berhasil membuka brankas tersembunyi itu. Di dalamnya terdapat sebuah hard drive eksternal dan tumpukan surat tulisan tangan.

Alicia menyalakan laptopnya dengan tangan yang sangat dingin. Ia membuka file-file yang ada di dalamnya. Matanya membelalak saat melihat tanggal-tanggal dokumen itu.

Santiago tidak hanya memalsukan dokumen Ibiza. Ternyata, selama lima tahun terakhir, Santiago telah bekerja sama dengan Hector Montenegro secara rahasia. Mereka berdua merancang skandal ini untuk memastikan bahwa jika suatu saat Alicia mencoba melawan, mereka memiliki bom waktu untuk menghancurkannya.

Namun, ada satu surat yang menarik perhatian Alicia. Surat itu ditulis oleh Santiago untuk Hector, tanpa diketahui kapan surat tersebut ditulis.

^^^"Hector, jangan khawatir tentang Rafael. Dia terlalu bodoh dan jatuh cinta pada Alicia. Biarkan mereka bermain dalam sandiwara ini. Saat saatnya tiba, kita akan membuat mereka saling menghancurkan. Aku akan memalsukan bukti Ibiza atas nama mereka, dan kau akan menghapus jejak Maria Fernández. Kita berdua akan menguasai Spanyol selamanya."^^^

Alicia menjatuhkan surat itu ke lantai. Ia merasa dunia berputar.

"Jadi... selama ini..." Alicia menutup mulutnya dengan tangan, isak tangisnya pecah dengan hebat. "Mereka semua bekerja sama. Rafael... dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia dijebak sama sepertiku."

Penyesalan yang luar biasa besar menghantam Alicia. Ia teringat bagaimana ia meneriaki Rafael tadi malam. Ia teringat bagaimana ia meninggalkan pria itu dalam keadaan terluka dan hancur, menuduhnya sebagai monster yang sama dengan ayahnya.

"Rafael... apa yang telah kulakukan?" tangis Alicia.

Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar dari luar vila. Alicia tersentak. Ia melihat dari jendela, beberapa pria berpakaian hitam turun dari mobil dengan senjata di tangan. Mereka bukan polisi. Mereka adalah orang-orang Hector yang dikirim untuk mengikuti Alicia ke mana pun ia pergi.

"Dia di sini! Temukan wanita itu!" teriak salah satu dari mereka.

Alicia panik. Ia segera mencabut hard drive itu dan menyembunyikannya di balik pakaiannya. Ia harus keluar dari sana. Ia harus sampai ke pengadilan dan yang terpenting, ia harus menyelamatkan Rafael.

...****************...

Di Madrid, sidang hampir mencapai puncaknya. Hector Montenegro tampak menang di atas angin. Hakim mulai menunjukkan keraguan terhadap kesaksian Rafael karena kurangnya bukti fisik yang kuat.

"Jika tidak ada bukti tambahan, maka kesaksian ini tidak dapat dianggap sebagai fakta hukum," ujar Hakim dengan tegas.

Rafael menundukkan kepalanya. Ia merasa gagal. Ia gagal membuktikan kebenaran untuk ibunya Alicia, dan ia gagal menjaga wanita yang ia cintai. Ia merasa benar-benar sendiri di dunia ini.

"Maafkan aku, Alicia..." bisik Rafael dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"BERHENTI!!!!" teriak Alicia, suaranya bergema di seluruh ruangan, penuh dengan kekuatan emosional yang membuat semua orang terpaku.

Tepat saat Hakim hendak mengetok palu untuk menunda sidang, pintu besar ruang sidang terbuka dengan dentuman yang sangat keras.

Alicia Valero berdiri di sana. Pakaiannya kotor oleh debu, rambutnya berantakan karena kehujanan, dan ada luka goresan di pipinya. Ia tampak seperti pejuang yang baru saja kembali dari medan perang.

Rafael mendongak. Matanya membelalak melihat Alicia ada disana. "Alicia?"

Alicia berjalan menuju mimbar hakim dengan langkah yang mantap, meskipun kakinya lemas. Ia mengangkat hard drive dan surat yang ia temukan.

"Aku punya bukti," ujar Alicia, suaranya bergetar oleh air mata dan keberanian. "Aku punya bukti bahwa Hector Montenegro dan Santiago Valero telah bekerja sama selama bertahun-tahun untuk melakukan pembunuhan, penipuan, dan fitnah. Aku punya bukti bahwa Rafael Montenegro merupakan korban dari semua konspirasi mereka, sama sepertiku!"

Suasana ruang sidang meledak dalam kekacauan. Hector berdiri dengan wajah yang merah padam karena amarah, sementara para jurnalis berebut untuk mengambil foto.

Alicia menatap Rafael. Dan kali ini, tidak ada lagi keraguan di matanya. Yang ada hanyalah cinta yang sangat dalam, cinta yang telah diuji oleh api dan pengkhianatan. Rafael menatapnya balik, air mata mengalir di pipinya yang pucat. Di tengah hiruk-pikuk itu, mereka saling mengunci pandangan, menyadari bahwa meskipun dunia mereka sedang runtuh, mereka akhirnya menemukan satu sama lain dalam kebenaran.

Namun, di kursi penonton, salah satu orang suruhan Hector diam-diam merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah perangkat kecil. "Lakukan sekarang," bisiknya ke mikrofon tersembunyi.

Tiba-tiba...

Sebuah ledakan kecil terjadi di luar gedung, diikuti oleh kepanikan massa. Perang belum berakhir. Bahkan saat kebenaran terungkap, iblis masih punya satu kartu terakhir untuk dimainkan.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!