Xiao Nan pernah menjadi Godfather paling ditakuti di Bumi, membangun kerajaan kriminal sebelum tewas akibat pengkhianatan orang terdekat. Namun kematian bukan akhir. Jiwanya bereinkarnasi ke dunia kultivasi di Pulau Matahari Abadi, bangkit sebagai penguasa bayangan sebelum kembali dikhianati dan dijatuhkan ke Pulau Bulan Surga.
Di sana ia terlahir sebagai tuan muda Keluarga Xiao. Ibunya dibunuh, bakat Akar Naga dirampas ayahnya sendiri, dan ia dibuang ke Reruntuhan Dewa dan Iblis. Di neraka itulah Xiao Nan bangkit. Ia mewarisi Sutra Bayangan Naga dan Tulang Naga Dewa, memadukan insting mafia dengan hukum kultivasi. Bersama entitas misterius Finn, ia membentuk Fraksi Shadow Dragon, menghancurkan Keluarga Xiao dari dalam. Namanya mengguncang dunia dan menyeretnya ke Turnamen Jalan Langit Sepuluh Ribu Ras.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon King Nan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 1 - MALAM PENGKHIANATAN
Di kota yang tidak pernah tidur, nama Lin Ye adalah sebuah bisikan yang ditakuti sekaligus dihormati. Ia bukan sekadar pemimpin mafia. ia adalah arsitek dari seluruh ekosistem dunia bawah. Dari penyelundupan teknologi hingga kendali atas pasar gelap global, benang merahnya selalu berujung pada satu titik: sebuah penthouse mewah di puncak gedung berlantai seratus yang menembus awan polusi kota.
Malam itu, hujan turun dengan deras, membasuh kaca jendela raksasa kantor Lin Ye. Pria itu berdiri diam, mengenakan setelan jas hitam yang dijahit khusus dengan pin naga emas kecil di kerahnya. Di usianya yang ke-35, ia memiliki segalanya.. kekuasaan yang melampaui hukum, kekayaan yang tak terhitung, dan kendali atas ribuan nyawa.
"Kau terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memicu perang dengan tiga aliansi besar, Lin Ye," suara serak itu datang dari sudut ruangan yang remang-remang.
Lin Ye tidak menoleh. Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Wajahnya tegas, dengan tatapan mata yang seolah bisa menembus jiwa siapa pun. "Perang adalah bisnis, Marco. Dan bisnis membutuhkan ketenangan." Marco, tangan kanan Lin Ye sejak mereka masih merangkak dari geng geng kecil, melangkah maju. Di tangannya ada sebuah koper perak. Di belakangnya, berdiri seorang wanita cantik bergaun merah darah bernama Elena, kekasih Lin Ye.
"Tiga aliansi itu sudah menyerah, Sayang," Elena mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Lin Ye. Bau parfumnya yang mahal bercampur dengan aroma cerutu di ruangan itu. "Malam ini, seluruh dunia bawah benar-benar ada di bawah kakimu."
Lin Ye menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang sangat jarang terlihat muncul di bibirnya. "Akhirnya. Setelah semua darah yang tumpah, kita bisa berhenti sejenak."
Klik.
Suara pelatuk pistol yang ditarik bergema di ruangan yang luas itu. Lin Ye membeku. Bukan karena takut, tapi karena ia mengenali suara mekanis itu berasal dari arah Marco.
"Maafkan aku, Lin Ye," suara Marco bergetar, namun penuh dengan ambisi yang dingin. "Kau adalah raja yang hebat. Tapi kau terlalu kaku. Kau melarang narkotika, kau melarang perdagangan manusia... kau membatasi keuntungan kami hanya karena prinsip moral konyolmu."
Lin Ye berbalik perlahan. Ia menatap moncong pistol Desert Eagle yang diarahkan tepat ke jantungnya. Ia beralih menatap Elena, berharap melihat keterkejutan di wajahnya, namun yang ia temukan hanyalah tatapan dingin yang kosong.
Lin Ye berbalik perlahan. Ia menatap moncong pistol Desert Eagle yang diarahkan tepat ke jantungnya. Ia beralih menatap Elena, berharap melihat keterkejutan di wajahnya, namun yang ia temukan hanyalah tatapan dingin yang kosong.
"Kau juga, Elena?" suara Lin Ye tetap rendah, meskipun ada luka yang lebih dalam dari peluru di dalam suaranya.
"Dunia ini butuh uang, bukan kehormatan, Lin Ye," jawab Elena dingin.
Doorrr!
Tembakan pertama menghantam dada kiri Lin Ye. Kekuatan peluru itu membuatnya terlempar ke belakang, menabrak meja jati besarnya. Darah segar mulai membasahi kemeja sutra putihnya. Lin Ye terengah, mencoba meraih pistol tersembunyi di bawah meja, namun Marco menembak tangan kanannya.
Doorrr!
"AAAGH!" Lin Ye mengerang, namun ia tetap menatap mereka dengan mata yang memancarkan otoritas yang tak tergoyahkan. Bahkan dalam kondisi sekarat, auranya masih membuat Marco ragu untuk mendekat.
"Hancurkan dia sepenuhnya," bisik Elena.
Tiga aliansi besar yang seharusnya sudah kalah, mendadak menyerbu masuk ke dalam ruangan. Mereka bukan menyerah, mereka telah membeli orang-orang terdekat Lin Ye. Penguasa dunia bawah itu dihujani peluru hingga tubuhnya tidak lagi berbentuk. Saat nyawanya perlahan menguap, Lin Ye hanya bisa menatap langit-langit, bersumpah dalam hati bahwa jika ada kehidupan setelah ini, ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun berdiri di belakang punggungnya lagi.
Kegelapan total yang ia alami di Bumi tidak berlangsung selamanya. Lin Ye merasa jiwanya ditarik melintasi ruang yang hampa, sebelum akhirnya ia terbangun dalam sebuah ledakan cahaya yang menyilaukan.
Ia tidak mati. Ia terlahir kembali.
Dalam sekejap, kesadaran Lin Ye menyatu dengan seorang bayi di dunia yang sama sekali berbeda. Dunia di mana manusia bisa terbang di atas pedang dan membelah gunung dengan lambaian tangan. Ini adalah Pulau Matahari Abadi.
Di sini, ia diberi nama Qing Zhao.
Tumbuh sebagai putra jenius dari Keluarga Qing yang terpandang, Lin Ye yang kini adalah Qing Zhao menggunakan kecerdasan taktis mafianya untuk menguasai teknik kultivasi dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dalam dua puluh tahun, ia menjadi sosok yang paling dipuja di Pulau Matahari Abadi. Ia memiliki segalanya kekuatan Ranah Tinggi, tunangan paling cantik bernama Lin Xuelan, dan sahabat setia bernama Fang Wei.
Namun, sejarah memiliki cara yang kejam untuk mengulang dirinya sendiri.
Malam itu, di puncak Gunung Matahari, Qing Zhao sedang berada dalam tahap kritis meditasi untuk menembus ranah baru. Seluruh energinya terpusat pada "Akar Naga Surgawi" di dalam tubuhnya yang merupakan sebuah sumber energi langka yang hanya muncul sekali dalam seribu tahun.
"Zhao, kau hampir sampai," suara lembut Lin Xuelan terdengar di telinganya.
Qing Zhao tersenyum dalam meditasinya. Namun tiba-tiba, rasa sakit yang sangat hebat menghantam sumsum tulang belakangnya. Ia membuka mata dan melihat Lin Xuelan menusukkan belati giok kuno ke titik pusat energinya
"Apa... apa yang kau lakukan, Xuelan?!" Qing Zhao memuntahkan darah emas.
Di sampingnya, Fang Wei muncul dengan senyum licik yang sama dengan senyum Marco di Bumi. "Terima kasih atas Akar Naga-mu, Qing Zhao. Dengan ini, Xuelan akan menjadi Ratu Abadi, dan aku akan menjadi Jenderal tertinggi di dunia ini."
"Kalian..." mata Qing Zhao memerah karena murka. "Dua kali... aku dikhianati dua kali oleh orang yang sama!"
Lin Xuelan memutar belati itu, merobek Akar Naga Surgawi dari dalam tubuh Qing Zhao. Rasa sakitnya jauh lebih hebat daripada dihujani peluru. Itu adalah rasa sakit yang mencabik jiwa.
"Kau terlalu kuat, Qing Zhao. Selama kau ada, kami hanyalah bayanganmu," Lin Xuelan menatap akar cahaya di tangannya dengan rakus. "Sekarang, matilah sebagai sampah."
Fang Wei merapal mantra ruang. Sebuah lubang dimensi hitam pekat muncul di bawah tubuh Qing Zhao yang sudah tak berdaya dan kehilangan seluruh kultivasinya. "Jangan bunuh dia dengan cepat," kata Fang Wei dengan tawa jahat. "Buang dia ke Pulau Bulan Surga. Biarkan dia hidup sebagai kotoran di dunia bawah sana.
Qing Zhao merasakan tubuhnya tersedot ke dalam lubang dimensi. Saat ia jatuh menembus lapisan dunia, jiwanya meraung. Pengalaman pahit sebagai Lin Ye dan pengkhianatan tragis sebagai Qing Zhao menyatu menjadi satu api kebencian yang hitam.
Dunia ini... langit ini... akan kubakar semuanya!!
Tiba-tiba, sebuah kitab kuno yang tersembunyi di sudut terdalam jiwanya artefak yang ia temukan di Bumi dan dianggap sampah mendadak bersinar hitam pekat. Kesadaran Qing Zhao menghilang saat tubuhnya menghantam tanah di sebuah gubuk reyot di Pulau Bulan Surga, siap memulai identitas ketiganya sebagai Xiao Nan.